Pagi-pagi sekali, Diary sudah siap dengan seragam berikut apapun yang hendak dibawanya ke sekolah. Setelah perbincangan sore kemarin yang ia lakukan dengan Gerrald di taman komplek, beberapa hal seakan tak mau enyah dari benak Diary. Membuat ia setengah galau karena setelah ia pikirkan kembali, apa yang Gerrald katakan sore kemarin itu benar adanya.
Diary melangkah lesu menuruni tangga, pikirannya masih tertuju pada solusi yang Gerrald utarakan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Jenny kebagian menyiapkan menu sarapan pagi untuk nonanya. Dibantu Minah, kini kedua wanita paru baya itu pun tengah sibuk menghidangkan berbagai lauk pauk di atas meja.
Sesampainya di lantai dasar, Diary lekas menghampiri meja makan dan duduk di kursi biasanya. Wajahnya terlihat sedikit kusut bak cucian yang sudah satu minggu tidak digilas Jenny.
Melihat wajah nonanya ditekuk, Jenny pun terdorong untuk bertanya, “Loh, i see ... Non Diary was very sad, why? Ada apa denganmu, Non ?? Tell me now!” seloroh Jenny sekaligus ingin menghibur nonanya.
Diary mendesah pasrah, tidak begitu mempedulikan ucapan Jenny dengan bahasa campur aduknya itu. Seakan tak ingin banyak bicara, Diary lantas mencomot sehelai roti tawar yang tertata di tempatnya disusul dengan mengoleskan selai kacang ke permukaan roti tersebut.
Setelah selai teroles merata, Diary pun menyuapkan rotinya ke mulut serta mengunyahnya dengan malas. Tak lupa, ia pun meneguk s**u hangat yang Jenny sediakan hingga habis setengahnya.
Merasa sudah cukup dengan satu helai roti dan setengah gelas s**u saja, Diary pun menyudahi sarapannya. Lekas, ia pun beranjak dan bersiap diri guna berangkat ke sekolah.
“Diary berangkat sekolah dulu ya, Mbok,” pamit Diary menyampirkan tas.
“Okey, Non ... take care, Non Diary....” pesan Jenny seperti biasa.
Merasa sudah tidak tahan dengan bahasa yang Jenny gunakan, Minah pun yang juga kebetulan ada di sisi Jenny akhirnya memprotes,“Teker teker, hati-hati gitu. Dasar kamu, Jen ... Jen, sok bule pisan!” Minah mendelik.
“Huh, kamu sirik saja, Nah. Makanya, gaul dong, gaul! Pagi-pagi itu makan roti, biar bisa bicara mirip bule kayak aku,” ujar Jenny membela diri.
Minah mendecak,“Mimpimu terlalu tinggi, Jen. Jangan berlagak mau jadi bule, urusi saja pekerjaanmu hingga selesai. Seperti aku ini, sudah ah aku mau nyuci dulu, kamu bereskan meja makan!” tukas Minah sambil melengos.
Tak terima dengan ucapan Minah yang mendadak nyinyir, Jenny pun bermisuh-misuh,“Huu ... dasar Minah, lah wong aku cuma ingin gaul seperti bule-bule di tv saja. Ini kok malah dikomen melulu. Biarpun aku pembantu, kan ... aku juga butuh ilmu toh,” gerutu Jenny sembari mengangkuti piring dan gelas kotor yang tergeletak di atas meja.
¤¤¤
“Sudah sampai, Non....” kata Rahman memberitahu.
Mengangguk, Diary pun menjawab,“Iya, makasih ya, Pak....” Diary lekas beranjak keluar dari mobilnya.
Diary berjalan memasuki gerbang sekolah. Tapi seakan dengan sengaja, tiba-tiba Diary disenggol kasar oleh seseorang hingga ia terhuyung ke depan dan hampir jatuh tersungkur. Untungnya Diary bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh, Diary pun melihat ke arah depan yang ternyata Prita dan Keyna lah pelaku yang sengaja membuat Diary nyaris terjatuh barusan.
Dalam hati, Diary ingin sekali meneriaki mereka karena masih pagi saja dua orang itu sudah membuat ulah. Tapi apa daya, Diary tidak cukup mampu melakukan hal itu. Alhasil, Diary pun hanya menghela napas panjang sembari mengelus d**a.
Setelah Diary kembali menegakkan lagi tubuh, ia pun melanjutkan langkahnya setenang mungkin kala menyusuri koridor sekolah. Sesampainya di depan kelas, Diary pun langsung menerobos masuk tanpa lirik kanan kiri.
“Eh, si cupu datang nih. Lihat, mukanya asem banget kayak cuka ... hahaha,” seru Prita mengejek. Terdengar, sebagian murid yang mendengarkan lawakan tidak lucu Prita pun turut tertawa. Membuat Diary lagi-lagi harus menahan diri untuk tidak terbawa emosi.
Diary berusaha untuk tidak menghiraukan ejekan Prita. Ia memang harus pandai-pandai mengendalikan emosinya. Diary tidak mau terus menerus dijadikan bulan-bulanan Prita lagi seandainya ia berani sedikit saja melawannya.
Untuk itu, Diary memutuskan guna berpura-pura tidak mendengar dan segera duduk di bangkunya.
Tapi rupanya Prita memang sengaja ingin mengganggu Diary pagi ini, meskipun Diary sudah bersikap tak acuh pada setiap ejekan yang ia lontarkan, namun sepertinya bukan itu yang Prita harapkan.
“Heh, Cupu ... lo gak ngerasa risi apa kalo gue ejekin tiap hari kayak gini? Lo juga gak muak dengerin bentakan-bentakan gue? Atau, lo emang udah kebal sama sikap gue ke elo selama ini, hah?” tutur Prita beruntun lantas duduk di atas meja Diary.
Diary tidak ingin meladeni, dia pun memilih diam dengan pandangan menunduk.
“WOY, KALO DIAJAK NGOMONG TUH JAWAB DONG !! LO TULI ATAU OON SIH...” bentak Keyna menggebrak meja. Semua mata tertuju ke arah Diary yang masih tetap diam di tempat.
“Oh, atau lo mau gue bikin lo malu di depan umum lagi kayak kemarin, hah?” tambah Prita yang kali ini berani menyentuh dagu Diary dan mengangkatnya hingga mendongak.
“CUKUPP!” teriak seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
Bukan hanya Prita dan Keyna yang menoleh ke pusat suara, melainkan Diary dan siswa lainnya pun kini ikutan melirik ke arah orang yang sudah berani berteriak selantang itu.
“Restu,” gumam Diary pelan.
Prita lekas turun dari atas meja Diary, kemudian ia yang diikuti Keyna dari belakang segera mendekati Restu yang saat ini tengah berdiri tegak memegang tas gendongnya.
“Lo barusan teriak? Maksud lo apa?” Prita berdiri tepat di hadapan Restu.
Restu terlihat sangat gugup, tangannya gemetar hebat. Sebenarnya, dia tidak ada maksud untuk menarik perhatian semua yang ada di kelas dengan memberanikan diri berteriak selantang barusan. Restu hanya berusaha untuk menunjukan sisi pahlawannya di depan Diary. Setidaknya, sebagai seorang laki-laki, dia tidak bisa tinggal diam melihat teman dekatnya terus-terusan ditindas.
“I-iya, a-aku yang teriak ba-barusan. Me-memangnya kenapa, ka-kamu gak suka?” tatap Restu meski ia setengah tergeragap saat berbicara.
“Keyna, kayaknya ... ada yang mau jadi pahlawan nih di sini,” sindir Prita melirik Keyna.
“Ho’oh. Gue baru tau ... kok, pahlawannya culun banget kayak curut got,” cela Keyna yang kemudian tertawa.
Tanpa menunggu lama, Prita pun langsung mencekal kerah seragam Restu di depan semua siswa 3 Ipa A yang tengah menyaksikan.
“Lo mau jadi pahlawan?" lontar Prita memelotot tajam, "Jangan mimpi!" tandas Prita sembari mengempaskan lagi kerah kemeja Restu, "Ngomong masih setengah gagap aja mau sok-sok-an jadi pahlawan. Cowok culun model lo ini, gak pantes jadi pahlawan. Lo itu, pantesnya cuma jadi pembantu di sekolah ini ... bukan sok sok-an pengen jadi pahlawan kesiangan!!” cerca Prita seraya menunjuk-nunjuk muka Restu yang sedikit pucat.
“Ta-tapi, aku u-udah muak sama pe-perlakuan kamu Prita, kamu itu....“
Kalimat Restu terhenti dengan sendirinya, karena pada saat itu wali kelas sekaligus guru mata pelajaran pertama di kelas mereka masuk. Otomatis, membuat setiap siswa segera duduk ke bangku masing-masing. Entah kapan bel masuk dibunyikan, yang jelas kini suasana kelas tampak kondusif tatkala wali kelasnya sudah memberi komando untuk tidak gaduh.
Diary merapikan tempat duduknya, sebelum Amel sang wali kelas maju ke depan untuk sekadar menyapa anak didiknya terlebih dahulu.
“Selamat pagi,” sapa Amel tak lama kemudian.
“Pagi!” sahut semuanya serentak.
Amel berjalan ke depan kelas. Senyumnya terulas walau sebentar. Setelah berdiri tegak di depan murid-murid didiknya, Amel pun siap untuk berbicara.
“Anak-anak ... pagi ini, saya membawakan kabar gembira untuk kalian semua,“ ucapnya tersenyum lembut.
Kontan membuat seisi kelas bergema dengan berbagai bisikan pertanyaan ke sesama teman satu bangkunya yang juga belum tahu jawabannya mengenai kabar gembira yang Amel katakan.
“Sudah sudah, jangan gaduh seperti itu. Pagi ini, kita akan mempunyai teman baru. Saya harap, kalian bisa menerima teman baru kalian ini dengan baik tanpa pandang buluh. Untuk itu, saya akan persilakan dia masuk sekarang.” tutur Amel sembari berjalan ke arah pintu guna berbicara pada seseorang di luar sana supaya segera masuk.
Dalam sekejap, hampir seluruh siswa kelas 3 Ipa A saling menebak tentang kira-kira siapa murid baru yang akan dikenalkan oleh wali kelasnya. Bisikan demi bisikan membuat ruangan kelas semakin riuh. Apalagi Prita dan Keyna, mereka selalu menjadi siswi paling heboh di antara semuanya.
“Prit, gue gak sabar deh pengen cepet lihat murid baru yang dikatakan bu Amel,” ujar Keyna tak sabar.
“Apalagi gue, sukur-sukur murid barunya cowok ganteng. Kan lumayan, bisa gue gebet. Hihihi,“ kikik Prita kecentilan, lalu mengeluarkan sebuah cermin kotak mini yang selalu ia bekal kemana pun ia pergi.
Beda hal dengan Diary, di saat semua siswa saling bertanya-tanya dan penasaran terhadap murid baru yang belum juga menampakkan diri. Diary justru malah terlihat santai membaca buku Kimianya. Jujur, dia sama sekali tidak tertarik pada hal seperti itu. Bagi Diary, murid baru atau pun murid lama, perlakuannya pasti sama saja.
Apalagi kalau murid barunya itu semacam Prita dan Keyna, mungkin, hari-harinya akan bertambah buruk dan menyedihkan.
Di tengah riuhnya kelas, Amel pun kembali masuk. Namun kali ini dia tidak sendiri, melainkan dengan seorang siswa laki-laki berperawakan tinggi dengan paras yang begitu tampan. Sontak membuat para siswa terutama siswi perempuan menatap kagum karena mereka merasa terpukau dengan aura ketampanan dari siswa baru tersebut.
“Oh My God ... Prita, itu sih tipe gue banget." ujar Keyna menjerit tertahan.
Mendelik, Prita pun menampik secepatnya, “Dih, enak aja lo, itu cowok idaman gue. Awas ya, kalo lo berani deketin dia tanpa seizin gue dulu!” ancam Prita di tengah bisikannya.
“Yee ... emangnya dia udah jadi milik lo, pake acara larang-larang gue segala lagi,“ protes Keyna tidak terima.
Perdebatan antara Keyna dan Prita pun terhenti ketika Amel mengomando seluruh muridnya supaya tidak berisik. Ia pun meminta waktu agar murid barunya itu bisa mengenalkan diri terlebih dahulu.
“Sudah sudah, saya minta kalian jangan berisik. Beri teman baru kalian ini waktu untuk memperkenalkan dirinya dulu!” pinta Amel yang sukses membuat suasana kelas kembali kondusif.
Setelah semuanya diam dan terasa hening, Amel pun menyuruh murid barunya untuk segera memperkenalkan diri. Hingga saat murid baru itu hendak mengenalkan diri pun Diary masih saja terpaku pada buku catatan Kimianya. Tampaknya, tidak ada ketertarikan sedikit pun dari dalam diri Diary untuk sekadar melirik sosok yang kini berdiri di depan kelas sana.
“Hai semua, nama gue Gerraldi Hutama....” ucapnya baru satu kalimat.
Setelah mendengar nama itu disebutkan, barulah Diary melepas pandangannya dari buku yang dipegangnya. Lalu, mendadak ia menegakkan kepala serta melihat ke depan kelas sana.
Seperti tersengat listrik, tubuh Diary pun menegang di tempat. Matanya bahkan terbelalak diiringi dengan ekspresi terkejut yang sangat terlihat dari wajah ovalnya.
“Gue pindahan dari SMA Pemuda Bangsa, gue harap ... lo semua mau terima gue dengan baik di kelas ini,” lanjutnya mengakhiri kalimat perkenalan dirinya.
“Baik, Gerrald sudah memperkenalkan diri. Sekarang, kamu boleh duduk di bangku yang masih kosong," tukas Amel, kemudian ia mengarahkam pandangannya tepat ke bangku kosong di sebelah Diary, "Nah, saya lihat ... bangku Diary masih kosong sebelahnya. Kamu bisa duduk di sana Gerrald!” ucap Amel mempersilakan.
“Terimakasih, Bu....” angguk Gerrald.
Kemudian, Gerrald lekas berjalan menghampiri tempat di mana Diary kini duduk. Dengan senyuman manis yang terpatri di bibir, lelaki itu pun lantas duduk di sebelah Diary yang bahkan masih memelotot horor seakan tak percaya. Gerrald tersenyum lebar, hal itu pun membuat mata Diary mendadak kunang-kunang, hingga akhirnya, Diary pun jatuh tak sadarkan diri.
“Diary!” seru Gerrald menarik tangan Diary yang nyaris terkulai menghantam dinding.