Aku benci ayah. Aku benci segala tentangnya.
***
“Bu, apa kabar? Ini Hani, Bu. Putrimu yang selalu mendoakan Ibu untuk bahagia.”
“Bu ... sebentar lagi aku berusia tujuh belas tahun. Aku sudah bukan anak kecil lagi, Bu. Hani sudah dewasa sekarang.”
“Bu ... aku benci kepada pria itu. Aku sungguh-sungguh tidak menyukainya.”
“Bu ... apakah Ibu tidak bisa sekali saja mengunjungiku dalam mimpi? Aku butuh Ibu. Aku butuh dukungan dari Ibu.”
Hani terisak di samping makam sang ibu. Meskipun tidak pernah melihat wajah sang ibu secara langsung, Hani tetap berkunjung ke makam ibunya, tidak lupa juga dia memanjatkan doa-doa agar ibunya selalu tenang. Tentunya ibu adalah tempat terbaik untuk ia bercerita segala keluh kesahnya.
“Bu ... tolong dukung Hani sampai akhir. Aku tau Ibu selalu melihatku di atas sana. Beradalah di sisiku. Hani sayang Ibu,” ucapnya sambil menghapus air mata yang selalu saja keluar ketika mengunjungi ibunya.
“Apa kamu sudah membelikan putrimu hadiah?” tanya Beni ketika jam istirahat tiba. Pergerakan Arya yang akan menyendokkan makanannya pun terhenti di udara.
“Nanti aku akan mampir ke toko,” jawabnya. Memang dia belum membelikan hadiah untuk putrinya karena dia sendiri bingung akan membeli apa.
Beni menepuk pundak temannya itu dengan pelan. “Belikan apa yang dia butuhkan. Yang menunjang pendidikannya. Oh iya, apakah Hani sudah menentukan akan lanjut kuliah atau bekerja?” tanyanya yang mengingat tentang hal itu. Arya pun terdiam, dia mengingat percakapan keduanya beberapa hari yang lalu.
“Dia tidak memberi jawaban pasti. Hani hanya mengatakan jika dia akan tinggal di luar kota setelah lulus sekolah nanti," jelas Arya.
“Apa?!” Temannya ini nampak terkejut mendengar perkataan Arya.
“Aku tidak bisa mencegah keinginannya,” jelas Arya.
Beni mengembuskan napas lelahnya, inilah hal yang tidak ia suka dari temannya. Arya terlalu penurut dan kurang tegas kepada putrinya. Entah sudah berapa kali Beni mendengar cerita Arya yang pada dasarnya menunjukkan sekali jika Hani tidak menghormati ayahnya sendiri. “Kamu harus lebih tegas kepadanya, Arya. Orang tua memiliki hak atas anaknya. Hani adalah perempuan, tidak baik bagi dia jika tinggal di tempat yang sama sekali tidak ia kenal apalagi jika kamu tidak ada di sana. Dia masih muda, tentu saja di kepalanya hanya ingin mandiri. Terkadang seorang anak tidak tahu bagaimana sulitnya hidup di luar sana apalagi jauh dari keluarga. Saranku bicaralah baik-baik dengannya.”
Arya terdiam. Memang pada dasarnya dia selalu mengikuti keinginan putrinya. Arya sunguh tidak bisa mengatakan ‘tidak’ kepada gadis itu. “Sudahlah, nanti di rumah kamu bicarakan dengannya saat memberikan hadiah itu. Menurutku itu waktu yang pas bagi kalian untuk bicara apalagi Hani sudah berumur tujuh belas tahun,” kata Beni memberi sediki usul. Arya mengangguk mengerti, nanti dia akan mencoba bicara.
***
Hani menatap menit jam yang ada di ponsel miliknya, menunggu tepat jam dua belas malam. Sebentar lagi dia sudah berumur tujuh belas tahun, itu artinya segala pandangannya tentang banyak hal telah berubah. Di hari ulang tahunnya ini, Hani sengaja membeli kuenya sendiri. Tidak besar, cukup untuk ia makan sendiri saja. Tidak lupa juga lilin yang menjadi sebuah keharusan setiap kali ia ingin mengucapkan permohonan.
Aku berharap di kehidupan selanjutnya hidupku lebih baik lagi. Dan aku berharap di kehidupan selanjutnya tidak memiliki ayah seperti Ayah.
Tepat setelah mengucapkan permintaannya, Hani meniup lilin ulang tahunnya itu. Memang terkesan aneh permintaannya itu, tetapi hal ini sudah ia pikirkan matang-matang. Di kehidupan lain Hani tidak ingin memiliki takdir seperti Hani yang sekarang. Dia ingin memiliki takdir yang baik dan tentunya tidak ingin memiliki ayah seperti Arya.
Sebuah ketukan pintu mengagetkan gadis itu apalagi di tengah malam seperti ini. Hani pun berjalan mendekati pintu, kemudian menempelkan indra pendengarnya di sana. “Siapa?”
“Ini Ayah.”
Gadis ini bernapas lega. Dia pun membuka pintu kamar, dan di sana sudah ada Arya yang sedang memegang kue ulang tahun dengan lilin yang menunjukkan angka tujuh belas. “Selamat ulang tahun, Nak,” ujar Arya. Gadis itu memandang datar kejutan yang diberikan Arya hari ini. “Ayah sengaja beli kue kesukaanmu ini. Tiup lilinnya dan jangan lupa buat permohonan,” titah pria itu. Hani pun menurut untuk kali ini, hanya di hari ulang tahunnya. Dia tidak ingin membuat hari ulang tahunnya buruk.
“Dan Ayah ada hadiah untukmu,” tambah Arya yang memberikan kotak kado berukuran tidak terlalu besar. Hani pun menerima kado itu.
“Masih ada lagi?” tanya Hani yang sepertinya sudah mengantuk. Melihat putrinya yang mungkin kelelahan, Arya pun mengurungkan niatnya untuk bicara tentang pilihan Hani yang akan pindah ke luar kota setelah lulus. Mungkin besok pagi dia akan membicarakan hal ini.
“Tidak ada. Ya sudah kamu tidurlah. Selamat malam dan mimpi indah.”
“Hmm.”
Hani pun menutup pintu kamarnya, dan segera menuju ke kasur. Dia harus berada di dunia mimpi karena besok pagi dirinya harus memiliki tenaga ekstra. Dan ya, dia sudah tidak sabar untuk ke kebun binatang bersama Rara.
Ada gitu ya orang udah gede tapi rayain ulang tahun di kebun binatang.