Andin ... putri kita selalu berkata jika dia tidak butuh diriku. Dia selalu berusaha untuk pergi jauh dariku. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya selalu berpikir seperti ini. Bahkan aku selalu menuruti apa yang dia ia mau. Apakah aku tidak pantas menjadi seorang ayah? Jika memang iya, maka aku akan mencoba menjadi ayah yang pantas untuknya.
***
Jika diibaratkan manusia buruk, maka para murid di sini benar-benar buruk menurut Arya. Selama beberapa hari menggantikan peran sang putri di sekolah, dia belajar banyak hal. Lingkungan sekolah putrinya tidak seperti lingkungan sekolah jaman dulu. Dulu, perundungan sangat ditindak tegas, tentu saja mereka enggan untuk melakukan hal-hal buruk sesama siswa. Dan sekarang? Dunia sudah tak sebaik dulu lagi. Keadilan seakan ditiadakan, yang ada hanya kedudukan dan tingkat sosial yang menjadi keutamaan.
“Hei, bodoh.”
Lagi dan lagi Jeni memanggil Arya tidak sopan. Dengan langkah sedikit ogah-ogahan dia pun mendekati gadis yang seumuran dengan putrinya itu.
“Ada apa?” tanya Arya dengan raut wajah sedikit tidak mengenakkan. Mereka sedang berada di koridor sekolah, dengan Arya yang baru saja selesai mengambil beberapa buku dari perpustakaan untuk digunakan dalam pelajaran selanjutnya.
“Lihatlah wajahnya. Dia seperti tidak takut dan ingin menantangmu, Jen,” seru salah satu antek-antek Jeni yang selalu mengikuti gadis itu ke mana saja.
Jeni memandang Arya yang berada di dalam tubuh Hani dengan kesal. Entah apa yang mendasari gadis ini hingga selalu berlaku buruk kepada Hani. Lebih tepatnya hal itu terjadi selama di kelas akhir ini. “Lo, belikan kami makanan di kantin,” kata Jeni dengan nada perintahnya seperti biasa. Arya mengembuskan napasnya lelah, gadis ini tidak akan pernah berhenti mengganggu putrinya jika dibiarkan seperti ini terus menerus.
“Jeni, aku sedang ditugaskan untuk membawa buku-buku ini untuk pelajaran selanjutnya.”
“Lo berani nolak perintah gue?” ujar Jeni dengan nada tinggi miliknya.
“Bukan seperti itu, hanya saja apakah kamu tidak tahu jika aku juga sedang sibuk? Jika mau, aku bisa segera ke kantin, tetapi tolong bawalah buku-buku ini ke kelas,” sahut Arya yang segera mendapat suara tawa dari Jeni dan teman-temannya.
“Dia berani memerintah kita, Jeni.”
“Ya. Semakin lama dia semakin menyebalkan. Bagaimana jika bermain sedikit untuk hari ini?” kata Jeni yang tidak dimengerti oleh Arya. Gadis itu memberi kode kepada teman-temannya dan dengan cepat kedua tangan Arya dipegang erat oleh mereka.
“Hei, apa yang kalian lakukan?” Dia meronta dibalik cengkeraman tangan mereka. Teman-teman Jeni seakan tidak peduli, mereka segera membawa Arya ke bagian belakang sekolah. Bagian yang selalu sepi dan tidak ada siswa yang mau ke sana. Karena menurut rumor, di sana di huni oleh makhluk tak kasat mata. Entah itu benar atau tidak, yang jelas mereka percaya akan rumor itu.
Tubuh Arya dihempaskan ke dinding, untungnya dia masih bisa menjaga keseimbangannya agar buku-buku tadi tidak jatuh. Namun, itu tidak berlangsung lama karena Jeni langsung menghempaskan buku-buku itu hingga jatuh ke tanah. s**l, apa yang gadis-gadis ini inginkan?
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Arya, kali ini nadanya sedikit meninggi karena menurutnya tindakan mereka keterlaluan.
Kembali suara tawa Jeni dan teman-temannya terdengar. “Lo semakin lama semakin ngelunjak. Apa lo udah bosan hidup? Oh iya, bagaimana kabar ibu lo? Ups, gue lupa kalau lo nggak punya ibu. Bagaimana bisa seseorang tidak memiliki ibu? Astaga, sungguh kenyataan yang konyol,” seloroh gadis ini. Arya sudah mengepalkan tangannya ketika mendengar bagaimana gadis di depannya membahas mendiang sang istri. Dan jangan lupakan ketika gadis itu membahas putrinya yang tidak memiliki ibu.
“Diamlah, Jeni. Lebih baik kamu diam dari pada melakukan tindakan bodoh seperti ini,” kata Arya yang mulai berani sekarang.
“s**l! Lo berani-beraninya!” satu dorongan kuat langsung membuat tubuh Arya tertekan di dinding, dia kehilangan keseimbangan tubuhnya.
“Cepat! Beri dia pelajaran yang setimpal,” titah Jeni kepada teman-temannya. Dan segera saja tubuh Arya menjadi sasaran gadis-gadis ini. s**l! Dia tidak bisa berbuat kasar kepada mereka.
“Aish.”
Gadis itu meringis ketika tanpa sengaja pisau yang ia pakai untuk membuka sachet minuman menggores jempol miliknya. Darah segar keluar dari sana, tidak banyak memang, tetapi hal itu cukup terasa. Dengan cepat gadis itu memasukkan jarinya ke dalam mulut. Tentu saja Hani tidak pernah berada di dapur karena itu adalah tugas dari Arya. Namun, dia cukup mengerti cara menggunakan pisau, hanya jarinya sedikit terpeleset tadi. Tepat di saat Hani akan membersihkan jarinya, dering telepon masuk ke dalam indra pendengarnya. Dengan segera dia merogoh benda persegi panjang itu ke telinga.
“Halo. Selamat siang. Apa benar jika ini adalah nomor orang tua dari Hani?”
Gadis itu cukup terkejut ketika mendapat panggilan dari seseorang yang mengenal namanya. “Iya,” jawabnya kemudian.
“Bisakah Bapak ke sekolah? Ada sedikit hal yang harus kami sampaikan, ini mengenai putri Anda.”
Hani bisa menebak jika ini adalah suara dari Pak Jaenudin guru BK di sekolahnya. Seketika pikirannya melalang buana, apa yang dilakukan oleh ayahnya di sekolah hingga berurusan dengan guru itu?
“Maaf, Pak? Apakah Bapak masih ada di sana?” tanya suara dari seberang sana yang langsung menyadarkan Hani dari rasa terkejut miliknya.
“Ah, iya, maaf. Baiklah saya akan segera ke sana sekarang.”
“Baiklah.”
Panggilan pun ditutup, Hani mengembuskan napas beratnya. Baiklah, dia hanya harus datang ke sekolah, menyelesaikan masalah yang Arya buat selayaknya orang dewasa. Oke, bersikap sebagai orang dewasa sudah Hani jalani selama beberapa hari ini. Jadi, tidak akan ada hal buruk yang terjadi di sekolah nanti.
Baik Arya, Jeni dan teman-temannya, mereka masih saling tatap dengan wajah sengit. Dan jangan lupakan mereka tidak ada yang mau mengalah dan masih memegang teguh pendirian masing-masing, bahkan Pak Jae terlihat sudah pusing mendengar perdebatan mereka yang masih berlangsung hingga di ruangannya.
“Apakah kalian tidak bisa diam?” kata guru itu dengan dingin. Sebenarnya Pak Jae adalah guru yang tegas, dan tidak mentolerir kesalahan murid-murid yang nakal terutama seperti Jeni yang sudah sangat aktif keluar masuk ruangannya ini.
“Teman-teman saya mengalami beberapa luka di bagian kaki, itu semua karena Hani, Pak. Jika orang tua mereka menuntut pertanggungjawaban maka dialah yang menanggung semuanya,” tutur Jeni. Gadis itu menatap Arya dengan wajah menyebalkannya.
“Jeni, mereka hanya mengalami lecet, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” sahut guru pria itu.
“Tidak bisa begitu, Pak. Dia sudah melakukan k*******n, bahkan tadi saya juga didorongnya. Ada saksi mata, tanya saja kepada teman-teman saya,” seloroh Jeni yang terus mengompori Pak Jae untuk menutupi tindakan buruk yang sudah ia lakukan kepada Arya.
“Lantas, coba jelaskan apa yang kamu lakukan kepada Hani? Di dalam ruangan ini yang berpotensi besar melakukan tindakan buruk di sekolah adalah kamu serta teman-temanmu. Dan setahu Bapak, Hani bukanlah murid yang suka berkelahi,” ujar Pak Jae. Senyum kemenangan tercetak jelas di wajah Arya. Sepertinya dia sudah berani untuk membeli diri setelah kejadian ini. Meskipun ini bukanlah hidup pria itu, namun Hani adalah putrinya, dia harus memastikan putrinya hidup aman dan bahagia.
Ketukan pintu membuat percakapan mereka terhenti. Guru BK tersebut membukakan pintu dan langsung menampilkan visual pria yang membuat Arya terkejut. Itu adalah tubuhnya, namun di dalamnya ada Hani. “Selamat datang, Pak, silakan masuk,” ucap Pak Jae mempersilakan wali muridnya itu. Hani pun duduk di salah satu kursi, lebih tepatnya di sebelah Arya.
Hani melihat ada Jeni dan teman-temannya, sepertinya sang ayah bermasalah dengan mereka. Ternyata Jeni masih terus melancarkan perundungannya di sekolah ini. Namun, ada yang menarik di mana dia melihat keadaan Jeni dan teman-temannya serta Arya yang berada di dalam tubuhnya bisa dikatakan tidak begitu baik.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Pak?” tanya Hani. Saat ini dia menggunakan suara bass ayahnya dengan pandangan serius, Arya cukup takjub melihat perubahan putrinya yang sudah seperti menyerupai dirinya itu.
“Begini, Pak. Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena mengganggu pekerjaan Bapak. Hani terlibat pertengkaran dengan teman-temannya. Saya menggunakan Anda ke sini untuk memberikan nasihat kepada Hani agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan nantinya, mengingat saat ini dia sudah berada di kelas tiga.”
Hani akhirnya paham kenapa dia dipanggil. “Baiklah, Pak. Saya mewakili Hani sangat meminta maaf karena sudah mengganggu ketenangan sekolah. Dan saya akan pastikan untuk dia lebih giat belajar dan tidak terlibat hal seperti ini lagi.”
“Itu, bagus. Terima kasih untuk kerja samanya.”
“Kalau begitu ... apakah urusan saya sudah selesai? Mengingat saya harus kembali bekerja dengan segera,” tutur Hani. Dia tadi sudah meminta ijin kepada Bu Saskia, tetapi rasanya tidak etis jika keluar terlalu lama.
“Oh, tentu saja. Sekali lagi maaf karena sudah mengganggu waktu Bapak.” Hani hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Bolehkah saya berbicara dengan Hani sebentar, Pak?” pintanya yang diangguki oleh Pak Jae.
Hani segera membawa ayahnya ke lorong yang sepi. “Apa yang Ayah lakukan? Ayah ingin membuat nilaiku jadi buruk? Seumur-umur aku belum pernah masuk ke ruangan itu, dan Ayah telah membuat namaku menjadi buruk,” sembur Hani dengan cepat. Dia sudah tidak tahan menahan rasa kekesalannya atas sikap pria ini.
Arya mengambil satu tangan putrinya itu, menggenggamnya pelan. “Nak, mereka telah merendahkan kamu dan keluarga kita. Ayah tidak suka mendengar hal itu. Dan juga, kenapa kamu tidak mengatakan kepada Ayah jika mendapat perlakuan buruk dari teman-temanmu?”
Gadis itu mengempaskan tangan Arya dengan kencang serta menatapnya bengis. “Tidak ada urusannya dengan Ayah. Ini hidupku dan ini sekolahku. Aku tidak pernah ada masalah ketika mereka melakukan hal buruk. Itu sudah biasa terjadi di sekolah. Dan aku minta Ayah untuk bersikap selayaknya murid biasa,” terangnya.
Arya mengembuskan napas beratnya, sepertinya dia melakukan kesalah lagi. “Baiklah, maaf karena membuat semuanya menjadi buruk.”
“Jika Ayah sadar semuanya akan menjadi buruk, berhentilah melakukan tindakan sesuka Ayah. Ayah melihat itu semua baik-baik saja, padahal tidak ada yang baik-baik saja dengan yang Ayah lakukan,” kata Hani. Gadis itu segera beranjak dari tempatnya meninggalkan Arya seorang diri di sana. Entah apa yang membuat Hani sangat tidak menyukai Arya, yang jelas segala usaha sudah pria itu lakukan, namun selalu salah di mata putrinya.