Bab 6

1228 Words
Arini dihadapkan oleh pilihan sulit. Haruskah ia melepas kegadisannya demi uang? Bukankah menerima uang setelah menyerahkan diri itu terlalu hina? Ia akan memiliki kedudukan yang sama dengan seorang p.e.l.acur. Tapi, ia butuh itu sekarang. Arini harus punya uang supaya pengobatan orang tuanya bisa terus berjalan. Harus bagaimana? Arini harus apa? Satu-satunya harapan memang Arka. Tidak ada satu pun orang yang ia kenal untuk bisa dimintai tolong. Ya, Tuhan ... hati Arini benar-benar bimbang. Ia seperti hidup di tepi jurang, sedangkan di belakangnya ada sesuatu yang mengejar. Apa jadinya jika ia melayani Arka? Lelaki itu pasti akan menilainya murahan dan sudah biasa melakukan itu. Drt-drt-drt! Ponsel di tangannya kembali berdering. Arini hanya menatapnya nanar. Perasaannya yang berkecamuk membuat perempuan tersebut tanpa sadar menggigit bibir bagian bawahnya. Sampai berdarah pun, Arini tidak merasa sakit sama sekali. Hanya saja ia merasakan sensasi asin ketika bibir ranum itu terluka. "Damn it! Berhenti melakukan itu, Rin!" Arka yang geram karena melihat kebiasaan Arini—menggigit bibir ketika cemas—langsung menarik lengan si perempuan. Cukup kuat tarikan itu, sampai-sampai tubuh ramping Arini menabrak d**a bidang Arka. Arini terpaku. Manik mata yang cokelat itu meredup, tidak berani menatap mantan kekasih yang sekarang jadi majikannya. Sialnya, dagu Arini langsung ditarik oleh Arka hingga kepalanya secara refleks mendongak. Sekali lagi, Arini berusaha tidak terlibat dalam tatapan menjebak itu. Ia memalingkan wajah. "Sudah kamu pikirkan jawabannya?" Dengan cepat, Arini menoleh. Sakit. Hancur rasanya ketika harus menghadapi sikap Arka yang sekarang. Lelaki yang dulu ia kenal sebagai pengayom tidak lagi sedikit pun meninggalkan kesan lembut padanya saat ini. Tatapan intimidasi itu terus mengecamnya meskipun bibir tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Deru napas Arka berhembus panas, menerpa wajah lelah Arini. Di lain sisi, masih ada sisa rasa takjub ketika mata hitam lelaki tersebut memaku wajah sang gadis. Kecantikannya terlihat sempurna di bawah sinar temaram di ruang kerja bernuansa dark. Keringat ringan yang membasahi pelipis Arini bahkan menambah kesan s e k si di wajahnya yang putih. Cantik. Sangat cantik. Arka tidak mau munafik jika ia masih tetap mendambakan si perempuan karena parasnya. Bukankah normal, sebagai seorang lelaki, hal pertama yang membuatnya jatuh hati adalah rupa. Dan Arka mengakuinya hal tersebut sebagai alasan utama dahulu ia menjatuhkan hati kepada Arini. Senyumnya yang manis, bibir merah ceri, serta mata bulat yang memesona berhasil memikat hati. Tapi, itu dulu. Dulu, sebelum akhirnya Arini hilang, pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Sebegitu hebatnya perempuan tersebut bersembunyi sampai orang sehebat Arka tidak berhasil menemukan jejak apa pun. Semuanya. Segala hal tentang Arini yang ia tahu dijadikan alat untuk pencarian yang memakan waktu dan biaya tidak sedikit. Sampai akhirnya, Arka benar-benar kehilangan perempuan tersebut. Ia dikecewakan oleh harapannya sendiri yang terlalu muluk. Rasa cintanya telah menjelma menjadi benci. Perasaannya telah mati. Sampai akhirnya, ia terpaksa menerima perjodohan kedua orang tuanya dengan wanita bernama Anita. Wanita yang katanya setara dari segala sisi dan dicap sempurna sebagai menantu idaman kalangan manapun. Plak! Tamparan keras di pipi kirinya, seketika membuyarkan lamunan Arka. Bukannya sakit, ia malah menyeringai tanpa melepas tatapan dari mata si perempuan. Lelaki tersebut melepas Arini dan menjauhkan diri. “Silakan pergi, Rin.” Arini tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melangkah, mendekati pintu ruangan yang tingginya lebih dari dua meter. Akan tetapi, langkah beratnya itu terhenti ketika sebuah suara kembali menarik atensinya. “Tapi, kesempatan tidak akan datang dua kali, Arini.” Deg! Deg! Deg! Debaran di hati Arini makin kencang. Ia tidak tahu harus berkata dan mengambil tindakan apa. Jalan keluarnya tidak ada yang membuatnya aman. Padahal, yang dicari perempuan itu hanyalah ketenangan. Namun, sepertinya hal itu sulit didapatkan, mengingat fakta yang harus ia hadapi adalah Arka. Di tengah pikiran dan hati yang sedang berperang, ponsel Arini kembali bergetar. Bude Darmi seperti tidak memberi kesempatan untuknya berpikir lebih lama lagi. Mata Arini memejam. Dengan berat, tumitnya berputar. Ia langkahkan kakinya ke arah Arka dengan berbagai pertimbangan. “Ha—hanya sekali, ‘kan?” Ia bertanya gugup. Arka tertawa lirih. Satu tangannya merengkuh pinggang Arini dan menariknya dalam pelukan. Tidak berhenti di situ, ia berputar hingga posisinya sekarang tubuh Arini sekarang bersandar di meja kerja lebar tersebut. “Selagi aku mau, Rin. Kapan pun aku butuh, kamu harus siap.” Gleg! Arini tidak bisa berkata-kata. Tenggorokannya seperti tercekat hingga sulit untuk menelan ludahnya sendiri. “Ta—tapi ... aku nggak bisa, Mas. Aku—“ Lelaki tersebut menajamkan tatapannya hingga membuat Arini bungkam. Ia condongkan tubuhnya hingga tubuh perempuan tersebut melengkung ke belakang. Helai rambut panjangnya yang tergerai bergoyang indah, menyapu apa saja yang tergeletak di atas papan kayu ukir tersebut. “Keputusan ada di tangan kamu. Aku nggak punya banyak waktu buat ngurusin orang plin-plan.” Arini makin terpojok. Jika ia tolak, nyawa ayahnya sebagai taruhan, tapi .... “B-baik. Kapan kita melakukannya? Saya butuh uangnya, saya mohon ....” Lihatlah, Arini yang sempat menolak dan memberontak, sekarang malah memohon untuk mengharap secuil iba. Arka tidak bertindak. Ia mundur dan duduk di sebuah sofa. Kedua kakinya ia buka lebar, tubuhnya bersandar pasrah. “Silakan lakukan tugasmu.” Sial! Perempuan bodoh mana yang berani mengambil risiko memalukan itu. Tidak ada. Hanya Arini yang dengan gegabahnya mengambil tawaran konyol tersebut. Semua karena uang. Barang yang katanya tidak dibawa mati itu ternyata punya kedudukan paling mematikan di dunia. Terutama bagi orang berpangkat rendah seperti Arini. Dengan kertas bernilai itu, harga diri pun bisa dijual. Hukum memang tidak adil. Orang berharta seolah punya kontrol penuh atas seseorang yang kastanya lebih rendah. Arini hanya bisa menunduk. Bukankah ia sudah menjatuhkan pilihan? Harusnya ia berani mengambil tanggung jawab atas itu. “Bodoh! Kenapa kamu harus terima, Arini? Kenapa?!” Tentu perempuan tersebut hanya bisa merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia takut. Pikirannya terus dijejali kemungkinan-kemungkinan negatif. Tanpa sadar, tangannya meremas daster longgar yang ia kenakan. Dan tanpa Arini tahu, pandangan Arka pun turun, melihat respons alami dari perempuan di depannya. Sikap pasif Arini mematik rasa geram Arka makin dalam. Ia melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. “Aku hitung sampai tiga. Kalau kamu masih diam, tawaran itu gugur.” Jantung perempuan berambut panjang itu tambah bergemuruh. Organ dalamnya itu seperti genderang yang ditabuh berkali-kali. “Satu.” Gendang telinga Arini panas ketika hitungan telah dimulai. Bibirnya bergetar, hendak menyangkal takdir yang telah dijatuhkan padanya. “Dua.” Suara berat Arka seperti sebuah palu godam yang hendak menghantamnya. Tatapan tajam si lelaki yang tidak pudar sedari tadi membuat Arini kian menegang. Satu langkah, dua langkah, Arini mulai memangkas jarak. Ia mendekati Arka yang seolah telah menantinya sedari tadi. Posisi kaki yang berbalut celana kain warna abu itu terbuka lebar, seakan-akan memberi ruang kepada tubuh Arini untuk masuk ke sana. “Ti—“ Bugh! Arini menjatuhkan diri di pangkuan Arka sebelum lelaki tersebut menyelesaikan ucapannya. Dengan mata terpejam, ia membenturkan bibirnya ke bibir Arka. Diam. Arka biarkan daging kenyal gadis itu bermain sendiri di bibirnya. Kaku dan monoton. Dari situ ia pun menyadari sesuatu. “Ck! Kamu belum pernah melakukannya, hm?” Pertanyaan itu membuat Arini membuka mata. Sungguh, pipinya seperti terbakar saat menatap Arka sedekat ini. Dengan polos, ia menggeleng. Arka terkekeh dan mengambil kedua tangan Arini untuk dikalungkan di lehernya. “Biar aku ajari.” Maka dalam satu detik berikutnya, satu tangan Arka telah merengkuh pinggang Arini. Lekuk tubuh ramping itu sungguh mengundang h a s r at sang lelaki. Begitu kedua wajah itu saling mendekat, tiba-tiba .... Tok-tok-tok! “Mas, kamu di dalem?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD