Arini mengangkat wajah, matanya mulai berkaca-kaca. “Saya nggak ada maksud apa-apa, Tuan. Saya cuma ikut apa kata Bude Darmi.”
“Benarkah begitu?”
Arini meremas dasternya erat-erat. “Saya juga nggak tau kalau Bude Darmi kerja di rumah Tuan. Kalau tau—“
“Kalau tau kamu mau apa?” balas Arka, matanya menatap tajam. “Mau mundur? Hah, bodoh!”
Arini menarik napas. Kata-kata Arka yang tajam membuat nyalinya menciut.
Apalagi posisinya di sini sekarang hanya sebatas pembantu. Bukankah terlalu hina jika ia mendebat majikannya lebih dari ini?
“Saya di sini niatnya buat kerja gantiin Bude, Tuan. Saya nggak ada maksud lain.”
“Bagus kalau tahu diri.”
Setelah berkata begitu, Arka berbalik pergi. Arini langsung terduduk di atas kursi dalam kondisi yang masih gemetar.
Ia berusaha menormalkan perasaannya yang kacau. Setelah sedikit lebih tenang, Arini membawa segelas s**u hangat itu ke kamar sang majikan.
“Ini susunya, Mba.” Arini meletakkan pelan gelas itu di atas nakas yang ada di samping tempat tidur.
Anita menoleh ke arah s**u lalu berganti pada wajah Arini. Ia perhatikan baik-baik wajah putih itu dengan saksama.
“Makasih, Rin. Rin, kalau ada yang kurang jelas, kamu boleh tanya langsung sama saya. Jangan sungkan.”
Arini mengangguk. “Iya, Mba. Kalau gitu, Arin izin ke belakang dulu, mau lanjutin pekerjaan yang lain.”
“Silakan, Rin. Jangan lupa tutup lagi pintu kamarnya.”
“Baik, Mba.”
**
Sudah empat hari setelah kepulangan Darmi, Arini mulai terbiasa dengan semua pekerjaan rumah besar itu.
Malam makin larut, pekerjaan hari ini lebih banyak dari biasanya. Semua itu sebab Anita yang mual berkali-kali.
Di depan mesin cuci yang berputar, fokus Arini teralih pada ponsel di dalam sakunya yang berdering.
Bude Darmi, orang yang biasa menghubungi melakukan panggilan video.
[“Lihat kondisi ayah kamu, Rin! Kondisinya benar-benar kritis.”]
Arini tergagap. Ia sampai menutup mulutnya sendiri saat melihat kondisi sang ayah yang memprihatinkan.
Terlihat bagaimana lemahnya kondisi ayah Arini pada layar itu. Napasnya tersengal-sengal karena sesak. Wajah pucat dan bibir biru pekat.
Di dahi pria senja itu keluar keringat sebesar biji jagung. Dan Arini menyadari jika ayahnya itu tengah kumat.
Menyaksikan semua itu, napas Arini terengah-engah, dadanya sesak.
[“Rin! Kamu dengerin Bude nggak, sih?!”]
Arini terenyak. Ia mengangguk cepat. [“I–iya, Bude. Terus Ayah gimana sekarang?”]
[“Ayahmu harus melakukan operasi jantung, tapi sebelum itu harus dirawat dulu buat normalin tensinya.”]
[“Tolong rawat Ayah baik-baik, Bude. Arin cuma bisa ngandelin Bude.”]
[“Rawat, sih, gampang, Rin. Masalahnya biayanya gimana? Uang pesangon Bude udah habis buat kuliah anak Bude. Kamu tolong kirim secepatnya, ya!”]
[“Ta–tapi, Bude, Arin baru kerja seminggu di sini.”]
Ucapan Arini tidak mendapat tanggapan apa pun. Panggilan itu malah dimatikan oleh Darmi.
Khawatir, takut, dan berbagai pikiran negatif pun menghantui. Bagaimana Arini bisa mendapat uang banyak?
Sementara ia saja baru satu minggu bekerja di sini. Bukankah ... bukankah orang gajian umumnya satu bulan sekali?
Arini meremas ponselnya. Ingin ia berteriak untuk meluapkan semua kesedihan dalam hati. Namun, mustahil untuk perempuan itu lakukan sekarang.
Belum sempat menemukan solusi atas masalah yang dihadapi, ponsel di tangan kembali berdering. Cepat Arini menggeser tombol hijau di layar itu.
[“Iya, Bude?”]
[“Nggak ada pilihan lain, Rin. Kamu harus minjem ke Tuan Arka. Jangan sama Nyonya, soalnya semua keuangan dipegang sama Tuan.”]
[“Tapi, Bude, Arin segan buat bilangnya. Arin, kan, baru kerja. Masa udah pinjem aja.”]
Di layar itu, Darmi terlihat berdecap kesal. Ia kembali mengarahkan layarnya pada sang ayah yang tengah ditangani beberapa ahli medis.
[“Pilihan ada di tanganmu, Nduk. Kalau kamu tega sama ayahmu, nggak usah pinjem uang nggak apa-apa.”]
Arini bimbang. Ia tidak bisa memilih jalan untuk saat ini. Jangankan bicara untuk meminjam uang. Berhadapan beberapa detik dengan Arka saja, ia sudah seperti mati berdiri.
Ah, andai budenya itu tahu masa lalunya dengan Arka. Namun, semua tentang masa lalunya sudah ditutup rapat-rapat.
[“Nanti Arin coba, Bude.”]
[“Jangan nanti-nanti, Rin! Ayahmu butuh tindakan secepatnya. Dan kamu tau, ‘kan? Tindakan itu akan dilakukan kalau administrasinya lengkap!”]
Arini menghela napas sambil tertunduk dalam. Ia mendongak, menatap wajah budenya di layar itu lalu mengangguk lemah.
[“I–iya, Bude.”]
Setelah panggilan itu berakhir, ia kalut dengan pikirannya sendiri. Ia menatap ruang kerja Arka yang pintunya tertutup rapat.
Ruang kerja itu berada di ujung lorong. Sedikit gelap karena hanya lampu remang yang menerangi sepanjang lorong.
Dengan langkah ragu, Arini berjalan ke sana. Ia sempat berhenti, tetapi bayangan wajah ayahnya yang memprihatinkan kembali menguatkan tekadnya untuk datang ke ruang kerja Arka.
Tok-tok-tok!
Arini mengetuknya pelan. Ia terdiam, berharap lelaki itu menyahuti dari dalam.
Lama menunggu, tidak ada sahutan. Arini hendak kembali mengetuknya, tetapi urung.
Tumitnya berputar. Ia ingin berbalik. Namun, sahutan dari dalam membuatnya membeku di tempat.
“Masuk.”
Suara bariton dan terkesan dingin itu membuat jantung Arini berdegup kencang.
Perempuan itu memegangi dadanya. Beberapa kali ia menghirup napas dan mengembuskannya perlahan.
Ia mendorong kenop pintu hingga terbuka sedikit. Arini berdiri di sana setelah menutupnya kembali.
Dari tempatnya berdiri sekarang, Arini dapat melihat wajah tampan Arka yang mengenakan kacamata kotak. Di tangannya ada pen tablet yang masih sibuk menggulir layar.
“Tuan ....”
“Ada apa?”
Arka bertanya ketus tanpa mengalihkan tatapan dari tablet di tangannya.
“Saya ... saya ... butuh uang, Tuan.”
Lelaki itu memicingkan mata. Ia lirik singkat wajah Arini yang terlihat tegang, sebelum akhirnya menurunkan kembali pandangannya.
“Berapa?”
“Se–seratus juta, Tuan.”
Sontak Arka meletakkan tabletnya di meja dengan sedikit kasar. Ia lepas kacamata minus yang bertengger di hidung mancungnya.
Ia menyeringai, kemudian beranjak dari kursinya. Arka menyimpang kedua tangannya di saku masing-masing sisi dan melangkah maju.
Langkah lelaki itu makin dekat dan Arini mundur sampai mentok ke daun pintu.
Kini, jarak keduanya cukup dekat. Hanya sejengkal jari. Bahkan, d**a bidang Arka menempel pada d**a Arini.
Ia majukan kepalanya dan berbisik di telinga Arini. “Layani aku dan akan kuberi seratus juta.”
Sontak Arini mendorong d**a lelaki itu. Tangannya refleks menampar pipi Arka.
“Saya bukan wanita seperti itu, Tuan! Jaga sikap Anda!”
Arka hanya menyeringai tipis, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari sana.
Hancur. Sakit rasanya hati perempuan itu ketika dipandang hina oleh lelaki yang pernah mengisi hari-harinya.
Belum sampai benar-benar beranjak, telepon Arini berdering kembali. Ia memejamkan matanya rapat hingga sebulir air mata jatuh.
Darmi, nama itu kembali menghias di layar. Ia mengangkatnya.
[“Cepetan, Rin! Ayah kamu drop dan butuh penanganan sekarang!”]
Arini tidak menjawab. Dengan penuh tekad, ia berlari ke ruang kerja Arka.
Kembali, perempuan tersebut mengetuknya sopan dan langsung masuk saat mendapatkan sahutan.
“Tu–an ... saya butuh uang itu sekarang.”
Arka tersenyum licik. Ia sudah menduga jika Arini akan kembali.
“Jadi p e l a c urku dan aku beri apa yang kamu mau!”
Arini menggeram. Kedua tangannya mengepal kuat.
“Kamu gila, Mas! Aku nggak percaya pernah cinta sama kamu!”
Meluap sudah amarah perempuan tersebut sampai tidak sadar dengan panggilan yang dilayangkan pada Arka.
“Tidak ada pilihan, Arini! Memohon dan m e n d e sahlah atau orang tuamu akan mati!”
***