Bab 7

1295 Words
Arka langsung beringsut menyingkirkan tubuh Arini dari pangkuan. Ia berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan dan menyugar rambutnya. "Ya, Rin. Sebentar." Lelaki bertubuh tegap itu berseru sembari membawa langkah lebarnya ke pintu. Begitu pintunya dibuka, sosok Arini telah berdiri di sana sambil membawa secangkir kopi yang asapnya masih mengepul. "Kopinya, Mas. Kamu lupa bawa ke sini tadi." "Makasih, Nit." "Sama-sama, Mas." Anita lalu menyodorkan minuman itu. Setelah diterima oleh sang suami, kepalanya celingukan. "Arin nggak ke sini, Mas? Tadi aku panggil-panggil dia nggak nyaut. Kira-kira ke mana, ya?" Arka menoleh ke belakang. Matanya menjelajah ke tiap sudut. Kosong. Tidak ada tanda-tanda Arini di sana. Ke mana gadis itu sembunyi? Mungkinkah di kamar mandi? Ah, masa bodoh. Yang jelas, Arka aman karena tidak kepergok oleh sang istri. "Nggak ada. Mungkin lagi ke belakang atau keluar." Cukup lama wanita tersebut diam, sampai akhirnya menghela napasnya lelah. "Oh, ya, udah. Aku ke kamar lagi, Mas. Aku tidur dulu nggak apa-apa, kan?" Arka mengangguk dan memberi usapan lembut di kepala Anita. Ia melirik ke samping, di mana kini terlihat jelas ada celah di pintu tersebut. Sedikit menyeringai, lelaki tersebut memiringkan kepalanya lalu memberi lumatan kecil di bibir Anita. Adegan intens itu berlangsung selama beberapa detik lamanya. “Istirahat yang cukup.” Arka memberi pesan kepada sang istri setelah melepas tautan bibirnya dari bibir Anita. “Iya, Mas. Kamu jangan kemaleman, ya.” “Oke.” Cup! Satu kecupan Anita berikan di pipi kiri suaminya, sebelum akhirnya pergi dengan langkahnya yang lirih dan gemulai. Begitu bayangan istrinya tidak lagi terlihat, ia tutup pintu tersebut lalu menyorot tajam ke arah Arini yang keluar dari kamar mandi. “Tu—Tuan ... saya butuh uang itu sekarang. Kondisi ayah saya kritis.” Bibir Arini bergetar saat berucap, kepalanya menunduk. Ia tahu ini salah. Pun paham jika apa yang telah dilakukannya adalah sebuah dosa karena melakukan pengkhianatan. Tapi, Tuhan pun pasti memakluminya, ‘kan? Tuhan pasti tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah keterpaksaan. Cukup lama gadis itu berdialog dalam hati, sampai akhirnya derap langkah Arka pun membuatnya mundur perlahan. “Kamu tau apa yang harus kamu lakukan jika mau mendapatkan uang itu!” Dingin dan mendominasi. Suara yang selalu ia rindukan dahulu kini menjadi momok yang paling Arini takutkan. Gadis tersebut membeku di tempat. Kakinya seperti dipaku ke lantai yang ia pijaki. Berat sekali rasanya untuk membalas ucapannya. Sedangkan kelopak mata indah itu bergerak naik-turun, mengawasi gerak-gerik Arka yang makin mengimpitnya. Ruangan itu cukup ventilasi, tidak sempit, dan bersih. Namun, pasokan oksigen yang didapat Arini seperti tidak cukup. Sesak sekali, seperti ada sesuatu yang mencekik lehernya. “T-tapi, saya belum pernah melakukannya, Tuan.” Ucapan itu secara spontan keluar ketika Arka mulai menarik pinggangnya untuk masuk ke dalam dekapan lelaki dingin itu. Wajah Arka maju hingga hidung mancungnya bersentuhan dengan hidup mungil milik Arini yang bersemu merah. “Apa ucapanmu harus aku percaya?” Arka bertanya dengan nada meledek. Bagaimana mungkin ia akan percaya dengan perempuan yang bahkan telah mengingkari janjinya. Semua komitmen dan kesetiaan yang dibangun Arka nyatanya harus dibalas dengan sebuah harapan kosong. Dan ia sangat benci hal itu. Lelaki tersebut benci dibohongi. Marah dan kecewa ketika ditinggal pergi. Sakit. Sakit sekali rasanya ketika ia harus menelan kecewa dari apa yang telah dinanti dan dijaga selama bertahun-tahun. Argh, sial! Tanpa sadar, Arka menggeram. Sentuhan pelan di pinggang Arini berubah menjadi cengkeraman kuat yang tidak bisa ia hindari. “Sa-sakit, Tuan.” Arini memekik, tubuhnya memaksa lepas dari dekapan tersebut walaupun kenyataannya usaha si gadis sia-sia. “Seberapa sakit, Gadis Kecil?” Rahang Arka mengetat. Urat nadi di tangannya menonjol. Hingga detik ini pula, Arini menyadari sesuatu. Lelaki itu marah. “Ma-maaf kalau saya ada salah, Tuan. Ta—“ “Tidak ada maaf. Aku akan buat kamu terikat dan hidup di bawah kendaliku. Kamu akan merasakan bagaimana sakitnya menjadi orang ketiga, Arin!” Hina sekali rasanya ketika Arini tidak bisa melakukan apa pun ketika diperlakukan sewenang-wenang oleh Arka. Bahkan, ketika tangan lelaki itu menyelusup di balik dasternya pun, ia hanya diam. Sentuhan lembut di pahanya yang tertutup itu membuat Arini memejam. Bukan, ia bukan menikmati perlakuan itu. Malu. Malu sekali karena nyatanya ia harus mengorbankan harga dirinya demi uang. ‘Tu-Tuan ....” “Hm, kamu menikmatinya, Arin?” Sontak kepala gadis itu menggeleng. Tangannya memegangi pergelangan tangan Arka yang masih mengekspos kaki bagian atasnya. “J-jangan ... saya mohon jangan lakukan itu sekarang.” Arka mulai kepanasan. Ia seperti dipermainkan oleh gadis yang merupakan mantan kekasihnya. Tanpa bisa dikontrol, ia lempar tubuh si gadis hingga punggungnya menubruk ke meja kerja. Benda tersebut berderit, bergeser sedikit jauh dari tempat semula. Mata Arka melotot, terlihat merah. “Akkhh ... sakit, Tuan.” Arini meringis menahan sakit di punggung. Tubuhnya spontan luruh ke lantai. “Pergi dan jangan harap aku memberimu uang itu.” Air mata Arini luruh. Bulirnya mengalir di pipi. Ia mendongak, menatap pria yang sedang memperlihatkan raut kemarahan terhadap dirinya. “Jangan. Tolong ... hanya Tuan satu-satunya harapan saya.” Arini memohon, tetapi Arka tidak sedikit pun menggubrisnya. Ia memilih untuk duduk di kursi kebesarannya dan menaruh atensinya pada tablet. Tidak ada respon dan merasa diabaikan, Arini bangkit. Dengan tertatih, ia menghampiri Arka. Tarikan napasnya begitu dalam, sebelum akhirnya mengembuskan pelan. Gadis tersebut berusaha menguatkan diri. Demi ayahnya. Arini mengingat wajah pria senja itu baik-baik. Pun wajah sang ibu yang menaruh harapan lebih terhadapnya. Ia mendengkus. Jari-jemarinya bertatut, saling bermain satu sama lain. Secepat kilat, perempuan tersebut menyingkirkan tablet dari tangan Arka dan duduk di pangkuan Arka. Sekarang posisi Arini layaknya bayi koala yang tengah digendong induknya. “Lakukan sekarang jika kamu mau uang ini.” Arka menunjukkan sebuah kartu ATM di tangannya sambil menyeringai. Ia membenenarkan posisi duduk Arini, merengkuhnya supaya tidak ada sedikit pun jarak dengannya. Mata Arini terpejam. Ia berikan c i u m an ringan di bibir Arka. Siapa sangka jika Arka malah membalasnya dengan membabi buta. Deru napas lelaki tersebut memburu. Kedua bibir yang bersatu itu menimbulkan bunyi decapan yang tidak cukup sekali. Satu tangan Arka menyentuh d a d a Arini. Sementara tangannya yang lain menekan tengkuk Arini supaya p a g u t a n keduanya lebih dalam. “Sudah lama aku rindu yang seperti ini, Rin.” Bisikan itu terdengar seksi di telinga Arini. Tubuhnya makin menegang ketika Arka mengecup telinganya dengan lembut. “Tuanhhh—“ “Jangan memanggiku ‘Tuan’ saat sedang melakukan tugasmu.” Perintah itu datar, tetapi penuh otoritas. Setiap kata yang keluar dari mulut si lelaki selalu berhasil menginterupsinya. “M-maaf, Mas.” Ada senyum kepuasan ketika perintahnya dipatuhi. Dalam satu kali gerakan, Arka mengangkat tubuh Arini lalu dijatuhkannya ke sofa. Ia me n i n d i h-nya dari atas. Jari-jemarih kokoh itu m e n g g e r a y a ngi b a g ian dalam dasternya, me-nye.lusup masuk ke antara dua kaki Arini yang rapat. “Buka, Rin.” Perintah itu membuat otak Arini seketika malfungsi. Ia meremas daster tersebut lalu perlahan membukanya dengan rasa canggung dan malu bukan main. “M-Mas mau apa?’ Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Arini. Belum pernah gadis tersebut merasa setakut ini. “Membuktikan kalau kamu memang masih gadis.” “Tapi, saya memang belum pernah melakukannya. Saya nggak pernah pacaran sama orang lain selain ....” Ucapan Arini terhenti kala mendapati tatapan penuh intimidasi dari Arka. Tatapan yang haus, penuh dendam, dan siap melesatkan serangan yang tidak bisa Arini prediksi. “Diam! Nggak ada yang nyuruh kamu bicara! Pembohong!” Nada bicara itu tidak kasar maupun lembut. Tapi penuh penekanan. Dan itu, nyatanya langsung berhasil membuat Arini menutup mulutnya rapat. Wanita itu bisa merasakan sesuatu di bawah sana makin merayap lebih jauh. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang mengepak di dalam perut. Lantas, tiba-tiba .... “Ssshhh... sakit, Mas. Tolong, berhenti ....” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD