Pagi di apartemen lantai 45 itu dimulai dengan ketegangan yang menyesakkan. Alma berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun sabrina berwarna krem yang memamerkan bahu indahnya, karya terbaiknya yang akan ia pamerkan di Jakarta Textile Expo siang ini.
"Kau tidak akan pergi dengan kain kurang bahan itu, Alma," ucap Marcel yang tiba-tiba suara bariton itu datang dari ambang pintu kamar mandi. Marcel berdiri di sana, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang atletisnya. Air masih menetes dari rambutnya, jatuh ke otot dadanya yang bidang.
Alma menghela napas, mencoba tetap tenang.
"Ini pameran desainer, Marcel. Aku harus merepresentasikan karyaku. Bahu yang terbuka ini adalah detail estetika dari tema keanggunan yang terlepas milikku,"
jawab Alma pelan.
"Persetan dengan estetika," Marcel mendekat, langkahnya seperti hewan buas yang mengepung mangsa.
"Kau pikir aku akan membiarkan mata ratusan pria di sana menatap kulit bahumu yang halus ini? Kau pikir aku akan membiarkan mereka membayangkan betapa nikmatnya menyentuh tulang selangka mu?"
"Ini profesionalisme, Marcel! Kau aktor, kau sering beradegan mesra dengan wanita lain, kenapa kau tidak bisa mengerti pekerjaanku sebagai desainer?"
Marcel menyambar pinggang Alma, menariknya hingga tubuh mereka bertabrakan.
"Karena aku tidak dimiliki oleh mereka, Alma. Sedangkan kau ... kau adalah wilayah kekuasaanku."
"Aku bukan properti Lion Group!" teriak Alma, tangannya mendorong d**a Marcel yang keras seperti batu.
"Benarkah?" Marcel menyeringai, satu tangannya merayap turun ke b****g Alma, meremasnya dengan tekanan yang membuat Alma berjinjit.
"Siapa yang membayar biaya rumah sakit ayahmu minggu ini? Siapa yang memastikan butikmu tidak digusur oleh pengembang? Aku, Alma. Aku pemilik mu," teriak Marcel di pagi buta.
"Kau hanya membeli ku, kau tidak memiliki jiwaku!" tegas Alma dengan tatapan muak terhadap Marcel.
"Aku tidak butuh jiwamu jika tubuhmu sudah bisa membuatku gila," Marcel mencengkeram rahang Alma, memaksanya menatap pantulan mereka di cermin.
"Ganti gaunmu dan pakai sesuatu dengan kerah tinggi. Atau kau tidak akan keluar dari kamar ini sama sekali hari ini."
"Kau menghancurkan identitasku sebagai desainer, Marcel. Kau ingin aku menjadi apa? Boneka tak bernyawa yang hanya bisa kau tiduri?" tanya Alma kesal.
"Aku ingin kau menjadi milikku yang eksklusif. Hanya aku yang boleh tahu betapa indahnya bahumu saat berkeringat di bawah tubuhku."
Marcel tidak menunggu jawaban lagi. Ia menarik paksa gaun sabrina itu ke bawah, hingga kain mahal tersebut merosot ke lantai, menyisakan Alma yang hanya mengenakan lace thong transparan.
"Marcel, hentikan! Aku harus berangkat sekarang!"
"Kau tidak ke mana-mana sampai aku memberikan stempel merah banyak-banyak pada milikku," desis Marcel seperti orang kesurupan.
Ia mengangkat Alma, mendudukkannya di atas meja rias yang penuh dengan kosmetik mahal. Botol-botol parfum berdenting dan terjatuh saat Marcel merangsek masuk di antara kedua paha Alma.
"Apa yang kau lakukan?" rintih Alma saat Marcel mulai menciumi lehernya dengan lapar, mengisapnya penuh nafsu.
"Memastikan semua orang tahu ... bahwa kau sudah ada yang punya."
Marcel mulai menyedot kulit di area tulang selangka Alma dengan sangat kuat. Rasa perih dan sensasi panas menyebar. Ia tidak hanya mencium, tapi menggigit dan meninggalkan tanda merah keunguan yang sangat kontras di sana.
"Ahhh! Sakit, Marcel! Jangan di sana ... itu sulit ditutupi! Aku ada pertemuan dan acara penting," keluh Alma dihadapan sang pemilik.
Marcel tidak berhenti. Ia berpindah ke sisi lain, meninggalkan tanda yang sama di leher bagian samping, tepat di bawah telinga.
"Ini tanda ku. Jika ada pria yang mendekatimu, mereka akan tahu bahwa seekor singa sudah mengklaim tempat ini."
Tangan Marcel mulai bergerak liar. Ia membebaskan kejantanannya yang sudah menegang hebat, tegak lurus sempurna yang mengerikan, namun selalu berhasil membuat Alma kehilangan kendali diri. Tanpa foreplay yang lembut, ia langsung menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma.
"Ahhhh! Marcel ... pelan ... ah!" Alma memekik, kepalanya terdongak, menabrak cermin di belakangnya.
"Katakan kau mencintaiku, Alma! Katakan kau milik siapa!" Marcel memacu gerakannya dengan tempo yang brutal. Meja rias itu bergoyang hebat, membuat barang-barang di atasnya berjatuhan.
"Marcel ... ahhh ... aku membencimu! Sangat membencimu, Marcel. Aku bahkan ingin kau mati Marcel Lion!" jerit Alma. Meski hatinya menolak, tubuhnya tidak bisa berbohong. Gairah yang diberikan Marcel begitu intens, memenuhi setiap ruang di dalam dirinya, hingga ia merasa sesak oleh kenikmatan yang menyakitkan.
"Hahahaa kau ingin aku mati, kalau begitu matilah kita berdua dalam kenikmatan ini, sayang. Bercinta sampai mati!"
Marcel mempercepat hentakannya, tangannya meremas p******a Alma dengan kasar, meninggalkan bekas jari yang memerah. Ia ingin menghancurkan harga diri Alma, ingin wanita itu menyadari bahwa di hadapannya, Alma hanyalah makhluk yang tunduk pada nafsu.
"Lagi ... ahh ... lebih dalam, Marcel!" Alma meracau, kakinya melilit pinggang Marcel, menuntut kepuasan yang menghancurkan kewarasannya.
Marcel menggeram, suaranya pecah saat ia mencapai puncaknya, menyemburkan benihnya yang panas ke dalam rahim Alma, seolah ingin menanamkan eksistensinya secara permanen di sana.
"Deeeeaaaam."
_
Setelah napas mereka mulai teratur, Marcel bangkit dengan angkuh. Ia mengambil kemeja putihnya yang tersampir di kursi dan memakainya tanpa rasa bersalah.
"Sekarang, pakai gaun kerah tinggi mu. Tanda-tanda itu tidak akan hilang selama tiga hari. Jika aku melihatmu mencoba menutupinya dengan concealer, aku akan membuat tanda yang lebih besar di wajahmu," ucap Marcel dingin.
Marcel lalu berjalan keluar kamar, meninggalkan Alma yang masih terduduk lemas di atas meja rias yang berantakan.
Alma perlahan mengangkat kepalanya, menatap pantulannya di cermin. Dia melihat tanda-tanda merah keunguan di leher dan tulang selangkanya, bekas gigitan Marcel yang tampak seperti luka. Ia melihat matanya yang sembab dan tubuhnya yang penuh dengan jejak d******i pria itu.
Air mata jatuh membasahi pipinya. Ia bukan lagi Alma Wijaya, desainer berbakat yang memiliki mimpi besar. Dirinya kini hanya sekumpulan daging yang ditandai oleh Marcel Lion. Identitasnya, harga dirinya, dan karya-karyanya seolah memudar, digantikan oleh bayang-bayang obsesi Marcel yang gelap.
"Siapa aku sekarang?" bisiknya parau, suaranya hilang ditelan sunyi nya apartemen mewah yang kini terasa seperti kuburan bagi jiwanya.
Alma meraih gaun kerah tinggi berwarna hitam dari lemari, memakainya dengan tangan gemetar. Setiap kain yang menyentuh kulitnya yang terluka terasa seperti pengingat bahwa ia telah kalah dan telah menjadi tawanan dalam sangkar emas, dan sang pemilik sangkar baru saja menunjukkan siapa penguasa yang sebenarnya.
_
Suara mesin jahit di butik Alma’s Couture mendadak terhenti saat bayangan besar menutupi pintu masuk. Alma tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woodland yang maskulin dan dingin itu sudah cukup menjadi pertanda bahwa sang predator telah tiba untuk menagih upeti.
Marcel Lion berdiri di sana dengan setelan jas seharga ratusan juta, tampak kontras dengan butik Alma yang sederhana namun artistik.
"Kemasi barang-barangmu, Alma. Kita berangkat ke Bali satu jam lagi," ucap Marcel tanpa basa-basi.
Alma meletakkan kain sutranya dengan tangan gemetar.
"Bali? Untuk apa? Kau tidak mengatakannya padaku kemarin."
"Ada pembukaan hotel baru milik relasiku. Aku ingin kau ada di sampingku selama tiga hari penuh. 24 jam tanpa gangguan butik sialan ini," jawab Marcel sambil melangkah mendekat, jarinya menyapu meja potong Alma.
"Aku tidak bisa, Marcel! Minggu ini adalah deadline gaun pengantin putri Gubernur. Jika aku terlambat, reputasiku hancur!"
Marcel berhenti tepat di depan Alma, menatapnya dengan mata elang yang tidak menerima penolakan.
"Reputasi? Kau pikir siapa yang menjaga reputasi mu tetap tegak sementara kau sibuk bermain dengan benang dan jarum?" tanya Marcel dengan nada tinggi.
"Ini kerja kerasku, Marcel! Tolong hargai itu!" pintah Alma penuh harap.
"Hargai?" Marcel tertawa hambar, suara tawa yang membuat bulu kuduk Alma meremang. Ia mencengkeram rahang Alma, mengangkatnya hingga wanita itu terpaksa berjinjit.
"Mari kita bicara tentang harga yang sebenarnya. Biaya perawatan intensif ayahmu di rumah sakit pusat baru saja naik karena peralatan baru dari Jerman. Apa kau punya uang untuk membayarnya jika aku menarik dukunganku hari ini?"
Alma terbelalak, napasnya tercekat. "Kau... kau mengancam nyawa ayahku sendiri?"
"Aku hanya mengingatkanmu pada kenyataan, sayang," bisik Marcel dingin di telinga Alma.
"Pilihannya sederhana. Kau menutup butik ini untuk tiga hari dan ikut denganku, atau besok pagi ayahmu akan dipindahkan ke bangsal umum tanpa oksigen yang memadai. Pilihan ada ditanganmu, Alma."
"Aku sangat membencimu, Marcel," ucap Alma penuh rasa kesal.
"Tapi kau mendesah kenikmatan dibawah tubuhku, Alma."
"Diiihhh!"
Air mata kemarahan menggenang di mata Alma.
"Kau monster, Marcel. Kau sama sekali tidak mencintaiku. Kau hanya ingin memiliki barang mewah untuk kau pamerkan dan kau pakai sesukamu!"
Marcel menyeringai, jempolnya mengusap bibir bawah Alma yang gemetar.
"Cinta adalah untuk orang-orang lemah, Alma. Aku lebih suka kepemilikan mutlak. Dan kau ... adalah koleksiku yang paling berharga."
"Aku ingin jatuh cinta, Marcel!"