Sore hari yang cerah, Diary memutuskan untuk berdiam diri di taman komplek. Seperti biasa, dia hanya sendirian di tengah banyaknya orang berlalu lalang saling bersenda gurau dengan temannya masing-masing. Seandainya nasib gadis itu mujur layaknya gadis lain yang memiliki banyak teman sepermainan, mungkin Diary tidak akan kesepian seperti sekarang. Ah ... Diary memang bukan gadis yang beruntung. Hidupnya selalu terasa sepi bak malam tanpa suara jangkrik yang berderik.
"Hem ... kapan ya aku bisa kayak mereka?" gumam Diary menerawang.
Andai saja dirinya bisa sepopuler Prita, mungkin saat ini dia tidak akan duduk sendiri di bangku taman komplek. Akan sangat menyenangkan rasanya jika dia bisa berhaha hihi dengan teman sesama perempuannya. Tapi sayang, Diary ya Diary. Gadis malang yang tak memiliki teman bahkan untuk sekadar diajak duduk bersama di taman sekalipun.
Dari kejauhan, seseorang memerhatikan gadis yang tengah duduk seorang diri di bangku taman yang membelakangi air mancur di dalam lingkaran batu bata. Sejujurnya, ia sudah lumayan lama berdiri di sana, tepat di samping pohon beringin yang berdaun lebat. Menatap sang gadis dengan pandangan iba penuh belas kasih.
"Gue tau, lo sangat kesepian, Diary...." bisiknya lirih. Sejurus kemudian, ia pun mengayunkan langkahnya menuju tempat di mana gadis itu masih duduk menatap lurus ke depan.
"Ehem," sosok itu berdeham sejenak, "Boleh ikut duduk gak?" tegurnya kemudian, membuat Diary refleks menoleh disusul dengan matanya yang membulat sempurna ketika mendapati Gerrald yang kini tengah menatapnya tersenyum.
"Gerrald, kamu...." ucapnya menggantung.
"Gue temenin ya, tenang ... gak ada tarif bayar kalo ditemenin sama gue, hehehe." selorohnya terkekeh. Mampu menerbitkan senyum geli di bibir sang gadis.
"Kamu abis dari rumahku lagi?" tebak Diary. Soalnya, seperti yang sudah-sudah, Gerrald akan datang ke taman ketika Diary sedang tidak ada di rumah.
"Gak juga, gue iseng aja pengin main ke taman. Eh, kebetulan gue lihat lo lagi duduk sendiri, ya gue samperin aja biar lo gak kesepian...." terang Gerrald tersenyum lembut.
Sontak, jantung Diary pun berdegup kencang tak karuan. Senyuman yang Gerrald sunggingkan cukup berhasil membuat perasaan Diary bergetar.
"Oh iya, lo udah kerjain PR belum nih?" lontar Gerrald membuka topik pembicaraan sekenanya.
"Udah, aku selalu kerjain PR sebelum keluar rumah kok. Lagian, sekalinya belum ngerjain pun ... aku bisa kerjain nanti malam. Kan aku bukan orang sibuk yang senang bermain, jadi ... kapan pun itu, aku pasti akan selalu ada waktu buat kerjain PR," urai Diary tersenyum irit.
Gerrald terdiam. Tiba-tiba ia merasa bersalah karena sudah menanyakan hal yang mengundang kesedihan dari dalam diri sang gadis. Kontan, cowok itu pun memukul mulutnya yang lagi-lagi tak bisa diajak berbicara mengenai hal berfaedah.
"Ger, boleh tanya sesuatu gak?" celetuk Diary kembali bersuara, melirik Gerrald meminta persetujuan.
"Boleh dong, nanya sama gue gratis kok. Hehehe," kekeh Gerrald mencoba bergurau.
Untuk sesaat, Diary mendengus, "Menurut kamu, aku ini benar-benar cupu banget ya?" Tahu-tahu, sebuah pertanyaan mengejutkan terlontar begitu saja dari mulut gadis berambut sebahu itu.
Gerrald mengerjap, tidak menyangka kalau pertanyaan sejenis itulah yang akan ia dengar saat ini.
“Lo kok nanya gitu sih?” tatap Gerrald heran.
“Gak apa-apa, kamu tinggal jawab aja ... apa benar yang dikatakan Prita selama ini? Kalau aku ini, cuma cewek cupu yang sama sekali gak punya stylist....” tutur Diary menatap ke bawah, kedua tangannya saling meremas di atas paha.
Mendengar nama Prita disebut, Gerrald pun berdecak. Lalu, ia bangkit dari duduknya guna melangkah membelakangi Diary.
"Jadi, ini yang bikin lo mendadak murung dan batalin makan es krim saat gue ajak tadi? Lo kepikiran omongan gak gunanya si Prita itu, iya?" ujar Gerrald berbalik menghadap sang gadis yang masih setia menunduk di tempat.
Satu tetes air mata jatuh menyentuh telapak tangannya yang terbuka. Entah kenapa, sore ini Diary merasa begitu melow. Padahal, selama ini dia belum pernah sesensitif ini. Tapi Gerrald memang tepat, Diary telah kepikiran akan omongan Prita sejauh ini. Lebih tepatnya, labrakan Prita yang tak diketahui Gerrald lah yang membuatnya menjadi down seperti sekarang.
“Diary ... kamu tuh ngerasa gak sih kalo kamu punya sesuatu yang bahkan gak dimiliki orang lain, terutama si Prita itu, hem?“ tanya Gerrald bersedekap. Matanya menatap lurus ke arah Diary yang seakan enggan mengangkat wajahnya.
Gerrald menghela napas. Ada perasaan aneh yang menjalari hatinya ketika melihat gadis di hadapannya menunduk sedih seperti itu. Perlahan, Gerrald pun memajukan langkahnya kembali mendekati Diary. Kemudian, ia pun memberanikan diri untuk merengkuh bahu Diary dan mengangkat dagu sang gadis menggunakan tangan kanannya.
"Dont cry! I am here for you...." bisik Gerrald lembut. Lantas meraih Diary ke dalam dekapannya. Bersamaan dengan itu, tangis Diary pun pecah.
"Okey, menangislah kalo itu bikin hati lo lega," gumam Gerrald membelai kepala belakang sang gadis. Membuat Diary justru semakin sesenggukan dalam pelukan hangat yang Gerrald berikan.
“Listen," ujar Gerrald sembari menyudahi dekapannya. Rasanya, sedikit tidak nyaman jika banyak orang yang memerhatikan mereka. "Diary ... lo itu sebenarnya cantik. Hanya aja, lo itu punya rasa gak PD buat tunjukin kecantikan yang ada di dalam diri lo yang sebenarnya," tukas Gerrald sembari merengkuh bahu Diary.
"Percaya deh, gue yakin ... kalo aja lo punya rasa PD sedikit aja buat tampil di depan umum, gue pastikan banyak mata lelaki yang bakal ngelirik lo tanpa berkedip. Mereka bahkan akan berlomba-lomba buat dapetin lo. Dibanding Prita atau Keyna, lo itu jauh lebih punya segalanya. Ayo deh, lo bisa berubah kalo lo mau....” tutur Gerrald kembali meyakinkan.
Diary masih termenung di tengah isakkannya yang belum berhenti. Sementara Gerrald, cowok itu berusaha untuk meyakinkan Diary bahwa dia mampu jika mau mencoba. Gerrald yakin, seandainya Diary dipermak sedikit saja, siapapun pasti akan iri melihatnya. Diary itu bagaikan berlian di dalam bungkus nasi. Jangankan lawan jenis, sesama jenis saja pasti akan memiliki rasa iri yang berujung akan berlomba-lomba untuk mendekatinya.
“Diary.... “ gumam Gerrald menggenggam tangan gadis itu, "Kalo lo bersedia, gue bisa kok bantu lo buat berubah, itu pun kalo lo mau ... gue sendiri gak bisa maksa seandainya lo sendiri gak berkenan," tukas Gerrald menawarkan.
Mata sembab Diary menatap Gerrald penuh tanya. Keningnya turut mengernyit meminta penjelasan. Berubah? Apa yang cowok itu maksud?
"Maksud kamu, berubah seperti apa?" tanya Diary tak mengerti.
"Dalam segala hal, entah itu penampilan ... keberaninan, bahkan gue bisa bikin lo lebih populer dari si Prita," ikrar Gerrald mantap.
“Populer?” ulang Diary tak percaya.
“Iya," angguk Gerrald antusias, "Gue bisa bikin semua orang lebih menghargai keberadaan lo. Gue bahkan mau banget mengubah pandangan mereka yang sebelah mata menjadi sepenuhnya menatap lo. Tunjukin sama orang yang sering ngebully lo, kalo lo itu bukan murid rendahan apalagi cupu. Tunjukin juga bahwa lo sebenarnya gak pantas menjadi bahan penindasan mereka. Buktikan pada dunia, kalo lo mampu bangkit dari penderitaan yang selama ini mendera kehidupan lo. Gue yakin, dunia lo pasti akan berubah 180 derajat!” papar Gerrald panjang lebar.
Diary kembali termenung. Tapi saat ini, ketermenungannya diiringi dengan pikiran yang mencoba untuk mencermati kata demi kata yang Gerrald ucapkan. Gerrald benar, sebuah kepercayaan diri itu adalah kunci dari segalanya.
“Gimana? Udah terpikirkan?” tatap Gerrald lamat-lamat.
Sebelum menjawab, Diary menarik napas dalam-dalam. Kemudian, ia pun mengembuskannya dalam satu desahan panjang, “Kamu benar, Ger ... selama ini, aku emang kurang percaya diri. Aku terlalu banyak memelihara rasa takut. Aku bahkan gak pernah berani tunjukin jati diri aku yang sebenarnya. Padahal, aku punya segalanya ... kalau aku mau, aku bisa menjadi seperti Prita. Aku bisa menjadi murid populer seperti dia. Tapi aku takut kalau aku sampai lupa daratan, Ger. Aku takut--"
"Maka jangan sampai lo lupa diri, Diary!" selak Gerrald. "Lo bisa jadi Prita tapi dalam versi baik hati. Ayolah, lo gak ada bibit jahat ... jadi gue rasa, lo gak akan seperti Prita. True?" ujar Gerrald meminta pendapat.
Diary mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Gerrald memang tidak salah. Jika selama ini dia menjadi bahan penindasan dari seorang Prita yang selalu menganggap dirinya paling populer, maka sekarang saatnyalah bagi Diary menunjukkan diri bahwa dia tak selemah yang mereka kira. Ada saatnya orang lemah pun bisa berubah sekuat baja. Dan Diary adalah salah satu orang yang akan segera membuktikan hal tersebut.
¤¤¤
Pagi ini seorang gadis berseragam putih abu turun dari mobil yang dikemudikan sopirnya seperti biasa. Akan tetapi saat ia mulai turun dari mobil, untuk pertama kalinya di sepanjang sejarah ia menjejakkan kaki di SMA Pelita, baru sekarang ia menjadi pusat perhatian dari setiap siswa maupun siswi yang sama-sama baru datang memasuki gerbang.
Rambut sebahunya yang lebih terlihat jauh lebih segar dengan warna hitam kinclong sedikit berkibar akibat desauan angin yang menerpa.
"Bro, itu siapa dah? Murid baru ya?" bisik seorang siswa berambut cepak bertanya pada temannya yang bertubuh tambun.
"Lah b**o, mana gue tau ... gue juga baru lihat," ujar si tubuh tambun itu menoyor si rambut cepak.
"Anjir lah, cantik banget ini cewek...." kata si rambut cepak lagi garuk-garuk kepala.
Menutup pintu mobil, gadis itu pun mulai melangkah sembari membenarkan letak backpack-nya di punggung.
"Nanti dijemput seperti biasa, Non?" tanya sang sopir sebelum kembali masuk ke dalam mobil.
"Lihat nanti aja ya, Pak! Soalnya, aku gak tau bakal pulang kayak biasa atau enggak...." sahut gadis itu tak pasti.
"Baik, Non. Kalau begitu, saya pamit...." ucap si sopir mengangguk santun.
Seperginya mobil yang kembali dikendarai oleh sopirnya, gadis itu pun mulai melenggang meninggalkan areal parkiran diikuti oleh banyak pasang mata yang kini memerhatikannya. Decak kagum dan bisik-bisik bertanya pun seakan riuh mendominasi sekitar parkiran hingga koridor utama.
"Itu siapa sih? Kok kayaknya aku baru lihat...." tunjuk seorang murid perempuan bermata belo mengajak bicara temannya.
"Eh eh eh, kok kayaknya gue hafal sama postur tubuhnya. Kalo gak salah dia itu kan--"
"Oh My God!!" tahu-tahu sebuah pekikkan terdengar dari arah koridor panjang. Sebagian pasang mata kini memusatkan perhatiannya pada Keyna yang baru saja mengutarakan keterkejutannya.
"Apaan sih lo? Pengang tau kuping gue," protes Prita mendecak. Dia memang belum melihat ke arah yang sudah Keyna lihat duluan.
"Lihat ke sana, Prit. Demi Tuhan, ini pasti bakalan jadi trending topik terhangat buat seantero SMA Pelita hari ini...." seloroh Keyna geleng-geleng tak percaya.
Merasa tidak paham dengan ucapan Keyna, Prita pun memutuskan untuk menoleh ke titik pusat yang kini menjadi perhatian banyak orang. Hingga akhirnya, seakan baru saja melihat manusia berkepala tiga turun ke dunia, mata Prita membelalak tak percaya. Bahkan, kini mulutnya juga ikut menganga seakan dagunya nyaris jatuh menyentuh lantai.