AFTER WAR 7

1152 Words
AFTER WAR 7 NOT MY PLACE                         Kedatangan Abraxas di istana Amren disambut hangat oleh Ismene, Abraxas ingat Ismene sering mennjahilinya sejak ia kecil, namun kini wanita itu terlihat lebih dewasa. Abraxas tau Amren dan Ismene memutuskan menikah satu tahun setelah perang, mereka sudah dikaruniai anak seumuran Historia bernama Hugo Griffin, kabarnya anak itu cukup hebat dalam ramuan dan strategi pembantaian udara. Kini Ismene tengah mengandung anak keduanya dengan Amren. “Kau akhirnya ingat jalan pulang.” Ejek Ismene, wanita itu membawa Abrraxas ke perpustakaan istana, sesuai permintaanya, meski diistana Abraxas juga memiliki perpustakaan, Abraxas tidak bisa menyangkal Amren punya buku langka yang lebih banyak. Ismene membuka pintu perpustakaan, membawa Abraxas ke rak buku  yang menjadi tujuan utama Abraxas datang ke istananya, sejujurnya Abraxas sudah mengirim surat melalui kotak portal, oleh sebab itu Ismene menyambutnya dan langsung membawanya ke perpustakaan. “Amren bilang kalian menemukan Putri Moonbow yang hilang?” Ismene mencari buku yang Abraxas inginkan “Apa kalian yakin?” Ismene menyodorkan sebuah buku berwarna keemasan itu didepan Abraxas, buku berjudul tentang Legenda klan Moonbow. Abraxas menerimanya “Tentu saja.” Ismene dan Abraxas lalu beralih ke rak lain, ke rak paling belakang “Jujur saja, meski dia memang putri Moonbow, kemampuannya masih sangat rendah.” Abraxas terdiam, itu memang benar, Sera harus belajar begitu banyak, ia masih berada di titik 0. “Dad memutuskan menempatkan kami di akademi Lamorvas.” Ismene berbalik, memegang sebuah buku dengan sampul hitam lapuk “Akademi Lamorvas, hanya gadis Monbow itu?” “Tidak, aku dan Asteria.” Ismene mengernyit “Kenapa kalian pergi kesana?” Abaxas merebut buku itu dari tangan Ismene, menelitinya dengan santai “Asteria punya masalah pengontrolan emosi dan kekuatan, dan aku harus mencari tahu kekuatan lain yang aku miliki.” “Kekuatan lain, kekuatanmu sudah sangat menakutkan dan kau menduga ada kekuatan lain?” Ismene menyindir, mereka semua tau sejak kecil Abraxas sudah emmiliki kekuatan legenda, menguasai darah tiga klan, sayap legenda, dan Ismene yakin Abraxas menuruni salah satu kekuatann orangtuanya. “Dengar, kau adalah gen yang sangat sukses, mengetahui itu banyak klan yang ingin meniru kesuksesan genmu, namun tidak ada yang berhasil menggabungkan lebih dari dua darah klan, oleh karena itu, sampai sekarang kau ditakuti.” Abraxas menatap Ismene aneh “Aku?” Ismene berdecak “Inilah sebabnya kalian harus kembali sesering mungkin, sekarang lihat kau tidak tau apapun.” Ismene bersandar di rak buku karena ia sedikit pegal “Kau dan sayapmu itu ditakuti, mereka percaya kau memegang kekuatan terkuat hanya seorang diri. Banyak klan yang ingin meniru genmu, tapi semuanya gagal, yang ada mereka hanya melahirkan gen-gen sampah yang harus ditampung di akademi Lamorvas.” “Gen sampah?” Abaxas tidak menyukai itu, ia juga akan sekolah disana. “Mereka melahirkan anak-anak yang bahkan tidak memiliki kemampuan apapun.” Abraxas menghembuskan nafas pelan “Itu masalah mereka, terimakasih bukunya. Aku akan langsung kembali.” Abraxas membuka portal langsung ke kamarnya. Meninggalkan Ismene yang menggeleng pelan. “Setidaknya dia tau berterimakasih.”              “Kau tidak punya sopan santun?” Sera mendengus, menatap tajam pada Abraxas yang baru saja melemparkan sebuah buku bersampul emas padanya, buku yang cukup tebal. Melihat Abraxas yang mengabaikannya, Sera memilih membuka buku itu, Buku tentang legenda klan Moonbow. “Untuk ku?” Abraxas hanya bergumam “Beritahu aku tentang akademi Lamovas.” Sera meletakan buku itu dipangkuannya, sejujurnya agak aneh melihat Sera deengan gaun dan penampilan anggun, biasanya gadis itu akan mengenakan baju-baju kekurangan bahan dengan warna yang mencolok. “Kita akan memulainya besok, ada tiga tahapan, karena kau belum bisa mengendalikan kekuatanmu sama sekali, kau akan berada di kelas rendahan, kau harus melewati kelas rendah untuk ke kelas menengah, disana kau akan diajarkan menguasai kekuatanmu secara penuh, membuat ramuan, bertarung dengan tangan kosong dan menggunakan senjata, kelas teratas dimana kau sudah menguasai kekuatanmu, kau hanya akan mempermatangnya saja.” “Bagaimana jika aku tidak melewatinya?” “Mudah saja, kau akan dikirim ke klan makhluk Mortal. Dimana disana kau akan hidup.” Sera mendengus “Lalu kau, di tahap berapa?” “Aku, ada dikelas khusus.” Sera mendelik “Kau, ini tidak adil.” “Sangat adil, aku memiliki kekuatan. Sedang kau bahkan baru tau dimana kau berasal.” Sera berdiri, menatap tajam Abraxas “Jerk,” Tanpa rasa bersalah Sera menendang kaki Abraxas kemudian berlalu dari taman belakang.             Sera tidak terlalu akrab dengan Asteria tapi anak itu memiliki aura yang menyeramkan. Sera seringkali melihat Asteria menatapnya tajam, tapi Sera memilih mengabaikannya karena Avyanna bilang Asteria memang begitu, ia hanya akan berbicara banyak pada Allerick dan Abraxas. Sera ditemani Rush untuk berkeliling istana, mengetahui istana keluarga Abraxas sangat besar, kuno dan memiliki kesan dingin yang menyeramkan. “Paman Rush, bolehkah aku berdiam di perpustakaan sampai jam makan malam?” Rush menoleh “Tentu saja. Anda ingat jalan kembali?” Sera mengangguk “Ya, aku akan  kembali tepat sebelum jam makan malam.”             Melihat begitu banyak buku dan luanya perpustakaan itu, Sera jadi sadar apa yang dikatakan Abraxas memang benar, ia memang berada dikelas rendahan. Sera mulai  meneliti rak-rak buku itu, ditangannya ia masih menenteng buku yang diberikan Abraxas, ia berniat membaca diperpustakaan sepanjang hari samapai jam makan malam. Sampai rencana itu diganggu oleh kedatangan Asteria secara tiba-tiba “Ada apa?” Asteria menelisik “Mom memanggilmu.” Sera mengangguk mengerti, ia membawa buku itu dalam pelukannya “Kau juga akan ke akademi Lamorvas?” Ya, Sera berusaha ramah. “Ya.” Uh, itu jawaban yang lebih dingin dari Abraxas, kini Sera mengerti kenapa mereka bersaudara, masih untung ada Avyanna yang berhati lembut dan hangat. Sera memutuskan untuk tidak bertanya lagi, Sera diminta untuk kekamarnya, menemukan Avyanna disana bersama tumpukan gaun di atas kasur “Oh, kau kembali, maaf masuk tanpa ijin.” Sera tersenyum tipis “Tidak apa Nyonya.” “Uh, itu panggilan yang sangat formal, kau bisa panggil aku Avy atau Mom kalau mau.” “Bolehkah?” Mata Sera berbinar senang. Avyanna mengangguk “Tentu saja.” “Apa ini gaun anda?” “Ini gaunmu.” Sera meringis “Kau hanya punya gaunku, aku meminta desainer istana membuatkan gaun dan baju santai untuk kau kenakan di akademi Lamorvas.” “Kau sudah siap untuk pergi?” Tanya Avyanna lagi, meletakan potongan gaun berwarna biru langit di atas kasur. Sera mengangkat bahu pelan “Mau tidak mau.” Avyanna terkekeh “Kau akan terbiasa nanti, hanya kerahkan seluruh kemampuanmu, kau dalam misi menyelamatkan klan.” Sera mengangguk mengerti “Apa anda juga belajar disana?” “Tidak, akademi itu ada setelah perang, aku belajar dari Allerick dan membaca buku sepanjang waktu.” Sera mengernyit “Pernah ada peperangan?” “Ya, cukup kacau sebelumnya, Abraxas ikut perang saat usianya 7 tahun.” "Dia!" Tanpa sadar Sera berteriak, membuat Avyanna tertawa. "Ya, dia. Ngomong-ngomong kalian akan berangkat besok, persiapkan diri dan berkemas oke." Avyanna membawa Sera kedalam peluakannya "Akan berat pada awalnya, jadi kau harus tetap kuat dan percaya pada dirimu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD