Perihal apa sih yang membuat seseorang mengubah cara bersikapnya sampai ia nekat dengan perilakunya yang bahkan tidak didasari dengan kesopanan dan sedikit moral? Obsesi. Ya, itu jawabannya.
Sebuah obsesi menjadikan seseorang nekat. Seperti halnya yang terjadi pada Restu. Mengingat dirinya memiliki obsesi yang ingin memiliki Diary sebagai pacarnya dan memendam rasa tak suka ketika melihat Diary sedang bersama cowok lain, pada akhirnya Restu pun menaiki puncak kenekatan yang tak dapat diduga oleh Diary sendiri.
Bagaimana mungkin cowok lugu nan pendiam seperti Restu, kini justru bisa berubah drastis menjadi cowok menyebalkan yang tidak tahu aturan? Dengan lancang, cowok itu menerobos masuk ke dalam toilet perempuan hanya demi ia ingin berbicara pada Diary. Ayolah, hal semudah itu bahkan bisa dilakukan di tempat lain yang lebih terbuka. Bukan malah menjadikan toilet berbeda gender sebagai tempat perbincangan yang Diary sendiri tidak mengetahui jenis pembahasannya mengenai apa.
Terlebih, Restu bahkan sudah melewati batas kesopanannya. Dia telah membuat Diary merasa tidak nyaman dengan perlakuannya sekarang.
"Restu, apa-apaan ini? Kenapa kamu melakukan ini sama aku?" protes Diary sembari berusaha melepaskan diri.
"Diary, aku menyukaimu sejak lama. Tapi kenapa justru kamu malah jadian sama si Gerrald itu yang kutahu dia adalah anak baru di sekolah ini. Apa kamu lupa, siapa yang pertama kali kamu kenal, hah?" lontar Restu merasa terkhianati.
Diary tercenung. Dia tidak mengerti kenapa Restu bisa senekat ini. Apa yang Restu tanyakan barusan? Siapa yang pertama kali Diary kenal di antara Restu dan Gerrald. Diary bahkan tidak bisa memprediksi pada siapa akhirnya ia jatuh cinta. Lantas, apa masalahnya jika Restu yang pertama kali ia kenal? Hal itu tidak menjamin pada siapa juga Diary akan menjatuhkan pilihannya bukan? Toh tentang rasa cinta yang tumbuh dari dalam hatinya bukan terpaku pada siapa yang ia kenal lebih dulu. Cinta itu soal kenyamanan. Jika Diary akan selalu lebih nyaman saat berada di dekat Gerrald, maka tidak ada salahnya kalau ia pun jatuh cinta pada orang yang membuatnya selalu nyaman bukan? Lagipula, sejak pertama kali berteman dengan Restu pun Diary tidak pernah memiliki rasa suka melebihi dari sukanya dalam pertemanan saja kok.
"Restu, kamu ini kenapa? Maksudku, kenapa kamu jadi berubah seperti ini? Mana Restu yang menjungjung tinggi nilai kesopanan dan takut akan kebengalan? Kenapa perubahan kamu ini malah menjadikan kamu seperti sekarang, hem?" lontar Diary tak habis pikir.
Restu semakin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Diary. Meski gadis itu berusaha untuk melepaskan diri, tapi tenaga Restu jauh lebih besar dan hal itu tidak akan mudah bagi Diary dalam memberontak.
"Kamu tau kenapa aku berubah seperti ini?" tanya Restu yang hanya dibalas dengan tatapan penuh tanya dari Diary. "Aku seperti ini karena kamu, Diary!" lanjutnya berseru.
Diary tertegun. "Karena aku?" gumamnya membeo.
"Ya. Aku kayak gini itu penyebab paling besarnya adalah kamu! Kamu membuat aku frustrasi, Diary. Kedekatan kamu sama si Gerrald itu bikin aku lupa sama diri aku sendiri. Dan akhirnya apa yang terjadi? Aku tumbuh dengan jati diri baru. Kamu tadi tanya ke mana Restu yang lama kan? Anggap aja dia udah mati. Sekarang, aku hanya akan menjadi Restu yang baru. Restu yang akan selalu memperjuangkan cintanya sampai titik darah penghabisan. Paham?" tutur cowok berjambul itu panjang lebar.
Diary menghela napas panjang. Dia bahkan tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi. Tapi, apa yang bisa ia perbuat? Memaksakan diri untuk mencintai Restu pun rasanya akan sulit. Hatinya sudah lebih dulu terpanah oleh cinta yang Gerrald tancapkan. Maka, tidak ada tempat lagi untuk siapa pun yang mengaku dirinya mencintai Diary.
***
Di kantin, Gerrald berkali-kali melirik jam tangannya. Sudah hampir sepuluh menit, tapi yang ditunggu belum muncul juga.
"Ke mana Diary? Kenapa dia gak nongol-nongol, sih?" gumamnya mendadak gelisah. Pasalnya, biasanya Diary tidak suka berlama-lama di toilet jika tidak ada kendala yang menimpa. Akan tetapi, sekarang gadis itu malah belum kelihatan batang hidungnya juga. Lalu tiba-tiba, Gerrald pun teringat lagi akan kejadian tempo hari saat Diary terkunci di dalam toilet.
"Astaga! Apa jangan-jangan dia--"
"Hai, Ger! Sendirian aja?" Keyna datang menghampirinya. Senyumnya mengembang kala ia melihat Gerrald yang balas menatapnya.
"Eh, elo, Key...." sapa Gerrald tersenyum sedikit.
"Kenapa? Kok kayak yang lagi kebingungan gitu," tegur gadis itu mengernyit.
Gerrald mendengkus. "Gak apa-apa, kok. Gue cuma lagi nunggu Diary aja...." tukasnya memberi tahu.
"Loh, emang Diary kemana?" tanya Keyna lagi sambil celingukan ke sana kemari.
"Tadi sih bilangnya mau ke toilet dulu, tapi sampai sekarang dia malah belum kelihatan juga...." ujar Gerrald melenguh.
Keyna mengerjap. "Loh, dia bilang gitu ya sama lo? Tapi tadi kok gue lihat dia malah lagi jalan bareng sama si Restu," gumam Keyna dengan suara yang memelan. Namun meski begitu, Gerrald masih bisa mendengar setiap kata yang gadis itu ucapkan.
"Apa?" Cowok itu memekik.
Lantas, Keyna pun sedikit mendongak kala mendengar Gerrald bersuara. "Ha? Apa, Ger?" balas Keyna malah bertanya balik.
"Tadi lo bilang apa?" tanya Gerrald ingin memastikan.
Keyna mengerjap. "Bilang apa? Gue emangnya bilang apa tadi?"
"Gak usah pura-pura lupa, Key. Gue udah denger, tapi gue nanya cuma pengen mastiin aja kalo pendengaran gue gak salah." Gerrald menjelaskan.
Keyna menelan ludah. Padahal, dia tidak berniat untuk memberitahu cowok itu. Hanya saja, bukan salah Keyna juga kan kalau Gerrald memiliki pendengaran yang tajam.
"Iya. Ta-tadi, gue sempet lihat Diary sama Restu jalan barengan gitu arahin ke toilet. Gak tau juga sih yang benernya kayak apa. Cuma, yang gue lihat sih kayak gitu, Ger...." tutur Keyna menjelaskan pelan-pelan.
Mendadak, perasaan Gerrald pun diliputi oleh emosi yang mencuat. Bagaimana mungkin Diary berdekat-dekatan dengan orang yang bahkan udah bikin dia malu kayak kemarin. Jika itu benar, maka Gerrald harus segera meminta klarifikasi pada gadis itu sekarang juga.
"Lo mau ke mana, Ger?" tegur Keyna ketika melihat cowok itu lekas melengos dengan sebelah tangan yang terkepal. Akan tetapi, Gerrald pun tidak punya waktu untuk menjawab. Dia sudah keburu emosi dan selanjutnya dia pergi hendak menemui pacarnya.
Bersamaan dengan itu, Prita pun datang menghampiri Keyna yang sedang tersungging puas karena rencananya berhasil.
"Hebat juga ya lo. Gue pikir si Gerrald gak akan kemakan sama omongan lo," tukas Prita bersedekap.
"Gue dilawan...." cetus Keyna tersenyum miring. Lalu, kedua cewek itu pun saling beradu telapak tangan sambil tertawa kompak menantikan drama paling baru yang akan terjadi di antara dua sejoli tersebut.
***
Diary dan Restu masih berada di dalam toilet khusus perempuan. Beruntung, di jam istirahat seperti ini tidak ada satu orang pun yang muncul guna memakai toiletnya. Seandainya ada, maka ini bisa menjadi masalah besar bagi keduanya. Bisa-bisa, mereka dipanggil ke ruang BK untuk ditanyai perihal sedang apa dua orang berlawanan jenis berada di dalam satu toilet yang sama. Bukankah seharusnya kaum pria memakai toilet sebelah jika benar-benar ia mempunyai urusan di dalam toilet itu sendiri? Tapi yang Restu lakukan justru malah sebaliknya.
"Res, lepasin aku dan cepat pergi dari sini. Atau kita bakal kena masalah kalo seandainya ada orang lain yang mengetahui kita di sini," tukas Diary kembali mengingatkan.
"Maka berikan aku kesempatan, Diary!" seru Restu sedikit meninggikan suaranya.
"Kesempatan apa?" lontar Diary sambil sesekali menatap was-was ke arah pintu.
"Menjadi pacarmu," sahut Restu teramat jelas.
Diary membelalak. Tidak mungkin Diary memberikan kesempatan perihal itu pada Restu. Apa yang akan terjadi pada Gerrald andai kata ia nekat memberikan peluang bagi Restu untuk menjadi kekasihnya. Tidak bisa. Lagipula, Diary pun tidak memiliki perasaan serupa pada Restu. Dia hanya menganggap Restu sebagai seorang teman biasa, tidak lebih.
"Apa kamu bisa?" tanya cowok itu lagi menatap tajam.
Diary mendesah gusar. Apa yang harus ia katakan? Jika dirinya menolak, maka semuanya akan semakin kacau balau. Bisa-bisa, Restu tidak akan melepaskan apalagi pergi dari toilet ini dalam jangka waktu yang cepat.
"Ayo, Diary. Bukankah kamu tinggal menjawabnya saja?" desak Restu tak sabar.
"Tapi aku gak cinta sama kamu!" seru Diary setengah kesal.
"Benarkah?" tatap Restu menyalang.
"Ya. Aku cuma cinta sama satu cowok. Dan aku rasa, kamu udah tau siapa orangnya...." cicit Diary sembari menunduk. Dia tidak ingin melukai Restu dengan kejujurannya seperti ini. Tapi apa boleh buat? Berbohong pun rasanya hanya akan menyakiti diri Restu saja di akhir nanti.
"Jadi kamu akan tetap pada pilihanmu?" Restu bertanya dengan nada seserius mungkin.
Diary menghela pasrah. Mengangkat wajahnya guna kembali menatap cowok berjambul itu.
"Restu, aku mohon. Kamu gak bisa memaksakan kehendak seseorang untuk balik mencintai kamu. Termasuk aku. Aku bahkan gak bisa membalas perasaan kamu karena aku memang gak cinta sama kamu. Bukankah kejujuranku ini jauh lebih baik ketimbang aku harus berpura-pura suka sama kamu tapi nyatanya gak sama sekali. Itu hanya akan menyakiti kamu aja, Res...." terang Diary mencoba memberikan pemahaman.
"Oke kalo gitu. Maka aku akan buat kamu menyesal karena udah menolak aku seperti ini,"
"Maksudmu?" tatap Diary mengernyit.
"Maaf, Diary. Tapi kamu yang mendorongku untuk melakukan hal ini...." tukas Restu setengah mendesis. Lalu, sejurus kemudian, cowok itu pun mendaratkan ciuman paksanya di bibir Diary yang sontak membuat gadis itu membelalak lebar dengan tubuh yang mematung seakan tak mampu berkutik.
Bersamaan dengan itu, pintu toilet pun didorong terbuka dari luar. Seseorang muncul dan langsung menyaksikan Restu yang kini masih menempelkan bibirnya di bibir Diary yang tak berusaha memberontak sama sekali. Hal itu justru membuat si pembuka pintu seolah baru saja dilempari batu kerikil raksasa yang seketika menghantam ulu hatinya.
Pedih. Melihat orang yang dicintai dan dilindunginya selama ini justru malah sedang berciuman dengan cowok lain yang tidak ia sukai semenjak perubahan itu terjadi dalam diri cowok berjambul itu. Dikuasai oleh emosi yang mencuat ke permukaan, cowok itu pun lantas melangkahkan kakinya guna menarik bahu Restu yang tak menyadari akan kehadirannya.
"Berengsek!" umpat cowok jangkung itu meradang. Satu pukulan ia layangkan telak mengenai rahang Restu. Saking kencangnya ia memukul, tubuh Restu pun langsung jatuh terjengkang menyentuh lantai. Bertepatan dengan itu pula, Diary pun seakan baru kembali menapak bumi dan menyadari bahwa saat ini Gerrald sedang berada di jangkauan terdekatnya.
"Gerrald, kamu...." bisik Diary menggantung.
Melirik ke arah sang gadis, dengan wajah merah padam menahan amarah Gerrald pun berkata, "Kita putus, Diary!"
Kemudian, cowok itu pun langsung melengos pergi setelah menyampaikan keputusannya pada sang gadis berikut memberi Restu pelajaran dengan cara memukulnya keras seperti yang dilakukannya sesaat lalu.