11. Perusak Suasana Hati

1579 Words
Dear Diary, Hari ini aku bahagia sekali. Tahu alasannya kenapa? Gerrald berhasil membuat suasana hatiku gembira. Meski awalnya aku sedikit kecewa saat mendengar jawaban lumrahnya di kedai es, tapi kuanggap itu bukanlah masalah besar untuk kupikirkan berkelanjutan. Yang penting, saat di wahana permainan Gerrald begitu manis sekali. Dia memberiku hadiah, sebuah boneka beruang besar. Yeay, boneka yang sudah lama sekali aku idamkan. Bukan karena aku tidak mampu beli, tapi aku mengidamkan segi spesialnya jika diberikan oleh orang yang sangat kusukai. Mulanya, kukira dia gagal mendapatkan hadiah itu. Tapi pada akhirnya, dia berhasil juga rupanya. Dia hebat? Ya, dia sangat cekatan sepertinya. Buktinya dia bisa menaklukan tantangannya dengan batas durasi yang telah ditentukan. Membuatku teramat bahagia dan kembali bersyukur sekali karena sudah dipertemukan dengan Gerrald. Apa aku harus kembali mengatakannya? Aku menyukainya. Iya, aku menyukai Gerraldi Hutama sejak pertama kali kami dekat. Tidak. Mungkin aku sudah menyukai sejak hari itu, di mana Gerrald nyaris menabrakku dengan motor yang dikendarainya. Meski aku tidak tahu perasaan cowok itu seperti apa terhadapku, tapi kuharap dia pun memiliki rasa serupa denganku.             “Tapi apa mungkin? Aku kok jadi ragu kalo Gerrald juga suka sama aku. Tapi melihat dari sikapnya, dia tuh kayak yang suka. Hanya saja, kalau dia suka sama aku, kenapa dia belum bilang ya? Masa harus aku duluan sih yang bilang ke dia?” gumam Diary menduga-duga. Diary menutup buku hariannya, lantas meletakkannya di atas nakas. Kemudian, ia pun merebahkan kepala ke atas bantal sambil berangan-angan dengan pikirannya. Gerrald, hanya nama itu yang saat ini memenuhi otaknya. Tapi, apakah nama Diary memenuhi otak Gerrald juga? Kontan, gadis itu mendengkus. Tidak ingin berlebihan dalam berkhayal. Diary segera menepis pikirannya. Dia kembali ragu dengan dugaan hatinya. Misalkan Gerrald memiliki perasaan yang sama, mungkin sudah dari awal dia mengutarakannya. Lagi, Diary pun melenguh kecewa. Malam sudah semakin larut, saat baru saja Diary hendak memejamkan mata, tanpa sengaja Diary pun mendengar suara seseorang yang tak asing di telinga.             “Kok, kayak dengar suara Mami,” gumam Diary terbangun. Lantas, demi memastikan bahwa di bawah sana memang ada maminya, Diary pun sigap beranjak seraya terburu-buru berlari ke luar kamar. Tepat sekali dugaan Diary, maminya memang kini ada di bawah sedang duduk di sofa ruang tengah. Tanpa menunggu lama, Diary langsung berlari lagi guna menuruni tangga. Gadis itu tampaknya sudah tidak sabar ingin segera memeluk maminya yang sangat ia rindukan. Setibanya di bawah, Diary pun menghampiri Diana yang terlihat masih merebahkan kepalanya di sandaran sofa.             “Mamiii!” seru Diary, lantas segera duduk di sebelah Diana sambil memeluk pinggangnya. Sungguh gadis itu teramat merindukan sekali kehadiran ibunya. Saking jarangnya Diana berada di rumah, Diary sampai lupa kapan kali terakhir dia bisa memeluknya seerat ini. Tapi lain hal dengan sikap Diana, kedua matanya yang semula terpejam pun langsung terbuka. Kemudian, ia menoleh sekilas dan kembali ke posisi awal.             “Diary, Mami capek ... kamu jangan ganggu Mami dulu dong!” interupsinya sedikit ketus. Membuat Diary sontak tercengang seraya menatap maminya tak percaya.             “Mami, Diary itu kangen sama Mami. Kok Mami jahat sih, malah bilang Diary ganggu....” protes Diary merengut. Hatinya sedikit terluka setelah mendengar ucapan Diana yang seakan merasa terganggu dengan kemunculannya saat ini. Diana mendecak, “Sayang, Mami butuh istirahat sejenak. Lagian, kamu ini kayak anak kecil aja deh pake kangen-kangenan segala. Sudahlah, lebih baik ... kamu itu tinggalkan Mami sendiri. Mami pengin istirahat dulu sebelum Mami berangkat lagi nanti malam....” urai Diana terang-terangan. Sontak, Diary pun membelalak lebar dengan mulut yang sedikit terbuka. "Berangkat lagi? Jadi, Mami gak ada waktu lagi untuk sekadar temani Diary satu malam aja?" pekik gadis itu memelotot. Diana mendesah kasar, "Gak bisa, Sayang. Kamu kan tau sendiri gimana padatnya schedule Mami. Hampir sama kayak Papimu lah, Mami nyaris gak punya waktu buat sekadar leha-leha...." tutur Diana memutar bola mata sekilas.             “Selalu kayak gitu!" seru Diary, "Sebenarnya, Diary ini anak Mami atau bukan sih? Wajar kan kalo Diary kangen. Seenggaknya, Mami temani Diary lah barang satu malam ini. Apa gak bisa ditunda besok?" bujuk Diary mengotot. Dia ingin sekali merasakan limpahan kasih sayang yang sudah sangat lama tak ia dapatkan dari kedua orangtuanya. Jika bukan keduanya, maka setidaknya salah satunya bukan?             “Diary! Kamu ini gak paham-paham, ya. Mami tuh capek, kalo kamu bawel kayak gini terus Mami jadi nyesel tau pulang ke rumah dulu. Udah lah, kamu jangan recoki Mami lagi ... sana kamu masuk kamar!” bentak mami Diary geram. Semudah itu pula wanita itu mengusir anak sematawayangnya agar tidak mengusik ketenangannya. Tentu saja, hal itu menyebabkan hati Diary semakin terluka. Kontan, mata Diary pun berkaca-kaca. Bentakan maminya telah melukainya. Seperti kulit yang disayat secara sengaja oleh mata pisau yang teramat tajam. Hanya saja ini berbeda, meski rasa sakit Diary rasakan, tapi itu tidak memunculkan darah sedikit pun. Maka, tanpa banyak bicara lagi Diary pun langsung pergi berlari meninggalkan maminya dengan kekecewaan yang mendalam. Setibanya di kamar, Diary membanting pintu sekeras mungkin. Tidak peduli jika ia dianggap tidak sopan. Toh, Diana pun menunjukkan sikap tidak pedulinya segamblang itu. Padahal, Diary hanya ingin meminta sedikit waktu dari wanita yang sudah melahirkannya itu. Namun dengan tak berperasaannya, Diana malah menyakiti hati anaknya hingga kini ia menangis tersedu-sedu. Dia teramat marah sekarang, sikap egois maminya kini sudah sangat keterlaluan. Entah Diary masih bisa memaklumi atau justru dia sudah angkat tangan terhadap sikap orangtuanya yang semakin hari semakin tak memedulikannya.                                                                                  ¤¤¤            “Eh, lo tau gak? Pas beberapa hari lalu, gue diantar Gerrald pulang loh,” pamer Prita pada Keyna. Terlihat sekali ia begitu bangga terhadap apa yang sedang dipamerkannya. "Serius? Kok bisa?" tatap Keyna tak percaya. Pasalnya, dua hari yang lalu Keyna tidak masuk sekolah karena izin. Maka, hari ini dia baru mendengar kabar yang Prita sampaikan. Wajar bukan jika gadis itu merasa terkejut? Kebetulan, saat Prita bercerita pada Keyna, Diary baru saja memasuki kelas. Melihat Diary yang tengah melangkah menuju bangkunya, Prita pun semakin melantangkan suaranya. Dia seolah sengaja ingin memanas-manasi Diary dengan cerita yang dimilikinya. "Ya bisa dong. Cowok mana sih yang mampu menolak pesona seorang Prita!!" tukasnya besar kepala. Senyuman angkuh terukir kentara di bibir tebalnya. Meski sebenarnya tidak mengerti akan tujuan Prita berbicara seperti itu untuk apa, tapi dalam hatinya Diary merasa risi. Apalagi saat si menyebalkan itu membawa-bawa nama Gerrald. Perasaan cemburu timbul begitu saja. Akan tetapi, berhubung Diary tidak berani untuk berkomentar, akhirnya dia pun memutuskan untuk bersikap biasa saja seolah-olah dia hanya mendengarkan omongan penyiar radio yang tak penting.             “Heh, Diary! Lo pikir cuma lo doang yang bisa menarik perhatian si Gerrald. Cuma modal pura-pura pingsan aja udah sok kebangetan. Gak usah mimpi deh dia bakal suka sama cewek gak modis kayak lo!!” ejek Prita semena-mena, "Gue ingetin ya sama lo, mending lo gak usah sok akrab sama Gerrald. Toh, cewek kayak lo bukan tipe dia tuh. Lo sih, ke laut aja sana!!" imbuhnya semakin mencela. Diiringi dengan tawa membahana yang menggema di seisi kelas. "Huu ... dasar gak tau diri lo!" timpal Keyna ikut-ikutan. Dia mendelik keki saat melihat Diary yang hanya membisu di tempat duduknya. Diary memang hanya memilih diam. Walaupun omongan Prita menyakitkan, tapi menurutnya hal itu sama sekali tidak penting. Begitupun dengan ucapan Keyna, Diary seakan tidak mau menganggapnya apalagi memasukkan ke dalam hati.             “Prita, kayaknya ... si cupu ini syok kali ya denger kabar soal lo yang diantar Gerrald. Gue aja kaget apalagi dia ...  uuuh, iri deh gue sama lo, Prit....” cibir Keyna membuat Prita semakin tersenyum pongah. Diary menampik apa yang Keyna ucapkan. Dia sama sekali tidak syok. Jika harus diceritakan, mungkin mereka yang akan syok seandainya dua orang itu tahu kalau akhir pekan kemarin Diary telah menghabiskan waktu sepanjang hari bersama Gerrald. Di tengah perbincangan yang masih terjadi di antara Prita dan Keyna, tahu-tahu yang menjadi bahan pembicaraan pokok pun muncul memasuki kelas. "Prita, Gerrald datang tuh!" tunjuk Keyna memberitahu. Menoleh, Prita pun kontan menghampiri Gerrald yang baru saja hendak melangkah ke bangkunya, “Gerrald!!" pekik Prita, "Selamat pagi, Gerrald....” sambungnya menyapa. Disusul dengan senyuman manis yang terulas di bibirnya. Alih-alih menjawab, Gerrald hanya membalas sapaan Prita dengan senyuman seadanya. Lantas, ia pun segera berjalan ke bangkunya. "Kok sikapnya dingin gitu, sih? Bukannya lo bilang dia tertarik sama lo?" bisik Keyna mengernyit. Melirik, Prita pun mendecak, "Berisik lo!" sentaknya mendelik. "Di, nanti gue nebeng buku paket kimia ke elo, ya. Gue lupa gak bawa soalnya...." ujar Gerrald, dia justru malah mengajak teman sebangkunya mengobrol tepat di depan mata Prita dan Keyna. "Oh, i-iya ... boleh kok boleh," angguk Diary tersenyum canggung. "Oke thanks, ya. Kalo gitu, gue mau ngantin dulu ... laper, di rumah gak sempat sarapan, hehe...." tukasnya terkekeh. "Lo mau ikut?" tawarnya setelah menaruh tas ke atas meja. "Eng-enggak, Ger. Aku udah sarapan," geleng Diary sedikit gugup. "Oh gitu, ya udah ... gue duluan ya, takut keburu bel masuk bunyi," pamitnya bergegas. Sementara itu, Prita yang hanya bisa menahan emosi dilewati Gerrald begitu saja. Alih-alih melontarkan ajakan seperti pada Diary, cowok itu malah sudah berlari keluar kelas tanpa mau repot berbasa-basi. Sontak, hal itu pun membuat muka Prita memerah karena marah bercampur malu. Bagaimana bisa Gerrald mengabaikannya begitu saja di saat sebelumnya Prita sudah lebih dulu menggembar-gembor perihal cowok itu yang tertarik padanya. Jika melihat dari sikap Gerrald yang terkesan tak acuh, maka wajar kalau Prita memiliki perasaan malu yang tak ingin dia tunjukkan secuil pun. Akan tetapi, mereka yang awalnya sudah terlanjur mendengar celotehan Prita tentang Gerrald pun kini mulai menciptakan bisik-bisik di tempat. Membuat Prita mengedarkan pandang dan bersiap murka seandainya bel masuk tidak keburu berbunyi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD