Part 3-Cetta dan Maminya

1015 Words
"Mbak Dalaaaa!" Hari ini Dara kebagian tugas menjemput adik kecilnya itu dari sekolah. Harusnya Mas Abbas. Tapi kakaknya itu ada rapat mendadak dengan client bersama ayah, jadilah dengan disogok uang berwarna merah 2 lembar ia kini berdiri didepan gerbang menunggui si adik menggemaskannya pulang dari taman kanak-kanak. Mata Dara mencari-cari keberadaan si boneka arab, Cetta. Apa hari ini dia akan dijemput oleh ayahnya lagi? "Mbak Dala, beli ice cream dulu yuk" ajak adiknya itu. "Emang dibolehin sama ibu?" Tanya Dara. Danish mengangguk lalu mengeluarkan sepucuk kertas kecil dari saku celananya. Kening Dara berkerut bingung lalu menerima kertas kecil itu. Tawanya pecah saat melihat tulisan ibu disana. "Pulang sekolah ajak Danish makan ice cream dulu" Adiknya itu sangat kreatif. Sepertinya tulisan itu dibuat tadi pagi saat sarapan, karena Danish tau ia tidak akan diperbolehkan meminta makanan manis oleh kakak-kakaknya tanpa seizin ibu. Jadilah ia menyuruh ibunya untuk menuliskan note kecil itu. "Oke deh" ucap Dara. "Mbak Dara" Dara menoleh, menatap salah satu miss Danish yang berjalan kearahnya dengan menggenggam handphone. "Iya miss Rina" "Saya boleh minta tolong?" Dara mengangguk. "Jadi hari ini Cetta harusnya dijemput papinya, tapi bannya bocor diperjalanan dan selesainya mungkin 2-3 jam lagi. Kasian kalau Cetta harus menunggu sendirian selama itu. Apa mungkin mbak Dara bisa sekalian mengantarkan Cetta pulang? Ini maminya Cetta ingin berbicara" Miss Rina memberikan handphone itu pada Dara. "Halo" sapa Dara. "Selamat Siang mbak Dara. Saya maminya Cetta. Maaf sekali jadi merepotkan mbak Dara" ucap suara diseberang sana. 'Oh jadi ini istrinya Pak Hariz yah?' Batin Dara. "Oh gapapa Bu, saya juga mau sekalian pulang. Jadi bisa sekalian mengantar Cetta juga. Alamatnya mungkin bisa dikirim melalui nomor saya Bu" "Ya ampun mbak Dara baik sekali. Maaf yah, kita tidak tau kalau akan ada musibah di jalan. Jadi seperti ini" "Iya bu, musibah kan tidak ada yang tau kapan datangnya. Tapi saya mohon izin, bisa tidak saya membawa Cetta untuk makan ice cream dulu? Soalnya saya sudah janji sama Danish untuk singgah makan ice cream" "Aduh kalau tidak merepotkan mbak Dara" Dara tersenyum. "Tentu tidak bu, kalau begitu alamatnya bisa segera dikirimkan nggih bu" "Baik kalau begitu mbak Dara. Terima kasih" Dara kemudian berjalan kearah Cetta lalu berjongkok dihadapan gadis kecil itu. "Cetta, mau pulang sama Danish aja yah? Ayah Cetta ga bisa jemput" Cetta menatap Dara dengan mata bulatnya yang besar. "Mau" ucapnya. Dara tersenyum lalu menggandeng tangan Cetta untuk segera pergi. Dara jadi merasa punya dua anak kalau begini. **** Dara membuka pintu kaca gelato cafe untuk kedua adik kecilnya. Mereka berdua bergandengan tangan sebelum duduk manis di sofa berwarna biru. "Danish sama Cetta tunggu disini yah? Mbak Dara pesenin dulu gelatonya. Oke?" "Oke mbak Dala!" Seru mereka berdua kompak. Dara kembali dengan membawa nampan berisi 3 cup gelato dengan rasa coklat, vanila dan matcha. "Ini untuk Danish" Dara memberikan gelato rasa coklat untuk Danish. "Ini untuk Cetta cantik" Dara menyodorkan gelato rasa vanilla untuk Cetta dan mengambil gelato matcha untuk dirinya sendiri. "Itu rasa apa mbak Dala? Kok warna hijau" tanya Cetta. "Ini namanya matcha. Rasa teh hijau. Cetta mau coba?" Dara tidak repot-repot menawarkan Danish. Karena adiknya itu tidak suka. Pernah suatu waktu Danish mencoba ice cream kesukaan Dara itu yang berakhir dengan Danish memuntahkannya karena menurut Danish rasanya pahit dan aneh. Cetta mengangguk. Dara menyendokkan sedikit gelatonya lalu menyuapi Cetta. Raut wajah gadis kecil itu seperti sedang berpikir. Alis tebalnya menyatu. Dara tidak bisa menebak apakah Cetta suka dengan rasa ice cream itu atau tidak. "Gak enak yah?" Tanya Dara. Gadis itu bersiap mengeluarkan botol air berwarna pink dari dalam tas Cetta. "Cetta pernah makan ice cream rasa ini sama mami. Enak tapi pahit" ucap Cetta akhirnya. Dara tersenyum. Baru kali ini ia lihat ada anak kecil yang suka dengan rasa matcha. "Tapi Cetta mau makan yang ini aja" ucapnya kembali menyuapkan ice cream rasa vanillanya yang membuat Dara tertawa. **** "Tadi pagi Cetta diantar sama siapa ke sekolah?" Tanya Dara, gadis itu melirik Cetta dan Danish yang duduk di kursi belakang. Mereka akan mengantar Cetta menuju rumahnya. Setelah Dara tau ternyata rumahnya dengan rumah Cetta hanya berjarak 10 menit. "Diantar ayah Hayis" ucap Cetta. Oh diantar ayahnya ternyata. "Itu rumah Cetta" Cetta menunjuk rumah berlantai 2 dengan pagar tinggi berwarna putih. Dari sini rumah itu terlihat sangat mewah dan megah. 4 pilar tinggi berdiri dengan angkuh membuat rumah itu terlihat sangat megah dari luar. Namun, taman bunga di halaman juga membuat rumah itu terlihat bersahabat. Dara memarkirkan mobilnya di depan rumah itu, lalu mengajak Cetta untuk turun. Bagaimana ia bisa masuk kedalam dan mengantar Cetta? Dara menekan bel yang ada di tembok saat sebuah mobil berhenti didepan pagar. Hariz dengan wajah kebingungan keluar dari dalam mobil itu menatap Dara dan Cetta bergantian. "Cetta?" "Ayah Hayis!" Cetta menghambur kedalam pelukan Hariz. "Sore pak. Maaf tadi saya dimintai tolong istri bapak untuk mengantar Cetta pulang. Katanya mobil bapak bannya bocor. Tapi saya sama adik-adik pergi makan ice cream dulu tadi makanya lama" entah kenapa Dara merasa harus memberi penjelasan. Ia takut pak Hariz marah karena terlambat membawa anaknya pulang. Seorang perempuan berhijab coklat keluar dari rumah. Cetta memanggilnya dengan sebutan mami. Dara hampir menganga melihat perempuan cantik itu. Garis wajahnya tegas. Khas perempuan arab, kalau dilihat-lihat wajahnya mirip dengan pak Hariz dan juga Cetta. Pantas saja Cetta sangat cantik, pabriknya saja begini mempesona. "Mbak Dara yah?" Lamunan Dara buyar begitu namanya disebut. Perempuan tadi sedang tersenyum manis kearahnya dan sekarang telah berdiri disebelah Pak Hariz. "Iya bu" Dara balas tersenyum. "Jangan panggil bu lah, panggil mbak saja. Nama saya Sarah. Terima kasih yah sudah mengantar Cetta pulang" ucapnya ramah. Dara meringis. Bagaimana bisa ia memanggil istri dosennya dengan sebutan Mbak. Dara merasa tidak sopan. "Iya sama-sama. Kalau begitu saya permisi mau pulang" Mata Dara berpindah pada pak Hariz yang sedari tadi hanya menjadi pendengar. "Pak saya duluan" pamit Dara. Dara tidak bisa mendiskripsikan pandangan Hariz padanya. Matanya tajam, namun alisnya berkerut seperti kebingungan. Mulutnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu namun ditutup lagi, mengurungkan niatnya. "Iya, terima kasih telah mengantar Cetta pulang" ucap Hariz kemudian. Kemudian Dara mengucap salam sebelum menjalankan mobilnya pergi dari rumah itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD