"Kita putus, Diary!"
Hal terburuk apa yang lebih menyakitkan dari keputusan final yang Gerrald ikrarkan tanpa bisa diganggu gugat?
Percayalah, setelah menerima kata putus dari Gerrald, kini Diary pun seakan sedang hidup dalam kehampaan. Sudah tiga hari sejak kejadian di dalam toilet perempuan di sekolahnya, gadis itu mengurung diri di dalam kamar. Selain pergi ke sekolah demi menunaikan kewajibannya sebagai seorang pelajar, Diary memutuskan untuk tetap berada di dalam kamar sepanjang hari.
Tok tok tok,
Ketukan pintu itu tak sedikit pun mengusik keterdiaman Diary yang hanya bisa mencoret-coret halaman kosong dari buku hariannya. Jika sebelumnya setiap halaman tersebut selalu gadis itu isi dengan cerita demi cerita yang dialaminya pertiap hari, maka sekarang yang tertuang di sana hanya coretan tak beraturan saja yang mampu Diary torehkan.
"Diary, Sayang. Kamu lagi apa di sana, hem? Mami boleh masuk gak?" seru Diana dari luar sana. Tapi tak mendorong sedikit pun dari dalam diri Diary untuk sekadar menyahut.
Gadis itu seperti hidup tapi tak bernyawa. Diputuskan dengan cara seperti itu telah membuat dirinya seolah menjadi manusia yang benar-benar tidak ada harganya. Terlebih, sebelum Gerrald menangkap basah dirinya yang sedang berada di dalam toilet bersama seorang lelaki, bahkan bibir Diary pun malah sudah lebih dulu dijamah oleh cowok yang sama sekali tidak ia harapkan untuk melakukan hal tersebut. Seandainya waktu bisa diulang, maka Diary akan sedikit lebih memberanikan diri untuk menindaklanjuti perlakuan Restu agar ia tak berbuat setercela itu.
"Diary, Nak. Kamu dengar Mami kan?" Diana kembali menyeru. Tapi nihil, gadis itu bahkan masih sama saja seperti sebelumnya. Dia tidak sedang berselera untuk berinteraksi dengan siapa pun.
Di balik pintu kamar yang sengaja dikunci rapat, Diana pun menghela napas panjang. Usahanya kali ini kembali sia-sia. Tidak ada secuil respon pun yang ditunjukkan oleh anak gadisnya sejak tiga hari yang lalu ia memutuskan untuk mengurung diri di kamar.
"Gimana, Mi? Apa Diary udah kasih respon?" tanya Danu baru datang menghampiri. Sudah dua hari, ia pun tinggal di rumah demi menemani istrinya yang sedang mencemaskan anak gadis sematawayangnya.
"Masih sama, Pi. Entah apa yang terjadi pada Diary, Mami benar-benar khawatir sama dia, Pi...." tukas Diana lesu. Dia bahkan menatap suaminya dengan sorot ketakutan apabila terjadi sesuatu yang buruk kepada anak satu-satunya mereka.
"Tenang, Mi. Biar kita pikirkan cara yang terbaik untuk membujuk Diary. Atau, apa perlu kita panggil teman-teman sekelasnya ke sini? Siapa tau, mereka bisa sedikit membantu dalam mengembalikan Diary kita yang dulu...." usul Danu terkemuka.
"Apa harus?" tatap Diana meragu.
"Kenapa tidak? Bukankah mereka juga bisa kita tanyai, setidaknya ... kita bisa tanya ke mereka tentang penyebab Diary yang menjadi semurung itu. Tidak ada salahnya bukan?" ujar Danu berasumsi.
Diana membuang napas gusar. Suaminya memang tidak salah jika memiliki pemikiran seperti itu, tapi untuk Diary sendiri, apa mungkin hal itu berpengaruh? Diana hanya takut, sekalipun teman-temannya diundang ke rumah, Diary justru malah semakin merasa risi dan tidak nyaman dengan keadaan sekitar. Membayangkan hal itu, Diana pun mendadak dilanda dilema. Maka, tindakan seperti apa yang harus ia lakukan? Membiarkan sampai Diary ingin bercerita tanpa diminta, atau melakukan solusi yang suaminya usulkan barusan?
Entahlah, Diana harus memikirkan semuanya matang-matang demi agar anaknya bisa kembali ceria seperti sedia kala.
***
Apa yang terjadi pada Diary selama tiga hari ini juga Gerrald rasakan walau tak semurung Diary. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa dongkol. Pasalnya, bagaimana bisa kalimat itu tercetus begitu saja? Bahkan rasanya itu sedikit tidak adil bagi Diary.
Tapi melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Restu sedang mencium gadisnya, Gerrald pun tidak bisa membiarkannya begitu saja. Walau faktanya belum ia ketahui serinci apa, tapi dia malah terburu-buru mengambil keputusan di saat emosi melanda diri.
"b**o! Kenapa gak gue pikirin dulu sih sebelum mutusin. Kan kalo udah gini, jadi buah simalakama jatuhnya. Gerrald b**o!!!" Cowok itu sedang sibuk merutuk karena sudah salah mengambil langkah.
"Kakak!" seru seorang gadis belia yang usianya terpaut tiga tahun lebih muda darinya.
Menoleh, Gerrald pun mendapati adik sematawayangnya yang bernama Jesika. Kala melihat sang adik tersenyum kepadanya, Gerrald pun turut membalas.
"Jesi, ada apa manggil Kakak?" tanya Gerrald selalu beraksen lembut.
"Kak Gerrald lagi ngapain? Kok kayaknya Jesi lihat-lihat, belakangan ini Kakak suka sering melamun...." ujar sang adik menatap penuh selidik. Rupanya, dia selalu memperhatikan kakaknya akhir-akhir ini. Maka, tidak heran jika Jesika lebih memberanikan diri untuk bertanya.
Gerrald pun membuang napas. "Gak apa-apa, Jesi. Kakak gak suka melamun, kok!" sangkal Gerrald buru-buru. Dia tidak ingin kalau adiknya sampai tahu kalau dirinya sedang dilanda kegalauan tingkat sekian.
Menatap sang kakak, Jesika pun lantas menyipitkan kedua matanya seolah sedang mencurigai.
"Jesi mencium aroma yang gak baik-baik aja nih di sekitar Kakak. Apa jangan-jangan, Kak Gerrald lagi galau ya?" tembak Jesika tepat sasaran. Sontak, cowok itu pun terkesiap sendiri seraya menelan ludah kasar karena adiknya sudah begitu hafal dengan sikap kakaknya yang sedang berbeda dari biasanya.
Akan tetapi, bukan Gerraldi Hutama namanya jika dia tidak pandai berkilah. Demi menutupi ketidakjujurannya, cowok itu pun lekas tertawa. Tawa yang bahkan tidak mengandung nyawa di dalamnya.
"Sotoy kamu ah! Udah mirip si anak indigo yang lagi viral di televisi aja. Udah sana ah, biasanya juga main di sekitar komplek dibanding recokin Kakak kayak gini...." seloroh Gerrald setengah mengusir.
"Malas ah, Jesi kan lagi puasa main...." delik gadis itu seraya terkikik.
"Puasa dia bilang," dengkus Gerrald. "Ya udah, kalo gitu ... mending kamu kerjain PR kek, atau apa gitu daripada nimbrung gangguin Kakak di sini," usul Gerrald pantang menyerah.
"Yee, rugi amat sih digangguin adik sendiri. Aduin ke Bunda juga nih. Bundaa ... Bun--"
"Eeh, apa-apaan sih kamu?" sela Gerrald buru-buru menghentikan aksi adu mengadu adiknya. Bisa gawat kalau gadis itu mengadu yang tidak-tidak pada bundanya. Bisa-bisa, selain uang jajan yang akan dipotong ... Gerrald pun akan disuruh buat tukang kebun selama satu minggu guna menggantikan Pak Darman.
"Huu, cemen! Belum apa-apa udah parno duluan. Orang Bunda lagi keluar juga," celoteh Jesika sukses membuat Gerrald geram.
"Dasar adik gak ada ahlak! Sini kamu, belum ngerasain Kakak jewer ya?"
Mendengar itu, Jesika pun langsung berlari terbirit-b***t demi mengamankan diri dari amukan sang kakak yang sukanya main jewer menjewer sampai daun telinganya memerah.
Di tengah Gerrald yang sedang merasa sebal dengan kelakuan sang adik, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Saat ia lihat, ternyata Pritalah yang meneleponnya sekarang. Untuk sesaat, Gerrald memutar bola mata muak kala mengingat betapa semakin lengketnya cewek itu kepadanya. Namun, meskipun sebenarnya Gerrald tidak memiliki minat sama sekali pada Prita, demi kewajibannya yang sudah menjadi kesepakatan yang tak boleh diganggu gugat selama masa kontrak belum berakhir, mau tak mau Gerrald pun menjawab panggilan tersebut sembari menyerukan kata, "Halo?"
"Halo, Ger. Lagi di mana?" tanya Prita to the point.
"Di rumah. Ada apa?"
"Bisa ketemuan gak sore ini?"
"Ketemuan di mana?"
"Di kafe biasa aja. Gak lagi sibuk kan?"
"Enggak sih. Emangnya ada urusan apa sih sampe harus ketemuan segala?" lontar Gerrald langsung menyuarakan isi kepalanya.
"Aduh, Gerrald ... pokoknya gue mau ketemu dulu. Baru setelah itu gue kasih tau perihal apa yang mau gue omongin," tukas Prita sedikit gemas.
Tak ingin ambil pusing di saat hati yang tak terkondisi, maka Gerrald pun pada akhirnya hanya mengiyakan saja apa yang sudah diminta oleh Prita kepadanya.
"Ya udah, gue jemput lo apa ketemu langsung di tempat?" tanya Gerrald memberi pilihan.
"Ketemu langsung di kafe aja deh. Kalo lo jemput dulu ke rumah gue nanti jatohnya lo bolak balik," sahut Prita terkekeh.
"Ya udah kalo gitu, gue siap-siap dulu dari sekarang!" tandas Gerrald memberitahu.
"Oke, Ger. See you ya...." ucap Prita sekaligus mengakhiri perbincangannya. Lalu, setelah tak ada lagi yang dibicarakan, Gerrald pun memutuskan sambungannya denga segera.
"Kalo aja gue gak ada urusan sama dia di masa lalu, mungkin sekarang pun gue gak perlu repot-repot buat sekadar ladenin setiap kemauannya," gumam Gerrald menyesal. Sejurus kemudian, ia pun memilih untuk segera bersiap-siap dan menemui gadis menyebalkan itu di kafe yang dia sebutkan.
***
"Apa? Jadi pendamping lo buat pergi ke perayaan pesta ulang tahun sekolah?" Gerrald memekik setelah Prita akhirnya memberitahukan perihal apa yang ingin ia sampaikan.
"Iya, Ger...." angguk Prita antusias. "Acaranya masih bulan depan sih, tapi ya gak apa-apa dong kalo gue mau persiapan dari sekarang. Daripada keduluan sama orang lain kan?" sambungnya beralasan.
Gerrald termenung untuk beberapa saat. Mendadak, ia didera kembali kegalauan yang datang merayapi hatinya. Bagaimana mungkin ia menerima begitu saja ajakan dari cewek di hadapannya. Apa yang akan terjadi pada Diary jika dia sampai melihatnya? Apakah gadis itu akan terluka atau justru malah biasa saja?
Lo b**o apa gimana sih, Ger? Dia kan udah ada si Restu. Mana mungkin dia masih cemburu lihat lo sama cewek lain.
Tiba-tiba hati terdalamnya berteriak mengingatkan. Tidak menutup kemungkinan memang jika Diary pun akan datang dengan Restu. Tapi, apa iya gadis itu dengan begitu mudahnya berpaling ke hati yang lain?
Duh, udah jelas lo ngegep dia lagi ciuman di toilet waktu itu bukan? Apa lagi sih yang harus diragukan.
Si kata hati kembali berkoar di tengah rasa bimbang yang mendera.
"Ger, gimana?" tegur Prita sedikit lancang menyentuh tangan Gerrald yang terkulai di atas meja.
Terkesiap, cowok itu pun lantas menatap. Lalu, ia pun spontan menarik tangannya yang disentuh Prita tanpa pikir panjang. Cewek itu mungkin bisa memintanya untuk melakukan apa saja demi agar ia bisa berdamai dengan masa lalunya. Tapi tidak untuk soal hati. Walau bagaimana pun, hati Gerrald masih tersimpan utuh untuk Diary. Meskipun gadis itu sudah sempat menorehkan luka, tapi tidak mengubah apapun perasaan Gerrald yang masih sering kali merindukannya di saat-saat tertentu.
"Gue pikir-pikir dulu ya. Lagian, acaranya masih lama ini kan?" cetus Gerrald tak ingin langsung mengiyakan.
Tentu saja hal itu membuat Prita sedikit kecewa. Namun tidak mengapa, toh ia masih bisa membujuk Gerrald di lain kesempatan. Setidaknya, ia akan melakukannya dengan sangat perlahan tanpa harus terburu-buru.