39. Restu dan kenekatannya

1622 Words
Pagi-pagi sekali, Diary sudah siap dengan seragam yang melekat di tubuhnya. Semenjak pernah mengalami keterlambatan tempo hari, dia jadi rajin bangun subuh demi memastikan agar ia tidak lagi mengalami yang namanya terlambat. Pasalnya, terlambat itu sangat merugikan. Selain tidak bisa sarapan dulu sebelum berangkat, ia pun harus berdiam diri di luar gerbang sampai jam istirahat tiba. Beruntung saat itu Gerrald berhasil membujuk satpamnya dan membiarkan Diary masuk sebelum waktu yang seharusnya. Tapi di lain kesempatan, Diary tidak menjamin bahwa itu akan selalu terjadi bukan? Tidak selamanya satpam tersebut bisa dibujuk. Tidak akan selalu juga Gerrald berada dalam jangkauannya untuk sekadar membantunya seperti yang dilakukannya beberapa hari lalu ketika ia mengalami terlambat masuk sekolah. Setelah semuanya selesai, Diary pun bersiap turun ke bawah guna memenuhi asupan gizi di waktu sarapannya. Seusai menyambar tas sekolah yang tergantung di permukaan pintu, kini ia pun sudah berjalan menuju ke luar kamar dan kembali menutup pintu lantas melangkah ke arah tangga. Akan tetapi, di tengah kakinya yang menuruni undakan tangga, samar-samar ia mendengar suara orang berbincang yang dibarengi dengan tawa renyah dari mereka yang tengah mengobrol santai di bawah sana. Diary mengernyit, sedikit merasa janggal tatkala telinganya mendengarkan suara orang berbincang yang kian kentara semakin mendekatnya ia ke lantai bawah. Lalu, ketika Diary melihat Bik Minah melintas di bawah tangga, ia pun lekas memanggil sekaligus menghentikan langkah Bik Minah yang berniat menghampiri meja makan. "Ada apa, Non?" tanya Bik Minah setelah nona mudanya datang mendekat. "Ada tamu ya?" tebak Diary langsung. Pikirnya, jika bukan tamu maka siapa lagi? Toh tidak mungkin juga kan maminya berbincang sendiri tanpa ada lawan bicaranya. Mengingat papinya belum bisa pulang saat tadi malam mengabari, lantas dengan siapa maminya kini berinteraksi. "Iya, Non. Katanya, tadi teman Non Diary mau jemput. Berhubung belum sarapan, jadi Nyonya sekalian ajakin dia buat sarapan bersama...." ujar Bik Minah sedikit ambigu. "Hah? Temen Diary? Siapa, Bik?" pekik Diary di tengah kernyitannya. "Bibik juga tidak tahu, Non. Baru kali ini sih lihat wajahnya," kata Bik Minah yang langsung membuat Diary tercengang. Jika yang datang Gerrald, maka Bik Minah akan mengenalinya. Tapi setelah mendengar apa yang barusan ART-nya itu katanya, mendadak Diary diliputi rasa penasaran yang luar biasa. Selain Gerrald siapa yang sudah berani datang ke rumah dan mengaku sebagai teman Diary? Maka, demi memastikan perihal orang yang mengaku sebagai temannya dan Diary dengar sedang berbincang santai dengan maminya saat ini, gadis itu pun lekas bergegas meninggalkan Bik Minah guna menghampiri meja makan yang letaknya berada tepat di belakang tangga. Kemudian, saat ia berhasil menyatroni tempat yang ditujunya, mendadak, Diary pun mematung di tempat dengan mata yang melebar penuh kala mendapati seorang pemuda berjambul yang tak lain adalah Restu. "Selamat pagi!" seru cowok itu melambaikan sebelah tangan. Tak lupa, senyuman lebar mengembang juga di bibirnya. Menyadari anaknya sudah datang, Diana pun turut menyambut. "Hai, Sayang? Mami kira kamu masih siap-siap. Ternyata udah rapi ya. Tau aja kalo Restu mau jemput seawal ini," tutur Diana terkekeh. Sekaligus membuat Diary tercenung luar biasa sehabis mendengar ucapan yang maminya lontarkan.                                                                                  *** Entah ini pagi yang cerah atau justru terasa mendung bagi Diary sendiri. Gadis itu tampak tidak nyaman ketika harus berada di dalam satu mobil yang dikendarai oleh Restu sendiri. Ya, dengan sangat terpaksa, ia harus mematuhi bujukan maminya saat begitu antusias memintanya agar menerima ajakan Restu untuk berangkat bersama ke sekolah. Walau mulanya Diary sempat menolak dan mengatakan sudah memiliki janji untuk berangkat bersama dengan teman lainnya, tapi Diana bersikeras meminta Diary untuk mau menerima ajakan Restu. Tentu saja Diary tidak bisa menolak jika maminya yang sudah turun tangan. Dan entah bagaimana caranya Restu bisa pandai sekali mengambil hati sang mami. Mengingat selama ini Diana tidak pernah mencampuri urusan pribadinya, tapi setelah mengenal Restu dari sejak pertama kali mereka bertemu di kafe tempo hari, Diary rasa, maminya akan sedikit menyulitkan dirinya seandainya Restu gencar mendekatinya seperti yang sudah ia lakukan pagi ini. "Di, kamu suka dengerin musik gak?" tegurnya memecah sunyi. Berdeham, Diary pun menjawab. "Gak terlalu. Kenapa emangnya?" tanya gadis itu balas melirik. "Gak apa-apa. Tadinya aku mau nyalain musik biar gak sepi-sepi amat," ujar Restu terkekeh. Diary mendengkus. "Nyalain aja. Ini kan mobil kamu!" tukas Diary mendelik. Tak mengerti dengan jalan pikiran Restu yang sekarang. Jika dulu Diary merasa nyaman saat sedang bersama Restu, maka sekarang malah sebaliknya. Semenjak berubah, Restu terlihat sangat berbeda dari Restu versi lama. Dia seakan jauh lebih berani dan agresif dibanding dulu. Padahal, Diary lebih suka pada Restu yang masih berkacamata dan keluguannya. Bukan Restu yang sekarang. Diary bahkan tidak terlalu berminat untuk sekadar menanggapinya ketika sedang berbicara. "Oh ya, Tante Diana bilang ... kamu suka berenang ya?" lontar Restu lagi berusaha menghangatkan suasana. "Gak terlalu. Aku lebih suka baca buku dibanding nyemplung ke dalam kolam," sahut Diary seadanya. Dia bahkan terasa malas untuk sekadar melirik Restu yang sedang fokus menyetir. "Tapi Tante Diana bilang--" "Mami gak tau apa-apa soal aku. Dia kan sibuk terus kerja. Cuma baru belakangan ini aja dia sering ada di rumah. Jadi, apapun yang dia bilang ... itu gak menjamin akurat sama keasliannya!" tandas Diary memotong kalimat Restu. Entah kenapa, dia tidak suka saja jika cowok itu berkali-kali menyertakan maminya terus setiap kali berbicara soal dirinya. "Gitu ya?" tanggap Restu manggut-manggut. Diary tidak lagi merespon. Dia lebih anteng menatap jalanan dari balik jendela mobil dibanding mendengarkan apalagi menyahuti omongan Restu. Sebenarnya, Diary ingin bertanya perihal tujuan cowok itu yang tiba-tiba datang menjemput sementara sebelumnya main ke rumahnya saja tidak pernah. Tapi suasana hati Diary sedang tidak bisa dibilang baik-baik saja. Maka, gadis itu menyimpan pertanyaannya di dalam hati saja dan akan ia tanyakan ketika moodnya sudah kembali membaik. Sampai ketika mobil yang Restu kemudikan sudah memasuki halaman sekolah, Diary pun berharap penuh agar tidak ada satu orang pun yang melihat dirinya keluar dari mobil tersebut. Setidaknya, jangan orang yang mengenalnya yang melihatnya ketika harus keluar dari dalam mobil yang dibawa Restu. Bisa jadi masalah seandainya hal itu terjadi. Seakan harapannya dikabulkan Tuhan, Diary keluar dari mobil tersebut di saat tidak ada seorang pun yang melihatnya. Kedatangan mereka ke sekolah masih terlalu awal, maka suasana sekolah pun masih begitu sepi belum banyak yang berdatangan. Lantas, Diary pun memanfaatkan keadaan dengan buru-buru melangkah meninggalkan area parkiran memasuki koridor. "Diary!" Jantung gadis itu seketika nyaris berhenti saat seseorang berseru memanggilnya. Didapatinya, Keyna datang dari arah berlawanan. Sebelah tangannya melambai tinggi diiringi senyuman lebarnya kala melihat Diary mendekat. "Keyna? Tumben sepagi udah di sekolah," gumam Diary sambil sedikit was-was. Beruntung, Restu belum memunculkan diri dari arah belakangnya. Paling tidak, Keyna tidak akan berpikir yang aneh-aneh karena tidak melihat secara langsung Diary yang datang bersama Restu. "Gue ada bagian piket kelas. Makanya pagi-pagi gini udah nongkrong, hehe." Diary membulatkan mulut. "Pantesan. Ya udah, yuk kita ke kelas!" ajak Diary sedikit tergesa-gesa. Namun sebelum langkahnya sempurna mengayun, seseorang kembali memanggilnya dari arah belakang. "Diary!" Mengenali suaranya, Diary pun refleks memejamkan mata tanpa disadari Keyna yang berdiri di sebelahnya. "Ponsel kamu ketinggalan," ucap Restu yang sudah berada di dekatnya. Lalu, ia menyodorkan ponsel hitam milik sang gadis yang ditemukannya di atas jok mobil saat sedang mengecek sebelum ia benar-benar meninggalkan parkiran. Melirik dengan sorot kesal, Diary pun segera menyambar ponsel yang Restu sodorkan. Kemudian, seakan tidak ingin terjadi perbincangan apalagi di sebelahnya ada Keyna yang pasti bertanya-tanya, ia pun buru-buru menarik tangan Keyna untuk segera pergi menyusuri koridor agar segera sampai ke kelasnya. Namun tanpa sepengetahuan Diary, Keyna pun sempat menengok ke belakang sambil melempar senyuman puasnya pada Restu yang membalasnya dengan seringaian serupa.                                                                                     *** "Oke class, materi hari ini cukup sampai di sini. Sampai jumpa di materi selanjutnya...." pungkas Riani, guru bahasa inggris menutup pembelajarannya hari ini. Seusai Riani meninggalkan kelas, sebagian dari penghuni kelas tersebut pun turut berbondong-bondong hendak menyatroni kantin guna berburu makanan favorit masing-masing. Begitu pun dengan Gerrald dan Diary. Dua sejoli itu juga berniat untuk mendatangi kantin seperti biasanya. "Ger, kamu duluan aja ya ke kantinnya!" ujar Diary saat mereka baru mencapai ambang pintu. "Loh kenapa? Kamu mau ke mana dulu emangnya?" tanya Gerrald melirik. "Aku mau ke toilet dulu. Mendadak kebelet nih," cengir gadis itu lebar. Gerrald mendengkus. "Kirain mau ke mana. Ya udah, aku tunggu di kantin aja ya kalo gitu!" tukas cowok itu sembari mengacak pelan pucuk kepala Diary. Membuat sang gadis tersipu malu dan berujung dengan timbulnya rona merah di kedua pipinya. Gerrald tertawa geli. Namun tak berlangsung lama, karena selanjutnya mereka kembali melangkah dengan mengambil jalur yang berbeda. Seperginya dua sejoli itu dari kelas, Restu pun turut membuntuti salah satunya. Begitu pun dengan Prita, mereka melangkah mengambil jalur masing-masing yang hendak diikutinya. Ketika Diary sudah memasuki toilet, Restu pun dengan gesit ikut masuk ke dalam toilet khusus perempuan. Sontak, membuat Diary yang awalnya hendak masuk ke dalam bilik seketika tidak jadi saat melihat seseorang ikut masuk apalagi saat ia tahu yang memasuki toilet tersebut berlawanan gender. "Restu, kamu ngapain masuk toilet cewek?" seru Diary setengah berteriak. "Ada yang pengen aku bicarain sama kamu, Diary...." "Tapi gak di sini juga, Res. Apa kata orang nanti kalo sampe lihat kamu ada di toilet cewek kayak gini," tukas Diary memelotot. "Aku gak peduli, Di. Yang jelas, aku pengen kamu tahu tentang perasaan aku ke kamu selama ini. Udah saatnya aku bilang, kalau aku ... cinta sama kamu, Diary...." ungkap Restu secara gamblang. Sontak, membuat Diary semakin membelalak apalagi saat tanpa disangka cowok itu beringsut mendekat dan meraih pinggang Diary hingga tubuh keduanya kini saling merapat teramat nyata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD