38. Perubahan berjalur negatif

1607 Words
"Apa yang ada di pikiran kalian? Serendah itukah pemikiran dan perilaku seorang pelajar, hah?" Baik Gerrald maupun Restu, kedua-duanya kini hanya mampu diam tertunduk saat di hadapannya seorang guru BK sedang berdiri berkacak pinggang sekaligus menyidang mereka. "Kalian pikir, kantin sekolah itu arena pertarungan yang pantas untuk dijadikan tempat berkelahi? Ada apa dengan kalian berdua ini? Sepanjang riwayat perjalanan kalian di sekolah, ini bahkan kali pertamanya saya melihat kalian berdua masuk ke ruangan ini. Terutama kamu, Restu! Bukankah selama ini kamu selalu bersikap baik dan taat pada peraturan? Lantas, kenapa sekarang kamu malah berubah menjadi siswa yang doyan berkelahi, hah?" ceramah sang guru BK menatap kedua muridnya silih berganti. "Dia yang mulai pukul saya, Pak. Kalo gak dimulai duluan, saya juga gak akan--" "Bacot lo!" sela Gerrald tak terima, "Gue juga gak akan pukul lo kalo lo menyesali perbuatan lo sendiri. Tapi dibanding responin gue pas diajak ngomong baik-baik. Lo malah-" "Cukup!" sentak guru BK memotong lagi kalimat perkataan Gerrald. Kembali, dua pemuda itu hanya bisa terdiam tanpa berani melawan. "Saya tidak tahu perihal apa yang membuat kalian berdua sampai berkelahi dan gontok-gontokan seperti itu. Tapi saya tidak berharap kalian menyelesaikan masalah dengan cara yang tidak sehat. Persaingan atau perseteruan bisa saja melanda siapa pun, hanya saja, ada berbagai solusi lain yang masih bisa ditempuh daripada berkelahi. Ingatlah! Kalian ini masih menyandang status seorang siswa sekolah. Maka, berkelakuan baiklah selagi itu. Bukankah selama ini semua guru di sini berupaya keras untuk mengajarkan cara bersikap layaknya seorang pelajar sesungguhnya? Lalu, kenapa hal itu tidak kalian terapkan dalam keseharian masing-masing?" papar guru BK tersebut panjang lebar. Membuat keduanya lagi-lagi terdiam dan hanya mampu saling mengumpat di dalam hatinya masing-masing. "Baiklah, berhubung ini adalah kali pertama kalian masuk ke ruang BK dan bukan karena masalah yang terlalu berat untuk didiskusikan. Maka, saya akan memberikan toleransi pada kalian berdua. Dengan catatan, saya akan membebaskan kalian dari hukuman hanya jika kalian berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Paham?" lontar Tomi-nama guru BK-membuat kesepakatan. Gerrald dan Restu saling melirik kesal satu sama lain. Tapi demi agar mereka terbebas dari hukuman, keduanya pun saling sepakat untuk tidak mengulanginya lagi. Setidaknya hal itu akan diberlakukan hanya di dalam sekolah saja. Tapi jika sudah berada di luar lingkungan SMA Pelita, Gerrald bahkan tidak bisa berjanji untuk sesuatu hal yang belum pasti. Pasalnya, malahan Gerrald masih memiliki secuil dendam pada Restu. Terlebih, ketika Restu belum juga menyesali apalagi memiliki niatan untuk meminta maaf pada pacarnya karena sudah berani mempermalukannya seperti yang dilakukannya di dalam kelas beberapa jam yang lalu. "Ya sudah, kalian boleh meninggalkan ruangan saya. Tapi, sebelum itu ... saya ingin melihat kalian berdua bersalaman dulu. Ya, paling tidak, yakinkan saya kalau kalian memiliki tekad untuk tidak terlibat dalam perkelahian lagi." Tomi berujar di tengah pose sedekapnya. Untuk sesaat, Gerrald dan Restu hanya saling bertatapan datar. Namun, demi membuat sang guru yakin akan kesungguhan mereka di kesempatan ini, Gerrald pun beringsut lebih dulu untuk mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Restu. "Sori," ucap Gerrald singkat. Lantas, segera dibalas oleh Restu yang juga hanya menjabat tangan di hadapannya sekilas daripada tidak sama sekali.                                                                                           *** "Aw, ssh...." Gerrald merintih perih ketika luka lebamnya sedang berusaha diobati oleh Diary. Ya, sekeluarnya dari ruang BK, Diary memang sudah menunggu Gerrald dengan sengaja. Setelah sempat melerai keduanya juga saat masih berkelahi di kantin, ia pun diam-diam membuntuti Tomi yang menggiring kedua cowok tersebut hingga masuk ke dalam ruang BK. Selagi Gerrald dan Restu mendapat ceramah singkat yang Tomi paparkan di dalam ruangan, Diary pun menunggu di depan pintu ruang BK dengan perasaan yang tak keruan. "Kamu tuh apa-apaan sih, Ger? Kekanakan banget tau gak? Ngapain pake acara saling pukul segala? Memangnya, gak ada cara lain buat nyeleseinnya?" lontar Diary memprotes. Perlahan-lahan, dia menyentuhkan kapas yang sudah diberikan obat mengandung alkohol ke bagian wajah Gerrald yang terkenal pukulan. "Aw, duh, Di ... pelan-pelan dong!" tukas Gerrald sedikit mengomeli. Pasalnya, Diary seperti dengan sengaja menekankan kapasnya tepat di bagian yang terasa ngilu bercampur perih. "Maaf, gak sengaja." Gadis itu mendelik. Lalu, ia pun kembali merapikan apa-apa saja yang sudah sempat ia pakai guna dimasukkan lagi ke dalam kotak P3K. "Kenapa sih, cowok kok kalo nyelesein masalah harus selalu dengan k*******n? Apa gak bisa diomongin biasa aja? Gak perlu pake urat apalagi lempar bogem gitu loh. Kan biar semua aman terkendali," gerutu Diary masih belum berhenti. Gerrald mendengkus, "Aku juga udah ajak dia ngomong secara baik-baik. Cuman, dianya aja yang pengen dikerasin. Mentang-mentang berubah wujud, kelakuannya pun ikut berubah. Gak sadar dia dulunya kayak apa!" gerutu Gerrald tak habis pikir. Diary tak merespon apapun. Dia lebih fokus dengan kegiatannya yang mengemasi kotak P3K seperti semula. Lalu, saat dia hendak menaruh kotak tersebut ke tempatnya lagi, tahu-tahu seseorang juga masuk ke uks yang sontak membuat Diary sedikit terkejut disusul dengan Gerrald yang langsung berdiri siaga. "Ngapain lo ke sini?" sembur Gerrald memelotot emosi. "Obatin lukalah, lo pikir lo doang yang dapet luka. Gue juga!" sahutnya sambil mendelik. Lalu, tanpa banyak ini dan itu lagi ia pun beringsut mendekati Diary lantas merebut kotak P3K yang masih ada di tangan sang gadis. "Woi, lembut dikit ngapa kalo ambil sesuatu dari tangan orang lain!" seru Gerrald yang sudah kelewat geram. "Suka-suka gue lah!" sambarnya lagi mengeyel. Kemudian, ia pun menarik kursi yang tersedia dan duduk di sana disusul dengan membuka kotak P3K untuk segera mengambil obat yang ia perlukan. "Ngapain lo berdua masih di sini? Pergi sana! Bikin gue enek aja," usirnya sarkastik. Membuat Gerrald kembali diselimuti emosi seandainya tidak segera diredam oleh Diary yang langsung meraih tangannya guna mengajaknya keluar dari ruang uks. "Kamu kenapa malah bawa aku pergi sih, Di?" lontar Gerrald tak terima. "Kamu kan udah selesai aku obatin lukanya. Terus mau ngapain lagi di sana? Mau bikin keributan lagi? Gak kapok emang dikasih ceramah sama Pak Tomi?" ujar Diary sambil terus melangkah tanpa melepaskan tangan pacarnya. "Ya gak gitu juga. Kan aku belum beresin permasalahan yang ada," "Semua udah selesai, Ger! Udahlah, gak ada gunanya kalo masalah sepele itu terus kalian bahas...." "Loh! Sepele apaan? Dia udah bikin kamu malu di dalam kelas gimana bisa dibilang sepele? Kamu justru harus tegur dia dong. Gimana pun juga, dia itu udah bikin--" "Aku bilang udah ya udah!" seru Diary tiba-tiba meninggikan suaranya. Bersamaan dengan keduanya menghentikan langkah lantas saling melempar sorot emosi yang kini lebih kentara muncul dari kedua mata Diary. "Di, aku cuma--" "Aku tau, Ger. Aku tau kamu mau belain aku sampe dia menyesali perbuatannya tadi. Tapi percuma! Dia bukan Restu yang lama. Dia gak bakalan menurut patuh apalagi cuma duduk diam aja saat ada yang mengusiknya. Segala hal yang ada dalam dirinya bisa dibilang udah berubah semuanya. Dan kita gak punya hak buat bikin dia melakukan apapun yang kita inginkan. Jadi, aku mohon! Cukup lupain dan anggap semuanya udah selesai. Atau aku gak akan pernah mau kamu ajak bicara kalau kamu terus menerus menyinggung persoalan enteng yang udah kejadian di dalam kelas tadi. Paham?" omel Diary panjang lebar. Kemudian, seakan tak ingin repot-repot mengajak Gerrald kembali melanjutkan langkah, Diary pun bergegas seorang diri meninggalkan pacarnya yang hanya mampu diam melongo seusai kena damprat gadis tersebut.                                                                                        *** Restu tengah melangkah guna kembali ke kelas setelah urusannya di uks selesai. Namun di tengah jalan, tanpa diduga seseorang telah datang menemuinya dari arah berlawanan. Melihat sosok itu mendekat, kontan cowok berjambul itu pun menghentikan langkahnya seiring sosok tersebut datang menghampiri hingga kini tiba di hadapannya. "Kamu?" tatap Restu kala mendapati Keyna yang saat ini tersenyum padanya. "Bisa kita bicara sebentar, Res?" tanya Keyna baik-baik. "Bicara soal apa?" Restu balas bertanya diiringi dengan kening yang mengkerut bingung. "Soal sesuatu. Gue mau bikin konspirasi sama lo," tukas Keyna to the point. "Konspirasi?" "Iya. Kalo lo bersedia jadi sekutu gue, malah itu akan membuat lo dapat keuntungan...." terang Keyna bersedekap. "Maksudnya?" "Soal Diary. Gue tau, lo udah lama suka sama dia kan? Terus, karena merasa gak dihargai ... akhirnya lo memutuskan buat mengubah penampilan berikut sifat dan karakter lo juga. Gue paham, semua itu gak mudah buat lo. Tapi percayalah, kalo lo berkenan buat berkonspirasi sama gue ... mungkin, gue bisa sedikit mempermudah dalam membuka jalan yang lo inginkan," tutur Keyna mengajukan sebuah kesepakatan. "Jalan? Jalan apa yang kamu maksud?" "Jalan buat mendapatkan Diary dong. Memangnya apa lagi? Bukannya lo berubah kayak gini demi menarik perhatian dia? Tapi sayangnya, sepupu gue itu udah telanjur lengket sama cowok yang belakangan ini udah jadi pacarnya. Tentu lo butuh rencana kan buat merebut apa yang lo suka dari tangan Gerrald sendiri?" jelas Keyna semakin merinci. Restu mengerjap tanpa mampu menyahut lagi. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, bagaimana bisa Keyna mengetahui tentang tekad Restu yang pada kenyataannya memang memiliki keinginan untuk merebut Diary dari Gerrald? Bukankah selama ini dia tidak pernah cerita pada siapa pun? Tapi, bagaimana mungkin ada pihak lain yang tahu mengenai hal itu? Apa jangan-jangan dia menyelidikinya dengan sengaja? Lalu, apa yang Keyna bilang tadi? Diary dan Keyna sepupuan? Jadi selama ini mereka.... "Gue gak akan memaksa kalo lo gak mau. Tapi misalkan lo berubah pikiran, lo bisa hubungi gue kapan aja!" cetus Keyna pantang menyerah. Kemudian, saat Keyna sudah bersiap untuk melenggang pergi, mendadak Restu pun menanggapi penjelasan yang Keyna utarakan sebelumnya dengan cepat. Maka sebelum Keyna melangkah jauh, cowok berjambul itu pun berseru memanggil sekaligus menumbuhkan secercah harapan bagi keduanya dalam mencapai keinginannya masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD