Gerrald tampak begitu menikmati sajian hidangan makanan laut yang tersedia di atas meja persegi panjang tersebut. Seolah sudah mengenal akrab, cowok itu pun berupaya mengambil topik pembicaraan yang santai dengan ayah Keyna yang tak lain adalah Eko.
Padahal, bukankah seharusnya yang bersikap seakrab itu adalah Diary? Sudah jelas kalau dia masih ada ikatan kerabat dengan Keyna dan ayahnya. Tapi yang terjadi, Diary justru malah merasa minder untuk sekadar ikut nimbrung berbicara.
"Jadi, selama ini Ayah udah kenal dekat sama orangtua Gerrald?" lontar Keyna tak percaya. Apa yang ia tanyakan sekaligus mewakili rasa penasaran yang tersimpan di dalam hati Diary juga.
"Loh iya. Kamu gak ingat? Dulu, waktu kamu masih SD ... Om Rayyan kan suka main ke rumah kita yang di Solo. Malah, Om Rayyan juga suka ajak Gerrald kok. Masa kamu lupa sama momen itu?" tukas Eko mendengkus pelan.
Kening Keyna mengernyit. Dia tampak sedang mengingat ke masa dimana ia masih berusia 8 tahun dulu. Mengenang sebuah kenangan kecil kala seorang pria seusia ayahnya datang bertamu ke rumah mereka sambil membawa seorang anak laki-laki yang cenderung ketakutan waktu hendak diajak masuk oleh ayah Keyna sendiri.
"Ooh iya," pekik Keyna berhasil mengingat.
"Jadi, lo itu anak kecil yang ketakutan pas mau diajak masuk ke dalam rumah? Terus, gara-gara itu ... lo nangis kejer sampe ngompol di celana. Itu elo kan?" beber Keyna tak tanggung-tanggung.
Gelak tawa pun terdengar dari mulut Eko. Pasalnya, anak gadisnya itu memang keterlaluan. Awalnya saja lupa, tapi sekalinya mengingat, habislah sudah reputasi Gerrald di depan mereka. Terutama di hadapan Diary. Wajah Gerrald bahkan sampai memerah bak kepiting rebus ketika Keyna membongkar aibnya sewaktu masih menjadi bocah ingusan dulu.
"Hahaha," Keyna tertawa puas. Sementara itu, Diary justru hanya tersenyum kecut setelah mengetahui satu fakta tentang kedekatan Gerrald dengan Keyna dan ayahnya.
"Plis deh, Key. Kenapa lo harus ingat bagian itunya? Gak asik banget kan jadinya. Pupus sudah reputasi gue gara-gara mulut lemes lo itu, Key...." seloroh Gerrald bermisuh-misuh.
Keyna masih tertawa lepas. Eko pun sama halnya seperti anak gadisnya. Namun Diary tidak ada minat sama sekali untuk ikut tertawa. Malahan, gadis itu lebih memilih beranjak dan diam-diam melengos pergi meninggalkan meja yang mereka tempati.
"Aku pikir, selama ini cuma aku yang paling dekat sama dia. Tapi nyatanya, ada yang udah jauh lebih dekat dan akrab sama Gerrald. Mirisnya, dia sepupuku sendiri. Keyna bersama Om Eko justru udah kenal lebih dulu sama Gerrald dan orangtuanya...." gumam Diary mendumel sendiri. Sambil melangkah menjauhi kafe out door, dia pun kini entah harus pergi kemana demi menenangkan hati yang seketika merasa terbakar api cemburu.
***
Diary memutuskan untuk duduk sendiri di pesisir pantai. Menikmati embusan angin di tengah teriknya matahari yang menyengat. Tidak masalah, selama Diary memakain sun block untuk kulit terbukanya, dia tidak akan gosong meski berjemur di bawah matahari langsung.
Niat hati ingin menghabiskan waktu bersama Gerrald. Apalah daya malah tidak terjadi seperti yang sudah dibayangkan.
"Kenapa aku merasa sekesal ini sih? Padahal, Keyna kan sepupuku. Tapi, kenapa aku malah ngerasa gak suka kalo lihat kedekatan Gerrald sama Keyna?" gumamnya sambil menunduk menatap pasir. Seandainya saja dia bisa memprotes, mungkin itu akan jauh lebih baik daripada yang sekarang ia rasakan.
"Sayang ... aku bukan siapa-siapa baginya. Mana boleh aku larang-larang dia deket sama siapa aja. Untuk cemburu aja harus dipendam diam-diam. Poor, Diary!" rutuknya menghela napas panjang.
Tanpa diduga, tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri dengan gitar kecil di tangannya. Lalu, ia pun mendudukkan dirinya di samping Diary.
Jreng~
Sebuah petikan gitar sontak membuat Diary tersentak kaget dan refleks melirik ke sebelahnya. Dilihatnya, Gerrald pun sudah ada di sisinya saja sambil duduk bersila dan siap memainkan gitar yang entah ia dapatkan dari mana.
"Kurasa ku tlah jatuh cinta,
Pada pandangan yang pertama,
Sulit bagiku untuk bisa,
Berhenti mengagumi dirinya...."
Diary terpukau. Selain karena suara Gerrald yang merdu, cowok itu pun menyanyi seolah sedang mengutarakan isi hatinya.
"Lama kumemendam rasa di d**a,
Mengagumi indahmu, wahai jelita,
Tak dapat lagi kuucap kata,
Bisuku diam terpesona,
Dan andai suatu hari kau jadi milikku,
Tak akan kulepas dirimu, oh kasih,
Dan bila waktu mengizinkanku untuk menunggu
Dirimu...."
"Kurasa ku tlah jatuh cinta,
Pada pandangan yang pertama,
Sulit bagiku untuk bisa,
Berhenti mengagumi dirinya...."
"Oh Tuhan tolonglah diriku,
Tuk membuat dia menjadi milikku,
Sayangku ... Kasihku ... Oh cintaku,
She's all that I need...."
Gerrald pun menghentikan permainan gitar berikut nyanyiannya. Lalu, setelah menaruh gitar kecil tersebut di sisi tubuhnya, ia pun sedikit memiringkan posisi duduknya guna menghadap ke arah Diary.
Selama mendengarkan cowok itu bernyanyi, Diary tidak ingin banyak berekspektasi. Dia terlalu takut jika nyanyian itu bukan Gerrald tujukan untuk dirinya. Siapa tahu bukan? Andaikata Diary berharap dan kenyataannya malah tak selaras dengan bayangannya, bukankah itu hanya akan membuat hatinya tersakiti saja?
"Diary," ucap Gerrald singkat. Tanpa disangka, ia pun meraih kedua tangan gadis itu lantas menggenggamnya lembut.
Betapa berdebarnya jantung Diary saat ini. Terlebih, ketika Gerrald menatap gadis itu dengan sangat lembut tepat di manik matanya. Entah harus berbuat apa Diary, bahkan untuk bicara saja lidahnya mendadak terasa kaku.
"Lo tau gak lagu yang barusan gue nyanyiin itu artinya apa?" tanya Gerrald sedikit memancing.
Sejenak, Diary mengerjap. "Tau," angguknya menjawab singkat.
"It means, lo juga udah tau kan seperti apa perasaan gue ke elo selama ini?"
"Ha? Maksudnya?"
"Gue cinta sama lo, Diary. Jadi, lo mau gak kalo kita pacaran?" tembak Gerrald langsung. Tanpa menyertakan kalimat basa basi lebih lanjut lagi.
Untuk sepersekian detik, jantung Diary seakan berhenti berdetak. Namun selanjutnya, jantung itu berdetak lebih kencang dari yang dikira. Diary menganga. Entah ini hanya mimpi atau justru Diary sedang dihadapkan dengan kenyataan yang tak terduga? Apa? Gerrald baru saja menyatakan perasaannya? Dan itu artinya, selama ini ... perasaan Diary tidak bertepuk sebelah tangan?
"Dalam hitungan tiga lo gak jawab, berarti anggap aja gue gak ngomong apa-apa dan lupain semua yang udah terjadi. Gimana?" desak Gerrald tak sabar.
Diary sendiri bahkan sedang kesulitan menemukan suaranya yang mendadak tertelan bersama salivanya sendiri. Lalu, bagaimana caranya ia menjawab dengan cepat?
"Satu." Gerrald mulai menghitung. Menatap Diary dengan sangat serius.
"Tig-"
"Ya. Aku mau!" seru gadis itu cepat. Bahkan ia sampai tidak sadar kalau Gerrald baru saja melewati angka dua demi membuat Diary memberikan jawaban paling cepat yang berhasil telak menciptakan kesan bahagia di hatinya.
***
Menjelang pukul 3 sore, Gerrald mengantarkan Diary pulang tepat ke depan pintu pagar seperti biasa. Kini, ada status baru yang mereka sandang. Pasangan kekasih. Ya, setelah acara tembak menembak di pesisir pantai di tengah teriknya matahari yang sedang menyengat langsung ke bumi, rasa yang selama ini mereka pendam pun akhirnya terkuak sudah.
Dan sekarang, keduanya sudah sah menjadi pasangan muda mudi yang sedang dimabuk cinta.
"Kamu mau masuk dulu?" tawar Diary malu-malu. Entah kenapa, dia malah jadi merasa gugup sendiri tiap kali berinteraksi dengan Gerrald.
"Lain kali ya. Aku harus cepet pulang, Bunda udah chat aku berkali-kali nyuruh pulang soalnya...." ujar Gerrald menolak.
Mendengar kata aku yang Gerrald ucapkan, rasanya seperti mendapat bongkahan berlian yang tak terkira. Perasaan Diary membuncah bahagia. Tidak menyangka kalau saat yang dinantikannya selama ini akhirnya telah terjadi. Walau awalnya Diary sempat dibuat kesal, tapi ternyata kekesalan itu malah berbuah manis seperti ini. Entah Keyna tahu atau tidak akan hal ini, yang jelas, ia harus segera mencari tahu soal tersebut saat masuk sekolah nanti.
"Diary," tegur Gerrald melambai-lambaikan tangannya di depan wajah sang gadis. Sontak, Diary pun seketika tersadar.
"Ngelamunin apa?" tanya Gerrald mengernyit.
Gadis itu lantas menggeleng, "Enggak kok. Ya udah, kalo gitu ... kamu hati-hati di jalan ya, Ger!" pesan Diary sembari mengalihkan topik pembicaraan.
Cowok itu pun tersenyum manis seraya mengangguk, "Aku pulang ya. Bye, Sayang!" serunya melambaikan tangan. Sejurus kemudian, ia pun melajukan motor merahnya meninggalkan Diary yang masih tertegun tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Sayang? Apa, ia tidak salah dengar? Gerrald memanggilnya sayang, kan?
Seketika, Diary pun menjerit tertahan sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isi perutnya kini seolah dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang membuatnya ingin terbang melayang ke awang-awang.
***
Pada umumnya, pasangan yang baru saja jadian biasanya suka menghabiskan waktu dari jarak jauh dengan cara saling mengirim chat tanpa jeda. Namun yang terjadi pada Diary dan Gerrald justru berbanding terbalik. Alih-alih saling berbalas chat, yang ada mereka malah duduk termenung saling menunggu siapa gerangan yang akan mengirimkan chat terlebih dahulu.
Seperti halnya yang dialami Diary. Sudah satu jam lamanya, dia menimbang-nimbang. Apakah pantas jika ia yang mengirimi pesan pada Gerrald lebih dulu? Atau, dia tunggu saja sampai cowok itu yang menghubunginya duluan?
Tapi, mau sampai kapan? Toh jika ternyata Gerrald pun sedang menunggu chat dari Diary paling ujung-ujungnya mereka malah saling menunggu tanpa kejelasan apapun. Maka, demi memastikan hal seperti itu tidak terjadi, Diary pun memberanikan diri untuk mengirimi Gerrald sebuah pesan singkat lebih dulu. Setidaknya, Diary ada keinginan untuk memulai dari pada tidak sama sekali.
Malam, Ger. Sibuk ya?
Satu kalimat sudah ia ketik. Tapi beberapa saat kemudian, Diary menghapusnya lagi karena dirasa tidak cocok. Lagi, gadis itu pun menggigit ujung jarinya karena tidak menemukan kalimat yang cocok satu jenis pun untuk mengawali pesan singkat di antaranya.
"Apa sih isi chat orang-orang yang lagi pacaran? Untuk hal ini, mana aku tau kan? Toh pacaran aja baru kali ini," gerutu Diary menggembungkan pipi. Sampai kemudian, seseorang dari luar sana pun mengetuk pintu kamarnya sedikit mengejutkan.
"Siapa?" tanya Diary setengah berteriak.
"Bik Minah, Non...." sahut seseorang dari balik pintu.
"Masuk aja, Bik! Pintunya gak dikunci," titah gadis itu pada akhirnya.
Tak lama kemudian, pintu pun didorong terbuka. Menampakkan sosok Bik Minah yang kini berdiri setengah membungkuk di ambang pintu.
"Ada apa, Bik?" tanya Diary menoleh.
"Maaf mengganggu, Non. Tapi, di bawah ada Den Gerrald sedang menunggu...." ujar Bik Minah memberitahu. Sontak, membuat Diary membelalak lebar karena kembali tak menyangka jika cowok itu akan datang berkunjung di malam hari seperti ini.