12. Perilaku yang Menjanggalkan

2161 Words
Pelajaran pertama diisi oleh Satria, pria berperawakan tinggi kurus ini adalah salah satu guru yang menguasai pelajaran tentang alam berikut isinya. Setiap materi yang disampaikan, isinya hanyalah mengenai kekayaan alam dan sekitarnya.             “Oh iya, Anak-anak ... sesuai kesepakatan para guru kelas tiga dalam rapat beberapa hari yang lalu. Rencananya, sabtu depan ... kita akan mengadakan petualangan di alam terbuka," ungkap Satria sembari merentangkan kedua tangan bebas. "Saya harap, kalian semua ikut ya ... karena, di sana kita bisa banyak mempelajari tentang alam dan isinya. Selain itu, kita juga bisa sekalian menyegarkan otak sebelum ulangan demi ulangan akan segera datang....” tutur Satria menjelaskan. Seketika, kelas pun riuh bergemuruh. Sebagian siswa mengeluh dengan tuturan Satria, namun sebagian siswa lainnya sangat setuju dan mendukung. Prita adalah salah satu dari sebagian siswa yang mengeluh dengan apa yang sudah Satria ucapkan. Tanpa berpikir panjang, Prita lantas mengacungkan tangan. "Ya, Prita ... ada yang ingin kamu tanyakankah?" tunjuk Satria kala melihat jari tangan muridnya itu teracung.             “Pak, apa gak ada kegiatan lain di luar berpetualang? Setau saya ... acara gitu-gituan kan kayak anak sekolah dasar banget. Mana lokasinya ada di hutan pula, masa kita semua harus menelusuri hutan? Bapak kan tau sendiri kalau di hutan itu banyak binatang buas. Apa gak ada tempat lain yang lebih menjanjikan akan keselamatan kita semua?” protes Prita yang disetujui sebagian pihak. Namun pihak yang pro pada sang guru seakan tidak suka ketika mendengar tentang protesan yang disampaikan Prita.             “Iya, Pak ... nanti kalo salah satu dari kita ada yang digigit binatang buas gimana? Terus, kalo kulit kita yang mulus jadi banyak luka kan gak lucu juga, Pak. Udah mahal-mahal skin care-an eh ini malah mau diajak ke hutan,” timpal Keyna mencebik.             “HUUUUUUU....” seisi kelas pun kontan menyoraki Keyna. Pasalnya, komentar yang Keyna utarakan sangat berlebihan. Maka, wajar jika mereka buru-buru bersorak ria.             “Tenang ... tenang!" seru Satria melerai, "Prita, Keyna ... kalian gak usah khawatir, kita akan berpetualang ke tempat yang aman, kok. Saya selaku guru akan pastikan, bahwa tidak akan ada binatang buas di sana. Jadi, kalian tidak usah cemas apalagi takut, percayalah ... kami dari pihak sekolah pun tidak akan mungkin mencelakakan murid-murid didiknya,” jelas Satria bersikap bijak. Setelah Prita dan Keyna, kini giliran Gerrald yang mengacungkan tangan.             “Ya, ada apa anak baru?” tanya Satria menunjuk ke arah tempat duduk Gerrald.             “Berpetualang seperti itukan pasti membutuhkan beberapa perlengkapan, lalu ... apa saja yang harus kami bawa? Setidaknya, jika sudah ada daftarannya, kami kan tinggal menyiapkan....” tanya cowok itu disetujui banyak pihak.             “Nah ini pertanyaan bagus," ujar Satria menjentikkan jari. "Baik, karena kita akan melakukan kegiatan itu dari pagi hingga petang, pastinya ... kita membutuhkan jaket tebal, makanan secukupnya, kotak P3K dan berbagai alat lainnya. Takutnya kegiatan selesai saat gelap datang, maka jangan lupa bawa senter masing-masing ya, Anak-anak!!” urai Satria menginformasikan. Gerrald diikuti yang lainnya mengangguk paham. Setelah itu, bisik-bisik saling membicarakan soal petualangan alam yang dibicarakan oleh guru sains mereka barusan pun mulai mengudara di setiap sudut kelas. Banyak hal yang ingin mereka bahas, namun sebelum mereka ajukan lagi sebagai pertanyaan untuk sang guru, mereka justru lebih leluasa bertanya pada teman satu bangkunya satu sama lain.             “Baik ... kalo tidak ada pertanyaan lagi, mungkin hanya itu yang bisa saya umumkan. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa datang ke kantor saya saja jika ingin bertanya masalah kegiatan sabtu depan. Maka, jika sudah paham semua ... mari kita lanjutkan lagi pembelajaran yang sempat tertunda!” lontar Satria, fokusnya kembali pada buku paket sains yang ada di atas mejanya.                                                                                    ¤¤¤             “Haduuh ... gue paling males deh kalo udah ada acara kayak gini !! Rasanya tuh kayak sia-sia deh gue mempercantik diri selama ini kalo ujung-ujungnya harus ke hutan juga. Gak banget deh sumpah,” dumel Prita curhat.             “Emangnya lo doang. Gue juga sama kali, Prit. Kalo gak ikut ... gue malah takut dikasih tugas yang banyak nanti sama Pak Satria, tapi kalo ikut ... auto kulit gue merah-merah deh nanti gara-gara nyamuk dan sebagainya,” ujar Keyna ikut-ikutan. "Gue mau ke kantin ah, sumpek di kelas mulu. Lo ikut gak?" tawar Prita pada Keyna. "Ikut dong, kan di mana pun ada Prita ... di situ pasti ada Keyna...." cetus Keyna terkikik. Lantas ia pun segera bergegas membuntuti Prita yang sudah lebih dulu melangkah keluar kelas. Sementara itu, sekeluarnya Prita dan Keyna, Restu yang baru saja mengelap kacamatanya dengan lap yang selalu tersedia di sakunya pun bangkit menghampiri Diary yang masih merapikan bukunya di atas meja. "Hai, Di-Diary?" sapa Restu melambaikan tangan. "Eh ... hai, Res?" balas Diary tersenyum. Di sebelahnya, Gerrald masih berkutat dengan buku catatannya yang masih belum selesai.             “Diary, ka-kamu mau ikut berpetualang di alam bebas?” tanya Restu membahas perihal yang sudah sempat dibicarakan guru sainsnya tadi.             “Ikut dong, kamu sendiri gimana? Ikut?” jawab Diary lantas bertanya balik.             “Ka-kalo kamu ikut, a-aku juga pasti ikut dong. Kan, ki-kita sahabat.... “ tukas Restu terkekeh. Mendengar itu, Gerrald yang sedang sibuk menulis pun tiba-tiba berdeham kencang. Membuat Diary dan Restu kontan menoleh ke arahnya secara serempak. "Kamu kenapa, Ger?" tegur Diary mengernyit.             “Ehem, gak tau nih ... rasanya tenggorokan gue gatel aja, Di. Btw, lo udah beres kan nyatetnya?”  "Udah, kok. Emang kenapa?" tanya Diary lagi. "Gue boleh minta tolong gak? Beliin gue minuman dong di kantin, tanggung nih ... catatan gue belum lengkap," pinta Gerrald sembari nyengir lebar. "Oh itu, boleh aja sih. Kebetulan, aku juga mau ke kantin beli camilan," ujar Diary. "Ka-kalau gitu, ayo ba-bareng sama aku. A-aku juga mau ke kantin...." celetuk Restu semangat. "Boleh, yuk!" angguk Diary tersenyum hangat. Lantas, ia pun segera berdiri guna melangkah meninggalkan bangkunya. Melihat Diary yang akhirnya berjalan bersama Restu meninggalkan kelas, Gerrald pun menepuk jidatnya spontan. Dia salah taktik, seharusnya dia tidak membiarkan Diary keluar bersama si cowok berkacamata itu. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Gadis itu kini sudah pergi bersama Restu gara-gara kebodohannya juga yang malah meminta dibelikan air minum. "Emang dasar b**o gue, hah ... amsyong kan jadinya!" gerutunya menoyor sendiri.                                                                                    ¤¤¤ Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, hampir seluruh murid SMA Pelita mulai berhamburan dari kelasnya masing-masing. Sama halnya dengan Gerrald dan Diary, mereka juga baru keluar kelas hendak menelusuri koridor menuju parkiran. "Eh iya, kamu mau ikut ke acara sabtu depan, Ger?" tanya Diary melirik. Dia baru ingat kalau sejak tadi belum bertanya soal itu pada teman sebangkunya.  "Belum tau," jawabnya singkat. Mengernyit, Diary pun kembali bertanya. "Kok belum tau? Gak berminat buat ikut, ya?"  "Gue bilang belum tau ya belum tau. Banyak nanya banget sih lo ah...." bentak Gerrald mengejutkan. Spontan, Diary pun menghentikan langkahnya saking tidak percaya kalau Gerrald akan berbicara sekasar itu padanya. Memang bahasanya tidak berubah, tapi dari nada bicaranya Gerrald sukses membuat hati Diary sedikit terluka.  "Kamu kenapa sih, Ger? Aku kan cuman nanya, ya kalo gak suka ditanya aku minta maaf ... tapi, gak harus dengan cara membentak gitu juga kan," cicit Diary bergetar. Sama halnya dengan Diary, Gerrald pun menghentikan langkah juga di tempat yang sama. Akan tetapi, kali ini Gerrald terlihat tidak seperti biasanya. Semenjak jam istirahat berakhir, dia berubah. Tidak banyak hal yang ia bicarakan pada Diary, bahkan ketika gadis itu mengajaknya berbicara pun Gerrald seolah tidak minat untuk menanggapi. "Kayaknya aku harus buru-buru ke parkiran, maaf ya ... aku duluan," pamit Diary tanpa berniat ingin mengganggu teman sebangkunya itu lagi. Kemudian, dengan hati yang sedikit bersedih ia pun berlari kecil meninggalkan Gerrald yang masih bergeming di tempatnya berdiri. Setelah Diary menghilang dari pandangannya, barulah Gerrald sadar bahwa sikapnya sudah sungguh keterlaluan.  "Arghhtt!!" Gerrald mengerang, "Gue kenapa sih? Kenapa malah jadi uring-uringan begini. Gara-gara kebodohan gue sendiri, gue malah jadi bikin Diary sedih. s****n emang ini mulut. Masa iya harus gue hajar!!" racaunya mendumel sendiri. Lalu, ia pun melangkahkan kembali kakinya guna mengejar Diary yang ia harap belum dijemput oleh sopirnya. Sesampainya di parkiran, Gerrald melongok ke kiri dan ke kanan. Mencoba menemukan sosok Diary di tengah napas terengahnya. Gerrald sangat berharap kalau Diary masih ada di sekitar gerbang, hingga akhirnya ia pun berinisiatif untuk berlari ke arah gerbang. Dan benar sekali dugaannya, sosok yang dicarinya memang masih ada di sana.  Spontan, Gerrald pun bernapas lega. Kembali melanjutkan langkah, menghampiri sang gadis yang sedang berdiri sendiri di dekat tiang listrik yang menjulang sangat tinggi. "Diary...." panggil Gerrald di tengah kerumunan siswa yang sedang sibuk menunggu jemputan masing-masing. Si pemilik nama pun menoleh, buru-buru ia pun menghapus jejak air mata yang membasahi pipi. Kemudian, Gerrald pun datang mendekati. "Diary, maaf ... gue gak bermaksud buat bentak lo kayak tadi. Gue--" "Gak apa-apa kok, Ger. Aku udah biasa ini dibentak-bentak kayak gitu...." ujar Diary tersenyum kecut. Membuat Gerrald semakin merasa bersalah karena sudah sempat melukai perasaan sang gadis. "Diary, gue beneran gak ada niat buat bikin lo sedih. Gue cuma lagi khilaf aja tadi. Plis, maafin gue ya...." ucap Gerrald memohon. Diary menghela napas panjang. Dia bahkan berusaha untuk tidak kembali menitikkan air mata. Ya, Diary memang cengeng. Apalagi kalau yang melukainya orang yang sangat ia kasihi, sudah sangat pasti kalau Diary akan mengeluarkan air mata tanpa mampu ia cegah.             “Oh iya, Pak Rahman belum jemput kan? Gimana kalo gue anter lo balik aja? Mau kan?” tawar Gerrald kemudian.             “Gak usah, aku bisa pulang sendiri kok, Ger.“ tolak Diary menggeleng. Dia memang berniat untuk pulang sendiri ketika mendapat pesan dari sopirnya bahwa ia tidak bisa menjemput disebabkan salah satu bannya pecah saat hendak menjemput.             “Gue mohon, lo pulang bareng gue aja ya....” desak Gerrald, bahkan sekarang dia sudah menyatukan kedua tangannya di d**a. Berharap Diary bersedia untuk pulang bersamanya. Diary menimbang-nimbang sejenak. Walau sebenarnya Diary juga tak dapat menolak permintaan Gerrald, tapi jika ingat dengan bentakan lelaki itu saat di koridor tadi, hati Diary masih perih. Ia tidak bisa memaafkannya begitu saja. "Gimana? Lo mau kan?" tanya Gerrald masih tak menyerah. "Aku--" "Es krim. Gue bakalan traktir lo makan es krim sepuasnya sebagai tanda permintaan maaf gue. Gimana?" bujuk Gerrald serius. Mendengar kata es krim, tentu saja Diary tergiur. Bagaimana mungkin ia mampu menolaknya, sementara es krim adalah kesukaannya. "Mau?" tatap Gerrald. Kemudian, Diary pun mengangguk pertanda setuju. Sontak, Gerrald memekik senang karena akhirnya bujukannya tak lagi ditolak sang gadis.             “Kalo gitu lo tunggu di sini ya ... gue mau ambil dulu motor di parkiran,” ujar Gerrald yang diangguki Diary. Sigap, lelaki itu pun segera berlari menuju parkiran. Sementara Gerrald yang sudah kembali masuk melewati gerbang, rupanya dari kejauhan seseorang tampak mengawasi. Ketika melihat Gerrald meninggalkan Diary yang setia menunggu di dekat tiang listrik, tiba-tiba Prita yang sejak tadi memerhatikan dari seberang pun datang menghampiri Diary guna melabraknya.             “Heh, berani ya lo deketin lagi si Gerrald. Emang dasar lo gak sadar diri, dari dulu lo gak pernah mau turutin aturan gue. Selalu aja melanggar apa yang gue peringatkan. Lo lupa kalo gue pernah melarang lo buat deket-deketin si Gerrald, hah?” cerca Prita penuh amarah.             “Aku gak merasa deketin dia kok. Aku cuma mencoba buat menghargai dia sebagai teman sebangkuku aja. Gak lebih....” tukas Diary memberanikan diri untuk melawan.             “Ooohh ... jadi, lo udah berani nyaut ya sekarang. Dasar cupu gak tau malu!" geram Prita mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan muka Diary, "Jangan mentang-mentang lo satu bangku sama Gerrald, terus lo jadi berani sama gue. Sampai kapan pun gue gak bakalan biarin Gerrald deket sama lo, gue bahkan punya seribu cara buat bikin Gerrald jadi benci sama lo. Camkan itu!” sambung Prita mengancam. Prita rasa sebentar lagi Gerrald akan datang. Tak mau kalau sampai lelaki yang diminatinya itu mengetahui dirinya sedang melabrak Diary, buru-buru Prita pun menyudahi aksi labraknya. Tidak peduli jika banyak pasang mata yang diam-diam menyaksikan, akan tetapi sudah saatnya ia pergi meninggalkan Diary. "Awas ya kalo lo masih bebal sama apa yang gue omongin barusan!" desis Prita mendorong bahu Diary kasar. Lantas, ia pun lekas melenggang sebelum Gerrald kembali menghampiri Diary.             “Ayo!” seru Gerrald yang baru datang mengendarai motornya. Diary termenung di tempat. Dia bahkan tidak sadar akan kehadiran Gerrald yang kini sedang memandangnya. "Diary...." tegur Gerrald melambai-lambaikan tangan tepat di depan wajah sang gadis. Barulah Diary tersadar dari ketermenungannya. "Gerrald," gumam Diary pelan. "Melamun, huh?" tatap Gerrald memiringkan kepala. Diary pun mengerjap, "Ah, enggak ... aku--" "Ya udah, ayo naik!" titah Gerrald menggedikkan kepala. Diary mengangguk, lantas segera melompat naik ke jok belakang. Gerrald sendiri sudah berniat untuk memakai helmnya, namun sebelum itu Diary menghentikan pergerakannya dengan ucapan, "Kita langsung pulang aja, ya...." Tentu saja membuat Gerrald menoleh dan bertanya, "Kenapa? Kita kan mau ke kedai es krim dulu," ujar Gerrald mengernyitkan kening. "Aku lupa, hari ini Papi dan Mami pulang ... jadi, aku harus ada di rumah untuk menyambut mereka. Gak apa-apa kan kalau kita makan es krimnya batal aja?" tutur Diary mencoba beralibi. Sebenarnya, Gerrald merasa ada yang janggal dari ucapan Diary. Tapi, jika Diary sendiri yang ingin membatalkan, Gerrald bisa apa? Mau tak mau, akhirnya ia pun mengangguk setuju tanpa bertanya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD