15. Ketika Harta Lebih Bermakna

1634 Words
Diary melambaikan tangan ketika Gerrald sudah melajukan motornya meninggalkan dirinya. Ia pun tersenyum senang sembari membalikkan tubuh dan mulai berjalan melewati pagar yang dibukanya lebih dulu. Entah kenapa, hatinya selalu merasa gembira belakangan ini. Mungkin, hal itu disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada dirinya. Selain karena Gerrald, kini ia pun mulai dikenal oleh banyak kalangan di setiap sudut sekolah. Setelah sempat menolak ajakan dari tiga teman cowoknya saat hendak pulang tadi, akhirnya Diary pun bisa pulang bareng lagi bersama Gerrald. Entahlah, bagi Diary, Gerrald adalah satu-satunya lelaki yang bisa ia percaya. Berada di dekatnya, selalu membuat Diary merasa aman dan nyaman. Maka, tidak heran jika gadis itu memiliki keinginan untuk bisa terus bersama-sama dengan Gerrald selagi tak ada halangan yang melintang. "Diary pulang!" seru Diary dari teras. Akan tetapi, dia tidak langsung masuk. Untuk beberapa saat, Diary memilih untuk duduk sejenak di kursi yang tersedia di teras rumahnya itu. Sambil bersandar, gadis itu pun sedikit menerawang mengingat kembali percakapan yang terjadi sewaktu ia berjalan dengan Gerrald di sepanjang koridor. "Ciee yang udah banyak fans...." celetuk Gerrald di tengah ayunan langkah mereka yang sedang menuju ke arah parkiran. Melirik, Diary pun memelotot diiringi dengan kedua pipi yang bersemu merah. "Ih, apaan sih!" hardiknya sembari mendelik. "Emang bener ya, tabiat para cowok tuh kayak gitu. Gak boleh dikasih lihat sama yang beningan dikit, langsung aja mereka kerumunin." "Emangnya, semua cowok kayak gitu?" tanya Diary kembali melirik. "Gak semua sih. Cuma, kebanyakan cowok ya gitu. Suka mendadak berbinar kalo udah lihat cewek cantik kayak lo!" tukas Gerrald berterus terang. "Terus, kalo kamu?" lontar Diary sedikit memancing. "Gue apa?" tengok Gerrald menaikkan sebelah alisnya. "Ya kamu kayak gitu juga gak? Kan kamu sendiri yang bilang kalo tabiat cowok kayak gitu. Meskipun gak semua sih, tapi kan ... gak ada salahnya kalo aku juga pengin tau kamu kayak mereka atau beda," tutur Diary terkekeh. Gerrald mendengkus. Pandangannya tetap ia fokuskan ke depan. "Gue sih fifty-fifty," cetus Gerrald menyeringai. "Maksudnya?" "Nanti juga lo paham sendiri apa yang gue maksud," ucap Gerrald seraya mempercepat langkahnya menuju motor yang ia parkirkan di deretan paling pojok. Hingga sekarang, Diary belum mengerti dengan maksud dan tujuan yang sempat Gerrald ucapkan. Apa yang dia maksud dengan fifty-fifty? Kenapa rasanya terdengar janggal sekali jika Diary kembali memikirkan ulang. Diary menghela napas. Lamunannya sudah berakhir. Kini, ia pun bangkit dari duduknya dan mulai beranjak memasuki rumah.Hingga pada saat Diary sudah berada di ruang tengah, langkahnya pun terhenti ketika pandangannya tertuju ke arah tangga. Diary melihat papinya sedang menuruni tangga sembari berbicara dengan ponsel yang ditempelkannya di telinga kanan. "Papi...." gumam Diary tak percaya, kemudian ia bergegas untuk menghampiri Danu meski dilihatnya masih sibuk berteleponan ria. Danu, pria itu tampak sedang sibuk berbincang dengan telepon yang sepertinya tak pernah bisa jauh dari jangkauannya. Sampai terkadang, Diary merasa iri pada benda mati itu. Seandainya bisa, mungkin Diary lebih memilih untuk menjadi sebuah ponsel saja agar selalu ada di dekat orang tuanya dimana pun mereka berada. "Papiii!" seru Diary gembira. Setelah menunggu supaya papinya menyelesaikan dulu urusannya, akhirnya Diary pun bisa mendekat sembari berniat untuk memeluk Danu. Namun tanpa diduga, papinya bahkan hanya menoleh sekilas sambil bertanya, "Baru pulang kamu?" Diary berusaha untuk mengabaikan sikap tak acuhnya. Setidaknya, papinya itu ada kemauan untuk bertanya. Lantas, ia pun tersenyum di tengah anggukannya, "Iya, Pi ... hari ini Diary senang banget. Di sekolah, teman-teman Diary jadi pada datang mendekat. Papi tahu gak? Semua ini berkat Gerrald, kalo bukan karena solusi yang dia kasih ... mungkin sampai sekarang Diary--" "Nanti aja ngobrolnya ya, Di. Papi lagi repot," cetus Danu berhasil telak menghentikan ocehan anak gadisnya. Padahal, Diary hanya minta didengarkan saja biarpun hanya beberapa menit. Akan tetapi, pria bertubuh jangkung nan tegap di usianya yang sudah lanjut itu justru malah sama sekali tak ada niatan untuk sekadar menanggapi. Merasa kembali diabaikan, Diary pun melenguh kecewa. Dia pikir, papinya akan antusias mendengarkan ceritanya barusan. Tapi ternyata, pria itu masih saja menyibukkan diri dengan urusan pekerjaan yang tiada habisnya. Entah sampai kapan ia akan terus memilih pekerjaan dibanding memperhatikan anak sematawayangnya itu. "Pi, bisa gak sih ... sekali aja Papi tidur di rumah? Kan Diary juga pengin punya quality time sama Papi lagi kayak dulu. Diary kangen sama--" "Papi gak bisa tinggalin kerjaan hanya demi temani kamu, Di. Lagian, kamu kan udah gede ... masa masih pengin bergelendotan sama Papi, sih? Gak malu sama teman-temanmu apa? Anak perawan kok masih manja-manja sama Papinya," tutur Danu geleng-geleng. Sontak, Diary pun memelotot kaget saat mendapati kalimat semenyedihkan barusan. Mendengar kalimat yang Danu lontarkan, tentu saja Diary kembali terluka. Bagi Diary, quality time bersama orangtua itu penting. Baik di saat dia masih kecil dulu, maupun ketika ia sudah besar seperti sekarang. Setidaknya, dengan begitu Diary bisa sedikit mengingat kenangan yang dulu ia miliki. Tertawa bersama dan bersenda gurau ditemani kedua orang tuanya. Jauh sebelum ada jarak yang tercipta di antara mereka. Hal itu bahkan seakan sudah tidak ada artinya lagi bagi orangtua Diary. Membuat gadis itu menunduk lesu disertai dengan satu tetes air mata yang kembali jatuh membasahi pipi. "Sudahlah, mending kamu cari kesibukan. Kalau kamu butuh uang, biar Papi transfer ke rekening kamu. Ayo bilang, kamu butuh uang berapa, hem?" lontar Danu mendongak. Semudah itu kalimat sedemikian terlontar. Hanya saja, bukan itu yang Diary butuhkan. Ia ingin kasih sayang dan perhatian papi dan maminya yang sudah hilang sejak Diary beranjak remaja.                                                                                      ¤¤¤ Ketika sore hari tiba, Diary baru bisa keluar kamar. Berdiam diri terus di dalam kamar membuat otaknya kian jenuh. Bahkan, rasa penat di kepalanya seakan semakin nyaris membludak tanpa mampu dicegah. Untuk itu, Diary memutuskan keluar kamar sekaligus berniat pergi ke taman komplek guna sekadar menghilangkan rasa jenuh dan penat yang memenuhi pikirannya saat ini. Diary sudah menuruni tangga. Tak sengaja, ia pun melihat papinya yang ternyata masih ada di rumah. Tapi bukan sedang bersantai, melainkan papinya masih sibuk memilih-milih sekian banyak arsip di atas meja sana. Diary melanjutkan langkah. Tak ingin menghiraukan atau sejenak menegur papinya lagi walau hanya basa-basi. Hatinya masih terluka oleh ego sang papi yang tidak pernah melunak. Ia pun tidak ingin kalau sampai dirinya harus bertikai kembali dengan papinya seperti tadi. Hingga ketika Diary sudah berjalan melewati Danu, pria itu lantas berseru, "Mau ke mana kamu?" tegurnya menghentikan langkah Diary. Tanpa menoleh, gadis itu pun menyahut singkat, " Cari angin," Mendengus, Danu pun kembali bersua, "Angin kok dicari, ada-ada saja kamu ini...." kekeh Danu geleng-geleng. Mungkin, bagi Danu hal itu sangat lucu. Tapi tidak untuk Diary pribadi. Gadis itu bergeming. Entah harus menyahut lagi atau membiarkannya saja. Sebenarnya, Diary ingin sekali bermanja-manja pada papinya seperti dahulu. Tapi sayang, papinya yang sekarang bukanlah sosok papi yang mengutamakan cinta dan kasih terhadap anak. Dia hanyalah seorang pria yang berambisi untuk terus mencari harta tanpa memikirkan perasaan anaknya seterluka apa. Tak tahu sebanyak apa lagi harta yang mereka cari, sampai-sampai, demi harta saja sepasang manusia itu malah dengan teganya mencampakkan anak sendiri. "Ya sudah, kalau kamu mau ke luar ... Papi hanya berpesan agar kamu jangan sampai pulang malam. Gak baik anak gadis keluyuran malam-malam!" pesan Danu dengan mata yang setia fokus pada sejumlah arsipnya. Diary mendesah berat, matanya ia pejamkan untuk sesaat. Kemudian, merasa kalau dirinya harus mengutarakan unek-unek yang ada di dalam hatinya, Diary pun lantas berkata, "Tahu apa sih Papi tentang Diary? Bukannya di otak Papi dan Mami hanya ada pekerjaan dan pekerjaan aja? Terus, apa pentingnya Diary bagi kalian? Toh mau pulang malam atau pun enggak, gak ada pengaruhnya juga buat kalian. Tinggal di rumah aja sangat langka kan?" ungkap Diary tersenyum kecut. Mendengar pernyataan Diary seperti itu, alih-alih menyadari kesalahannya selama ini, yang ada Danu malah menatap murka. Melempar sejumlah arsip yang semula ia pegang ke atas meja, Danu lantas bangkit berdiri. "APA YANG KAMU KATAKAN, DIARY?" bentak Danu menyalang. Kontan, Diary pun berbalik guna menghadap papinya, "Diary berkata yang sejujurnya kan, Pi? Bukankah benar kalau selama ini bagi kalian itu harta adalah segalanya dibanding anak? Jadi, gak salah kan kalau Diary menganggap Papi dan Mami itu sepasang ambisius yang ingin terus berburu harta?" kecam Diary berapi-api. "DIARY!" teriak Danu murka. Matanya memelotot garang seakan tak lama lagi sinar laser akan muncul untuk membelah tubuh Diary dalam beberapa bagian. Diary tidak ingin terlarut dalam emosi, maka demi menjaga agar tidak ada pertengkaran yang terjadi, ia pun memilih untuk pergi dari hadapan Danu. Meski sebenarnya Diary merasa sudah salah karena berani berbicara selantang itu di hadapan papinya, tapi Diary tidak peduli. Sekali-sekali dia juga pantas mengutarakan kekesalan di hatinya. Setidaknya, Diary berharap kalau suatu hari nanti kedua orangtuanya bisa kembali menjadi sosok yang menyayanginya sepenuh hati.                                                                                      ¤¤¤ Jika taman dalam keadaan ramai pengunjung, mungkin saat ini Diary sudah menjadi bahan tontonan. Beruntung, taman sedang dalam suasana sepi. Jadi, Diary bisa lebih leluasa dalam menumpahkan segala kekesalan hatinya lewat air mata. Ya. Sesampainya di taman komplek beberapa saat lalu, tangis Diary langsung pecah. Dia tidak tahan kalau harus berpura-pura tidak ada masalah. Bukankah sudah jelas kalau dirinya sedang merasa kesal? Selama beberapa menit, Diary menyendiri di tempat itu. Hingga tak lama kemudian, Gerrald pun datang menghampiri. "Udah gue duga, lo pasti lagi di sini...." lontar Gerrald terkekeh. Lantas mendudukkan diri di sebelah Diary. Gadis itu buru-buru menghapus air matanya yang sudah merebak. Dia tidak ingin kalau sampai Gerrald melihatnya sedang menangis. Tapi terlambat, sebelum Diary benar-benar membuang jejak air mata di wajahnya, cowok itu bahkan sudah keburu melihat. "Lo nangis?" pekik Gerrald kaget. Refleks, Diary pun berbalik dan memeluk cowok itu sangat erat. Tangisnya semakin kencang. Dia bahkan membenamkan wajah basahnya di d**a Gerrald. Kali ini dia sangat terluka, maka tidak salah kan kalau Diary ingin berbagi pada Gerrald? Niat hati ingin bertanya, tapi Gerrald tidak jadi melakukan hal itu. Tidak, sampai Diary berhenti dari tangisnya. Gerrald hanya ingin hati si gadis kembali tenang, maka tanpa mencoba menghentikannya, Gerrald pun lebih memilih untuk diam saja hingga Diary berhenti menangis nanti. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD