11. TAMU TAK DI UNDANG DI BALI

1441 Words
​Kemarahan Marcel justru berubah menjadi gairah yang gelap. Ia menyapu semua kain dan pola dari atas meja potong yang besar, lalu mengangkat tubuh Alma dan mendudukkannya di sana dengan kasar. ​"Marcel, jangan di sini! Pegawaiku bisa masuk!" rintih Alma saat tangan Marcel mulai merobek pakaian dalamnya. ​"Biarkan mereka melihat bagaimana majikan mereka tunduk," geram Marcel yang tak mau berenti. Pria itu segera membuka celananya sendiri, membebaskan kejantanannya yang sudah menegang penuh, yang selalu membuat Alma merasa kecil dan tak berdaya. ​Tanpa pemanasan, Marcel langsung menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma yang masih kering karena rasa takut. ​"Aaawwww Ahhhh! Sakit ... Marcel!" Alma menjerit, tangannya mencengkeram pinggiran meja kayu hingga kukunya memutih. ​"Rasakan ini, Alma! Ini adalah pengingat bahwa hidupmu ada di genggamanku!" Marcel memacu gerakannya dengan tempo yang sangat cepat dan bertenaga. Setiap hentakannya membuat meja kayu itu bergetar dan mengeluarkan suara decit yang memilukan. ​Marcel mencium Alma dengan rakus, menelan setiap rintihan dan isak tangisnya. Ia membalikkan tubuh Alma, menekannya hingga wajah wanita itu mencium permukaan meja yang dingin, lalu menghantamnya dari belakang dengan kekuatan penuh. ​"Hmmm ... Ahhh! Ahhh! Marcel ... hentikan ... ah!" Alma meracau, tubuhnya berguncang hebat di bawah d******i Marcel. Rasa sakit itu perlahan bercampur dengan kenikmatan yang mematikan, sebuah sindrom yang membuat Alma membenci dirinya sendiri karena tetap bisa mencapai puncak di bawah siksaan pria ini. ​"Kau menyukainya, bukan? Kau menyukai caraku menghancurkan mu!" Marcel berteriak serak, napasnya memburu saat ia mencapai klimaksnya, menyemburkan benihnya dengan kuat hingga memenuhi seluruh rongga di dalam diri Alma. "Aaaargggghhh baby ...!" ​Marcel ambruk di atas punggung Alma sesaat, menikmati sisa-sisa gairah mereka sebelum akhirnya bangkit dan merapikan setelan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia melihat Alma yang masih terbaring lemah di atas meja, berantakan dan hancur. ​"Tutup butik ini, sekarang!" perintah Marcel dingin tanpa nego. ​Alma perlahan bangun, menutupi tubuhnya yang ternoda dengan sisa-sisa kain perca. "Sampai kapan kau akan melakukan ini? Sampai aku benar-benar gila?" tanya Alma kembali. "Aku desainer, Marcel. Dulu aku belajar sekuat tenaga untuk menjadi terhormat dengan ilmu. Bukan malah direndahkan dengan tubuh," keluh Alma sambil meneteskan air matanya. ​Marcel berhenti di pintu, menoleh dengan tatapan yang sangat datar, seolah ia sedang berbicara dengan pelayannya. ​"Kau harus sadar satu hal, Alma," ucap Marcel dengan nada final yang mematikan. "Kau tidak punya hidup selain hidup yang kuberikan padamu. Kau adalah udara yang ku pinjamkan untukmu hirup. Jangan pernah coba-coba merasa bahwa kau punya pilihan," tegas Marcel sambil menatap mata Alma yang melihatnya penuh dengan sejuta kebencian. ​Pintu butik tertutup dengan dentuman keras. Alma jatuh terduduk di lantai, di antara benang-benang yang kusut dan pola-pola yang hancur. Gadis berkulit putih itu menyadari bahwa dirinya kinj bukan lagi manusia. Dia hanyalah perhiasan hidup bagi Marcel Lion, dan rantai emas itu kini mencekik lehernya hingga hampir tidak bisa bernapas lagi. "Aku membencimu, Marcel. Tapi hati ini merindukan kelembutanmu seperti saat kita kuliah dulu!" batin Alma sambil memungut pakaiannya. ​Angin laut di Uluwatu berembus kencang, membawa aroma garam dan kemewahan. Di sebuah vila tebing yang eksklusif, denting gelas kristal dan tawa kaum elit Jakarta memecah kesunyian malam. Namun bagi Alma, keindahan ini adalah racun. Ia berdiri di sudut bayang-bayang, mengenakan seragam pelayan hitam ketat yang sengaja dipilihkan Marcel, seragam yang lebih mirip pakaian seksi daripada baju kerja. ​"Jangan pasang wajah pemakaman seperti itu, Alma. Tersenyumlah! Kau di sini untuk melayaniku," bisik Marcel yang tiba-tiba muncul di sampingnya, memegang segelas wiski. ​Alma menoleh, matanya berkaca-kaca menahan geram. "Melayani mu? Kau memaksaku memakai baju ini dan berdiri di sini aku seperti pajangan hina, Marcel. Di mana harga diriku?" protes Alma di depan Marcel Lion. ​"Harga dirimu sudah ku beli bersama dengan nyawa ayahmu, ingat?" Marcel menyeringai, jemarinya mengusap pinggang Alma yang terekspos karena potongan baju yang rendah. "Satu jam lagi, tunanganku akan datang. Bersikaplah seperti asisten yang patuh," ucap Marcel sambil tersenyum licik. "Ciiihhhh," batin Alma yang merasa muak dengan kalimat Marcel barusan. _ ​Sebuah limusin putih berhenti di depan lobi vila. Sosok wanita cantik dengan gaun couture berwarna emas turun dengan anggun. Itulah Rasty, putri tunggal keluarga konglomerat yang sudah dijodohkan dengan Marcel sejak kecil. ​"Marcel, Darling!" Rasty menghambur ke pelukan Marcel, mengecup pipinya dengan mesra. ​Marcel menyambutnya dengan senyum palsu yang sempurna. "Kau terlambat, Rasty," ucap Marcel lembut. ​"Maafkan aku, jalanan menuju tebing ini sangat buruk," Rasty melirik ke arah Alma yang berdiri mematung. Matanya menyipit penuh penghinaan. "Oh, siapa wanita ini? Pelayan baru yang waktu malam itu hadir di acara kita bukan? Kenapa seragamnya begitu ... provokatif?" ​Marcel melirik Alma dengan pandangan merendahkan yang dibuat-buat. "Iya Ini Alma, asisten pribadiku yang baru. Dia juga bisa menjahit jika gaunmu robek malam ini," jawab Marcel nakal. ​"Oh, asisten ... Iya aku ingat sayang. Tapi apakah kamu benaran berniat merobek gaunku malam ini, Marcel?" Rasty tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan pisau di telinga Alma. "Baguslah Alma, kebetulan tenggorokanku sangat kering. Tolong bawakan aku Champagne Bollinger dan bawakan juga satu untuk Marcel. Jangan terlalu lama, ya?" ​Alma mengepalkan tangannya di balik nampan perak. "Baik, Nona," jawab Alma yang seperti mau muntah melihat kelakuan Marcel. _ ​Alma kembali dengan dua gelas minuman. Saat ia menyodorkannya, Rasty sengaja menggerakkan tangannya hingga sedikit minuman tumpah mengenai sepatu mahalnya. ​"Astaga! Kau ini tidak becus sekali!" bentak Rasty. "Lihat, sepatuku basah! Marcel, dari mana kau memungut wanita ceroboh ini?" rengek Rasty dengan sangat manja. ​Marcel hanya menatap Alma dengan dingin. "Bersihkan sepatu Nona Rasty, Alma, sekarang!" hardik Marcel dengan tatapan sadis. ​"Marcel ...," suara Alma bergetar. ​"Lakukan, Alma. Jangan membuatku mengulang perintah," ucap Marcel tanpa emosi. ​Dengan air mata yang hampir jatuh, Alma berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Ia menggunakan sapu tangan putihnya untuk mengelap sepatu Rasty, sementara wanita itu menatapnya dari atas dengan senyum kemenangan. ​"Nah, begitu lebih baik. Kau memang terlihat lebih pantas di bawah sana, di kaki kami," ejek Rasty sambil menyesap minumannya. ​Tiga puluh menit kemudian, Marcel meminta izin pada Rasty untuk pergi ke toilet. Namun, sebelum masuk, ia memberikan isyarat mata pada Alma untuk mengikutinya. Di lorong yang sepi menuju toilet VIP, Marcel menyambar lengan Alma dan menariknya masuk ke dalam ruangan mewah itu, lalu mengunci pintunya. ​"Lepaskan aku, b******n!" teriak Alma sambil memukul d**a Marcel. ​"Tadi itu sangat hebat, Alma. Melihatmu berlutut ... itu membuatku sangat tegang," bisik Marcel, napasnya memburu. Ia tidak merasa bersalah, justru terlihat sangat terangsang oleh penghinaan yang baru saja terjadi. ​"Kau membiarkannya menghinaku! Kau benar-benar tidak punya hati! Aku sungguh membencimu, Marcel," ucap Alma dengan jelas. ​"Aku butuh penawar setelah menyentuh wanita membosankan." Marcel menarik paksa seragam ketat Alma hingga robek di bagian d**a. "Diam lah dan layani aku. Ini tugas asisten mu yang sebenarnya, bukan?" ​Marcel mengangkat tubuh Alma ke atas wastafel marmer yang luas. Ia membuka ritsleting celananya, membebaskan miliknya yang sudah menegang maksimal, urat-urat menonjol dan tegak sempurna. Semua tampak mengancam di bawah lampu kristal toilet. ​"Marcel, jangan ... Rasty menunggumu di luar! Ini gila Cel, tolong mengerti juga posisiku. Keluargamu pasti akan jauh lebih membenciku jika melihat ini semua ini," keluh Alma sambil menatap mata Marcel. ​"Biarkan dia menunggu. Aku ingin mendengar suaramu yang bergetar di ruangan ini," Marcel meraup bibir Alma dalam ciuman yang haus akan d******i. Tanpa kata-kata lagi, ia menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma yang sudah basah karena hormon stres yang bercampur dengan gairah terpendam. "Apa peduliku, haaa?" tanya Marcel sambil terus menekan lebih dalam. ​"Ahhh! Marcel ... pelan ... ahh!" Alma memekik, suaranya memantul di dinding keramik. ​"Kau sangat sempit malam ini, Alma. Apa kau cemburu melihatku dengannya?" Marcel bergerak dengan tempo liar, setiap dorongannya membuat botol-botol sabun dan parfum di wastafel berjatuhan ke lantai. ​"Aku ... ahh ... aku membencimu! Ahh, lebih dalam, Marcel! Ahhh!" Alma mencengkeram bahu Marcel, kukunya meninggalkan bekas luka goresan di punggung pria itu. Rasa sakit hati karena dipermalukan di depan Rasty seolah terlupakan sejenak, digantikan oleh gelombang kenikmatan yang mematikan yang selalu diberikan Marcel. ​Marcel tidak berhenti. Ia membalikkan tubuh Alma agar menghadap cermin besar di toilet itu. "Lihat dirimu, Alma. Kau baru saja berlutut di kakinya, dan sekarang kau memohon untuk ku masuki lebih dalam. Kau tahu di mana tempatmu yang sebenarnya, kan?" ​"Aku ... ahh ... aku milikmu, Marcel! Cepat! Ahh Marceeeel," desah Alma yang selalu hanyut dalam kenakalan Marcel. ​Hentakan Marcel semakin brutal, setiap hantaman mencapai titik terdalam Alma hingga wanita itu merasa jiwanya tercabut. Ia mencapai puncak dengan jeritan tertahan di leher Marcel, sementara Marcel menyemburkan benihnya yang panas dengan erangan puas yang panjang. "Sexy ...!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD