Chapter 5
Penghianat yang Ketakutan
Halo, update lagi nih, gimana kabar kalian?
Jangan lupa tap love.
Selamat membaca semua.
Avyanna terbaring lemah dengan badan menggigil di atas kasur miliknya, bahunya di perban dengan gaun sebatas d**a yang terbuka, Allerick bisa saja menyembuhkan Avyanna, karena mereka tercipta sebagai mate untuk itu, menyembuhkan satu sama lain.
Layla bangkit, permisi dengan sopan pada Allerick.
Cakaran di bahu Avyanna rupanya sangat lebar, setelah Avyanna di bawa pulang oleh Allerick pria itu langsung berteriak pada Layla untuk mengompres luka Avyanna, sebenarnya Avyanna tau Allerick bisa langsung bisa menyembuhkannya, sama seperti waktu itu, ketika Allerick melepasskannya di hutan merah, membiarkannya hampir di santap srigala.
Avyanna membuka matanya perlahan, ia menemukan Allerick kini berdiri membelakanginya, menatap balkon kamar Avyanna yang terbuka.
"Kenapa kau tidak menyembuhkanku?" Suara Avyanna terdengar mencicit, ia kesakitan, ini lebih sakit dari cakaran srigala malam itu.
Allerick berbalik "Kau ingin aku menyembuhkanmu?" Allerick tersenyum tipis, senyum yang tak pernah sampai ke matanya, hanya senyum sinis penuh keangkuhuhan.
Avyanna mengangguk pelan "Ini sakit." Avyanna memilih jujur, karena seluruh tubuhnya kini terasa membeku, ia bahkan tak bisa merasakan jari-jarinya. Matanya berat untuk terbuka.
Allerick duduk di samping Avyanna "Entahlah, mungkin aku ingin kau memohon."
Avyanna mendengus "Awas saja jika kau sekarat nanti," Avyanna akan bersumpah akan membuat Allerick memohon nanti ketika pria itu membutuhkannya.
"Tolong sembuhkan aku Allerick, ini semakin sakit." lirih Avyanna. Kepalanya sudah akan meledak, nafasnya sesak.
Allerick terkekeh, menatap Avyanna senang, entah kenapa ia begitu suka Avyanna begitu pasrah.
"Kau akan membayarku setelah ini." Ujar Allerick, lalu pria itu membuka perban di bahunya, luka cakaran yang begitu panjang dan dalam terlihat jelas, warnanya kini keunguan, Allerick menyentuh luka itu pelan, menyusurinya, matanya kini berubah menjadi biru samudra, sama seperti mata Avyanna.
Kini Allerick mengerti sesuatu, mereka telah berbagi.
Apa yang Allerick miliki akan menjadi miliki Avyanna juga.
Begitupun sebaliknya.
Perlahan, setelah Allerick menjauhkan tanganya, luka itu tertutup sepenuhnya, tak ada bekas cakaran disana, tak ada rasa sakit apapun, semua hilang, Wajah pucat Avyanna pun kini kembali merona, Allerick mendekatkan wajahnya ketika kedua bola mata mereka bertemu.
Si kelam dan si samudra, Allerick memegang tengkuk Avyanna, dengan kasar ia melumat bibir Avyanna.
"Allerick," Avyanna terkejut bukan main ketika Allerick membuka gaunnya, bahkan menyobeknya.
"Jangan beritahu siapapun," Allercik mengecup pipi Avyanna, turun ke leher, memberikan tanda disana.
Avyanna ingin menolak, namun entah kenapa, ia tak bisa. Seolah memang ia tak diijinkan menolak sang mate.
"Apa?" Wajah Avyanna kini bersemu, Allerick telah melepaskan bajunya, membiarkan Avyanna menatap pemandangan perut kokoh berwarna tembaga itu dengan kagum.
"Aku bisa menyembuhkanmu dan sebaliknya."
Avyanna mengangguk saja, ia sudah kehilangan akalnya ketika bibir tebal itu berkelana ke seluruh tubuhnya, Avyanna hanya berharap, tidak akan ada yang tumbuh nantinya, karena ia belum siap mati seperti kata Allerick.
~~~~
"Selamat pagi tuanku." Mor menyambut Allerick di depan kamar Avyanna pagi itu.
"Bagaimana Greg?" Allerick dan Mor berjalan menuju lapangan.
"Dia di kutuk tuan, sebuah perjanjian darah, jika dia mengungkap siapa yang bekerjasama dengannya untuk memusnahkan keluarga anda hari itu, dia akan musnah."
Allerick menghembuskan nafas kasar "Siksa dia hingga tewas, tak perlu menunggu pengakuannya, buat dia menderita di setiap detiknya, kau pahamkan Mor." Allerick menatap Mor penuh arti, kedua pria itu tau Greg adalah salah satu musuh yang harus merasakan apa yang orangtua mereka rasakan.
Mor mengangguk, pria itu segera menuju ruang bawah tanah, tampat Greg berada.
Allerick memperhatikan kepergian Mor, sejujurnya ia tak menyukai panggilan Tuan dari Mor, mereka harusnya menjadi sahabat kan, mereka tumbuh bersama, tapi Mor hanya di lahirkan untuk menjadi pengabdinya.
~~~
"Greg telah di tangkap." Seseorang meletakan tongkatnya di atas meja.
"Biarkan saja, dia sudah di kutuk, dia tak akan mengaku." Seseorang menyesap anggurnya dengan pelan.
"Dia bisa, Allerick kejam, dia bisa menyiksanya sampai Greg benar-benar buka suara dan memilih musnah."
"Sial."
~~~
"Hentikan!" Mor menatap sinis pada Greg, kakinya telah di potong, perutnya kini telah dibelah, namun Greg masih bisa membuka mata.
"Aku tidak akan tersiksa sendirian." Ujar Greg, setiap ia bicara darah akan keluar dari mulutnya. Kulitnya di iris tipis seperti mengiris daging, penyiksaan itu dilakukan setiap jam, hanya akan berhenti satu jam untuk membiarkan Greg menikmati tasa sakitnya.
Mata Greg membara, ia marah.
"Butuh penawaran?" Mor mendekati Greg.
"Tuanku," Allerick datang, Mor segera mundur ikut membungkukan badannya, menyambut sang tuan.
"Katakan," Allerick menatap Greg. Merasa kecewa karena tanganya masih dibiarkan utuh. Biar Allerick yang memotongnya nanti.
"Aku tak di ijiinkan mengucap identitas, jadi aku akan berikan clue, tapi aku ingin kau langsung membuhku langsung setelah ini." Greg sepertinya memilih kematian singkat, ia tau disiksa seperti ini akan terasa lebih sakit, atau ketika ia mengakui isi perjanjiannya, yang terjadi akan lebih parah, organnya akan putus lebih dulu, namun Greg tak akan mati, satu persatu organnya akan putus, kemudian akan luruh dari mulutnya, hingga akhirnya tubuhnya terbakar secara perlahan. Begitulah Greg akan mati jika ia mengaku.
Allerick mengangguk "Baiklah."
Greg menelan ludahnya yang bercampur darah susah payah
"Merah, Hitam, dan putih."
Allerick mencernanya, ia tau maksudnya, dan ia siap untuk memburu musuhnya.
"Bagus, Mor." Panggil Allerick.
"Ya tuan."
"Aku ingin belati paling tajam." Mor mengangguk, Greg menarik nafas, ia tau Allerick akan langsung membunuhnya setelah ini.
"Ini tuan." Mor memberikan belati berkilau, baru saja di asah.
"Jadi, kau siap mati?" Tanya Allerick sekali lagi.
Greg mengangguk pasrah.
Allerick mengangguk, ia mendekati Greg, menatap sang mangsa penuh minat, dengan wajah senangnya Allerick menebas tangan Greg, tangan itu langsung putus begitu saja, darahnya mengenai pipi Allerick, dan Allerick menyukainya, ditambah teriakan Greg yang begitu menyenangkan di telinganya.
"Kau kira aku sebaik itu?" Allerick menaikan sebelah alisnya, ia angkat smirknya menatap Greg yang sudah kepayahan.
"Ini," Allerick berbalik, memberikan belati yang sudah berlumuran darah itu pada Mor "Balaskan dendamu Mor, mereka dalang pembunuhan orangtuamu."
Mor mengangguk, ia mendekati Greg lalu melakukan hal yang sama dengan Allerick, menebas tangan Greg yang lain.
Hari itu keduanya tau, musuh mereka tengah memasang topeng lain, atau tunggu saja, Allerick akan selalu siap. Karena ia telah menemukan matenya, satu persatu kekuatan yang musuhnya antisipasi kini bermunculan.
Allerick tersenyum tipis.
~~~
"Tuan, apa anda tau apa maksud Greg?"
Mor dan Allerick kini tengah berada di ruangan Allerick. Ruangan serba hitam dengan patung-patung binatang yang Allerick buru sendiri tertempel di dinding.
"Ya, Merah adalah bangsa Srigala, Hitam adalah bangsa Fallen Angel, dan Putih adalah Pure Angel."
Mor terkesiap "Bangsa Pure Angel?" Mor rasa tidak mungkin, kaum itu adalah kaum yang tidak ingin ikt campur dengan dua klan yang di anggap mereka tak sepadan dengan mereka.
"Mereka tau ramalan itu, soal Avyanna yang akan menjadi mate ku, jadi mereka turun tangan untuk memusnahkanku," Allerick tau, harusnya Avyanna tak pernah lahir hari itu, dan harusnya juga ia tak pernah bertemu Avyanna, karena yang ditakutkan seluruh negeri adalah, bertemunya mereka, maka mereka tau hari balas dendam pun akan segera tiba.