Bagian 13

708 Words
Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Cinta kedua seorang ayah adalah putrinya. Tentu saja aku tetap tidak setuju dengan opini ini. Cinta pertama katanya? Cih, sungguh bukanlah kenyataan yang sebenarnya. *** Bisa dikatakan Arya saat ini mendapat kesialannya. Ya, apa yang Rara katakan beberapa hari lalu membuatnya menjadi paham. Jangan pernah membuat masalah dengan Jonathan ataupun Jeni, ya seharusnya dia mengikuti peringatan yang gadis itu berikan, nyatanya telah terlambat bagi dirinya untuk menjauh. “Lo, bersihkan kelas ini,” perintah Jo kepada Arya yang masih di dalam tubuh Hani. Tentu saja Arya kesal melihat tindakan semena-mena pemuda itu. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya paham jika berhubungan dengan pemuda ini maka tidak akan ada lagi keadilan. “Kenapa lo natap gue seperti itu?” seru Jonathan lagi membuat Arya segera tersadar dari lamunannya. Tidak, dia tidak boleh bersikap aneh di depan teman-teman putrinya agar nanti Hani tidak mendapat masalah. Arya pun segera mengambil sapu dan sekop untuk ia gunakan. Ini bukanlah jadwal piket Hani, tetapi dia dipaksa untuk menggantikan tempat Jonathan. Jika memang tidak ingin piket, alangkah lebih baik jika Dean tidak memasukkan nama pemuda itu agar tidak menyusahkan teman-teman lainnya. “Minggir.” Belum selesai dengan Jonathan, kini timbul satu lagi yakni Jeni dan antek-anteknya. Sepertinya hidup putrinya tidak tenang di sekolah, dan kenapa juga Hani tidak pernah bercerita kepadanya jika dirinya diperlakukan secara tidak adil di sini? “Hani apa yang kamu lakukan?” Seorang pemuda yang Arya kenal sebagai ketua kelas sekaligus teman putrinya itu menegur dirinya saat ini. “Aku sedang menyapu kelas, lihatlah,” jawab Arya sambil memperlihatkan sapu yang ia pegang saat ini. “Jadwalmu hari Rabu, bukan hari ini, Hani,” seloroh Dean. Arya pun tidak peduli, bahkan ketika Dean melewati dirinya untuk meletakkan tas di kursinya sendiri. “Sudahlah Hani, letakkan sapu itu,” perintah Dean yang mulai mengeluarkan buku-bukunya. Sepertinya pemuda itu tidak pernah berhenti belajar. Arya jadi mengingat Hani yang saat ini sedang bekerja. Seharusnya gadis itu belajar di sekolah. Baiklah, dia harus segera menemui seseorang untuk menyelesaikan masalah ini. “Diamlah, Dean, aku sedang fokus menyapu. Lebih baik kamu fokuslah belajar.” “Ck.” Arya mendengar suara decakan yang pemuda itu keluarkan dan entah maksudnya apa. Dia pun mengedikkan bahu dan melanjutkan acara menyapunya. Di tempat kerja Arya. “Untung saja Bu Saskia sudah kembali. Aku tidak membayangkan jika ada pria itu terus menerus setiap harinya,” celoteh Beni kepada Hani yang sedang ada di sebelahnya. Saat ini kafe masih sepi karena masih terlalu pagi bagi orang-orang untuk berkunjung. Tentu saja Beni sedang membicarakan kedua saudara yang menjadi bos mereka. “Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Bu Saskia? Aku lihat kalian sudah tak sedekat dulu,” imbuh Beni yang membuat Hani mengernyit. Jadi, ayahnya pernah dekat dengan bosnya sendiri. Seketika senyum kecut terlihat di wajah gadis itu. Ternyata benar dugaannya jika Arya telah berbohong mengatakan jika mereka tidak memiliki hubungan. “Arya!” panggil Beni yang melihat temannya sedikit melamun. Hani pun segera tersadar akan dirinya dan kembali fokus ke obrolan mereka. “Kamu melamun? Masih terlalu pagi untuk melamun,” tutur Beni mengingatkan pria ini. Hani pun tersenyum kecil. “Bagaimana dengan putrimu? Mengenai Bu Saskia, apakah kamu sudah membicarakan dengannya? Aku tebak belum, kan? Aku tau kamu tidak akan punya keberanian mengatakan kepada gadis itu jika sudah memiliki tambatan hati.” “Apa maksudmu? Ibu Hani hanya satu, yakni istriku. Tidak ada ibu-ibu lainnya,” cetus Hani dengan nada tidak sukanya. Apa yang dikatakan Beni benar-benar mengganggu dirinya. Tentu saja Arya tidak akan pernah menikah lagi, dan Hani akan memastikan itu. “Astaga, aku tau itu. Tidak perlu kamu marah seperti ini, Arya. Aish, pria ini sungguh membuatku takut,” sahut Beni yang terkejut melihat respons Arya yang tiba-tiba apalagi nada bicara pria itu tidak seperti biasanya yang selalu tenang. Hani tidak peduli dengan protes yang teman ayahnya ini ajukan. Melihat ada pengunjung yang datang, dia pun segera menghampiri pengunjung itu. “Beberapa hari ini dia terlihat aneh,” kata Beni dengan suara kecil seperti sebuah gumaman. Hani masih terus memikirkan tentang perkataan Beni sekaligus tingkah Arya dan Saskia kemarin. Mereka sungguh-sungguh membuatnya banyak pikiran, apalagi mengenai hubungan dekat keduanya. Tidak ada wanita yang bisa menggantikan Andin di hidup Hani, tidak seorang pun. Meskipun dia belum pernah melihat secara langsung rupa sang ibu, tetapi Hani tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Andin ketika tahu tempatanya dihuni oleh wanita lain. Tidak, Hani tidak akan membiarkan hal itu terjadi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD