Bagian 10

831 Words
Hidup terasa sangat tidak adil ketika aku sadar bahwa tidak ada yang bisa kulakukan dengan benar. Bahkan untuk pekerjaan yang pria itu lakukan. Aku kesal memikirkan hal ini, hal yang tak seharusnya aku terlalu khawatirkan. Khawatir? *** “Apa yang kau lakukan!” Sebuah nada tinggi menganggu perasaan Hani saat ini. Gadis yang berada di dalam tubuh pria berumur 38 tahun itu menutup matanya, dia sedang berada di ruangan yang merupakan ruang kerja pemilik kafe ini. “Jika kau tidak bisa bekerja dengan benar, segeralah mengundurkan diri,” kata pria yang duduk dengan angkuh di kursi meja kerjanya. Hani pun tidak terima dengan penuturan pria di sana. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Mulai sekarang kau bisa menyiapkan surat pengunduran dirimu, aku rasa kakakku tidak akan keberatan jika kehilangan satu karyawan yang bahkan tidak handal di bidangnya,” lanjutnya yang mana membuat gadis di sana semakin kesal. “Maaf, Pak, saya rasa apa yang saya lakukan sudah benar,” balas Hani, kali ini dia lebih berani menatap pria yang merupakan bos sementara di sini. Ya, pemilik kafe ini yang merupakan kakak dari pria itu sedang tidak ada di tempat saat ini, hal ini ia ketahui dari Beni. “Benar? Kau hampir saja membuat citra kafe ini buruk.” “Pengunjung itu yang salah. Dia memesan minuman itu sebelumnya, dan ketika saya mengantarnya, dia ingin minuman lain. Saya tidak bisa memenuhi itu semua, Pak, karena apa yang terjadi dengan minuman yang pertama? Kafe bisa rugi nanti. Sepertinya di toko di mana barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan apalagi ditukar,” terangnya. “Bos di sini siapa? Kau atau aku?” “Maaf, Pak, seperti yang kita ketahui jika Bapak hanya sementara di sini sebelum pemilik sebenarnya selesai dengan urusannya,” jawab Hani yang sepertinya mengundang kemarahan pria itu. Hani tidak akan tinggal diam jika menyangkut dengan pekerjaan Arya. Apa yang akan mereka makan jika pria itu dipecat nanti. “Keluar!” perintahnya yang membuat Hani mengangguk mengerti. Dia pun segera keluar dan kembali kepada pekerjaannya. Sepertinya gadis itu benar-benar bisa membungkam si pria tadi. Ah, rasanya aneh ketika dirinya bisa melawan dalam keadaan seperti ini. Padahal jika di sekolah dirinya hanya bisa diam tanpa bisa melawan. Mungkin efek menempati tubuh pria berumur 38 tahun ini membuat Hani sedikit lebih berani. Sepertinya menjadi orang dewasa sangat menyenangkan. “Bagaimana? Apa yang dia katakan?” tanya Beni ketika melihat keberadaan temannya yang telah kembali ruangan bos. “Dia hanya mengomeliku. Dan hampir memecatku,” jawab Hani. “Hampir?” tanya Beni mengernyit bingung. “Ya, karena aku membela diri. Lagi pula ini bukan wewenang dia memecat karyawan karena seperti katamu dia hanya sementara di sini,” jelas Hani. “Tapi, besok Bu Saskia akan kembali. Dan sepertinya pria itu tidak akan tinggal diam, pastinya dia akan segera menceritakan tentang hari ini.” Hani yang berada di dalam tubuh Arya pun tersenyum, kemudian dia menepuk pundak temannya itu dengan pelan. “Tenang saja, aku bisa mengatasinya. Lagi pula aku tidak bersalah dalam hal ini. Ya sudah lebih baik kita kembali bekerja,” tuturnya yang disetujui oleh Beni. Ya, Hani tidak akan tinggal diam ketika pekerjaan ayahnya terancam. Lagi pula di berada di pihak yang benar. *** “Apa yang terjadi?” tanya Arya ketika melihat di koridor sekolah putrinya sedang ada keributan. Di sana juga ada Rara yang ikut menyaksikan bersama murid lainnya. Gadis bernama Rara itu menoleh kepada Hani yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya. “Jonathan buat masalah lagi,” jelas Rara. Arya mengingat jika pemuda bernama Jonathan itu adalah salah satu teman sekelas anaknya, tadi dia melihat pemuda itu berada di dalam kelas. Pemuda dengan penampilan yang sedikit acak-acakan. Sudah Arya pastika jika pemuda itu bukanlah anak yang baik. Arya pun ingin melihat lebih dekat, tetapi Rara langsung mencegahnya. “Jangan, Han. Kamu tau sendiri Jo seperti apa. Aku nggak mau kamu kena imbasnya nanti,” peringat gadis itu membuat Arya mengernyit bingung. Jo adalah laki-laki, tidak mungkin dia berani menindas perempuan apalagi teman sekelasnya. “Kita harus mengeceknya, Ra. Oh iya, lebih baik kamu panggil guru saja agar mereka segera menyelesaikan masalah ini,” usul Arya. Rara pun terlihat ragu untuk melepaskan temannya ini. Dia sudah sering melihat Hani mendapat masalah dari Jo dan Jeni, tentu saja kali ini dia tidak ingin temannya menjadi target dua orang itu. “Tenanglah, aku tidak akan membuat masalah,” ujar Arya meyakinkan gadis itu. Dengan terpaksa Rara melepaskan tangannya dan segera berlari menuju ke kantor. Melihat kepergian Rara membuat Arya langsung memusatkan perhatiannya kepada kerumunan itu. Seketika dia pun segera menuju ke sana dan mengabaikan apa yang dia katakan kepada teman anaknya itu. Benar saja dugaan Arya jika terjadi pergulatan dua pemuda di sana. Dua orang itu sama-sama dalam kondisi yang tidak baik. Terdapat memar di bagian wajah mereka. Arya tidak habis pikir dengan pelajar sekarang yang terlihat tidak berpendidikan. Belum lagi tidak ada dari siswa di sana yang mau melerai keduanya. “BERHENTI!” sentak Arya membuat semua perhatian tertuju kepadanya begitu juga dengan dua pemuda yang sedang berkelahi tadi. Dia memang sengaja melakukan ini agar tindakan mereka tidak sampai di luar batas. Namun, tindakannya itu langsung mendapat tatapan tidak suka dari semua orang terutama Jonathan—pemuda yang satu kelas dengan putrinya itu. Hayoloh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD