Bagian 11

1210 Words
Ketidakadilan terjadi lagi di depan mataku. *** Dan di sinilah Arya sekarang, UKS bersama pemuda yang tadi bertengkar di koridor sekolah. Dirinya tidak habis pikir kenapa dia juga mendapat masalah dalam hal ini. “Sstt. Pelang-pelan!” sentak pemuda itu ketika Arya menekan luka yang ada di wajahnya itu. Arya pun mendengkus kesal dengan teman sekelas putrinya ini. “Kamu terlihat berani sekali ketika memukulinya tadi, dan lihatlah sekarang kamu malah terlihat kesakitan hanya karena tersentuh kapas ini,” cibir Arya. “Lebih baik lo diam dan lakukan tugas lo ini. Atau kalau lo sudah malas sekolah di sini, lo bisa keluar sekarang,” kata Jo menekan setiap kalimatnya. Arya pun tidak terima ketika dirinya diancam seperti ini. “Atas dasar apa kamu mengatakan hal ini? Seharusnya kamulah yang keluar. Anak nakal dan bandel sepertimu harus jauh-jauh dari sekolah ini,” balas Arya yang membalikkan kata-kata pemuda itu. Sedetik kemudian tawa menguar dari mulut Jonathan yang membuat pria ini mengernyit bingung. Sepertinya pemuda di depannya sudah tidak waras. “Apa lo lupa siapa gue? Apa perlu gue ingatkan posisi gue di sini sebagai apa dan lo sebagai apa?” kata pemuda itu dengan nada meremehkannya. Jonathan melihat ada gurat kebingungan di wajah gadis di depannya. Gadis yang selalu menjadi target bully-an di sekolah. Wajah memang pantas menjadi target. “Sudah. Lo bisa pergi sekarang,” titahnya membuat lamunan Arya terhenti. Arya yang berada di dalam tubuh Hani pun segera beranjak keluar UKS menuju ke kelasnya. Dia tidak mengerti dengan sikap yang Jonathan tunjukkan tadi dan apa maksud dari perkataannya barusan. “Astaga, Hani. Kamu nggak apa-apa, kan? Jo nyakitin kamu lagi, nggak?” tanya Rara beruntun sambil mengecek setiap inci tubuh temannya itu. Arya pun duduk di kursinya dan menghentikan tindakan gadis itu yang mengecek tubuhnya saat ini. ‘Tidak, Ra. Aku baik-baik saja. Aku hanya membantunya membersihkan luka-luka itu,” terang Arya. Rara bernapas lega, kemudian gadis itu menatap temannya ini dengan penuh. “Tadi aku sudah katakan untuk tidak mendekati kerumunan itu. Lihatlah kamu kena imbasnya juga. Setelah ini Jo dan Jeni tidak akan tinggal diam lagi,” kata gadis ini membuat Arya semakin bingung. Dirinya benar-benar tidak mengerti dengan segala perkataan yang Rara ucapkan. “Hani, kamu dengar apa yang aku katakan, kan?” seru gadis itu yang membuat Arya kembali dari lamunannya. “Tenanglah, Ra, aku baik-baik saja, kok.” “Nggak ada yang baik-baik saja ketika berurusan dengan mereka berdua, Hani. Kamu pasti tidak lupa, kan, dengan yang mereka lakukan padamu dan anak-anak lainnya?” “Tidak apa-apa, Ra. Kan, masih ada guru yang mengatasinya,” balas Arya. Selama masih ada orang dewasa, maka permasalahn remaja akan ada penyelesaiannya. “Guru? Kamu tentunya tidak akan lupa dengan posisi Jo di sekolah ini. Dan jangan lupakan kejadian tadi juga. Kamu pasti tidak akan lupa, kan?” ujar Rara membuat Arya kembali mengingat kejadian di lorong sekolah ini tadi. “BERHENTI!” sentak Arya membuat semua perhatian tertuju kepadanya begitu juga dengan dua pemuda yang sedang berkelahi tadi. Dia memang sengaja melakukan ini agar tindakan mereka tidak sampai di luar batas. Namun, tindakannya itu langsung mendapat tatapan tidak suka dari semua orang terutama Jo—pemuda yang satu kelas dengan putrinya itu. “Tindakan kalian seperti anak-anak,” ucap Arya memandang keduanya. Bahkan dia tidak peduli dengan bisikan-bisikan yang siswa sekolah ini ciptakan di belakangnya. Jonathan yang melihat Hani yang selalu menjadi target perundungannya pun berdiri tepat di depan gadis itu. “Apa yang lo lakuin di sini?” kata Jonathan dengan nada dinginnya. Arya yang notabenya tidak mengetahui apa yang biasanya Hani dapatkan di sekolahnya pun terlihat santai, bahkan dia berani menatap pemuda di depannya dengan terang-terangan tanpa rasa takut. “Guru-guru sebentar lagi akan datang, kalian harus segera membubarkan kerumunan ini sebelum mendapat masalah nantinya,” ujar Arya. Pastinya Rara saat ini sudah sampai di ruang guru. Jonathan tersenyum sinis, pemuda itu menatap Arya tajam. Tentu saja pemuda itu tidak tahu jika yang berada di dalam tubuh Hani saat ini bukanlah gadis itu, melainkan pria berumur 38 tahun yang sudah dewasa dan matang umurnya. “Lebih baik lo pergi sebelum lo yang akan jadi target gue sekarang,” tekan Jo mengusir gadis itu. Saat ini dia sedang berurusan dengan pemuda yang merupakan pengganggu di hidupnya. Dan sialnya Hani datang di saat yang tidak tepat. Dirinya ingin menyelesaikan urusan dengan pemuda itu lebih dulu. “Kenapa kamu keras kepala sekali? Tidakkah kamu lihat bagaimana penampilan kalian saat ini?” kata Arya lagi. “Lo—” Terlambat, guru-guru sudah datang terutama guru BK sekolah ini Pak Jaenudin. Arya pun akhirnya lega ketika melihat orang-orang dewasa itu telah datang. “Apa yang kalian lakukan?” tanya Pak Jaenudin kepada kedua pemuda di sana. “Dia memukulku lebih dulu,” jawab pemuda yang bertengkar dengan Jonathan tadi. Sedangkan Jonathan sendiri terlihat hanya diam dan enggan menjawab. “Apa ada pembelaan Jonathan?” tanya Pak Jaenudin beralih kepada siswanya itu. Jo melirik Arya sinis kemudian beralih kepada guru BK-nya itu. “Tidak ada. Aku rasa tidak ada yang harus aku jelaskan di sini,” tuturnya membuat Arya mengernyit. Terlihat guru BK itu mengangguk mengerti. “Kamu,” tunjuk pria ini kepada pemuda yang bertengkar dengan Jo tadi. “Ikut saya ke ruang BK sekarang,” perintahnya. Terlihat pemuda itu mendesah pasrah, percuma saja dirinya akan kalah dari Jonathan. Pemuda itu pun mengikuti langkah Pak Jaenudin. “Tunggu, Pak,” cegah Arya yang membuat Rara khawatir dengan tindakan yang diambil temannya itu. Seketika atensi mereka beralih kepada Arya yang berada di dalam tubuh Hani. “Kenapa hanya dia yang dibawa ke ruang BK? Jonathan juga melakukan keributan ini. Mereka saling pukul tadi,” sambungnya. “Hani, masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi. Bapak tau apa yang harus Bapak lakukan.” “Tidak! Ini tidak adil, Pak,” bantah Arya keras. Sekolah apa ini yang berat sebelah. “Maafkan Hani, Pak. Dia sedang tidak sehat saat ini. Lebih baik saya segera membawanya pergi,” ucap Rara yang segera menengahi perdebatan kecil ini. dia pun memberi kode kepada temannya itu agar tidak membuat masalah. “Ya, lebih baik kamu segera bawa dia,” balas Pak Jaenudin yang segera beranjak menuju ke ruangannya. Melihat kepergian guru itu membuat Arya kesal. Jonathan pun tertawa sinis melihat kelakuan gadis di sana yang tidak ada gunanya. “Hei, kau,” panggil Jo yang membuat kedua gadis di sana menoleh kepadanya. “Cepat ikut gue,” titahnya. Pemuda itu melewati tempat Arya dan Rara berdiri. Arya sendiri sudah akan memberi pelajaran pemuda tidak tau sopan santun itu, sayangnya Rara mencegahnya. “Jangan, Han, nanti kamu akan dapat masalah. Lebih baik kamu cepat susul dia,” kata Rara memberi pengertian. Arya pun mengembuskan napasnya dengan kasar. Baiklah, dia akan menurut hanya untuk saat ini. “Kamu tau, kan, seberapa pengaruhnya Jo di sekolah ini?” tanya Rara yang membuat Arya akhirnya paham. Jo bukanlah siswa biasa, bahkan guru-guru tidak berani memberinya hukuman. Sebenarnya siapa pemuda itu? “Ra, siapa dia? Maksudku kenapa guru tidak menghumnya juga? Bukankah ini terasa tidak adil bagi semua orang?" “Keadilan tidak berlaku di sini, Hani. Dan aku rasa kamu tau hal itu. Mungkin kamu akan bosan ketika aku berkali-kali mengatakan ini, tetapi yang jelas jangan membuat masalah dengan Jonathan jika kamu masih ingin sekolah di sini. Setidaknya kita harus bertahan hingga kelulusan nanti. Dan sepertinya aku rasa kamu tidak lupa siapa Jonathan. Dia adalah pemilik sekolah ini di masa depan nanti.” Arya pun benar-benar terkejut mendengar fakta yang baru saja ia dengar. Jadi, Jonathan adalah anak dari pemilik sekolah. Dan tentu saja ketidakadilan akan berlaku di sini. Sungguh takdir hidup yang tidak mengenakkan. Bisakah Arya membuat hidup putrinya sedikit lebih baik? Setidaknya dia  harus menciptakan masa SMA putrinya lebih berwarna. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD