9. AROMA YANG TERTINGGAL

1327 Words
​Sisa gairah yang berakhir dingin. ​Setelah percintaan itu mereda, Marcel membiarkan Alma terengah-engah dengan tubuh bersimbah keringat. Ia bangkit, merapikan kembali pakaiannya seolah baru saja menyelesaikan rapat bisnis, sementara Alma masih lemas tak berdaya. ​Marcel mengambil ponsel Alma yang tadi ia lempar, menyalakannya, dan meletakkannya kembali di d**a Alma yang naik turun. ​"Semua nomor pria sudah hilang. Besok, asistenku akan mengirimkan nomor-nomor vendor baru yang semuanya adalah wanita. Jangan coba-coba mencari cara untuk menghubungi Erik lagi, atau aku akan memindahkan Ayahmu ke bangsal umum dalam hitungan jam," tegas Marcel dengan wajah sangar. ​Alma meneteskan air mata, menatap langit-langit apartemen yang kini terasa seperti sel penjara. "Kenapa kau melakukan ini, Marcel? Kau sudah memiliki tubuhku ... kenapa kau harus menghancurkan hidupku juga?" ​Marcel berhenti di pintu, menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan. "Karena aku tidak suka berbagi, Alma. Bahkan bayanganmu pun harus menjadi milikku." ​Pintu tertutup dengan bunyi klik yang dingin. Alma meringkuk di sofa, memeluk dirinya sendiri. Di lantai bawah, dunia terus berjalan, namun di lantai 45 ini, waktu telah berhenti. Ia adalah burung dalam sangkar emas, dan sang pemilik sangkar baru saja mengunci pintunya rapat-rapat. _ ​Butik Alma’s Couture terasa seperti satu-satunya tempat di mana Alma bisa bernapas, meski ia tahu CCTV di sudut langit-langit adalah mata-mata Marcel. Pagi ini, ia mencoba fokus pada pola gaun pengantin pesanan klien, berusaha melupakan kejadian traumatis di apartemen semalam. ​Ting! ​Lonceng pintu berbunyi. Seorang kurir pria muda masuk membawa buket bunga lili putih yang sangat besar. ​"Permisi, kiriman untuk Nona Alma Wijaya," ucap kurir itu ramah dan tersenyum. ​Alma mengernyit, menghampiri meja depan. "Dari siapa ya?" tanya desainer muda itu kembali. ​"Tidak ada nama, Kak. Hanya ada kartu bertuliskan untuk desainer berbakat yang karyanya selalu memukau." ​Alma tersenyum tipis, sebuah reaksi manusiawi yang sudah lama tidak ia rasakan. "Terimakasih." Ia menerima buket itu, aromanya harum dan segar. Alma tidak menyadari bahwa di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam sedang mengawasi setiap gerak-geriknya. _ ​Belum sempat Alma meletakkan bunga itu di vas, pintu butik didorong kasar hingga menghantam dinding. Marcel Lion masuk dengan aura yang sanggup membekukan darah siapa pun di ruangan itu. Rahangnya mengeras, matanya tertuju tajam pada buket di tangan Alma. ​"Siapa yang mengirim itu?" suara bariton Marcel menggelegar, rendah namun mematikan. ​Alma tersentak, refleks memundurkan langkah. "M-Marcel? Kau sedang apa di sini? Bukankah kau ada pemotretan?" tanya Alma kembali berusaha untuk tetap tenang. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Alma! Aku tanya, siapa yang berani mengirimkan sampah itu ke butikku?!" Marcel mendekat, menyambar buket bunga itu dari tangan Alma hingga beberapa kelopak lili berguguran di lantai. ​"Itu dari pelanggan, Marcel! Hanya ucapan terimakasih!" bela Alma, suaranya gemetar. ​"Pelanggan? Atau salah satu dari b******n yang nomornya ku hapus semalam?" Marcel meremas bunga itu hingga hancur di genggamannya. Ia menarik kerah blus Alma, membawa wajah wanita itu tepat di depan wajahnya yang dipenuhi amarah. "Kau tersenyum pada kurir tadi. Aku melihatnya dari mobil. Kau memberikan senyum yang seharusnya hanya milikku! Kenapa kau masih juga belum mengerti Alma, dirimu, tubuhmu, senyummu semua milikku!" teriak Marcel memenuhi ruang kerja Alma. ​"Kau gila! Aku hanya bersikap sopan!" jawab Alma tegas. ​"Sopan? Di mataku itu terlihat seperti undangan untuk meniduri mu!" jawab Marcel seenaknya. "Apa, undangan untuk meniduriku. Hmm, kau keras kepala Marcel, egois, suka menuduh, kang cemburu!" maki Alma kesal. "Apa kamu bilang, aku kang cemburu?" ​Marcel menyeret Alma menuju ruang ganti pribadi di bagian belakang butik. Sebuah ruangan sempit dengan cermin besar di segala sisi. Ia membanting pintu dan menguncinya. ​"Katakan padaku, Alma. Apa pria itu juga menyentuhmu? Apa pelanggan mu itu sudah merasakan betapa sempitnya kau?" Marcel mendesak Alma ke dinding, kedua tangannya mengunci pergerakan Alma. ​"Hentikan, Marcel! Kau keterlaluan!" air mata Alma mulai mengalir. ​Marcel tidak peduli. Ia mulai mengendus leher Alma dengan kasar, seperti hewan yang sedang memeriksa mangsa milikknya. "Bau lili, aku benci bau ini. Kau berbau seperti pemberian pria lain." ​Tangan Marcel dengan paksa merobek kancing blus Alma satu per satu. Plak! Plak! Plak! Kancing-kancing itu berhamburan di lantai kayu. ​"Aku akan menghapus aroma itu dari kulitmu," desis Marcel. Ia meraih parfum mawar miliknya yang sengaja ia simpan di butik itu, lalu menyemprotkannya ke tubuh Alma hingga wanita itu terbatuk. "Jangan pernah biarkan aroma lain menempel di sini selain aromaku!" "Teserah kau saja, Marcel. Aku sudah gila dengan segala sikapmu ini!" keluh Alma membuang wajahnya. ​Marcel tidak menunggu jawaban. Ia meraup bibir Alma dalam ciuman yang lebih mirip dengan gigitan. Kasar, menuntut, dan penuh rasa lapar. Ia mengangkat tubuh Alma, mendudukkannya di atas meja potong kain yang ada di sana. ​"Marcel, jangan ... ini masih jam kerja," rintih Alma, namun tangannya justru mencengkeram bahu kekar Marcel saat pria itu mulai melumat dadanya yang kini terekspos. ​"Aku tidak peduli jam berapa ini!" Marcel membuka sabuk kulitnya dengan satu tangan. Celana bahannya melorot, memamerkan kejantanannya yang sudah berdiri tegak, urat-uratnya menonjol dengan ukuran 21 cm yang mengerikan sekaligus menggoda. ​Dia memisahkan kedua kaki Alma lebar-lebar, membiarkan wanita itu melihat pantulan dirinya sendiri di cermin yang mengelilingi mereka. "Lihat dirimu, Alma. Kau gemetar karena aku. Hanya karena aku memberimu sentuhan sexyku. Lihat Alma tubuhmu ketagihan akan kenakalanku!" ucap Marcel tersipu puas. ​Tanpa pelumas, Marcel menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma yang masih setengah kering. ​"Aduuuh sakiit Marcel. Kau ... kau keterlaluan.Aaaahhhh! Sakit, Marcel! Ah, ooohh hmmm, nakal!" Alma memekik, kepalanya terdongak ke belakang dan bibirnya meracau mendesah. ​"Rasakan ini! Rasakan siapa yang memilikimu? Siapa yang membuat dirimu mati kenikmatan, Alma!" Marcel bergerak dengan tempo yang brutal. Setiap dorongannya membuat meja kayu itu berderit nyaring. Ia tidak memberi ampun, menghantam titik terdalam Alma berkali-kali hingga wanita itu kehilangan akal. "Kau Marcel, kau canduku ... shhhh ooohhh, aku basaaaaah sayaaang!" desah Alma kembali dan terdengar sexy sekali. ​Cermin di sekeliling mereka memperlihatkan pemandangan panas. Pria blasteran yang dominan sedang menyiksa sekaligus memuja desainer cantik di atas tumpukan kain sutra mahal. Gairah liar Marcel merangsang sisi masokis dalam diri Alma. Meski kasar, rasa penuh yang diberikan Marcel selalu berhasil membuatnya melayang. ​"Katakan! Bau siapa yang ada di tubuhmu kini?!" perintah Marcel sambil mempercepat hentakannya. ​"Kau ... Marcel, bau Marcel Lion ahh ... hanya kau, Marcel! Ahhh, kumohon ... lebih cepat!" Alma mengerang, kakinya melilit pinggang Marcel, menuntut kepuasan yang lebih besar. ​Marcel menggeram seperti binatang buas. Dia menarik rambut Alma, memaksa wanita itu melihat wajahnya yang penuh nafsu. "Jangan pernah tersenyum pada pria lain lagi, Alma. Jika aku melihatnya lagi, aku akan menghancurkan pria itu dan mengurung mu di ruang bawah tanah," tegas Marcel sambil mencengkram tubuh sexy Alma. "Aaargggghhh Almaaaaa!" ​Sentakan terakhir Marcel begitu kuat hingga Alma merasa rahimnya tersentuh. Cairan hangat menyembur di dalam, menandai wilayah itu sekali lagi. Alma terkulai lemas, napasnya memburu, sementara aroma parfum mawar dan keringat Marcel kini mendominasi seluruh indranya. ​Setelah selesai, Marcel merapikan pakaiannya dengan tenang, seolah tidak baru saja melakukan tindakan liar. Ia berjalan ke arah buket bunga lili yang sudah hancur tadi, membawanya keluar ke balkon kecil butik yang menghadap jalan raya. ​Syuut! ​Marcel membuang bunga itu ke bawah, membiarkannya terlindas oleh kendaraan yang lewat. Ia kembali masuk dan menatap Alma yang masih berusaha menutupi tubuhnya dengan sisa blus yang robek. ​"Ingat ini, Alma. Kau adalah milikku sampai ke sel-sel tubuhmu. Jika aku mencium aroma pria lain lagi padamu, hukumanmu akan jauh lebih berat dari ini," tegas Marcel dengan mata sarkasnya. ​Marcel mengeluarkan segepok uang dari dompetnya dan meletakkannya di meja. "Beli blus baru yang lebih tertutup. Dan jangan pernah berani membuang tanda merah yang ku buat di lehermu itu. Biar semua orang tahu kau sudah ada yang punya." ​Marcel keluar dari butik dengan langkah angkuh, meninggalkan Alma yang terduduk di lantai, dikelilingi oleh kancing-kancing yang lepas dan aroma Marcel yang menusuk hidung, sebuah aroma yang kini menjadi penjara baginya. "Kau b******n Marcel," batin Alma yang kini terkulai bermandikan keringat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD