28. Sepenggal Cerita di Pantai Carita

1662 Words
Untuk ke sekian kalinya, Diary kembali dibuat takjub oleh tempat indah yang lagi-lagi Gerrald rekomendasikan kepadanya. Bukan hanya rekomendasi, tapi Gerrald memang membawa dirinya ke tempat itu setelah menempuh perjalanan 3 jam lamanya. Selagi menunggu Gerrald bertransaksi dengan si petugas yang memunguti pembayaran tiket masuk, Diary justru malah terpana dengan keindahan alam raya yang saat ini terpampang nyata di depan mata. Sejauh mata memandang, di hadapannya kini terhampar luas pantai yang begitu cantik dengan deburan ombak yang menghiasi. Betapa Diary sangat bahagia ketika ia tahu bahwa hari ini Gerrald mengajaknya mengunjungi sebuah pantai yang ada di kawasan Banten. "Yuk, masuk!" ajak Gerrald mencolek lengan atas Diary sekilas. Sontak, membuat gadis itu sedikit terkesiap dan melirik ke arah sisi kanannya yang kini sudah diisi oleh Gerrald yang sudah siap membawanya masuk ke dalam lokasi wisata tersebut. "Ger," panggil Diary pelan. Namun telinga tajam Gerrald masih bisa mendengar suara lirih gadis itu dengan sangat jelas. "Ada apa?" tanya cowok itu menatap. Diary menghela napas sejenak. Tanpa ia duga, satu tetes air mata pun jatuh membasahi pipi. Menyadari akan hal itu, secepat kilat Gerrald pun beringsut mendekat guna menghapus buliran hangat itu dari pipi sang gadis. "Lo kenapa nangis? Apa gue ngelakuin sesuatu yang bikin lo kesal?" lontar Gerrald mengernyit. Dia sangat khawatir kala melihat gadis di hadapannya menangis secara mendadak. Akan tetapi, alih-alih menjawab, Diary justru malah semakin terisak hingga air mata yang jatuh semakin banyak mengaliri kedua belah pipinya. "Astaga, Di. Lo kenapa?" tanya Gerrald lagi seketika panik. Entah apa yang harus cowok itu perbuat. Pasalnya, di tengah tangisan Diary yang kian menjadi, mereka pun berhasil menjadi pusat perhatian dari segelintir manusia yang kini saling beriringan melewat ke arah sana. Lalu, tak ingin dicap sebagai cowok yang tak bertanggungjawab karena sudah membiarkan seorang gadis selugu Diary tiba-tiba menangis tanpa alasan, Gerrald pun lekas bertindak sebelum dirinya dihujat banyak orang karena tak berbuat apapun pada kaum perempuan yang sedang menangis sesenggukan di hadapannya. Tanpa disangka, cowok itu pun meraih Diary ke dalam pelukannya. Tidak hanya itu, ia bahkan membelai lembut kepala Diary di tengah dekapan hangatnya yang seketika membuat tangisan Diary terhenti bergantikan dengan tubuhnya yang mendadak diam membeku layaknya es balok. "Maafin gue kalo gue ada bikin salah sama lo, ya?" bisik Gerrald lembut. Lantas, ia pun menempelkan dagunya di puncak kepala Diary sambil terus mendekapnya sehingga banyak pasangan muda mudi di antara yang melewat saling menatap iri pada mereka.                                                                                   *** "Makasih, Bang...." ucap Gerrald setelah mengambil uang kembalian dari tangan si abang tukas es krim potong yang kebetulan berdagang di sana. Kemudian, sambil membawa dua buah es krim di tangan kiri kanannya, Gerrald pun kembali melangkah meninggalkan tukang es potong tersebut. Lalu, ia pun melenggang santai menuju ke tempat dimana Diary sedang duduk menunggu dengan wajah yang sembab sehabis puas menangis beberapa lamanya tadi. "Es potong datang...." seru Gerrald yang sudah mendekat. Lalu ia menyodorkan satu es berwarna merah muda ke hadapan Diary yang justru malah sedang menunduk malu tak berani menatap. "Makasih, Ger," cicit Diary menerima es tersebut walau kenyataannya dia masih belum bisa melupakan kejadian sebelumnya yang sampai sekarang membuatnya segan untuk sekadar menunjukkan wajah sembabnya di depan Gerrald. "Di, jangan nunduk terus napa! Lo ga tau, ya? Tadi ombak di pantai teriak sama gue, katanya ... dia penasaran mau lihat kecantikan alami yang ada di wajah lo. Masa lo nunduk terus kayak gitu sih? Emangnya lo mau kalo gue dilabrak ombak terus dibawa tengah lautan dan berakhir mengambang gak bernyawa?" cerocos Gerrald berupaya keras. Kontan, Diary pun langsung mengangkat wajahnya dan memelototi Gerrald karena sudah berbicara sembarangan. "Nah, gitu dong! Baru kecantikannya terpancar nyata...." tukas Gerrald terkekeh. Lantas, ia pun memilih duduk di sebelah Diary seraya mulai menjilati es potong rasa cokelat di tangannya. "Gak lucu!" ujar Diary tiba-tiba. Melirik, Gerrald pun mengernyit. "Maksud lo?" "Omongan lo barusan gak lucu sama sekali. Lo tau gak? Kalo di pantai, lo gak boleh ngomong sembrono. Tar dicatat sama penghuni bawah laut berabe urusannya. Paham gak sih?" omel Diary mendengkus. Dia bahkan mendelik tak suka ketika mengingat kembali segegabah apa kalimat yang Gerrald ucapkan sesaat lalu. Namun Gerrald tangkap malah lain lagi. Dibanding menurut dan menyesali perbuatannya, cowok itu justru malah tergelak seakan omongan Diary hanya becandaan semata. "Hari gini masih aja percaya mitos. Gak usah ngikutin tradisi masa lalu. Zaman kan udah berkembang dengan difasilitasi teknologi yang serba canggih. Masa lo masih aja stay di masa lampau? Ini udah masuk era milenial, Diary. Gak akan ada yang gitu-gituan lagi," tutur Gerrald berpikir secara logis. Diary mendengkus kecut. Memang susah jika bicara pada orang yang menganut paham liberal. Dinasihati bukannya didengarkan tapi malah dianggap spele. Entah apa yang ada di pikiran Gerrald, pikirnya Diary berbicara seperti itu hanya terpaku pada mitos belaka? "Ya udah kalo gak percaya. Misalkan kejadian, aku udah peringatin kamu ya sebelumnya...." ucap Diary menyerah. Pasalnya, dilanjutkan berbicara pun rasanya akan sangat percuma jika Gerrald sendiri sudah tak percaya sejak awal. Gerrald hanya terkekeh. Lalu, ia pun kembali mengulum es potongnya sebelum mencair terkena sengatan matahari yang mulai memanas. "Oh ya, Di. Tadi malam, lo tidur nyenyak gak?" tanya Gerrald mengalihkan topik pembahasan. Sambil ikut menjilati es potong yang diberikan Gerrald, gadis itu pun mengangguk. "Lumayan nyenyak. Itu pun setelah aku curahin seluruh kegundahan hati aku sama kamu, Ger. Thanks ya...." ungkap Diary tersenyum lembut. Gerrald mengangkat bahu sejenak, "Bukan berkat gue. Tapi, itu emang karena lo nya aja udah ngerasa tenang. Umumnya manusia kan gitu, kalo beban yang ada di pikirannya udah tercurahkan dengan cara berbagi masalah sama seseorang ... otomatis, sesak di dadanya pun akan sedikit berkurang. Makanya, lo bisa tidur nyenyak karena itu. Bukan karena gue. Paham?" papar Gerrald mencoba mengklarifikasi. "Iya, aku paham. Tapi kan tetap aja. Kalo kamu gak bersedia buat dengerin curhatan aku, mungkin sampai subuh datang pun aku gak bakalan bisa tidur nyenyak dan mengawali hari baru dengan pikiran yang segar kembali," ujar Diary terkekeh. Lantas, mereka pun saling melempar senyum seraya kembali menjilati es yang tersisa sambil menikmati pemandangan indah di pesisir pantai yang sejak tadi mereka duduki. Omong-omong, alasan Diary menangis tadi tidaklah semisterius yang dibayangkan. Gadis itu hanya terlalu terharu ketika pada akhirnya dia bisa mengunjungi pantai yang indah bersama orang yang disukainya. Hal itu merupakan salah satu impiannya yang kembali menjadi nyata. Setelah dulu mendapatkan boneka beruang dari Gerrald, kini ia pun bisa bermain ke pantai bersama lelaki yang sama dan dengan perasaan yang masih tak berubah.                                                                                        *** Garis pantai yang panjang, tekstur pasir yang lembut dan ombak yang bersahabat seakan menjadi sebuah suguhan paling utama di pantai tersebut. Setelah puas bercerita tentang banyak hal, Gerrald pun memutuskan untuk beranjak dan meminta izin pada Diary guna menyewa sebuah papan selancar. "Kamu yakin?" tatap Diary meragu. "Lo ngeraguin gue? Walaupun udah jarang, tapi dulu ... gue sering main ke pantai dan surfing di sini loh sama temen-temen gue. Mumpung lagi di sini, gak masalah kan kalo gue mau nyoba surfing lagi? Sekalian mastiin aja, apa gue masih bisa atau udah lupa cara surfing yang bener...." tukas Gerrald terkekeh. "Tapi, kalo kamu surfing ... nanti aku sama siapa dong?" "Ya lo bisa jalan-jalan sekitaran sini lah. Banyak kok yang bisa lo lakuin. Lihat! Anak-anak kecil itu aja pada anteng sendiri bikin istana pasir rame-rame. Masa lo udah gede masih pengin ditemenin mulu," ucap Gerrald mengerling jenaka. Diary mencebik. Namun selanjutnya, dia pun memberikan akses yang leluasa pada Gerrald. Setidaknya, dia tidak ingin mengikat cowok itu hanya karena ia yang bingung harus berbuat apa jika Gerrald tak ada di sisinya. Maka, setelah membiarkan Gerrald pergi untuk menyewa papan selancar dan menikmati waktunya, Diary pun memilih untuk berjalan-jalan sejenak menelusuri bibir pantai dengan kaki t*******g karena sepasang sepatunya hanya dijinjing saja. Gerrald benar. Jika bermain ke pantai, jangan terpaku pada yang mengajak. Apalagi kalau memiliki sisi ego yang hanya ingin kemana-mana berduaan saja. Sekalipun itu bersama pasangan, tapi setidaknya, harus ada sesi tersendiri untuk mencoba berjalan seorang diri sambil meresapi suasana pantai yang tak akan ia dapatkan ketika kembali lagi ke pusat kota. Maka selagi ada di tempat tersebut, akhirnya Diary pun mencoba untuk merealisasikan apa yang Gerrald pernah ucapkan. Ya, dia butuh dengan situasi seperti ini. Apalagi sebelumnya, Diary sudah mengetahui cerita sedih yang terjadi di masa kecilnya. Bagaimana mungkin ia bisa menjadi penyebab seseorang tertabrak hingga nyawanya terenggut? Apakah itu bisa dikatakan sebagai pembawa s**l atau justru itu memang takdir yang Tuhan berikan? Bruk. Tahu-tahu, tubuh Diary terpental beberapa langkah ke belakang setelah ia bertabrakan dengan sesosok tubuh lainnya yang lebih kekar berpostur tinggi. Sambil mengaduh kecil, Diary pun mengusap keningnya yang sempat terantuk sesuatu yang ternyata sebuah d**a bidang kala ia mengangkat wajahnya. "Kamu tidak apa-apa, Nak?" tegur suara bariton itu bertanya. Untuk sesaat, Diary pun menatap wajah di hadapannya dengan seksama. "Apa saya menyakitimu?" lontarnya lagi. Bersamaan dengan itu, Diary pun tersadar lantas menggeleng. "Oh, eng-enggak apa-apa kok, Pak. Saya yang salah. Sepertinya, saya melamun tadi sambil jalan...." ucap Diary meringis. Sekilas, ia pun menggaruk tengkuk sedikit merasa bersalah. "Syukurlah kalau tidak apa-apa. Saya pikir, kamu merasa kesakitan setelah bertabrakan dengan saya barusan." Pria paruh baya itu terkekeh. Sejurus kemudian, sebuah suara pun memanggil dirinya dengan sebutan ayah. "Ayah!" Bukan hanya pria itu yang menoleh. Bahkan Diary pun turut menengok kala mendengar suara yang tidak begitu asing di telinganya. Jika tidak salah duga, bukankah itu suara milik-- "Keyna," gumam Diary tanpa sadar. Seketika, si pemilik suara pun datang mendekat dan tak kalah terkejut saat mendapati sosok Diary yang kini berhadapan langsung dengan ayahnya. "Diary, lo lagi apa di sini?" tanya Keyna mengernyit. Sementara itu, pria di sampingnya hanya mampu mengerjap penuh tanya seraya menatap dua gadis tersebut secara bergantian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD