8. KEJAR-KEJARAN MAUT

1659 Words
​Marcel melompat ke dalam mobilnya, mengambil alih kemudi. Ia memacu SUVnya melintasi jalanan sempit yang licin. Di depannya, mobil merah itu terlihat tergelincir beberapa kali namun tetap melaju gila-gilaan menuju jurang curam di jalur Great St. Bernard Pass. ​"Alma, berhenti! Kau akan mati!" teriak Marcel dari dalam mobil, meski ia tahu suaranya tak terdengar. Ia menekan pedal gas lebih dalam. "Berhenti, bodoh! Aku hanya ingin membawamu pulang! Please Alma jangan begini, maafkan aku!" teriak Marcel terus menaikkan kecepatannya. ​Mobil merah itu mulai kehilangan kendali saat mendekati pembatas jalan di pinggir jurang. Marcel mencoba memepet mobil tersebut, ingin menghentikannya secara paksa. ​"Aku mencintaimu, Alma! Berhenti!" raung Marcel sekuat yang dia bisa. ​Namun, wanita di dalam mobil itu, yang dari kejauhan terlihat sangat mirip dengan Alma karena postur dan rambutnya, justru menginjak gas sedalam mungkin. Mobil itu menabrak pembatas besi, melayang di udara sesaat sebelum jatuh menghantam bebatuan tajam ratusan meter di bawah lembah. ​BOOM! ​Ledakan dahsyat terjadi. Tangki bensin meledak, mengubah mobil itu menjadi bola api raksasa di tengah putihnya salju. ​Marcel mengerem mendadak hingga mobilnya berputar 180 derajat. Aktor itu melompat keluar tanpa memperdulikan dinginnya salju yang menusuk kulitnya. Ia berlari ke tepi jurang, menatap api yang berkobar hebat di bawah sana. ​"ALMA!!! TIDAK!!!" teriaknya histerik begitu meliha kobaran api yang begitu besarnya. ​Marcel mencoba menuruni tebing batu itu dengan tangan kosong, namun anak buahnya segera menahannya. ​"Sir, jangan! Itu terlalu berbahaya! Mobilnya meledak, tidak ada yang bisa selamat!" lapor anak buah Marcel. ​"LEPASKAN AKU! DIA DI DALAM! ALMA ADA DI DALAM!" Marcel meronta seperti orang kesurupan. "Almaku tidak boleh mati!" ucap Marcel lalu jatuh berlutut di atas salju, air mata mengalir deras di wajahnya yang kaku. "Tidakkkk ... ini tidak mungkin ... Alma ... kau tidak mungkin meninggalkanku seperti ini!" ratap Marcel kembali. ​Di bawah sana, api melahap segalanya. Di dalam mobil itu, terdapat sesosok mayat anonim yang telah disiapkan Erik, seorang gelandangan yang baru saja meninggal dan memiliki profil genetik, yang dimanipulasi melalui data medis palsu agar sesuai dengan DNA Alma. Sebuah rencana pelarian yang sempurna dan mengerikan. _ ​Tiga jam kemudian, di tengah badai salju yang mulai turun, tim forensik pribadi Marcel membawa sebuah kantong mayat dan beberapa serpihan barang. Marcel duduk di dalam mobil dengan pandangan kosong, tangannya gemetar hebat. ​"Sir ...," salah satu ahli forensik mendekat dengan ragu. "Kami menemukan sisa-sisa jenazah. Berdasarkan tes cepat DNA dari sisa jaringan dan struktur gigi yang kami bandingkan dengan data medis Lion Group ... hasilnya identik. Ini ... ini adalah Nona Alma Wijaya," lapor salah satu tim forensik tersebut. ​Marcel meraih potongan kalung yang sudah menghitam karena api, kalung pemberiannya yang sengaja diletakkan Alma di sana sebagai bukti terakhir. ​"Dia lebih memilih mati daripada bersamaku?" bisik Marcel, suaranya terdengar sangat rapuh, seolah jiwanya ikut terbakar di lembah itu. ​"Sir, kami menemukan tanda bahwa mobil itu sengaja dipacu ke jurang. Ini adalah tindakan ... bunuh diri," lanjut petugas kembali. ​Marcel tertawa hambar, lalu tawanya berubah menjadi tangisan pilu yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. "Aku membunuhnya. Aku yang membunuhnya dengan tanganku sendiri!" rintih Marcel yang terdengar sangat tulus dan menyayat hati. Bukan seperti apa yang biasa dia tampilkan dalam adegan filmnya. ​Marcel memeluk potongan kalung itu ke dadanya, merunduk hingga dahinya menyentuh lutut. "Maafkan aku, Alma ... Maafkan aku ...." _ ​Sementara itu, di sebuah stasiun kereta kecil di pinggiran Italia, seorang wanita dengan rambut pendek yang baru saja dipotong dan dicat pirang duduk di bangku peron. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan mantel cokelat yang tidak mencolok. ​Seorang pria mendekat. "Semua sudah selesai, Alma. Marcel sudah melihat ledakannya. Tim forensik yang kubayar sudah memberikan data palsu itu padanya." ​Alma mendongak, matanya merah, namun bukan karena sedih, melainkan karena kelegaan yang luar biasa. "Dia percaya aku mati?" tanya Alma merasa lega. ​"Dia hancur, Alma. Aku belum pernah melihat manusia sehancur itu," jawab Erik pelan. "Kau bebas sekarang. Benar-benar bebas." ​Alma melihat kereta yang datang mendekat. Ia bangkit, membuang paspor lamanya ke dalam tempat sampah. "Aku harus mati agar bisa hidup, Erik. Biarkan dia menyimpan mayat itu. Mulai hari ini, Alma Wijaya sudah tidak ada lagi di dunia ini." ​Gadis cantik itu melangkah masuk ke dalam kereta, meninggalkan masa lalunya yang terbakar di pegunungan Alpen, menuju kehidupan baru di mana tidak ada lagi kasta, tahta, atau singa yang mengejarnya. _ Flashback on ​Apartemen di lantai 45 itu memiliki dinding kaca setinggi langit-langit yang menawarkan pemandangan Jakarta yang gemerlap, namun bagi Alma, itu tak lebih dari kotak kaca yang menyesakkan. Sudah tiga hari ia dipindahkan paksa ke sini. Tempat ini bukan lagi sekadar apartemen, melainkan wilayah teritorial Marcel Lion. ​Suara pintu fingerprint berdenting. Alma yang sedang duduk di sofa dengan daster sutra tipis tanpa bra langsung menegang. Langkah kaki berat itu mendekat, lalu sepasang tangan kekar melingkar di lehernya, mencium aroma stroberi di rambutnya. ​"Kau tidak menyambut ku, sayang?" bisik Marcel, suaranya serak khas pria yang baru saja selesai bekerja. ​Alma tidak berbalik. "Aku tidak tahu kau akan datang jam segini," jawab Alma datar tanpa menatap ke arah Marcel. ​Marcel memutar sofa, memaksa Alma menatapnya. Ia melepaskan dasinya dan melemparkannya ke lantai. "Aku pemilik tempat ini. Aku datang kapan pun aku mau." ​Aktor itu lali duduk di samping Alma, tangannya mulai merayap ke paha mulus Alma yang tersingkap dari belahan dasternya. "Siska bilang kau mencoba keluar jam sembilan malam kemarin untuk membeli bahan kain?" ​"Butik sedang banyak pesanan, Marcel. Aku butuh stok sutra tambahan," jawab Alma mencoba tenang meski jemari Marcel mulai bermain di area sensitifnya. ​"Aturan nomor satu, Alma," Marcel menarik dagu Alma, memaksa wanita itu menatap matanya yang gelap. "Setelah jam delapan malam, kakimu tidak boleh menginjak lantai lobi. Kau tetap di sini menungguku, mengerti?" tegas Marcel lion kembali. ​"Itu gila, Marcel! Aku bukan tahanan!" ​"Kau bukan tahanan Alma, kau adalah milikku seorang not for share," potong Marcel lalu tangannya kini meremas p******a Alma dari balik kain tipis itu, membuat Alma mendesah tertahan. "Dan aturan nomor dua, matikan GPS ponselmu. Aku tidak mau ada orang lain yang melacak keberadaan mu, bahkan Erik sekalipun." ​"Erik hanya teman SMAku, dia membantu administrasi rumah sakit Ayah!" jawab Alma tenang. ​Marcel tertawa sinis. Ia merampas ponsel Alma dari meja. "Mari kita lihat seberapa penting teman-teman priamu ini," tegas Marcel dengan mata mulai melotot dan merebut ponsel Alma. ​Pemuda kaya itu mulai menggeser layar ponsel Alma. Wajahnya mengeras saat melihat nama-nama pria di daftar kontak maupun w******p. ​"Bima Desain? hapus!" ucap Marcel sambil menekan tombol delete. ​"Jangan! Itu vendor kancing ku!" seru Alma mencoba merebut ponselnya, namun Marcel mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi sambil menindih tubuh Alma ke sofa. ​"Erik? hmm jelaaaas sangat hapus!" Marcel menyeringai puas setelah melenyapkan nomor itu. "Rio, Kevin, Sandy ... semua sampah ini tidak berguna bagimu. Jika kau butuh kancing, butuh benang, atau butuh bantuan untuk Ayahmu, kau bicara padaku. Bukan pada jantan-jantan ini. Dan satu hal lagi jangan anggap ini karena aku cemburu tapi aku tak ingin sampah-sampah itu mendekati milikku!" tegas Marcel puas. ​"Kau sakit, Marcel! Kau menghancurkan relasi kerjaku!" protes Alma dengan raut wajah kesal. ​"Aku membangun duniamu, Alma!" Marcel melempar ponsel itu ke sudut sofa dan beralih mencium leher Alma dengan kasar. Pria itu kini mulai meninggalkan tanda merah yang kontras dengan kulit putihnya. "Kau tidak butuh relasi. Kau hanya butuh memuaskan ku, dan aku akan memastikan Ayahmu tetap hidup di kamar VIP terbaiknya." ​Marcel tidak memberi ruang bagi Alma untuk memprotes. Ia menarik daster sutra itu hingga robek di bagian bahu, menelanjangi tubuh Alma di bawah sorotan lampu kota yang menembus kaca. ​"Marcel, jangan ... di sini terlihat dari luar," rintih Alma, meski tubuhnya mulai merespons sentuhan ahli Marcel. ​"Tidak ada yang bisa melihat ke lantai 45, sayang. Hanya bulan yang melihat bagaimana aku merobek mu malam ini. Satu lagi, sayang ... temuilah teman-teman pejantanmu itu besok dan tunjukan kepemilikanku di sekujur tubuh dan lehermu ini. Biar mereka tahu, engkau milikku seorang," gumam Marcel sambil terus mencium dan menggigit leher indah milik Alma. "Kamu sexy sekali, merah-merah begini, Alma," bisik aktor tampan itu sambil tersenyum licik. ​Ia membalikkan tubuh Alma hingga wanita itu menghadap kaca besar, menunggingkan pinggulnya sementara tangannya menumpu pada bingkai jendela. Marcel berdiri di belakangnya, membuka ritsleting celananya dan membebaskan kejantanannya yang sudah menegang maksimal. Ukuran jumbo yang luar biasa itu tampak berkilat, siap untuk menghukum sekaligus memanjakan. ​"Lihat pantulan mu di kaca, Alma," bisik Marcel sambil meremas b****g Alma dengan keras hingga membekas merah. "Lihat betapa cantiknya mangsaku saat ia memohon. Terus Marcel, teruskan jangan berhenti. Hujam aku Marcel ...," ucap pemuda itu sambil tertawa puas. ​Tanpa peringatan, Marcel memasuki Alma dengan satu hentakan dalam yang membuat Alma memekik dan mencakar kaca di depannya. Rasa penuh yang menyesakkan sekaligus nikmat itu menyerang seluruh syaraf Alma. ​"Shhh Ahhh! Marcel ... pelan ... ah!" ​Marcel tidak mendengarkan. Ia bergerak liar, setiap dorongannya menghantam titik terdalam Alma. Suara kulit yang beradu dan desahan berat memenuhi ruangan mewah itu. Marcel mencengkeram rambut Alma, menariknya ke belakang agar ia bisa menciumi punggung wanita itu sambil terus memacu miliknya di dalam sana. ​"Katakan ... siapa pemilik mu?" tanya Marcel serak, napasnya memburu di telinga Alma. ​"Kau Marcel lion ... ahh ... Marcel ... kau!" ​"Sebut namaku dengan benar!" Marcel mempercepat temponya, membuat tubuh Alma terguncang hebat. ​"M-Marcel Lion ... pemilikku ... ahh, lebih dalam, Marcel! Kumohon hujam lagi sayang! Ohhh ahhh shhh ...," teriak Alma mulai lupa diri. ​Mendengar permohonan itu, Marcel semakin menggila. Ia membalikkan tubuh Alma kembali ke sofa, mengangkat kaki Alma ke bahunya, dan menghujamkan miliknya berkali-kali tanpa ampun. Alma mencapai puncaknya dengan tubuh bergetar hebat, sementara Marcel menyusul tak lama kemudian, mengeluarkan cairannya yang hangat memenuhi rahim Alma, sebuah tanda kepemilikan yang tak terlihat namun terasa nyata. "Aaargghhh ALMAAA ... why you so sexy?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD