Bagian 7

949 Words
Aku berharap di kehidupan selanjutnya hidupku lebih baik lagi. Dan aku berharap di kehidupan selanjutnya tidak memiliki ayah seperti Ayah. *** Suara burung bersautan membuat seorang gadis yang nyaman di dunia mimpi pun menjadi terusik. Hari telah pagi, tetapi Hani masih enggan untuk beranjak dari kasur nyamannya. Terlebih lagi dirinya merasa kelelahan. Apa mungkin ini efek dia tidur terlalu larut karena menunggu hari kelahirannya? “Ouh, badanku terasa sakit semua,” ucap Hani dengan merenggangkan tubuhnya. Gadis itu beranjak dari kasur, sepertinya dia harus segera membersihkan diri sebelum terlambat ke sekolah. Dengan kesadaran yang ia miliki, gadis ini keluar kamar menuju ke kamar mandi yang tepat terletak di dekat dapur. Tidak seperti hari biasanya yang di mana Hani mencium bau masakan yang Arya buat setiap pagi. Kali ini entah ke mana pria itu berada. “Oh aku lupa mengambil sampo,” ucap Hani yang kembali keluar kamar mandi untuk mengambil sachet berisi sampo miliknya. Setelahnya, dia pun menuju ke kamar mandi. Seperti sebuah kebiasaan rutin setiap harinya, ritual pertama yang akan Hani lakukan adalah menggosok gigi. “Ck, selalu saja,” keluh gadis itu ketika melihat sikat gigi milik sang ayah berada di dekat sikat giginya. Padahal dia sudah memberi peringatan kepada Arya untuk tidak meletakkan benda itu di dekat miliknya. Dia pun menjauhkan benda itu dan mulai menuangkan pasta gigi ke sikat gigi miliknya. Namun, matanya tiba-tiba membulat sempurna ketika menemukan sosok lain berada di depan cermin kamar mandi miliknya. “AAAAAAA.” Teriakan yang memekakkan telinga itu membuat gendang telinga siapa saja bisa pecah. Meskipun begitu, Arya yang sedang asyik di dunia mimpi pada akhirnya dipaksa membuka mata karena sebuah teriakan. Pria itu merenggangkan tubuhnya, rasanya segar sekali bangun di jam seperti ini. Arya menatap jarum jam masih menunjukkan pukul lima pagi, dia harus segera membuat sarapan sebelum terlambat untuk pergi bekerja. Pria itu bergegas bangun dari tidurnya, ia berjalan menuju ke asal suara itu. s**l! Tidurnya menjadi terganggu. Dia pun menuju ke dapur, lebih tepatnya kamar mandi di mana suara itu berasal. Dengan perlahan dia membuka knop pintu yang ternyata di dalamnya ada seseorang. “AAAAAAA.” Teriakan itu kembali terdengar seiring dengan pelototan yang ada di dua bola mata Arya. Pria ini benar-benar terkejut dengan sosok yang ada di depannya. Dengan tergagap, dia memandang tidak percaya orang itu. Rasanya seperti melihat hantu. “Ka ... mu ....” “A ... yah ....” Bahkan ayah dan anak ini tidak tahu harus berkata apa, terlebih lagi Hani yang menatap dirinya berada di depannya saat ini. Apa yang terjadi? Apakah ini nyata? Apakah dia kembali bermimpi? “Ayah ....” “Nak, tenanglah dulu. Ayo kita bicarakan di ruang tamu,” kata Arya sambil menggiring sang putri yang terlihat sangat syok. Jangakan gadis itu, dia sendiri pun juga sama. Hani menurut saja ketika dibawa ke ruang tamu oleh ayahnya, lebih tepatnya kepada Arya sedang memakai tubuhnya saat ini. Arya yang sedang berada di tubuh Hani pun segera menuju ke dapur untuk mengambil segelas air. “Ini minumlah dulu,” ujarnya yang langsung diterima oleh Hani. Arya pun memperhatikan putri yang berada di dalam tubuhnya saat ini. Dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi sekarang. “Apa yang terjadi?” tanya Hani menatap sang ayah penuh. “Ayah sendiri tidak tahu,” jawab pria itu dengan jujur. Hani pun merasa frustasi dengan dirinya sekarang. “Ayah baru bangun dan terkejut mendengar teriakanmu, maka dari itu Ayah segera ke kamar mandi.” Aku berharap di kehidupan selanjutnya hidupku lebih baik lagi. Dan aku berharap di kehidupan selanjutnya tidak memiliki ayah seperti Ayah. Tidak. Jangan katakan jika ini adalah wujud nyata dari apa yang dia ucapkan semalam? Jangan bilang jika ini adalah doa yang terkabul. Tidak. Bukan ini yang dia inginkan sekarang. Bukan. Seketika dia langsung menatap Arya dengan pandangan seperti biasanya. “Ini semua karena Ayah!” bentaknya. Arya pun terkejut ketika sang putri menyalahkan dirinya. “Tenanglah, Nak. Mari kita pikirkan hal ini dengan kepala dingin,” sahutnya. “Tidak! Jika saja Ayah tidak membuatku kesal. Jika saja Ayah tidak selalu mencampuri urusanku. Jika saja aku tidak berada di sini. Jika—” “Nak,” potong Arya membuat Hani terdiam dan menatap Arya lagi. “Jangan bicara seperti itu. Kamu adalah putri Ayah, dan Ayah adalah ayahmu. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Mari kita berpikir untuk mencari solusi agar bisa kembali seperti semula," sahut Arya terlihat paling tenang. “Ya, kita memang harus mencari solusinya. Aku tidak ingin terjebak dalam tubuh ini,” balas Hani sarkas. Tubuhnya terasa sakit dan kelelahan, padahal dia belum pernah merasakan hal seperti ini. Padahal jika Hani sadar bahwa itulah yang Arya rasakan setiap harinya. Membanting tulang hanya untuk membuat kebutuhan sang putri terpenuhi. “Bagaimana dengan sekolahku? Teman-temanku? Tidak mungkin aku ke sekolah dengan penampilan seperti ini,” lanjutnya mengingat tentang masa depan yang harus dia raih. Arya pun diam sejenak. Saat ini dirinya berada di dalam tubuh Hani, gadis berusia tujuh belas tahun yang sedang duduk di bangku kelas dua belas. Sedangkan Hani malah sebaliknya. Itu artinya, mau tidak mau mereka harus menjalani kehidupan sebagai tubuh yang mereka miliki saat ini. “Ayah akan pergi ke sekolah. Dan aku akan pergi bekerja,” ujar Hani. “Tidak!” tolak pria ini. “Ayah tidak akan pernah membiarkanmu untuk pergi bekerja,” lanjutnya. “Kalau begitu apakah Ayah ingin aku pergi ke sekolah memakai tubuh ini? Sungguh konyol,” sahut Hani dengan suara tawanya. Akan jadi bahan ejekan jika hal itu terjadi. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan dari temannya nanti. Tidak mungkin jika dirinya mengatakan bahwa sedang bertukar tubuh dengan Arya saat ini. “Sudah aku putuskan, jika Ayah akan ke sekolah, dan aku akan bekerja,” kata Hani lagi membuat Arya tidak lagi bisa membantah. Apa yang dikatakan sang putri memang benar, inilah yang bisa mereka lakukan sekarang. Ke sekolah? Bahkan sudah lama sekali Arya terakhir pergi ke tempat itu untuk belajar. Apakah dia bisa nanti membantu Hani di sekolah? Jangan lupa untuk tap love sebagai dukungan bagi penulis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD