Bagian 12

1212 Words
Ibuku hanya satu, selamanya akan tetap begitu. *** Hani bekerja seperti biasa, kali ini dia tidak ingin mendapat kemarahan lagi dari bos keduanya, lebih tepatnya adik dari Bu Saskia. Menurutnya pekerjaan ini tidaklah sulit, dia hanya perlu melayani beberapa pengunjung dan mengantarkan pesanan mereka. Kalau saja dia tidak sedang berada di dalam tubuh Arya, maka dia tidak akan mau melakukan hal seperti ini. “Kamu dipanggil Bos ke ruangan,” kata Beni yang seketika membuat Hani gugup. Apakah ayahnya akan dipecat karena kejadian kemarin? Gadis itu menggelengkan kepalanya, mencoba tetap berpikir positif. Dia yakin kalau dirinya tidaklah bersalah. Walau bagaimanapun, dia merasa bertanggungjawab dengan pekerjaan ayahnya saat ini. “Masuk.” Suara Saskia terdengar merdu di dalam ruangannya. Hani bergegas masuk dengan kepala yang tertunduk. “Duduklah,” perintah wanita itu. Hani yang berada di dalam tubuh Arya pun duduk dan masih tetap dengan kepala yang tertunduk. Sekiranya seperti inilah yang selalu Hani lakukan ketika dirinya dipanggil ke ruang guru. “Kenapa kamu terus saja melihat ke bawah? Apakah ada yang menarik di sana?” kata wanita yang ada di depan Hani, terdengar seperti sebuah protes darinya. Dan dengan terpaksa, Hani pun menegakkan kepalanya, menatap wanita dewasa itu. Dia lupa kalau dirinya saat ini memakai tubuh Arya, orang dewasa yang seharusnya tidak mengenal akan rasa takut. “Beberapa hari tidak bertemu sepertinya kamu lupa untuk mencukur jenggot. Lihatlah, kamu terlihat seperti kera, Mas,” kata wanita itu dengan gelak tawanya. Hani membulatkan matanya apalagi ketika mendengar wanita ini memanggil ayahnya dengan sebutan ‘mas’. Terasa aneh ketika itu dilakukan oleh bos kepada karyawannya. Hani tidak tahu harus memberikan respons seperti apa karena ini adalah hari keduanya bekerja menjadi Arya. “Hei, Mas. Kamu kenapa? Apa ada masalah?” tanya Saskia terlihat khawatir ketika tidak mendengar balasan dari pria yang ada di depannya. Hani mengerjapkan matanya beberapa kali, dia dalam situasi seperti apa saat ini? “Apakah ada masalah dengan putrimu lagi?” tanyanya yang membuat Hani menatap wanita itu penuh. Apakah ayahnya seringkali menceritakan tentang dirinya kepada bosnya sendiri? Sejauh apa hubungan yang mereka jalin antar bos dan karyawan? “Oh iya, aku mengingat jika beberapa hari lalu putrimu sedang berulang tahun. Ini, aku sudah membelikan hadiah untuknya. Ini aku beli saat perjalanan bisnis kemarin,” ucap wanita ini lagi sambil memberikan tas belanja yang entah apa isinya. Hani termangu di tempatnya. “Te ... terima kasih,” balas Hani sedikit gugup. “Sama-sama, Mas. Oh iya, nanti malam kamu jangan pulang dulu, ada hal yang ingin aku bicarakan. Sekalian kita makan malam,” ucap wanita itu lagi yang semakin membuat Hani bingung. “Makan malam?” Saskia mengangguk, dia mengeryit ketika mendapati tingkah Arya yang berbeda tidak seperti biasanya. Ada apa dengan pria itu? “Mas ... kamu baik-baik saja, kan? Atau kamu sedang sakit?” tanyanya. Hani menggeleng penuh. “Ah, tidak, tidak. Aku hanya teringat dengan putriku,” jawabnya dengan cepat agar tidak menambah kecurigaan Saskia. Wanita itu mengangguk mengerti. “Putrimu masih muda, jangan terlalu kamu mengekangnya. Ya ... setidaknya dia juga butuh ruang untuk dirinya sendiri,” kata Saskia dengan senyum kecilnya yang membuat Hani semakin bingung dengan hubungan apa yang mereka jalin ini. Apakah dia harus menanyakan hal ini kepada Arya? Tentu saja ayahnya tidak akan mengaku. *** Di luar kafe ada seseorang yang menunggu Hani dengan setia. Sepertinya setiap hari dia akan melakukan hal ini, memastikan jika putrinya baik-baik saja. Arya melihat jika Hani sedang menutup pintu kafe, mengubah papan menjadi tulisan ‘tutup’, persis seperti yang dia lakukan. Kemudian Arya melihat Beni berpamitan kepada Hani yang memakai tubuhnya, seperti yang dia lakukan. Sepertinya Hani belajar dengan cepat, dia hanya butuh sehari untuk memahami keadaan sekitar. Arya melambaikan tangannya kepada Hani yang tanpa sengaja menengok kepada dirinya. Putrinya itu berlari kecil menuju ke tempatnya. “Ayah, apa yang Ayah lakukan di sini? Bagaimana jika semua orang curiga?” sembur Hani kesal. Padahal kemarin dia sudah menegur pria ini untuk tidak datang menjemputnya karena dia akan pulang sendiri. “Ayah hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Nak. Dan lagi pula tidak baik seorang gadis pulang larut malam,” jawab pria itu yang membuat Hani menatap ayahnya kesal. “Aku bukanlah seorang gadis lagi. Aku adalah pria dewasa yang bisa menjaga dirinya sendiri. Lagi pula siapa yang akan mengganggu pria dewasa sepertiku?” jawab Hani yang kembali mengingatkan kepada ayahnya bahwa mereka masih belum kembali ke keadaan normal. Arya tertawa kecil, kemudian dia mengacak rambut Hani yang tentu saja tidak akan berantakan. “Ayah ... akan aneh jika orang-orang melihat yang Ayah lakukan,” tuturnya dengan nada berbisik. “Mas Arya!” Kedua orang itu menoleh kepada seseorang yang berada di depan kafe. Hani membulatkan matanya ketika melihat bos dari ayahnya itu mendekat. Sedangkan Arya sendiri yang masih berada di dalam tubuh Hani pun merasa gugup. Dia lupa untuk menceritakan kepada putrinya mengenai wanita itu. “Ini Hani putrimu, bukan?” tanya Saskia yang diangguki oleh kedua orang itu tanpa sengaja. Hani segera mengubah keadaan agar kembali normal. “Ah, ya, perkenalkan dia putriku—Hani. Dan Hani, perkenalkan ini adalah Tante Saskia, pemilik kafe tempat ayah bekerja,” terang Hani. Tentu saja Arya membalas uluran tangan Saskia dengan ragu. Astaga, rasanya aneh ketika berinteraksi dengan wanita itu dalam keadaan seperti ini. “Kebetulan sekali ada putrimu di sini. Bagaimana kalau kita makan malam bertiga?” usul Saskia membuat Arya terkejut dibuatnya. Tentu saja Hani tidak terkejut karena tadi pagi Saskia juga sudah mengatakan kepadanya ingin membicarakan sesuatu. Hani menatap Arya, mencoba berinteraksi dengan mata mereka. Arya mengangguk setuju karena walau bagaimanapun tidak baik menolak permintaan wanita itu. “Baiklah,” ucap Hani kepada Saskia yang membuat wanita ini senang sekali. “Ayo, mobilku ada di sana,” tunjuknya sambil berjalan menuju ke seberang. Baik Arya maupun Hani, keduanya mengikuti langkah wanita itu. *** “Sepertinya Ayah harus menjelaskan semuanya kepadaku,” ucap Hani dengan tangan bersedekap. Gadis itu menatap tajam sang ayah yang sejak tadi gelisah ketika mereka makan malam bersama Saskia. Ayahnya patut ia curigai karena interaksi yang ditunjukkan oleh Saskia tidaklah wajar jika itu kepada karyawannya sendiri. “Kamu sudah tau sendiri kalau dia adalah pemilik kafe tempat ayah bekerja, jadi—” “Hubungan apa yang Ayah miliki dengannya?” potong Hani dengan cepat. Dia tahu Arya pasti akan bertele-tele menjawab dan berakhir dengan bualan yang dia ucapkan. Arya terkejut dengan pertanyaan dari putrinya itu. “Ayah ... kami hanyalah atasan dan bawahan,” jelasnya. “Jangan Ayah kira aku akan percaya dengan perkataan Ayah ini,” ucap Hani. “Apakah wajar interaksi kalian seperti itu? Bukankah itu terlihat seperti kalian sudah sangat dekat sekali? Oh ... atau jangan-jangan yang aku pikirkan benar,” imbuhnya semakin menyudutkan Arya. “Sayang, semua itu tidak benar. Kami tidak memiliki hubungan apa pun selain pekerjaan,” jelas Arya sekali lagi. “Baiklah, aku akan percaya. Tapi ... kalau apa yang aku pikirkan mengenai kalian adalah benar ... aku tidak akan pernah memaafkan Ayah. Ibuku hanya satu, selamanya akan tetap begitu,” ucap Hani dengan tegas membungkam Arya dengan segala ucapannya. Gadis itu meninggalkan Arya dengan perasaan yang berkecamuk, sedangkan pria di sana hanya menatap potret mendiang sang istri yang terlihat cantik di sana. Dia kembali membuat hubungan dengan putrinya menjadi buruk lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD