37. Restu dan sikap menyebalkannya

1631 Words
Pagi-pagi sekali, SMA Pelita sudah digemparkan oleh kemunculan sosok lama berwajah baru. Setelah tempo hari perubahan Diary cukup berhasil membuat hampir seluruh penghuni SMA Pelita terkejut berjamaah, kini sosok Restu dengan penampilan barunya memiliki reaksi serupa yang menyebabkan hampir seluruh siswi di sekolah nyaris memekik tertahan. "Itu anak baru ya? Kok gue belum pernah lihat sebelumnya," "Anak baru pala lo pucek! Dia Restu, si cupu berkacamata yang sekarang bertransformasi jadi cowok tampan sejuta pesona. Aduhaii, kenapa gue baru sadar sekarang kalo dia punya bibit ketampanan yang melampaui batas...." Sekiranya, seperti itulah riuh ramai yang terjadi di sekitar koridor dan beberapa tempat lainnya yang sempat Restu lalui saat ia datang ke sekolah setengah jam sebelum bel masuk berbunyi. Kini, Restu sendiri sudah duduk manis di bangkunya. Gayanya bahkan tak secupu sebelumnya. Dia lebih luwes dari perkiraannya. Maksudnya, Restu sangat menikmati saat beberapa siswi yang berada di satu atap kelas yang sama tiba-tiba datang mendekat tanpa perlu Restu panggil. "Ya ampun, Res. Gue gak nyangka, ternyata ... kalo kacamatanya lo lepas. Lo bisa berwujud setampan ini," tukas Adelia. Sebelum ini, dia adalah makhluk paling jutek yang bahkan untuk melirik saja malas ketika Restu berada di dekatnya. "Ih, Res. Kenapa gak dari dulu sih lo berpenampilan kayak gini? Kalo gue tau lo tampan sejak dulu, kan gak menutup kemungkinan kalo gue bisa jatuh hati sama lo...." timpal Lolita menatap penuh harap. Mendengar itu, Restu mendengkus kecut. Sambil beranjak dari duduknya, dia pun menyempatkan diri untuk berdalil. "Di era sekarang, jatuh hati harus lihat fisik dulu ya? Apa kabar sama manusia bermuka dua? Mereka justru jauh lebih menjijikan dibanding cowok culun yang gak ada apa-apanya," tutur cowok berjambul tersebut. Setelah itu, ia pun melengos pergi meninggalkan kedua cewek yang kini sudah berhasil ia buat tertohok dengan ucapan superpedasnya. Saat ia melalui pintu keluar, tepat di depan kelas ia pun berpapasan dengan Diary yang baru datang. Seandainya Restu sedikit tidak fokus dalam melangkah, mungkin, dia sudah akan bertabrakan dengan Diary yang juga sedang memusatkan perhatiannya pada ponsel yang dimainkannya. Akan tetapi, beruntung Restu jauh lebih sigap dalam memahami situasi di hadapannya. Alhasil, tabrakan antar tubuh pun dapat dihindari dengan cara Restu yang lebih dulu memberi peringatan pada Diary ketika ia tak menyadari keberadaannya di depan mata. "Astaga. Kamu bikin kaget aja," ujar Diary menyentuh d**a. Sepintas, ia pun beradu pandang dengan iris kecokelatan milik Restu yang kini sudah tak terhalangi kacamata lagi. "Makanya, kalo jalan itu jangan sambil main hape. Tabrakan sama orang yang jalan dari arah berlawanan kan berabe sendiri. Pertama, hape kamu bisa jatuh ke lantai secara tragis. Kedua, kamu sendiri yang jatuh terjengkang ke lantai yang dingin. Coba pikir! Kalo udah kejadian, siapa yang rugi? Kamu sendiri kan dibanding orang lain yang sedikit punya insting buat berhati-hati," cerocos Restu panjang lebar. Sontak, membuat Diary mendadak melongo kala mendengar sebegitu banyaknya kalimat yang cowok di hadapannya lontarkan. "Gak usah bengong kayak gitu! Gak lucu kalo misalkan ada lalat masuk ke mulut kamu yang terbuka," cetusnya lagi tersenyum miring. Sejurus kemudian, dia pun melenggang santai melewati Diary sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana seragamnya.                                                                                     *** "Glikolisis adalah rangkaian reaksi kimia penguraian glukosa yang memiliki 6 atom C menjadi asam piruvat senyawa yang memiliki 3 atom C, NADH, dan A TP. Pada sel eukariotik, glikolisis terjadi di sitoplasma atau biasa disebut sitosol. Glikolisis terjadi melalui 10 tahapan, yang terdiri dari...." bla bla bla dan bla. Baru kali ini, Diary merasa ngantuk saat jam pelajaran biologi sedang berlangsung. Padahal, sebelumnya Diary tidak pernah merasa ngantuk saat jam pelajaran apapun tengah dijalaninya. Tapi sekarang, rasanya dia ingin sekali merapatkan kedua matanya dan terlelap nyenyak seandainya itu bisa ia lakukan dengan begitu bebas. Sayang, Diary sedang berada di dalam kelas. Sangat tidak mungkin jika hal tersebut ia lakukan sesuka hati. "Jadi, hasil akhir dari glikolisis adalah-" "Maaf, Bu!" seru Restu di tengah pembahasan materi. Melihat salah satu anak didiknya mengacungkan tangan, guru biologi tersebut pun sedikit menjeda kegiatan menerangkannya guna bertanya perihal apa yang ingin muridnya itu sampaikan. "Ya, ada apa?" tanya Ineu selaku guru biologi menatap Restu. "Di bangku belakang, ada yang terus-terusan menguap. Saya khawatir dia akan tertidur di kelas kalau tidak ditindak sekarang juga. Jika berkenan, apa Ibu bisa menyuruhnya untuk ke toilet dan membasuh mukanya supaya kantuknya hilang?" seloroh Restu secara gamblang. Kontan, hal itu pun seketika menciptakan bisik-bisik riuh penuh tanya dari setiap bangku yang terisi. "Maksud kamu siapa?" lontar Ineu bertanya. "Kalo gak salah kira, orang yang saya maksud ada di bangku ketiga dari belakang yang satu-satunya satu bangku dengan cowok. Kalo Ibu gak percaya, Ibu bisa langsung tanya sama orangnya. Misalkan saya bohong, saya rela kok buat diberi hukuman yang setimpal...." tukasnya tersenyum simpul. Dalam sekejap, perhatian Ineu pun terpusat pada Diary. Kebetulan, gadis itu kini sedang terlihat seperti orang yang nyaris tertidur seandainya tidak disikut oleh Gerrald yang sudah lebih dulu menyadari dengan apa yang Restu bicarakan. "Diary Clarista!" seru Ineu memanggil. Terkesiap dengan posisi badan yang langsung ditegakkan, Diary pun menatap gurunya yang kini sedang menyorotnya tajam. Tidak disangka, apa yang Restu katakan memang benar adanya. Ineu lihat, kedua mata Diary begitu sayu bak orang yang mengantuk. Seketika, rasa kesal bercampur kecewa pun datang melanda ke dalam diri. "Cepat ke toilet dan basuh muka lesumu itu! Kalau tidak berniat mengikuti pelajaran saya dengan serius, akan jauh lebih baik kalau kamu tidak kembali ke kelas lagi sebelum jam pelajaran saya berakhir nanti. Paham?" hardik Ineu terang-terangan. Sontak, Diary pun langsung menjadi bahan perbincangan diam-diam dari murid yang lainnya. Melihat Restu berhasil mempermalukan Diary di depan semua murid yang lain, Prita dan Keyna pun saling melempar pandang dengan diikuti senyuman puas yang menghiasi bibir masing-masing. Namun lain hal yang terjadi pada Gerrald. Cowok itu, diam-diam mengepalkan kedua tangannya dan berjanji akan memberi Restu pelajaran karena sudah membuat Diary malu sekaligus diomeli guru yang semula selalu memujinya.                                                                                     *** Saat waktu istirahat tiba, Restu bergegas menyatroni kantin seorang diri. Walaupun ada beberapa siswi yang sempat mengajaknya untuk makan bersama atau sekadar ingin berbincang santai dengannya, tapi semua itu Restu tolak mentah-mentah tanpa pikir panjang. Kini, ia pun sudah siap menyantap nasi goreng spesial yang ia pesan beberapa saat lalu dari kios Mang Ipin. Akan tetapi, saat baru saja Restu hendak menyendok nasi goreng di piringnya. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri sembari menggebrak meja penuh emosi. "Heh, Belagu!" seru orang itu yang tak lain adalah Gerrald. Kontan, semua perhatian dari mereka yang ada di kantin pun lantas memusat serempak ke arah meja yang Restu isi berikut Gerrald yang siap memaki cowok berjambul tersebut. "Apa-apaan ini?" lontar Restu mengernyit. "Elo yang apa-apaan!" hardik Gerrald menyalang, "Punya dendam apa lo sama cewek gue, hah? Sepicik itu lo ternyata ya. Mentang-mentang lo berubah wujud, terus seenak jidat lo berani bikin malu dia di depan semua orang di dalam kelas," cerca Gerrald berapi-api. Restu mendengkus kasar. Lantas, ia pun bangkit berdiri dan menatap berani sesama cowok yang ada di hadapannya sekarang. "Terus masalah lo apa? Yang gue bilang tadi gak salah kan? Lo bahkan bisa lihat sendiri kalo CEWEK lo itu terus menerus nguap bahkan nyaris tidur seandainya gue gak kasih tau Bu Ineu dengan cepat. Mau berusaha buat mungkir lo dari kenyataan itu, hah?" Restu yang sekarang memang jauh lebih berani dari Restu versi lama. Rupanya, bukan hanya penampilan luarnya saja yang berubah. Tapi, tampilan dalamnya pun ikut berubah seiring lenyapnya sisi lembut yang ia miliki semula. "Pikir lo itu tindakan yang bagus, hah? Yang ada, lo udah bikin cewek gue ngerasa malu. Apa lo gak bisa sedikit menghargai perasaan orang?" sentak Gerrald memelotot. Dia sama sekali tidak bisa memberi toleransi pada siapapun yang berani mengusik pacarnya seperti yang Restu lakukan. Alih-alih merasa menyesal, Restu malah tersenyum kecut mendengar pernyataan Gerrald. Menghargai perasaan orang dia bilang? Lalu, memangnya selama ini dia atau gadis itu sudah melakukan hal serupa? Jika perlu Restu jabarkan, mungkin ada baiknya kalau dia sendiri yang perlu berinteropeksi diri. Restu tak ingin terlibat lebih jauh dari percekcokan yang akan melebar seandainya ia ladeni terus menerus. Maka, cowok itu pun memutuskan untuk pergi melengos saja setelah sebelumnya sempat tersenyum kecut dengan satu tangan yang dikibaskan di depan Gerrald. Namun rupanya, bukan sikap seperti itu yang Gerrald harapkan. Melihat Restu yang memilih menghindar, Gerrald justru turut beringsut guna menarik kerah belakang Restu secara kasar. Tidak hanya itu, bahkan kini Gerrald pun sudah memberikan satu pukulan keras mengenai hidung Restu kala ia beralih ke hadapan cowok berjambul tersebut. "Anj*ng!" seru Restu spontan. Diikuti oleh pekikkan terkejut dari segelintir murid SMA Pelita yang kebetulan menyaksikan perseteruan kedua cowok itu yang tak menduga akan berujung pada perkelahian. "Gue udah ajakin lo ngomong baik-baik. Tapi pas lihat reaksi lo sedatar itu dan bahkan gak ada tanda-tanda buat menyesal, mendadak gue pengin hajar lo abis-abisan tau gak? Cowok macam apa lo, hah? Mentang-mentang culun lo ilang, terus lo seenak jidat bisa lakuin apa aja sesuai kemauan lo sendiri!" cerocos Gerrald panjang lebar. Lalu tak lama kemudian, Restu pun membalas perbuatan Gerrald dengan memberikan satu pukulan yang sama di rahang cowok tersebut. "Kyaaaa," jeritan tertahan kembali terdengar dari sekitarnya. Sejurus kemudian, pertarungan sengit pun tak dapat terelakan lagi. Dua pemuda itu, kini saling balas memukul hingga seseorang datang untuk melerai keduanya. "Gerrald! Restu!" seru suara seseorang tersebut. Selang beberapa detik setelah seruan memanggil itu terlontar, seorang guru berjenis kelamin pria pun turut datang yang entah dikabari oleh siapa karena mendadak muncul saat perkelahian itu masih berlangsung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD