AFTER WAR 6
Princess Moonbow is Back
Sera menghabiskan waktu seharian untuk berfikir, jika ia kembali ke tempat ibunya berasal, apa ia memang sanggup menyelamatkan kaumnya, apa tidak akan menjadi masalah bagi dirinya yang tak tau apapun, ia tak tau kenapa ibunya kabur, tak ada yang menjelaskan, kini jati dirinya dipertanyakan.
Apakah ia akan kembali sebagai Princess Moonbow, atau kembali sebagai anak konglomerat keluarga Winter. Meski begitu, ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya pergi. Sera ingin tau banyak tentang Ibunya.
Tapi bagaimana dengan ayahnya jika ia pergi, apalagi Sera tidak tau kapan ia akan kembali, salah besar jika ada yang mengira Sera akan langsung membenci Jasper karena kejadian malam itu, jawabannya tidak. Sera sangat menyayangi ayahnya, ia hanya kecewa dan tidak tau cara menghadapi ayahnya dengan normal lagi jika mereka bertemu.
Sera menatap keluar jendela, melihat ada sebuah taman dipenuhi bunga dibelakang rumah, Sera tidak pergi ke kampus, tidak ada mata kuliah hari ini.
Sera memutuskan keluar rumah, ia tak berani meneliti isi rumah keluarga Abraxas, ia juga belum bertemu siapapun, hanya ada segelas s**u dan roti bakar diatas nakas ketika ia bangun, Sera kini menuruni tangga, melihat kesekeliling, tidak ada siapapun. Apa mereka sibuk berada di café?
Sera berjalan kebelakang rumah, menatap taman dengan berbagai macam bunga disana, sangat cantik, pasti ibu Abraxas merawatnya dengan baik, Sera bergerak mundur ketika sadar disana ada seorang wanita dengan gaun berwarna biru tengah menyirami bunga, kini berbalik menghadapnya, memberikan senyum hangat pada Sera, sangat cantik.
Sera berdehem “Maafkan aku nyonya, aku hanya tertarik dengan bunga-bunga ini.” Sera tersenyum canggung.
Avyanna meletakan alat menyiramnya di tanah, mendekati Sera dengan wajah bak malaikat “Tidak apa, kau sudah merasa lebih baik. Maafkan Amren, dia ngotot ingin mengendarai mobil malam itu.”
“Amren?”
Avyanna terkekeh “Ah, pamannya Abraxas. Kemari, kau pasti punya banyak petanyaan dikepalamu.” Avyanna membawa Sera duduk di kursi panjang taman “Apa Abraxas sudah menjelaskan soal klanmu?”
Sera mengangguk pelan “Aku tidak yakin soal siapa aku.”
Avyanna mengangguk mengerti “Aku mengerti, aku juga dulu tinggal di negeri manusia, tidak tau siapa aku, sampai waktunya tiba, aku harus kembali.”
Sera menatap Avyanna penuh rasa ingin tau “Dulu aku kira aku manusia biasa, tapi ternyata aku adalah Pure Angel.”
Sera mengernyit “Pure Angel.” Melihat kebingungan dimata Sera yang semakin menumpuk, Avyanna memutuskan untuk memperlihatkan bentuk Pure Angelnya, tidak khawatir pada siapapun yang akan melihat sebab Allerick sudah membangun ilusi untuk melindungi mereka, sayap putih besarnya yang cantik terbuka lebar dikelilingi kepulan asap putih, Sera sejenak kehilangan cara untuk bernafas, mencerna ketidak normalan sejak kemarin membuatnya pening, tidak tau cara menghadapi semuanya.
“Bukankah kalian adalah bangsa Werewolf?”
Avyanna tau kini, Sera telah mencari tau makhluk seperti apa mereka, mungkin sejak melihat Asteria membantai malam itu, Asteria mewarisi mata kutukan milik Allerick, untuk melindungi anak gadisnya itu, Allerick dan Asteria sangat dekat, berbeda dengan Abraxas yang sangat dekat dengan Avyanna. Terkadang Avyanna melihat ketidak sukaan dimata Abraxas pada Allerick, dan Avyanna tidak tau kenapa.
Avyanna memutuskan mengembalikan sayapnya, lalu duduk disamping Sera “Aku Pure Angel, suamiku, adalah setengah Werewolf dan Fallen Angel.”
“Lalu Abraxas?”
“Dia pemilik darah tiga klan.” Sera mencernanya, ia mengerti.
“Menurut anda, apa aku harus kembali?”
Avyanna menatap kedepan, menerawang dimasa dia merasakan kebingungan besar seperti Sera “Kau hanya perlu mengikuti alurnya, meski kau menolak pergi, pasti ada perasaan yang memanggilmu kan?”
Sera mengangguk pelan “Tapi bagaimana dengan Dad, ayahku.”
Avyanna menghembuskan nafasnya pelan “Maaf aku membaca memori tentang ayahmu, apa yang terjadi malam itu.”
“Anda bisa membaca memori?”
Avyanna mengangguk “Kau mau kami membuat ayahmu melupakanmu sejenak, hanya sejenak sampai kau kembali, semua kenangan tentangmu akan terkunci di alam bawah sadarnya. Sementara itu kau bisa pergi bersama kami.”
Sera terdiam lamat “Kurasa Dad memang harus melupakan aku dan Mom untuk sementara, dia sangat menderita karena kehilangan Mom.” Sera memikirkan kesedihan Jasper sepanjang waktu, ia yakin ayahnya menjadi gila sejak melihatnya mengenakan pakaian Bree hari itu.
Sera dengan canggung ikut makan malam bersama keluarga Abraxas malam itu, sudah lama ia tidak merasakan kehangatan dari sebuah keluarga, rumah Abraxas tidak sebesar mansionnya, tapi suasananya tentu lebih hangat dari kediaman Winter. Sera menatap bagaimana Avyanna memperhatikan setiap anggota keluarganya, menanyakan mereka ingin memakan apa, dengan hangat dan sabar. Sejenak, fikiran Sera menerawang, apa jika ibunya masih hidup, ia akan sebahagia ini, tidak perlu mencari masalah untuk mencari perhatian Jasper.
Abraxas melihat tatapan sendu Sera ketika melihat perlakuan hangat Avyanna. Sera memutuskan membantu Avyanna membersihkan meja makan, lalu mencucui piring.
Avyanna sudah melarangnya, namun Sera merasa sungkan hingga memaksa.
Setelah selesai, Avyanna bergabung bersama Asteria untuk menontn televise, sementara Allerick dan Amren pergi ke sayap belakang rumah setelah makan malam.
Abraxas menghampiri Sera yang hendak menaiki tangga kamar “Sera.”
Gadis ginger itu menoleh, menatap Abraxas dari atas tangga “Kemari, ada yang akan kutunjukan.”
Sera menurut, ia sosok yang pembangkang awalnya, tapi kini ia sedang tak punya tenaga untuk berdebat, jadi ia hanya mengikuti saja.
Abraxas kembali membawanya ke hutan Malgof “Kenapa kau selalu kesini?”
“Ini tempat terbaikku.” Jawab Abraxas, ia berjalan kelapangan luas “Apa kau mau terbang?”
Sera menatap Abraxas tertarik “Kau punya sayap, seperti ibumu?”
Abraxas mengernyit “Kau berbicara dengan Mom?”
Sera mengangguk “Tunjukkan sayapmu.”
Abraxas ditutupi asap hitam dan putih dengan cahaya oranye yang tercipta, perlahan asap itu menghilang, Sera begitu takjub melihat sayap kokoh Abraxas yang memiliki tiga warna berbeda, warna putih, garis seperti warna api sebagai pemisah dengan sayap hitam mendominasi.
Sera berjalan mendekat, berdiri dibelakang punggung Abraxas, menyentuh sayap itu dengan ketakjupan. Lalu Sera berjalan memutar, berhenti dihadapan Abraxas “Bawa aku terbang.”
Abraxas menatap mata Ivy itu sejenak, mengangkat tubuh Sera didekapannya, lalu dengan cepat melesat membawa Sera keketinggian, menyentuh awan.
“Ini seperti mimpi.” Sera tersenyum lebar.
“Dia sudah memutuskan ikut, tapi dia ingin menghapus memori ayahnya tentang dirinya dan Bree.” Jelas Avyanna.
Allerick mengangkat alisnya “Kenapa dia melakukan itu?”
“Dia mengatakan ayahnya menderita karena kepergian Bree.”
Allerick mengangguk mengerti “Biaklah kita akan kembali ke kerajaan besok, aku akan meminta penyihir menghapus memorinya.”
Avyanna mengangguk setuju “Dimana Abraxas?” Tanya Allerick.
“Dia membawa Sera ke hutan Malgof.”
Allerick mengernyit “Untuk apa?”
Avyanna menggeleng “Kita hanya akan membantu setengahnya, selebihnya Abraxas akan mengambil tugasmu.”
“Bagaimana dengan Asteria?”
“Dia kesulitan mengontrol kekuatannya, jiwa Fallen Angelnya lebih kuat dari jiwa Pure Angelnya, darah Werewolfnya mengacaukan. Kau setuju menempatkannya di Akademi Lamorvas untuk belajar?”
Allerick nampak kebertan “Dia masih kecil, ada banyak bahaya yang mengintainya.”
“Allerick, dia sudah besar, dia bahkan lebih banyak membunuh kaum manusia dari Abraxas, itu karena kontrolnya kacau, serahkan pada Akademi Lamorvas, dia akan baik-baik saja disana.”
Allerick juga mengkhawatirkan itu, Asteria memiliki jiwa membunuh yang kacau dan tak terkontrol.
Allerick menghembuskan nafas pelan “Aku akan meminta Profesor Loubom memantaunya.”
Avyanna memberikannya gaun baru untuk dikenakan, Sera hendak menolak karena ia tidak terlalu suka dengan gaun, namun ia tidak enak hati, ia lebih suka legging, jeans dengan crop top untuk dikenakan.
Avyanna mengatakan mereka sudah menghapus memori Jasper tentang Bree dan Sera. Kini Sera tidak terlalu merasa bersalah, semoga ayahnya merasa bahagia.
Allerick membuka portal ke istana Werewolf, Rush menyambutnya diruangan ballroom istana, membungkuk hormat padanya, semua pelayan dan penjaga lain membaungkuk hormat, menyambut mereka semua.
Sera menatap sekitar dengan penasaran, semua orang berpakaian serba gelap, kuno dan ruangan itu begitu besar dan kuno, dengan lantai marmer berukiran tiga lambang diatapnya, warna merah, putih dan hitam menjadi satu. Tanda tiga klan, ya, setelah perang itu, Allerick menguasai tiga klan, kini istana Werewolf tidak hanya diisi kaum Werewolf, namun juga kaum Fallen Angel dan Pure Angel yang patuh atas perintah Allerick. Dibawah kekuasaanya.
“Aku tidak akan lama disini Rush, senang melihatmu kembali.” Allerick menepuk bahu Rush.
Amren langsung membuka portal keistananya dan akan berkunjung bersama Ismene nanti.
Abraxas menatap Rush hangat, memeluk pria yang tidak berubah sedikitpun itu dengan hangat “Senang melihat paman kembali.” Abraxas memang menghormati Rush, lebih dari ia menghomati Allerick dan Amren.
Sera mengekor dibelakang bersama Asteria, ini juga dunia baru bagi Asteria, ia jarang berkunjung ke istannya, ayahnya mengatakan tidak aman diistana.
“Kami ingin kau mendaftarkan, Sera, Abraxas dan Asteria di akademi Lamovas.”
“Anda yakin, metode pembelajaran disana cukup ekstrim.”
“Akan kujelaskan nanti Rush, sekarang aku hanya ingin menyelesaikan beberapa urusan, kalian kembali lah kekamar masing-masing untuk istirahat.”
Allerick segera membawa Rush keruangan pribadinya, berbicara tentang kegelisahaanya.
Smentara Avyanna membawa Asteria keruangannya, Abraxas mengatakan akan berbicara dengan Sera.
“Apa maksud ayahmu?”
“Akademi Lamovas, akademi negeri immortal. Untuk ornag-orang bermasalah seperti kita.”
“Aku tidak bermasalah.” Tekan Sera.
“Kau bermasalah, kau tidak tau cara membangkitkan kekuatanmu, Asteria tidak bisa mengendalikan kekuatannya, dan aku, memiliki kekuatan yang belum aku ketahui.”
“Jadi, kita akan berada di akademi Lamovas sementara waktu.”