Dara terlihat sibuk menekuri laptopnya, sesekali ia menyesap ice hazelnut latte ukuran venti untuk menemaninya di siang yang terik dengan otaknya yang sudah mengepul sedari tadi melihat rentetan kalimat yang dicoret oleh pembimbingnya.
Dea juga tak berbeda dengan Dara, gadis itu sesekali berdecak sebal karena tidak mendapatkan jurnal yang tepat untuk dimasukkan kedalam draft proposalnya. Rambut panjang sepunggungnya sudah ia ikat ekor kuda sedari tadi, karena ya... ternyata rambut panjangnya cukup membuatnya emosi disaat seperti ini. Sepertinya semua hal yang mengganggunya akan membuat emosi Dea naik saat ini.
"Ra, laper ga sih?" Keluh Dea.
Dara mengangkat wajahnya dan memperbaiki letak kacamatanya. "Iya sih. Mau pesen sandwich gitu ga?" Dara menawari.
"Boleh. Aku pesenin deh. Tuna cheese panini kan?"
Dara mengangguk. Dea sudah akan beranjak ketika seorang pegawai coffee shop datang membawa nampan ke meja mereka. Dea shock, Dara kebingungan. Bagaimana makanan ini bisa datang ke mejanya?
"Loh... Loh... Mas, saya baru mau pesan. Kok udah dateng makanannya?" Dea bertanya kebingungan.
Pegawai itu tersenyum sambil meletakkan piring red velvet roll cake, tuna cheese panini dan cinnamon roll di meja mereka.
"Mas salah meja sepertinya, kita baru aja mau pesan." Ucap Dara.
Pegawai itu kembali tersenyum sopan lalu mengulurkan kertas coklat yang dilipat pada Dara. "Benar kok mbak. Pesanan ini untuk perempuan berkerudung coklat dan berkacamata, mbak kan?"
Meski bingung, Dara tetap mengambil kertas itu. Iya. Dia memang memakai hijab berwarna coklat dan sedang menggunakan kacamata bacanya. Tapi itu tak menjawab pertanyaan tentang siapa yang memberikan ini untuknya?
Dea berpindah tempat ke sebelah Dara, dengan excited menyuruh Dara membuka lipatan kertas itu. Rasa kantuk yang disebabkan oleh skripsinya kini telah hilang digantikan rasa bersemangat dan penasaran tentang si pemberi kertas itu.
"Selamat Makan. Saya sengaja pesan ini untuk kamu. Kemarin saya belum sempat berterima kasih, -H"
Jantung Dara berdebar cepat. "Pak Hariz?" gumamnya pelan. Lantas mata Dara menyapu seluruh penjuru cafe dan berhenti pada satu sosok berkemeja hitam yang sedang berjalan menuju pintu keluar dengan memegang gelas ice americano ditangannya. Diam-diam Dara tersenyum.
"Wah Dara punya secret admirer" ucap Dea excited dan merebut kertas dengan tulisan tangan yang indah itu.
Dara tertawa kecil. "Makan deh De" ucapnya. Asik. Dia tidak harus keluar uang lagi untuk beli makanan. Kalau begitu sering-sering deh dimintai tolong buat mengantar Cetta pulang. Hehe.
"Bentar yah" Dara bangkit dari duduknya lalu berlari-lari kecil keluar dari cafe dan berharap ia belum kehilangan jejak Hariz.
"Pak Hariz!" Seru Dara.
Hariz menoleh, ia cukup kaget melihat Dara yang berjalan kearahnya. Dia tak mengharapkan ini terjadi, ia ingin memberikan makanannya diam-diam dan pergi diam-diam juga tanpa Dara mengetahui siapa dibalik makanan yang diletakkan di mejanya.
Dara tersenyum lalu mengangkat kertas ditangannya. "Dari bapak kan?" Tanya Dara.
Hariz berdehem. "Iya" Ucapnya singkat.
"Makasih ya pak, padahal bapak gak harus ngelakuin ini loh" Ucap Dara.
Hariz tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, kemarin kan kamu sudah membantu saya, sudah mengantar Cetta pulang ke rumah dengan selamat"
"Saya ikhlas kok pak. beneran!" Ucap Dara.
Hariz terkekeh. "Iya, saya tau kamu ikhlas. Saya juga ikhlas kok kasih makanannya"
"Makasih banyak ya pak" Dara tersenyum lebar.
"Iya sama-sama. Silahkan dinikmati bersama teman kamu yah. Saya lihat wajah kamu buram sekali dari tadi"
Dara tertawa. "Biasalah pak. Skripsi"
"Iya, dikerjakan baik-baik yah. Kalau begitu saya pergi dulu" Ucap Hariz.
"Iya pak. Maaf sudah mengganggu kegiatan bapak"
"Iya tidak apa-apa Dara"
*****
Dara memperhatikan tunik polos hitamnya di kaca, memastikan hijab berwarna abu-abu mudanya telah rapi. Lalu kemudian mengangguk puas.
"Mbak Dalaaaaa" teriakan Danish terdengar ke penjuru rumah. tak lama kepalanya menyembul dari balik pintu kamarnya. "Ada temen mbak Dala dibawah"
Dara berjalan mengikuti Danish dan menemukan Mas Farhan sedang duduk diruang tamu bersama ibu yang sedang merajut.
Dara ingin berdecak kagum. Farhan selalu terlihat rapi kapanpun Dara melihatnya. Ia juga tampan dan wangi. Kalau Dara sendiri lebih menyukai lelaki yang wangi daripada tampan. Apa gunanya tampan tapi aroma badannya tidak sedap? Ugh. Big no.
"Mas berangkat yuk"
Farhan kemudian berdiri lalu mencium tangan ibu, berpamitan ingin mengajak anak perempuannya keluar lalu mengusap kepala Danish yang mengantar kepergian kakaknya dengan sedikit raut tidak rela. Danish memang tak pernah rela mengantar kakaknya pergi kalau tidak dengan dirinya.
"Maaf ya hari ini naik motor" ucap Farhan begitu mereka membelah jalanan kota Jogja. Matahari masih bersinar cerah, namun tidak mengganggu.
Tawa Dara terdengar dari balik tubuh Farhan. "Gapapa kali mas! Malah aku lebih senang naik motor. Enak. Banyak anginnya"
Tanpa Dara tahu, Senyum Farhan semakin lebar. Sebenarnya ia ingin membawa mobil tadi, tapi mobilnya sedang dalam perawatan jadilah akhirnya ia membawa motor.
Ia merasa tidak enak, kebanyakan perempuan yang dekat dengannya lebih memilih naik mobilnya yang nyaman. Seringkali mereka menggerutu saat Farhan datang dengan motornya.
Tapi berbeda dengan Dara, saat Farhan mengangsurkan helm, wajah gadis itu berbinar cerah. Seakan-akan Farhan mengajaknya naik pesawat, padahal mereka cuma akan naik motor menuju Ambarrukmo Plaza. Apa yang spesial dari jalan-jalan naik motor? Entahlah, hanya Dara yang tahu alasannya.
"Masuk angin nanti" ucap Farhan.
"Gak lah. Aku kuat. Sama angin aja masak takut" ucap Dara.
"Panas ga?" Tanya Farhan. Sumpah ia merasa tidak enak hati pada gadis itu.
Dara tertawa. "Gimana mau kepanasan kalau badannya mas Farhan aja nutupin badan aku. Udahlah mas. Aku fine-fine aja kok! Enak nih hari ini adem. Padahal udah jam 3 loh"
"Kamu ga takut muncul jerawat karena debu?" Tanya Farhan. Begitu lah biasanya gerutuan yang didapat Farhan. Sehingga stigma cewek-cewek ga suka debu karena bikin jerawatan muncul di otak Farhan.
"Gak dong. Berani kotor itu baik. Lagian nanti pas pulang bisa dibersihin. Bisa cuci muka" ucap Dara.
Farhan terkekeh kecil. Ia suka gadis yang berani kotor.
Mereka memasuki mall yang hari ini lumayan ramai. Dara baru ingat ini hari sabtu. Sudah terlalu lama Dara sendiri jadi sudah lupa juga bagaimana rasanya malam minggu bersama pasangan.
"Mas mau cari kemeja dimana?" Kemarin malam Farhan tiba-tiba saja mengiriminya chat. Mengajak perempuan itu untuk menemaninya mencari kemeja putih untuk sidang skripsinya minggu depan. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah saling kirim pesan. Paling hanya saling menjadi penonton setia story di i********:, atau kadang me-reply story jika story itu menarik. Sampai disitu saja. Makanya saat Farhan mengajaknya keluar, Dara sedikit kaget.
"Dimana yah yang bagus?" Tanya Farhan.
Dara ikut melihat sekeliling. "Di the executive aja gimana? Biasanya pakaian formal disana bagus-bagus" Dara tau karena sering menemani ayah atau mas Abbas mencari kemeja disana.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam store. Lalu Farhan memilih kemeja yang dirasanya bagus. "Pilihin dong" ucap Farhan.
Dara yang sedari tadi terdiam sedikit kaget. Lalu jadi ikut memilih milih kemeja yang akan terlihat bagus untuk Farhan. "Mas biasanya pake ukuran apa?" Tanya Dara.
"Biasanya sih M. Kadang L"
"Coba yang ini mas" Dara mengulurkan kemeja putih untuk Farhan coba. Sambil menunggu Farhan, Dara berkeliling melihat-lihat kemeja untuk dirinya.
"Ra, bagus ga?" Farhan keluar dari fitting room.
Dara tersenyum lalu mengacungkan kedua jempolnya. "Bagus mas. Cutting-annya cocok banget di badan mas Farhan. Gak kebesaran, gak kekecilan juga. Kalau pake celana bahan pasti tambah bagus"
Farhan terkekeh kecil lalu mematut tubuhnya di cermin. Memang bagus, seperti kata Dara. "Aku kayaknya pengen beli kemeja kotak-kotak juga deh"
"Oh iya?" Dara lalu beralih kearah kemeja kotak-kotak, mencarikan warna dan ukuran yang bagus untuk Farhan. Dara lalu mengambil kemeja berwarna abu-abu tua dengan garis berwarna putih, Dara juga mengambil kemeja berwarna hitam dengan garis berwarna merah maroon yang tebal. Sepertinya akan bagus kalau mas Farhan yang memakai. "Mau coba dua ini? Kayaknya bakal bagus deh"
Farhan dengan senang hati mengambil dua kemeja pilihan Dara, lalu membawanya ke fitting room.
Dara duduk tenang dan menunggu Farhan mengganti bajunya. Tak berapa lama Farhan keluar mengenakan kemeja berwarna abu-abu. "Gimana? Bagus ga?"
"Bagus bagus" ucap Dara. Sepertinya apapun yang dikenakan oleh Farhan akan bagus ditubuhnya. "Mas coba yang hitam dulu, baru dibandingin lebih bagus yang mana"
Farhan mengangguk kemudian mengganti kemeja abu-abu itu dengan kemeja berwarna hitam. "Kalau yang ini?"
"Kalau menurut aku nih ya. Sepertinya yang hitam lebih bagus deh mas. Warnanya stand out gitu. Terus hitam kan cocok sama semua warna kulit. Warnanya jadi kontras sama kulit mas yang putih" Dara mengutarakan pendapatnya.
Farhan memiliki kulit yang putih, struktur wajahnya tegas dan badan yang tinggi tegap. Setau Dara, Farhan berasal dari kota Padang. Datang sebagai mahasiswa perantau di Yogyakarta. Mungkin itulah mengapa struktur wajahnya seperti itu. Tampan.
Hehe, Dara tidak salah kan?
Farhan tersenyum senang. Ternyata sangat menyenangkan membawa seseorang untuk memilih baju seperti ini, atau mungkin itu hanya berlaku untuk Dara? Farhan tak tau, tapi rasanya begitu menyenangkan.