29

1244 Words

Penyesalan Narendra lebih panjang dari Tol Padaleunyi yang sedang dia lalui saat ini. Berulang kali lelaki itu memukul roda kemudi, menjambak rambut, bahkan berteriak merutuki diri sendiri. Separuh jiwanya pergi, membawa serta dua buah hati yang dia tunggu dalam penantian panjang. Ponselnya dari tadi berdering. Anjani memanggil. Dia abaikan, semakin lama istri mudanya itu semakin membuatnya sangat kesal. “Sialan!” umpat Narendra ketika keluar dari tol. Jalanan ternyata macet. Mobil yang dia kendarai merayap pelan. Penjual tahu Sumedang berjejer di sepanjang jalan. Memaksanya untuk kembali mengingat Rahayu yang sangat menyukai tahu gejrot. Sudah lama sekali dia tidak pergi ke taman di mana bapak Tua penjual tahu gejrot langganan mereka selalu mangkal. Sungguh Narendra merindukan itu. Men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD