Halo, terimakasih yang sudah mau tetap nunggu update, di gantung gak enak banget kan, aku milih nyimpan di draft dulu baru aku update sekaligus.
Selamat membaca semuaa.
CHAPTER 11
Kelembutan sang pure angel.
Avyanna menatap keributan yang terjadi dari atas balkon, para anak-anak Fallen Angel itu di ikat, dibawa kesuatu tempat oleh Rush, Raja Erick di ikat di tengah lapangan istana ditengah panasnya terik matahari, sayapnya telah ditebas oleh Allerick sendiri kemudian di bakar oleh Allerick, sementara itu Lucius tengah dikurung bersama Azur di ruang bawah tanah.
Allerick begitu sibuk sejak pagi, pria itu pasti mendapat banyak laporan karena kericuhan yang ia buat semalam.
Mata Avyanna menyipit, ia melihat Allerick tengah berbincang dengan Daleka, Avyanna tak tau apa yang mereka bicarakann namun pembicaraan mereka sepertinya cukup serius, setelah Daleka pergi Allerick nampak membantangkan sayapnya lalu pergi, yang masih Avyanna lihat adalah pria itu menyusul Rush.
Avyanna berbalik pelan, masuk kedalam kamarnya, ia teringat semalam, ketika membaca memori Raja Erick Avyanna menemukan betapa kejam pembantaian malam itu, Cassian bilang sayap itu memilih, itu artinya tidak sembarang orang yang bisa memiliki Black giant wings.
Artinya Cassian berhasil hari itu bukan tanpa alasan, black giant wings sendiri yang memilih Cassian.
Hingga malam tiba, Allerick masih terlihat sibuk, pria itu bahkan tak menampakan diri saat makan malam, Avyanna memilih turun, ia mencari-cari keberadaan Allerick namun nihil, apakah Allerick sesibuk itu.
Meski ragu, akhirnya Avyanna memutuskan untuk keluar, membiarkan para pengawal bahkan Rush menatapnya terpesona, Avyanna berjalan menghampiri Rush “Apa kau melihat Allerick?” Tanya Avyanna berusaha sopan.
“Tuan Allerick masih sibuk nona, kemungkinan ia akan kembali esok hari.” Rush menunduk sopan.
“Baiklah, katakan padanya untuk menemuiku besok.” Rush mengangguk, Avyanna memilih tidak kembali ke kamarnya, ia malah berjalan ke taman istana, Raja Erick masih dibiarkan di tengah lapangan, namun pria tua itu sepertinya tak ingin menyerah dan memilih mati, Rush dan penjaga lain dengan setia menjaga Raja Erick yang nampak kehilangan setengah tenaganya.
Avyanna menatap Daleka yang berjalan menuju gerbang belakang, Avyanna tau Daleka sadar akan keberadaanya, namun sepertinya Daleka memilih acuh, padahal saat pertama kali bertemu Avyanna, wanita itu terlihat acuh dan pongah, apa yang terjadi.
Sampai saat ini, Avyanna belum menggunakan bubuk Memoire, Avyanna belum siap mengingat memorinya yang sengaja orangtuanya hilangkan untuknya.
Avyanna tau efek samping dari penggunaan bubuk memoire, si pemakai akan tertidur selama proses mengingat memorinya, waktunya tidak tentu. Dan Avyanna takut menduga mungkin nanti ia akan tertidur dengan waktu yang cukup lama.
Meski sudah tidak mempercayai keluarganya lagi, Avyanna tak urung merindukan Aillard, pria itu baik padanya dan tampak tulus menyayanginya, ia cukup akrab dengan Aillard di istana. Ia juga mau bertemu sekali lagi dengan Nerdanel dan meminta maaf telah membunuh hadiah dari Nerdanel.
“Nona, saya mencari anda kemana-mana.” Layla berdiri di hadapan Avyanna, nampak khawatir padanya, seketika Avyanna merasa bersalah, ia segera berdiri.
“Maafkan aku Layla, aku hanya mencari udara segar.” Ujar Avyanna penuh sesal.
Layla menghembuskan nafas panjang “Setidaknya saya mohon beritahu saya nona, saya bisa mati jika anda menghilang tiba-tiba.”
Avyanna tertawa, karena menurutnya Layla berlebihan.
“Layla, kau tau rasanya memiliki ibu kandung? Bagaimana kasih sayang seorang Ibu Layla, katakan padaku.” Avyanna berujar antusias.
Layla tersenyum “Meski kami dari kaum berhati dingin nona, seorang ibu akan tetap sama, menyayangi anaknya tanpa pamrih, selalu menjaga anaknya, sang ibu akan selalu memeluk dengan hangat dan memberikan semua kasih sayang dan cinta untuk anaknya nona.” Jelas Layla.
Avyanna tersenyum tipis “Apa kau punya anak Layla?”
Layla menggeleng “Seumur hidup saya mengabdi untuk kerajaan nona. Saya belum berfikir untuk menikah.”
Avyanna mengangguk, ia tak mau bertanya lagi sebab melihat raut sedih di wajah Layla, Avyanna tau dalam lubuk hatinya Layla pasti ingin menikah dan mempunyai anak.
Sama seperti impian naïf Avyanna dulu, ingin menikah dengan pria yang mencintainya, memiliki anak yang lucu kemudian hidup bahagia selamanya.
“Anak-anak Fallen Angel itu ketakutan, mereka mencari orangtua mereka dan menolak makan.” Ujar Rush pelan, pria itu tengah berbicara pada Lucius di ruang bawah tanah, Avyanna ada disana, awalnya berniat mencari udara segar, tapi karena Rush mengendap-ngendap sendirian menuju ruang bwaah tanah, rasa penasaran Avyanna tak terelakan, ia mengintip di balik tembok sementara Rush tengah berbicara pada Lucius dibalik jeruji besi.
Lucius nampak menghela nafas pelan, sejujurnya dimata Avyanna Lucius sama sekali tak terlihat haus kekuasaan seperti ayahnya.
“Katakan pada mereka aku akan menemui mereka sebentar lagi.”
Rush mengangguk, meski pria itu dari kaum Fallen Angel, ia lebih memilih memihak Allerick.
“Baik, aku pergi dulu.”
Avyanna segera keluar dari ruang bawah tanah setelah mendengar itu.
“Rush,” Avyanna menepuk bahu Rush dari belakang, pria itu berbalik dan memandang terkejut padanya.
“Apa yang anda lakukan disini nona?”
“Bolehkan aku ikut menemui anak-anak Fallen Angel itu, mungkin aku bisa membantu.” Ujar Avyanna memohon.
Rush diam cukup lama “Saya tidak di perbolehkan membawa anda keluar dari istana nona,”
Avyanna mendesah kecewa, ia tau itu “Baiklah, kalau begitu aku akan meminta Layla dan pelayan lain menyiapkan beberapa kudapan manis untuk mereka, anak-anak suka makanan manis Rush.” Avyanna tersenyum ceria setelahnya, ia merasa bisa sedikit membantu dan Avyanna merasa senang.
Rush tersenyum “Terimakasih nona,”
Avyanna mengangguk, ia segera pergi menemui Layla dan pelayan lain, Avyanna juga membantu membuat beberapa kue.
Avyanna harap, anak-anak itu bisa melupakan sedikit kejadian keji malam itu.
Avyanna masih menanti kepulangan Allerick hingga siang, namun pria itu tak menampakan batang hidungnya, anehnya Mor sudah kembali, namun tidak dengan Allerick, Avyanna ingin bertanya dimana Allerick, namun ia urungkan, pria itu memang suka munccul tiba-tiba kan.
Avyanna tengah sibuk menyiram tanaman di rumah kaca, bibit memoirenya telah tumbuh, tanah di hutan buatan sangat subur, apapun yang Avyanna tanam pasti akan tumbuh. Avyanna juga rutin membaca cara merawat tumbuhan memoire.
Avyanna menghembuskan nafas pelan, ia merasa kepanasan, air danau nampak menggoda sekarang dimatanya, jadi Avyanna melepaskan satu persatu pakaiannya kemudian masuk kedalam danau buatan, menikmati dinginnya air dan suasana sunyi yang disajikan.
Sampai sebuah suara mengintrupsi “Mencariku?”
Ketika Avyanna membuka mata, Allerick sudah bergabung dengannya didalam air, tanpa busana, Avyanna memalingkan wajahnya bersemu malu, karena tubuh Allerick terlihat jelas karena air yang terlalu jernih.
“Ya, harusnya tidak kulakukan, karena kau selalu pergi sesukamu.” Ketus Avyanna.
Sejenak Allerick terkekeh, ia semakin mendekat “Kau tampak seperti istri sungguhan sekarang, merindukanku?”
Avyanna memutar bola matanya malas “Tidak.”
Allerick terkekeh, pria itu semakin merapatkan tubuhnya, bahkan ia memeluk tubuh Avyanna, perempuan itu terkesiap akibat sentuhan Allerick, Avyanna terpaksa memeluk pria itu karena tiba-tiba Allerick membawanya ke tengah.
“Ada yang ingin kau katakana?” Seolah bisa membaca isi fikiran Avyanna, sepertinya pria itu tau ada banyak pertanyaan yang ingin Avyanna tanyakan padanya.
“Black giant wings memilih ayahmu.”
Allerck mengangguk “Ya, tapi semua kaum Fallen angel terutama Raja Erick mengira ayahku merebutnya.”
“Lepaskan Lucius, dia tau sesuatu tentang ayahmu.”
Allerick mengernyit “Dia membenci ayahnya seumur hidupnya Allerick, Lucius malah ingin menyaksikan kematian ayahnya didepan matanya, Raja Erick membunuh ibu Lucius di depan matanya, bebaskan ia, ia tak bersalah.” Jelas Avyanna.
Allerick hanya diam sejenak “Biar kufikirkan nanti,” Allerick memaksa Avyanna melingkarkan kakinya di pinggang Allerick, Avyanna menoleh kearah lain, merasa posisi itu terlalu intim untuknya.
“Aku rasa, aku candu akan tubuhmu,” Desis Allerick.
Mor membuka pintu ruang bawah tanah untuk Allerick, keduanya masuk ke ruangan Lucius dan Azur, Allerick menatap keduanya dingin.
“Keluarkan mereka Mor.” Mor bergerak mengeluarkan Lucius dan Azur.
“Kau ingin melihat kematian ayahmu bukan, akan kuperlihatkan secara gratis padamu.” Ujar Allerick santai. Lucius hanya diam, sejujurnya Allerick cukup mengenal Lucius, pria itu sering menggantikan ayahnya dalam pertemuan yang tak dapat dihadiri, dan sudah mengambil beberapa pekerjaan ayahnya dalam beberapa bidang, seperti politik dan perekonimian, Allerick juga bisa menyimpulkan pekerjaan Lucius cukup baik, kekejaman berkurang dan Lucius menjanjikan kedamaian pada rakyatnya.
Tapi sayang, rakyat Fallen Angel telah berbuat salah, Ivan menceritakan betapa kejam mereka memperlakukan ayahnya hanya karena Cassian adalah anak yatim piatu yang kotor dan lusuh, yang tiba-tiba masuk kedalam istana karena sang jendral melihat bakat bertarung Cassian yang luar biasa.
Cassian sama sepertinya, kehidupannya sejak dulu dihina dan dikucilkan, dipandang kotor dan menjijikan, maka Allerick membalas sakit Cassian kepada rakyat Fallen Angel yang memandang Lucius sama. Sebagai sampah.
Raja Erick masih di ikat ditengah lapangan, sayapnya yang sudah di tebas Allerick menguarkan aroma busuk, wajahnya kuyu dan pucat, tapi ia masih terpaksa beridiri karena terikat, Allerick menyukai pemandangan itu.
“Kau menghunus perut ayahku kan, maka aku akan menghunus dadamu, tapi sebelum itu aku ingin menonton sedikit drama.” Kekeh Allerick.
“Lucius, kemari saksikan kematian ayahmu.” Allerick mundur selangkah, ia membiarkan Lucius menatap sang ayah yang nampak mengenaskan.
“Aku tau kau membunuh Ibu malam itu, aku membiarkan Avyanna membaca memoriku, kuharap kau mati dan tak akan pernah berenkarnasi.” Lucius menatap ayahnya penuh kebencian, dendamnya sejak lama, ia marah sebab ayahnya sendiri membunuh ibunya, namun ia bahkan tak bisa menolong sang ibu karena ketidak berdayaannya.
“Bunuh dia Allerick, kau berhak membalas dendamu.” Lucius mundur selangkah.
Allerick mengambil pedang yang Mor sodorkan, pedang yang Allerick minta diasah tajam, dengan diameter panjang mampu menembus tubuh Raja Erick, Allerick kemudian maju selangkah, pria itu menatap wajah mengenaskan Raja Erick, Allerick tidak mau menghunusnya dan dengan mudah pria itu langsung mati, Allerick mau membuat Raja Erick menghadapi ketakutan terbesarnya lebih dulu.
“Apa ketakutan terbesar ayahmu?”
Lucius mengernyit “Dia takut pada hutan berkabut, ia pernah bertemu Alvator disana.” Jelas Lucius.
Allerick terkekeh geli, Alvator? Makhluk berbulu dengan tanduk besar di kepalanya itu? Raja Erick takut pada makhluk yang tinggal di hutan berkabut. Allerick sering mendengarnya, Alvator kini tengah hidup tenang di hutan berkabut, sejak tak ada lagi yang berani mengusik makhluk buas itu.
“Baiklah,” Allerick memunculkan ilusi sosok Alvator dalam bayangan Raja Erick, ketika melihat ilusi itu Raja Erick kontan meronta, minta di lepaskan dari rantainya, padahal kenyataannya tak ada sosok Alvator, hanya ilusi yang Allerick buat.
Allerick menikmati ketakutan di mata Raja Erick, sepertinya sosok Alvator membuat Raja Erick trauma, atau Raja Erick pernah mencari masalah dengan sosok itu, karena kemarahan seorang Alvator adalah kengerian, makhluk itu membawa palu besar berduri kemanapun, mereka hanya bisa melihat di hutan berkabut karena takut akan cahaya.
“Alvator! Pergi aku berjanji tak akan mengusik lagi!” Teriak Raja Erick, Allerick menyimpulkan dugaanya, sepertinya Raja Erick memang pernah mengusik makhluk itu.
Allerick mendekat, mengubah ilusi Raja Erick agar pria itu melihatnya sebagai Casssian, ayah Allerick “Kau akan menjemput ajalmu tua bangka.” Sinis Allerick, sosok Alvator menghilang, kini dimata Raja Erick beridiri sosok Cassian yang memegang pedang di depannya, pria itu mengangkat pedangnya tinggi kemudain tanpa ragu menghunus jantung Raja Erick, sontak semua ilusi menghilang, Raja Erick melihat Allerick yang tersenyum tipis, darahnya mengenai wajah Allerick namun Allerick malah terlihat menikmatinya, Allerick meletakan kakinya di perut Raja Erick, menekan pedangnya semakin dalam hingga Raja Erick meregang nyawa detik itu juga.
Allerick tersenyum puas “Mor, bakar mayatnya.”
Mor mengangguk patuh, ia berjalan menuju pengawal lain, meminta mereka menyiapkan kayu bakar di tengah lapangan, Mor tau Allerick akan senang jika semua orang menyaksikan kematian sang pembunuh.
Allerick menyesap winenya dengan tenang, ia bahkan berbaik hati member wine pada Lucius dan Azur.
Dengan penuh khidmat mereka menyaksikan proses pembakaran mayat raja Erick.
Sepertinya suasana hati Allerick tengah bagus, ia dengan senang hati menghidangkan jamuan makan malam untuk penghuni istana, di tengah kematian Raja Erick mereka berpesta pora, malah Lucius dengan senang hati mengikuti pesta dadakan yang Allerick adakan.
“Aku percayakan padamu anak-anak Fallen Angel itu Lucius, kuharap kau tak seburuk ayahmu.” Ketus Allerick, ia tak mau di repotkan dengan anak-anak Fallen Angel itu, sama sekali bukan urusannya, seperti layaknya mereka membenci Allerick, pria itu akan jauh lebih membencinya.
“Aku akan menyegel kerajaan lamamu, kerajaan itu akan menjadi ilusi bagi semua orang. Kau paham maksudku Lucius?”
Lucius mengangguk pelan “Aku tau, kau pantas membenci kaumu sendiri, apa yang mereka lakukan pada Cassian lebih buruk dari kematian.”
Allerick membeku sejenak, pria itu memandang Lucius heran “Apa yang sebenarnya ayahku lakukan hingga kau selalu berada di pihaknya?”
Lucius tersenyum pelan “Cassian datang sebagai prajurit baru kerajaan, ia satu-satunya yang memperlakukanku sebagai teman, umur kami memang jauh, aku sering melihatnya di pasar meminta pekerjaan namun tak ada yang memberikan, ia dilempari sampah karena dianggap menjijikan, orang-orang bilang orangtuanya mati karena dia anak pembawa sial,Cassian hidup penuh penderitaan di luar istana. Aku tau orangtuanya mati hanya karena mereka mencuri sebakull roti karena keluarga mereka benar-benar miskin, kau tau, Cassian menyaksikan kematian orangtuanya, mereka membakarnya hidup-hidup didepan ayahmu, Cassian lalu datang ke istana, ia diam, tapi semua orang mengakui bakat bertarungnya, oleh karena itu ayahku mengutus Cassian untuk menaklukan black giant wings. Semua orang mengira Cassian penghianat karena kabur setelah mendapat black giant wings, tapi aku tau ia memilih Cassian.” Luicus memandang kedepan menewarang, sejujurnya ia juga berduka atas kepergian Cassian.
“Ia sudah kuanggap sebagai kakaku sendiri.”
Allerick hanya diam, pria itu tak menampakan wajah berarti tapi Lucius tau, pria itu merasa lebih baik ketika mendengar sedikit kisah tentang ayahnya “Pergi ke istana Fallen Angel, di kamarku ada sesuatu yang Cassian tinggalkan untuk keturunannya, kau Allerick.”
Allerick menatap Lucius “Tampaknya kau cukup dekat dengan ayahku,”
Lucius terkekeh “Dia menjadi temanku sepanjang hidupnya, sampai hari itu tiba.”
Keduanya kembali diam.
“Tuan!” Layla membungkuk hormat dengan raut wajah panik, “Nona Avyanna meminum cairan bubuk Memoire tuan.”
Lucius terlihat lebih terkejut mendengarnya, namun Allerick terlihat tenang, ia tau Avyanna adalah wanita dengan rasa ingin tau tinggi. Allerick juga sudah menduga ia akan meminumnya cepat atau lambat. Perempuan itu memang harus tau apa yang orangtuanya sembunyikan, karena ramalan ke dua ada pada Avyanna, Desponia akan menyampaikan ramalan kedua pada Avyanna ketika wanita itu sudah mengingat semuanya.
Allerick masih ingat sebelum bertemu Avyanna malam itu di hutan merah, Desponia datang ke mimpinya, mengatakan ramalan kedua datang bersama sang mate.
Allerick langsung mengerti bahwa matenya akan menghampirinya, apalagi malam itu hutan merah juga nampak memanggilnya.
Desponia juga mengatakan, disaat ingatan yang dibuang kembali, ramalan kedua akan mematikan, sama seperti semua orang, Allerick juga menanti ramalan kedua.
Pria itu berdiri dengan pelan, cukup tenang di tengah keterdiaman yang mencekam mereka semua sadar ketika meminum bubuk memoire, tidur jangka panjang mungkin akan Avyanna alami.