41

1064 Words

Narendra beranjak ke dapur. Kantuk menyerang tapi dia enggan tidur. Dia merejang air dalam pan, menggunting satu pcs kopi kemasan dan menuangkannya dalam gelas. "Kopi itu digiling, bukan digunting." Samar ingatannya tentang masa lalu kembali menyeruak. Narendra selalu anti minum kopi kemasan, minimalnya dia harus beli di Kafe, bersama Anjani. "Sudah tenangkah kamu di sana, Babe?" gumam Narendra. Aroma kopi menguar begitu air mendidih mencumbu serbuk hitam bergula tersebut. "Itu kopi kuli, aromanya juga seperti aroma kuli." Narendra pernah menolak Rahayu yang sengaja menyeduhkannya kopi. Benar, dia terlalu sombong, terlalu arogan, pada akhirnya kesombongannya itu melalap habis kehidupannya. Segala tindak tanduk yang dia kerjakan selalu memaksanya untuk mengingat yang lalu-lalu. Huja

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD