CHAPTER 10
Memori Raja Erick
Avyanna mengendap ke hutan belakang, tidak menemukan siapapun disana, Mor pernah mengajaknya ke danau di hutan belakang, Avyanna punya tempat baru yang terasa lebih nyaman, jika hutan buatan Allerick di tutupi pohon tinggi, tidak menampakan langitnya sama sekali. Danau di hutan belakang tentunya menyajikan pemandangan langit luas dengan cahaya matahari yang Avyanna rindukan.
Avyanna duduk di bawah pohon rindang, ia menatap hamparan rumput hijau dengan bunga dandelion liar berkeliaran, Avyanna lebih suka tempat ini.
Ada banyak hal yang bisa Avyanna lihat, ia tak menemukan Daleka selama ia diam-diam menyelinap ke hutan belakang istana.
Avyanna menutup matanya damai, paras cantiknya mungkin berbahaya bila di lihat oleh orang lain.
Avyanna mulai mencerna beberapa hal, Allerick pasti tau ia berhenti meminum ramuan yang di berikan, namun bisa jadi Allerick punya cara lain untuk mengelabuinya, pria itu berbahaya.
Avyanna juga sadar Allerick selalu marah jika tau ia suka berkeliaran mengelilingi istana tanpa ijin Allerick, sudah pasti ada yang pria itu sembunyikan.
“Avy, kau disini!” Avyanna mengalihkan perhatiannya menatap terkejut pada Mor yang terlihat panik “Allerick mencarimu!”
Avyanna segera berdiri “Dia pasti tau aku disini kan?”
Mor mengangguk, sudah pasti Allerick tau di mana Avyanna sebab Mor yang mengatakannya.
Avyanna menghembuskan nafas, sebenarnya ia sedang malas menghadapi Allerick.
~~~
“Kau sepertinya lupa peraturan dariku?” Avyanna baru memunculkan dirinya di kamar dan Allerick sudah menyindirinya terang-terangan.
Avyanna menutup pintu kamarnya, menatap Allerick yang duduk di kursi dekat jendela. Nampak dingin memandangnya.
“Allerick aku bosan,” Ujar Avyanna tenang, ia bersedekap.
“Kau tau ada banyak penghianat meski dalam istanaku sendiri, kau bahkan tak bisa melindungi dirimu sendiri.” Ketus Allerick.
Avyanna tau, Allerick bahkan menemukan salah satu musuh berasal dari pengabdi kerajaan.
“Berhenti memberiku ramuan penahan,” Avyanna memutuskan berbicara, Allerick akhirnya menatapnya dengan pandangan lain, meremehkan.
“Kau ingin kabur ketika mendapatkan sayapmu.” Allerick tersenyum miring.
Avyanna menggeleng “Tidak, kau dan aku tau aku bahkan terikat denganmu, bagaimana aku bisa kabur, sejujurnya kau satu-satunya yang masih bisa aku percaya.”
Avyanna berujar pelan, sakit mengatakannya, ia tau hanya Allerick yang bisa ia percaya, setidaknya pria itu jujur padanya dan menjaganya, Avyanna masih bisa percaya pada Allerick, tapi pada dunia luar, bahkan keluarganya. Avyanna tidak bisa lagi percaya.
Allerick mangut-mangut, lalu tersenyum tipis pada Avyanna “Akhirnya kau mengerti. Memang ada yang salah dengan keluargamu, bersamaku kau akan menemukan kesalahan itu.”
“Kita berhubungan Avyanna, semua tentang diriku berhubungan denganmu.”
“Kemari,” Allerick mengulurkan tangganya, Avyanna menerimanya, ia menggenggam tangan besar itu, lalu Allerick membawanya duduk di pangkuannya.
Oh Avyanna tak pernah menemukan makhluk yang lebih mempesona dari Allerick, pria itu menariknya hingga ke dasar dengan segala pesonanya.
“Bersamaku, kau hanya ditakdirkan bersamaku Avy, jadi ingat baik-baik kau hanya harus berada disampingku.”Ucapan bernada tegas itu membuat Avyanna tau bahwa Allerick tengah mengklaimnya, memperingatkan Avyanna untuk tidak jauh-jauh dari Allerick.
“Kita ada pesta dua hari lagi, Lucius akan menikah. Kau tau apa yang harus kau lakukan.” Allerick mengecup tangan Avyanna.
Avyanna mengangguk paham, ia tau apa yang Allerick inginkan, pria itu ingin Avyanna mencoba kembali membaca memori Raja Erick.
“Lalya sudah kuperintahkan membuat gaun baru untukmu, ikutlah bersama Layla menemui desaigner kerajaan.” Tangan Allerick menyentuh leher Avyanna, membawa wajah perempuan bermata samudra lebih dekat, pandangan mereka bertemu, entah sejak kapan, mungkin tanpa keduanya sadari, intesitas sentuhan itu semakin sering, mungkin Allerick mulai candu akan tubuh si mata samudra.
~~~
Avyanna untuk pertama kalinya diijinkan Allerick keluar dari istana, tentunya bersama Mor dan Layla, di dalam kereta kuda Avyanna duduk bersama Layla, sementara Mor, Rush dan penjaga lain berjaga di luar, Avyanna membuka tirai penutup kemudian memandang takjub jalanan yang tengah mereka lalui.
“Apa yang kau lakukan, masuk lah.” Mor mendelik ketika Avyanna mengeluarkan kepalanya untuk melihat keadaan sekitar.
Avyanna pura-pura tak mendengar, mereka ternyata melalui sebuah hutan, Avyanna bisa mendengar suara burung berkicauan, bunga liar tumbuh dimana-mana, serta suara gemerincing air, pasti ada sungai di sekitar hutan.
“Kenapa kita tak lewat kota?” Avyanna menatap Mor.
“Mengundang keributan.”
Avyanna masuk semakin dalam, terus memperhatikan jalan sekitar membuat Avyanna mengabaikan Mor yang terus memerintahnya masuk.
Layla tidak bermaksud tidak perduli, tapi ia cukup tau seberapa ingin Avyanna menjelajahi tempat baru baginya.
Mor memerintahkan yang lain berjaga di luar sementara ia dan Avyanna akan masuk melalui portal, Avyanna kini berdiri di depan sebuah pohon raksasa yang menjulang tingggi “Rush tolong berjaga disini.” Perintah Mor.
Rush mengangguk, kemudian Mor membuka portal, sepertinya Allerick sudah sangat mempercayai Mor, Allerick membuat beberapa portal di tempat-tempat tertentu, termasuk The hidden forest tempat yang selalu ingin Allerick jaga, sebab di dalam hutan itu ribuan kenangan masa kecilnya tercipta.
Mor mengunci portal dari dalam, bentuk hutan lain menyambutnya, hutan setelah portal memiliki pemandangan hijau dengan tumbuhan langka, ada bunga dengan mulut menganga di samping mereka, buah-buahan berwarna biru, salah satu akar tumbuhan bergerak ke sumber makanan, sementara pohon-pohonnya terlihat tua menjulang tinggi, ketika Avyanna mendongak lintasan memori terlihat.
Tempat itu menujukan memorinya.
“Allerick turun!” Jakcson berteriak, memandang panik Allerick yang terbang semakin tinggi bersama Mor di punggungnya.
“Allerick ini menyenangkan!” Mor berteriak kegirangan “Lebih tinggi Allerick!”
Kepakan sayap hitam semakin cepat, membawa dua bocah itu makin tinggi.
Jackson dan Maia di bawah sana sudah panik “Turun atau kalian akan berlatih seharian selama satu abad!”
Allerick memutar bola matanya malas “Baiklah kami turun.”
Dalam sekejap Allerick berdiri di hadapan Jackson, ayah Mor.
Maia yang baru datang memukul kepala kedua bocah itu “Kenapa kalian nakal sekali, bagaimana kalau ada yang melihat.”
Kedua bocah itu mengaduh, mengusap kepala mereka.
“Ayolah bibi Maia, kami hanya bosan terus di dalam hutan, kenapa kami tak boleh keluar?” Tanya Allerick kecil.
“Sangat berbahaya, nanti kau akan tau.”
Avyanna tersenyum, Allerick berbohong, ada sedikit memori indah yang pria itu miliki, mungkin pria itu hanya memilih melupakannya, Avyanna fikir masa kecil Allerick dan Mor menyenangkan.
“Kau dan Allerick cukup nakal ternyata,” Kekeh Avyanna.
Mor menatap Avyanna bingung “Hutan ini, menyimpan memori kalian saat kecil.” Avyanna tersenyum lebar.
Mor berhenti berjalan, menatap Avyanna kosong.
“Kau melihatnya? Tunggulah sampai bagian terburuknya datang.”
Avyanna mendengus “Hey, kau dan Allerick sama saja, kenapa kalian membuang memori menyenangkan itu, ingatlah itu sebagai hal yang patut kalian kenang.”
Avyanna menatap sekitar, ada rumah kayu yang sudah rusak dan hampir roboh disana “Rumah kalian dulu kan?”
Mor menatap rumah itu dalam, mungkin tanpa sadar pria berambut putih itu berjalan ke sana, ia berhenti di tengah halaman, daun-daun kering menumpuk disana, ada bekas kebun kecil di pekarangan, kursi kayu usang di teras.
“Mor, Allerick waktunya makan malam!” Maia berteriak memanggil dua remaja itu, namun tak ada yang menyahut.
Akhirnya sosok perempuan dengan rambut panjang berwarna putih keluar dari rumah, ia mengelilingi rumah dan menemukan kedua remaja itu tengah bersembunyi di atas pohon.
“Kaliann berdua!” Jakson yang baru datang menatap garang kedua remaja yang asik memakan apel di atas pohon membiarkan Maia kelimpungan mencari mereka.
“Mor kau memakai celanaku!” Allerick melotot.
“Celanaku belum kering!” Mor berlari.
“Siapa suruh kau mengompol terus-terusan!”
“Allercik berhenti terbang melewati batas!” Jakcson berteriak murka di depan rumah ketika melihat Allerick baru kembali.
“Aku bosan! Kenapa kalian mengurung kami terus-terusan!”
Umur Allerick dan Mor sudah besar, Maia menarik Jackson mundur, ia memegang bahu Allerick.
“Ada banyak musuh di luar sana, kau tau orang tua kandungmu telah meninggal, kau tau kau harus balas dendam Allerick, kau di berikan tugas itu.”
Avyanna segara menutup fokusnya, ia tau jika masuk semakin dalam, memori kelam akan semakin terlihat.
“Mor,” Avyanna menyentuh bahu Mor.
“Kau bisa kembali kapan saja, aku melihat kalian memanjat pohon itu dan membiarkan Bibi Maia mencari kalian untuk makan malam, aku lihat kau suka memakai celana Allerick karena kau sering ngompol tengah malam.” Avyanna terkekeh.
Mor perlahan tertawa, ingatan masa kecilnya bersama Allerick tiba-tiba muncul dan membuat perasaan Mor menghangat lagi untuk pertama kalinya, Mor lupa kapan ia merasa tersentuh Karena mengingat sesuatu dari masa lalunya.
“Terimakasih Avy, memori itu sudah hampir terkubur. Terimakasih sudah membuatku mengingatnya kembali.”
Avyanna tersenyum cerah, Mor memandang rumah lamanya sekali lagi sebelum mengajak Avyanna pergi ke rumah designer kepercayaan Allercik, Avyanna bertanya-tanya kenapa seorang desainer tinggal di The Hidden Forest.
“Mor, apa desainer keercayaan Allerick itu tinggal sendiri disini?” Avyanna menatap sekliling hutan, semakin dalam ia berjalan, semakin mencekap pula rasanya.
“Dia bukan hanya desainer kepercayaan Allerick, dia Hybird.”
“Namanya Ismene, manusia burung, menariknya dia phoenix, Allerick memberinya tempat tinggal disini, Allerick melindunginya karena Ismene adalah satu-satunya keturunan Hybird yang selamat dari pembantaian kaum Fallen Angel.” Mor memandang Avyanna “Dia masuk ke dalam kaummu, bangsa suci,”
Avyanna mengernyit “Tapi dia mengabdi pada Allerick?”
Mor mengangguk “Ya, Jika Allerick tak menyelamatkannya, mungkin ia sudah di buru, darah Hybird dapat menyembuhkan seseorang, meski itu penyakit terparah sekalipun.”
“Banyak sekali makhluk-makhluk aneh disini.” Ujar Avyanna pelan, yang masih mampu di dengar Mor hingga pria itu tertawa.
“Kau juga termasuk makhluk itu Avy, kau bukan manusia biasa ingat?”
Avyanna memejamkan matanya kemudian tertawa, merasa bodoh karena melupakan fakta itu.
“Sudah sampai.” Avvyanna menatap rumah kayu yang di lilit akar tumbuhan dan bunga-bunga besar mengelilinginya, seorang gadis berambut merah menyala menatap mereka dengan senyuman, kulitnya hitam manis, dengan gaun berwarna senada dengan rambutnya.
“Selamat datang nona Avyanna dan…” Ismene menatap Mor penuh tanya “Ah Mor, aku hampir melupakan tampang jelekmu itu, maafkan aku.” Nadanya terdengar bergurau sekaligus menyebalkan di telinga Mor.
Avyanna tersenyum menatap Ismene “Kau tau namaku?”
Ismene mengangguk “Ya, Tuan Allerick mengirim surat perintah untuk membuatkanmu gaun terbaik, dan megatakan kau akan datang bersama Mor untuk di ukur.”
“Bukan kau yang membuat gaun-gaun setiap minggu untuku.”
Ismene menggeleng “Gaunku berbeda Nona, kau akan takjub nanti.” Ujarnya bangga.
“Ah maafkan aku, silahkan masuk.” Ismene berjalan lebih dulu memasuki rumahnya, dominan rumah itu di isi perabotan kayu dan alam, banyak tumbuhan bunga di pot.
“Oh ini, tumbuhan Memoire.” Seru Avyanna bersemangat, ia membaca bahwa tumbuhan berbentuk daun berwarna biru dengan garis putih itu bernama memoire, tumbuhan itu sangat langka, bunganya berwarna biru terang dengan serbuk berwarna putih yang akan di gunakan untuk membuat bubuk memoire, ramuan itu berfungsi memberikan ingatan yang telah lama hilang, membangkitkan memori yang telah di hapus, mengembalikan apa yang seharusnya masih di ingat.
“Ya, kau tau tumbuhan langka itu, aku mendapatkannya saat berjalan-jalan di hutan mencari makanan.” Ismene kembali dengan alat ukurnnya. Mor sudah duduk di kursi, nampak santai disana, tidak berniat terlibat obrolan para wanita.
“Ya, aku membacanya. Bolehkah aku meminta sedikit bubuknya.” Avyanna berbisik, penuh harap. Ismene menatap Avyanna, kemudian mengangguk. Avyanna tersenyum haru, ia ingin membuat ramuannya nanti.
“Baiklah. Kamari, aku akan mengukur.” Ismene melakukan pekerjaannya dengan teliti, ketika ia selesai mencatat gadis itu tersenyum semangat “Guanmu akan berwarna biru laut, persis warna bola matamu, akan kubuatkan mahkota perak dengan blue diamond yang sudah terukir white wings nanti, gaunmu juga akan di rancang anti panas, percaya tidak akan sobek sebanyak apapun kau bergerak.”
Avyanna mengernyit “Kenapa harus anti panas?”
“Well, kau akan tau untuk apa nanti.” Ismene tersenyum penuh arti.”
Avyanna mengangguk saja, Mor berdiri ketika Ismene menatapnya, pertanda tugasnya sudah selesai.
“Gaunmu akan di kirim satu hari lagi.”
“Maaf aku tak menjamu kalian, karena aku yakin kalian tak akan menyukai makanan disini.” Ismene mengedipkan mata pada Mor.
Pria itu hanya acuh, kemudian pamit mengajak Avyanna keluar.
Di ambang pintu Ismene memasukan kantung kecil berisi setangkaii bunga Memoire untuk Avyanna, keduanya tersenyum, Avyanna mengucapkan terimakasih tanpa suara.
Mor berubah dalam bentuk serigalanya, membiarkan Avyanna menungganginya “Seperti kau punya hubungan dengan Ismene.” Goda Avyanna, Mor hanya memutar bola matanya malas, membuat Avyanna terkekeh.
Ismene menatap kepergian keduanya, setelah memastikan mereka pergi, Ismene mendekati perapian, mengirim kertas pada perapian Daleka si penyihir.
Dentingan di perapian kediaman Daleka menyala pertanda ada yang mengirim surat melalui perapiannya, tak lain tentu dia adalah Ismene, Allerick memintanya membuat cara berkomunikasi untuk Ismene ke Istana.
Sebuah kertas meluncur melalui perapian, sedikit terbakar disana.
Beri tahu Tuan Allerick, nona Avyanna meminta bubuk memoire padaku.
Daleka tersenyum miring, sepertinya sang nona lupa aturan sang Tuan.
“Kenapa kau menginginkan bubuk memoire, kau siap mengingat semua kenanganmu yang mungkin tak semuanya menyenangkan?” Allerick bersandar di tembok, menatap Avyanna yang tengah memilih bubuk memoire dari tangkai bunganya. Ia juga memindahkan biji bunga itu untuk di tanam nanti.
Avyanna menatap Allerick “Kau tidak marah? Aku melakukan sesuatu tanpa ijinmu?”
Itu yang sedari tadi Avyanna fikirkan, Allerick benci Avyanna bertindak semaunya diistananya.
Allerick tersenyum miring “Kau sudah melanggar banyak aturanku jika kau lupa, bersyukurlah karena kau masih berguna.”
Avyanna mengangguk paham “Aku tidak perduli memori buruk atau baik, aku hanya mau aku tau siapa diriku, sampai sekarang aku merasa hanya seonggok mainan, tidak tau apapun.”
Allerick memilih diam, ia menatap Avyanna yang nampak lebih tenang menghadapinya, padahal sebelumnya Avyanna waspada, ia tau Allerick akan marah.
Hari pernikahan Lucius telah tiba, Ismene telah mengirim gaun yang sangat indah kemarin, meski sudah melihatnya Avyanna masih takjub, gaun itu berwarna persis seperti samudra, gradiasinya pun sangat indah, gaun dengan tiga layer, mengembang dengan anggun, bagian dadanya membentuk tubuh Avyanna sempurna, bagian bahunya terekspos dengan indah, dan Ismene benar-benar membuat mahkota perak dengan blue diamond terukir sayap pure angel, Avyanna menggerai rambutnya yang di tata bergelombong, menggulung sebagian, dan mahkota itu tampak indah di atas kepalanya.
Ketikat Avyanna turun Mor dan Rush disana memandangnya penuh takjub.
Avyanna terkekeh, ia harus berterimakasih pada Ismene karena berhasil membuatnya menjadi pusat perhatian malam ini.
Allerick datang ketika Avyanna sudah turun, pria itu berjalan angkuh dengan pakaian serba hitam khas klan Werewolf.
Membuat aura disekitar tiba-tiba gelap. Mata sehitam malam yang selalu terlihat kejam, tak ada sedikitpun rasa bersahabat dalam dirinya.
Allerick menatap Avyanna sekilas “Kita sudah menyiapkan semuanya, aku tak mau ada kesalahan sedikitpun, malam ini aku mau kematian dibalas kematian.” Ujar Allerick kejam.
Mor dan Rush mengangguk hormat, Allerick mengeluarkan sayapnya, mendekati Avyanna kemudian membawanya ke dalam gendongannya, mereka pergi berdua, Avyanna menatap Allerick yang nampak dingin malam ini, ada emosi yang pria itu simpan.
“Kau, harus membaca memori pria tua itu.” Allerick bertitah, tak ingin dibantah.
“Mengerti.”
Avyanna hanya mengangguk. Ia tau apa yang Allerick inginkan.
“Aku melihat memori masa kecilmu bersama Mor.” Meski sekilas Avyanna dapat melihat ada keterdiaman dan sesak yang menyerang Allerick, jelas pria itu berusaha melupakan masa kecilnya.
Allerick hanya diam, ia melihat dari atas pemandangan kerajaan The Fallen Angel Kingdom yang nampak meriah, kereta-kereta kerajaan berdatangan, lampu-lampu di sepanjang jalan yang menyala terang dan suasana yang ramai, rakyat-rakyat klan Fallen Angel berdatangan, mengenakan pakaian pesta terbaiknya.
Lucius menikahi seorang Putri dari Raja Astor, kerajaan Fallen Angel area Utara bernama Azur, tentu Allerick tau alasannya, untuk memperluas daerah mereka. Lucius perlu melakukannya.
Allerick mendengar bahwa dulunya, Raja Fallen Angel dari segala penjuru memperebutkan Black giant wings miliknya, Allerick menatap sekeliling, ia bisa melihat seluruh klan Fallen angel dari segala penjuru hadir.
Kedatangan Allerick membuat keadaan yang tadinya penuh kesenangan mendadak bungkam, semua orang memandang takut pada sosok terkutuk Allerick, sayap besar yang diperebutkan seluruh klan Fallen Angel membentang besar begitu pas dengan sang pemilik yang gagah.
Allerick menurunkan Avyanna, lalu mengulurkan tangannya yang disambut sang mate.
Langkah kakinya tegap melangkah masuk ke area kerajaan, mengabaikan semua orang yang kini berbisik membicarakannya.
“Ayahnya adalah seorang buronan, syukurlah Casssian meninggal dengan tragis.” Ujar salah satu penduduk.
Allerick menghentikan langkahnya, di tengah-tengah kerumunan, pria itu menghampiri wanita bergaun hijau tosca, tubuhnya gemetar ketika Allerick berdiri disampingnya, Avyanna tau apa yang Allerick akan lakukan, mata merah pertanda Allerick siap mengutuk.
Seketika suasana mencekam, pergerakan terasa berhenti dan tak ada yang berani membuka suara.
Allerick mencekik leher wanita itu dengan sadis, memaksa si wanita menatapnya.
Allerick tersenyum miring kemudian menggumam “Matilah.”
Dan dalam sekejap, tubuh si wanita terbujur kaku, mati begitu saja.
Seketika suasana berubah ricuh, kepanikan melanda, para penjaga berusaha menenangkan, Allerick berjalan angkuh memasuki istana, semua orang memberinya jalan, bahkan merasa takut berada di area yang sama dengan Allerick.
Avyanna menghembuskan nafas pelan, ia tau Allerick kejam, tapi tak seharusnya pria itu mengambil nyawa seseorang semudah itu.
“Allerick, kau tak seharusnya membunuhnnya.” Bisik Avyanna pelan, Avyanna tau perempuan tadi berujar salah. Tapi Avyanna juga kasihan kalau perempuan itu harus meregang nyawa begitu saja, apalagi tadi ada orang tuanya yang langsung menangis histeris melihat kematian sang anak yang begitu tiba-tiba namun tak mampu melawan.
Allerick mendengus “Harusnya aku kuliti dia begitu?”
Avyanna tercenung, salah berharap Allerick akan berbuat baik, Avyanna dengan kesadaran penuh mengenggam tangan Allerick. Entahlah ia berharap sedikit emosi Allerick mereda.
Masing-masing pemimpin klan telah duduk di kursi yang telah disediakan, Allerick menatap tajam para pria yang menatap Avyanna takjub, Allerick harusnya memberikan gaun yang normal saja untuk Avyanna.
Lucius tengah berada diatas altar sementara Azur tengah berjalan bersama sang Ayah berjalan datas karpet merah menuju altar, gaunnya berwarna hitam, taburan bunga mawar merah menghantarkannya ke atas altar.
Ada tungku api di depan pendeta, ketika Azur di lepaskan oleh sang ayah dan Lucius menggengam tangan Azur, keduanya melukai tangan mereka masing-masing, kemudian meneteskan darah mereka ke dalam tungku api, seketika asap hitam keluar, api itu makin besar, kemudian mengecil, warna asap berubah menjadi normal.
Sang pendeta mengucapkan sumpah, begitulah acara pernikahan itu terjadi.
Kini semua orang tengah menikmati pesta jamuan, Raja Erick menjamu tamu-tamunya, ia menyapa mereka satu persatu sementara Lucius dan Azur di bawa ke atas balkon istana, menyapa para rakyat yang datang dari sana.
Ketika Raja Ercik mendekata Allerick dan Avyanna, Allerick beralasan pergi mengambil minuman, membiarkan Avyanna bersama Raja Erick dengan alasan disana.
“Anda sangat cantik nona.”Ujar Raja Erick, tangannya menggenggam tangan Avyanna, bagus karena keterpesonaan Raja Erick, Avyanna berhasil memegang tangan pria tua itu, Avyanna mengelus tangan Raja Erick, menggoda pria itu.
“Anda masih sangat tampan diusia yang sudah tidak muda lagi Tuan.” Raja Erick tertawa. Avyanna mengerjapkan matanya berkali-kali “Oh, bisakah anda melihat ada apa di mata saya, sepertinya ada sesuatu.”
“Aku sendiri yang akan membunuh Cassian. Bantai mereka, tak ada yang boleh hidup.” Raja Erick tersenyum sinis.
Pasukan malam itu disiapkan, ribuan prajurit dan makhluk gelap bekerjasama, mereka benar-benar membantai malam itu.
“Halo Cassian, rakyatku, penghianat!” Raja Erick menghunus tubuh Cassian dengan pedangnya, menembus perut Cassian.
“Kau tak akan mendapatkan Black giants wings Rajaku, karena sayap itu memilih yang pantas.” Cassian mengeluarkan darah dari mulutnya, kemudian terbatuk hebat.
Raja Erick menatap Cassian penuh amarah “Bunuh istri dan anaknya!” Seseorang berteriak di ujung, Avyanna tak bisa melihat siapa yang berteriak, namun Avyanna bisa mendengar teriakan seorang perempuan “Bawa bayiku Maia!”
“b******k!” Cassian berusaha memberontak, namun ketika Cassian berusaha Raja Erick langsung menghunus kembali pedang yang masih tertancap, Cassian langsung meregang nyawa dengan senyum kemenangan Raja Erick.
“Allerick!” Avyanna menjerit di tengah ballroom.
Raja Erick melepaskan tangannya dengan segera, baru sadar bahwa kesadarannya telah dialihkan akibat kecantikan sang Pure Angel.
Allerick mendekap Avyanna, menyembunyikannya di belakang tubuhnya “Dia yang menghunus pedang di d**a ayahmu!” Avyanna menunjuk Raja Erick.
Keadaan tiba-tiba senyap, semua pimpinan klan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Raja Erick mendengus, menatap Avyanna penuh amarah “Jadi kau bisa membaca memori.” Desisnya pelan.
Allerick tersenyum remeh “Terkejut tua bangka.” Suara ribut diluar istana mengalihkan fokus mereka dalam sekejap, para pemimpin klan yang sudah tau apa yang Allerick rencanakan segera berjalan menjauh dari istana, namun bagi Allerick percuma, ia akan menangkap yang bermain-main dengannya nanti. Kali ini biar Raja Erick yang menjemput gilirannya lebih dulu.
“Tuan, sebagian klan Fallen Angel telah di taklukan, keadaan di luar masih ricuh namun anda bisa keluar dengan terbang yang mulia.” Mor mengubah dirinya segera menjadi bentuk manusia setelah berhadapan dengan Allerick.
Raja Erick berniat kabur, pria itu mengeluarkan sayapnya, namun sebelum ia bisa terbang Allerick mencekik lehernya kemudian menatap Raja Erick dengan mata kutukannya “Mematung.”
Dalam sekejap tubuh Raja Erick sudah mematung, pria tua itu tak bisa bergerak, namun masih bisa melihat apa yang Allerick perbuat padanya.
“Cari Lucius dan Istrinya, bawa mereka ke hadapanku segera.” Desis Allerick.
Mor mengangguk patuh, pria itu pergi dalam bentuk srigala menyelesaikan tugasnya.
Allerick berbalik menatap Avyanna yang setia berdiri di belakangnya, pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya “Rush!” Allerick memanggil Rush, pria itu ternyata sudah terbang di dekat mereka “Bawa tua bangka ini.” Rush mengangguk patuh, Rush mencekik leher Raja Erick kemudian terbang keluar, membawa Raja Erick ke istana Allerick.
Avyanna berada dalam gendongan Allerick ketika keluar dari istana, dari atas ia bisa melihat kerusakan yang terjadi, tumpukan api besar berisi mayat-mayat rakyat Fallen angel, mereka di lempar ke tumpukan api itu, tubunya di bakar hidup-hidup, sementara anak kecil di giring menuju klan werewolf, Mor membuat segel agar penduduk Fallen Angel tak bisa kabur, untuk sementara nanti Allerick akan mengurung mereka di tempat ilusi yang akan ia buat dengan kekuatan fatamorgana miliknya.
Bangsa werewolf ternyata merencanakan penyerangan, sebelumnya Rush telah menyusup, memberikan racun dari Daleka di makanan jamuan istana, membuat sayap-sayap fallen angel tidak berfungsi selama satu jam, oleh karena itu mereka tidak bisa kabur.
Harusnya Allerick juga membunuh anak-anak mereka, namun Rush berjanji akan menjadikan mereka di bawah naungannya nanti untuk berbakti kepada Allerick.
Dari kejauhan Allerick melihat banyak kaum dari bangsa lain yang lari terbirit-b***t menciptakan portal langsung ke negeri mereka.
Tunggu saja, Allerick akan membunuh mereka semua.
Malam itu, Allerick merasa sedikit senang, ia berhasil membunuh salah satu pembunuh orangtuanya.