7. JEJAK YANG HILANG DI SALJU

1376 Words
​Zermatt, Swiss. Udara dingin pegunungan Alpen merasuk hingga ke tulang, namun bagi Alma, ini adalah udara paling murni yang pernah ia hirup. Gadis anggun itu berdiri di balkon apartemen kecilnya, yang menghadap langsung ke puncak Matterhorn. Tidak ada kamera, tidak ada Metia, dan yang paling penting ... tidak ada Marcel Lion. ​"Alma, kopimu dingin," suara lembut ayahnya memecah lamunan. Sang ayah duduk di kursi roda dengan selimut tebal, wajahnya terlihat jauh lebih segar setelah operasi dan perpindahan ini. ​Alma tersenyum, berbalik dan mengambil cangkir itu. "Aku hanya sedang menikmati kesunyian, Yah," jawab Alma lemah lembut. ​"Kau sudah banyak berkorban, Nak. Ayah tahu kita di sini bukan hanya untuk pengobatanku. Kau sedang lari dari sesuatu yang besar, bukan?" tanya Ayah Alma penuh selidik. ​Alma berlutut di samping ayahnya, menggenggam tangan pria tua itu. "Aku tidak lari, Yah. Aku hanya pulang ke diriku yang dulu. Di sini, aku hanya Alma. Bukan desainer Lion Group, bukan simpanan siapa pun." ​"Erik bilang dia harus menutup semua akses komunikasi mu selama setahun. Apa itu perlu?" tanya Ayahnya kembali. ​"Sangat perlu, Yah. Singa itu tidak akan berhenti sampai dia merasa menang. Dan aku tidak ingin ditemukan." _ ​Jakarta-neraka di balik kemewahan. ​Di belahan dunia lain, kantor pusat Lion Group berubah menjadi zona perang. Marcel Lion duduk di kursi kebesarannya dengan rambut berantakan dan kemeja yang kancing atasnya terbuka. Di depannya, tiga orang pria berpakaian hitam, detektif swasta terbaik internasional, tertunduk diam. ​"Dua bulan! Dua bulan dan kalian bahkan tidak bisa menemukan satu pun transaksi kartu kredit atas namanya?!" suara Marcel menggelegar, ia membanting tumpukan berkas ke lantai. ​"Maaf, Sir. Nona Alma menggunakan identitas yang sangat bersih. Sepertinya ada pihak otoritas yang membantunya menghapus jejak digital," lapor salah satu detektif. ​"Aku tidak peduli! Gunakan satelit jika perlu! Aku sudah membayar kalian sepuluh juta dolar!" Marcel berdiri, nafasnya memburu. "Cari semua penerbangan VIP, cari semua panti jompo atau rumah sakit di Eropa yang menerima pasien pasca-operasi jantung!" teriak Marcel dengan wajah merah menyala. ​Pintu ruangan terbuka kasar. Metia masuk dengan wajah penuh amarah. ​"Marcel! Hentikan kegilaan ini! Kau membatalkan rapat dengan keluarga Tigor hanya untuk mengurusi pel4cur kecil itu?" hardik Metia dengan mata melotot. ​Marcel menoleh, matanya merah karena kurang tidur dan menahan emosi. "Jangan sebut dia pel4cur, Metia. Jika kau buka mulut sekali lagi tentangnya, aku akan pastikan Dady menceraikan mu tanpa sepeser pun harta." ​Metia ternganga. "Kau ... kau mengancam ibumu demi wanita rendahan itu?" ​"Dia bukan wanita rendahan! Dia satu-satunya hal yang nyata di hidupku!" Marcel berteriak, suaranya pecah. "Kalian semua palsu! Rasty palsu! Bisnis ini palsu! Aku ingin Alma kembali!" teriak Marcel histeris sambil melemparkan barang-barang yang ada didekatnya. ​"Dia sudah pergi, Marcel! Dia menjual butiknya, dia membuang kalung pemberianmu di lantai hotel! Dia membencimu!" tega Metia kembali. ​"DIAM!" Marcel merampas gelas whisky di mejanya dan melemparkannya ke arah pintu, nyaris mengenai kepala Metia. "Dia tidak membenciku. Dia hanya sedang menghukum ku. Dan aku akan menemukannya, meski aku harus membakar seluruh Eropa!" jawab Marcel dengan suara menggelar. _ ​Alma sedang berjalan di pasar kecil desa Zermatt saat seseorang memanggil namanya. ​"Alma? Alma Wijaya?" panggil seseorang dari tepi jalan raya. ​Alma tersentak, ia hampir menjatuhkan kantong belanjaannya. wanita manis itu menoleh dan menemukan Erik berdiri di sana dengan jaket tebal. ​"Erik! Kau mengejutkanku. Kenapa kau di sini?" tanyanya seakan tidak percaya dengan sosok yang kini berdiri di depannya. ​"Aku sedang ada tugas diplomatik di Bern, jadi aku menyempatkan diri mampir," Erik mendekat, wajahnya berubah serius. "Alma, kau harus sangat berhati-hati. Marcel mulai gila." ​"Maksudmu?" tanya Alma sambil mengernyitkan keningnya. ​"Dia menyewa tentara bayaran untuk melacak kalian. Marcel bahkan mendatangi kantorku dan mengancam akan menghancurkan karier diplomatik ku jika aku tutup mulut soal keberadaan mu." ​Alma merapatkan mantelnya, rasa dingin yang berbeda menjalar di punggungnya. "Dia tidak akan menemukanku di sini, kan?" tanya Alma kembali dengan rasa penasaran yang semakin besar. ​"Untuk saat ini, identitasmu aman. Tapi Marcel Lion bukan orang biasa. Dia punya koneksi di mana-mana. Alma ... kenapa kau tidak mencoba mencari perlindungan hukum? Dia sudah melakukan kekerasan padamu malam itu." ​Alma menggeleng pelan. "Hukum tidak berlaku bagi orang seperti dia, Erik. Jika aku melapor, media akan menggila, dan Ayahku tidak akan tenang. Aku hanya ingin dia menganggap ku sudah mati." ​"Dia tidak akan mengganggumu mati," Erik menghela nafas. "Dia menghancurkan kontrak filmnya, dia menolak syuting, dan saham Lion Group turun karena perilakunya yang tidak stabil. Pria itu merindukanmu dengan cara yang sangat merusak." _ ​Kerinduan yang menghancurkan Marcel. ​Malam harinya di Jakarta, Marcel berada di apartemen Alma yang lama, yang kini telah ia beli secara rahasia. Pemuda itu berbaring di tempat tidur sempit bekas Alm. Di memeluk bantal yang sudah tidak lagi beraroma Alma. "Waktu begitu cepat berlalu," batin Marcel Lion. Putra pengusaha sukses itu meraih ponselnya, membuka galeri foto rahasia yang berisi foto-foto Alma saat tertidur di vila Paris dulu. ​"Di mana kau, sayang ...," gumamnya serak. Air mata, sesuatu yang tidak pernah dikenal oleh Mr. Lion, akhirnya jatuh membasahi bantal. "Maafkan aku ... aku tidak bermaksud menyakitimu malam itu. Aku hanya takut kehilanganmu." ​Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari detektif swasta. ​"Sir, kami menemukan jejak. Seorang pria bernama Erik terlihat di perbatasan Swiss-Prancis minggu lalu. Dan dia terlihat membawa obat-obatan khusus jantung yang sering dibeli oleh Ayah Nona Alma di Jakarta." ​Marcel langsung terduduk tegak. Matanya yang tadinya layu kini bersinar dengan kegilaan yang baru. ​"Swiss?" bisik Marcel. Seringai tipis muncul di wajahnya yang tirus. "Zermatt? Atau St. Moritz?" ​"Kami sedang mengerucutkan lokasinya, Sir." ​"Siapkan jet pribadiku sekarang," perintah Marcel, suaranya kembali dingin dan penuh otoritas. "Jangan beritahu Dady atau siapa pun. Aku akan menjemput milikku." ​Marcel berdiri di depan cermin, merapikan kemejanya. "Kau bisa lari ke ujung dunia, Alma. Tapi singa akan selalu menemukan mangsanya. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu bicara. Aku akan mengurung mu di kandang emas yang tidak akan pernah bisa kau buka." _ ​Suasana Zermatt yang tenang berubah mencekam. Deru helikopter pribadi membelah langit biru Alpen, mendarat di area privat tak jauh dari kaki gunung. Alma, yang sedang merapikan belanjaan di dapur, mendadak membeku. Instingnya berteriak. Ia melihat ke bawah balkon, tiga mobil SUV hitam dengan ban rantai salju baru saja berhenti di depan apartemennya. ​" Erik mereka datang!" Alma berusaha menelepon dengan suara gemetar dari seberang jalan. "Mr. Marcel! Dia ada di mobil terdepan!" ​Erik menjatuhkan gelas di tangannya hingga hancur berkeping-keping. "Alma, jalankan rencana cadangan. Sekarang! Ambil semua barang yang sudah kita persiapkan keluar dari pintu belakang lewat jalur evakuasi yang sudah oke!" ​"Tapi Erik, bagaimana dengan ayah?" ​"Jangan tanya lagi! Nanti setelah selesai Ayahmu akan segera dibawa ke titik aman di perbatasan Italia! Cepat!" ucap Erik sambil bergegas menuju mobilnya. ​Pintu depan toko roti suara langkah sepatu bot militer menggema di lorong kayu yang biasanya sunyi. Marcel Lion melangkah dengan jubah wol hitam panjang, wajahnya terlihat seperti iblis yang haus darah. ​"Alma! Keluar!" bisik Marcel di dalam hatinya. "Aku tahu kau di dalam! Jangan buat aku menghancurkan pintu ini!" batin Marcel namun pria itu lebih memilih mengepung tempat itu dan menunggu sosok Alma keluar dari toko roti tersebut. ​Di dalam kamar, Alma mengatur napasnya. Gadis bermata jernih itu segera meraih tas kecil berisi dokumen palsu dan pemantik api. Ia tidak boleh tertangkap. Jika kali ini tertangkap maka akan menjadi tawanan seumur hidup di bawah kegilaan Marcel. "Aku harus keluar dari pintu dapur dan melanjutkan rencana," ucap Alma pelan. Mata Alma melotot sempurna begitu melihat sosok yang berdiri di balik pintu dapur. _ Beberapa menit kemudian. ​Marcel dan beberapa anak buahnya segera mengejar Alma yang telah berlari masuk ke toko roti kembali. Mereka semua masuk ke ruangan itu, namun ia hanya menemukan meja makan dengan piring yang masih hangat dan jendela balkon yang terbuka lebar. Ia berlari ke balkon, melihat sesosok wanita dengan mantel merah yang sangat mirip dengan Alma masuk ke dalam mobil hatchback tua dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi di atas jalanan bersalju. ​"Sialan! Dia lari!" teriak Marcel sambil menoleh pada anak buahnya dengan wajah garang. "Kejar! Jangan biarkan dia sampai ke jalan utama! Kepung dari arah lembah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD