Chapter 4

1506 Words
                                                                            Membaca Memori “Jangan pernah keluar dari area hutan ini Allerick, Mor akan bersamamu disini, mengerti.” Allerick kecil hanya mengangguk patuh, saat itu usianya 12 tahun, sejak kecil ia selalu mendengar larangan itu, hutan terlarang tempatnya tinggal menjadi saksi masa kecilnya, ia hanya mengenal Mor, Bibi Maia dan Paman Jakson adalah  satu-satunya orang yang ia kenali, mereka membangun benteng pertahanan tak terlihat untuk melindungi Allerick. Setiap hari Paman Jakson akan mengajarinya bertarung dengan tangan kosong, lalu melatih kekuatan sayapnya, malamnya ia akan berlatih menguasai kekuatan srigalanya, bertarung dengan Paman Jakson, meski masih kecil Allerick mampu mengalahkan Paman Jakson yang kekuatannya tak diragukan lagi, kekuatan Fallen Angel dan srigalanya menyatu dengan begitu baik, sayapnya menyatu dengan dirinya seperti kata ayahnya, namun kekuatan srigala Allerick perlu dikendalikan, Allerick sering bertindak berlebihan ketika sudah beralih ke kekuatan srigalanya, Paman Jakson pernah terluka cukup parah akibat di cakar Allerick yang brubah dalam bentuk srigalanya. Dalam rasa bersalahnya Allerick merenung ke danau hijau ditengah hutan terlarang, sejujurnya meski Allerick sering terlihat tidak perduli dan dingin, keluarga Mor telah menyentuh sedikit hatinya, sejak bayi Allerick hanya mengenal keluarga Mor, jadi ia cukup merasa bersalah ketika Paman Jakson terluka karenanya. “Tuanku,”Sang peramal mendekati Allerick yang masih diam di tepi danau, menyandarkan punggungnya di batang pohon. “Siapa kau?” Dalam sekejap bola mata hitamnya berubah menjadi merah, salah satu kekuatan yang di wariskan sang Ibu, mata kutukan, menyiksa lawan tanpa menyentuh. “Tenang tuanku, saya hanya akan menyampaikan sebuah ramalan untuk anda.” Desponia membungkuk hormat “Takdir mengatakan anda adalah makhluk terlarang, dua makhluk kotor dari bangsa Fallen Angel, makhluk yang serakah, licik dan selalu ingin menang, makhluk yang di buang karena memberontak, kaum srigala, makhluk berdarah dingin yang slalu membantai, tak pandang bulu dan slalu membunuh,” Desponia menatap Allerick yang kini telah tenang, “Namun darah anda bisa disempurnakan, temukanlah Mate anda, dia adalah keturunan pure angel.” “Allerick!” “Kau dimana?” Desponia tersenyum “Ada satu ramalan lagi untuk anda, namun sepertinya ini bukan saat yang tepat.” Kabut biru melingkupi Desponia, bersamaan dengan munculnya Mor. “Allerick, Ibu mencarimu.” Allerick hanya diam ketika tangan Mor menariknya pulang.             “Kenapa mereka belum kembali?”Mor kembali masuk kedalam rumah kayu, Allerick juga mulai bertanya-tanya kennapa Bibi Maia dan Paman Jakson belum kembali, padahal mereka hanya ingin keluar sebentar, namun mereka tak mengatakan untuk apa, umur Allerick kini telah menginjak 18 tahun, sementara Mor kini telah berumur 20 tahun. “Ayo kita cari.” Usul Allerick, maka dengan cepat Allerick membentangkan sayapnya, sementara Mor berubah menjadi srigala. Keduanya menyusuri hutan, namun ketika Allerick terbang lebih tinggi, ada yang aneh, perlindungan tak terlihat tak ada, Allerick selalu bisa melihatya karena bibi Maia sudah memberitahunya daerah mana saja yang dipasangi perlindungan, dengan penuh rasa ingin tau Allerick mengeluarkan duri beracun dari sayapnya, berharap mengenai perlindungan tak terlihat, namun panah beracunnya tembus mengenai ruang hampa. Ada yang telah menghancurkan perlindungan tak terlihat yang telah dibuat. Dengan cepat Allerick turun, menemui Mor “Ada yang menghancurkan perlindungan kita,” Jelas Allerick, Mor merubah bentuknya . “Bagaimana dengan Ibu dan Ayah, kita harus segera menemukannya.” Jelas Mor khawatir. “Makhluk menjijikan itu ada disini!” Teriakan itu berasal dari belakang Mor, Allerick segera berdiri di depan Mor, melincungi Mor, meski Mor lebih besar darinya, namun kekuatan Mor bukanlah apa-apa jilka dibandingkan dengan Allerick. Tombak ditodongkan mengelilingi mereka, kaum srigala mengaung di belakang, sementara kaum Fallen Angel terbang di atas mereka, siap menembakan panah. Allerick mendesis, ia perhatikan semua, mengapa kaumnya menyerangnya? “Serahkan dirimu, makhluk hina!” “Berani-beraninya kau hidup sampai sejauh ini,” Allerick tak mengerti, siapa yang disebut makhluk hina? “Serahkan dirimu atau kau akan melihat kematian dua orang ini.” Tubuh Bibi Maia dan Paman Jakson dilempar kehadapan mereka, keadaan keduanya sudah sangat mengenaskan, bahkan bibi Maia sudah tak mampu membuka mata. “Lari, sejauh mungkin. Mor ingat tugasmu.” Suara Paman Jakson terdengar lirih, dalam keadaanya yang mengenaskan Allerick bersumpah akan membalas siapapun yang menyakiti pamannya. Mor kini diam penuh luka, namun ia mengangguk, cukup mengerti apa yang ayahnya maksud. “Allercik, ayo pergi.” Bisik Mor. “Tidak!” Allerick berteriak marah, bola matanya berubah merah, dengan kekuatannya ia pandangi satu persatu kaum serigala yang menatapnya lapar “Tercekik dan matilah,” Allerick tersenyum sinis ketika kaum srigala yang menatapnya jatuh ketanah dan meraung kesakitan. “Jangan tatap matanya!” Teriakan dari kaum Fallen Angel terdengar, Allerick makin marah maka ia bentangkan sayapnya kemudain ia keluarkan duri beracun miliknya, kawanan penombak tewas dengan kulit berwarna keunguan. Paman Jakson yang masih setengah sadar menatap Allerick dengan penuh kekaguman, kekuatan Allerick memang sangat berbahaya, maka jangan biarkan ia keluarkan semua, sebab tenaganya mungkin akan terkuras habis. “Mor pergilah, Allerick tidak boleh menggunakan kekuatannya sepenuhnya.” Mor mengangguk, fallen angel yang tak terima akan kekalahannyapun mulai menyerang, Mor mulai mengeluarkan suntikan berisi pelumpuh syaraf pada Allerick. “Berani-beraninya kau!” Allerick menampar Avyanna dengan keras karena berani-beraninya membaca memorinya, Allerick benci itu. Avyanna masih termangu, bukan karena merasakan sakit sebab tamparan Allerick, tapi kebingungan karena apa yang barusan ia lihat. Mor yang berdiri di belakangnya cukup terkejut karena tamparan Allerick menggema, terdengar oleh penjaga bahkan pegawai istana. Namun Mor hanya diam, karena Avyanna memang melakukan kesalahan, Allerick tidak akan mau memorinya dibuka secara terang-terangan jika ia sendiri tak menginginkannya. Allerick berniat membawa Avyanna ke tempat keluarga Marald tinggal, meminta Avyanna membaca memori yang tertinggal di rumah tua itu, keluarga Marald adalah keluarga pengabdi untuk kerajaan, tapi kini keluarganya adalah penyedia tenaga tempur untuk kerajaan Allerick jadi keluarga Marald sudah tidak tinggal di istana, namun tinggal di sebuah camp yang masih dibawah naungan Allerick. Allerick tau musuh-musuhnya tidak menyerangnya sebab mereka belum cukup mampu, tenaga mereka masih belum menandingi Allerick, maka dari itu sebelum mereka berani menyentuh Allerick, biar Allerick yang member kejutan. “Urus dia Mor,” Allerick mendesis tajam, ia menunggangi kudanya kemudian memacunya keluar di ikuti pengawal. “Bangunlah Nona.” Mor mengulurkan tangannya, Avyanna menerimanya. Karena Avyanna tidak bisa menunggangi kuda, maka ia akan bersama Mor yang kini berubah dalam bentuk srigalanya, Avyanna duduk di atas Mor, merasa takut namun juga tenang, karena tak ada yang bisa ia percayai, setidaknya Mor tidak akan kasar seperti Allerick. ~~~ Keluarga Marald berbaris menyambut Allerick, membungkuk hormat. Avyanna datang bersama Mor di belakang Allerick, Mor segera berubah kedalam bentuk manusianya. “Tuanku.” Greg tersenyum ramah. Allerick berjalan memasuki rumah kediaman Marald, menemukan istri Greg dan anaknya yang terkejut akan kedatangannya, keduanya segera membungkuk hormat. Allerick menatap keduanya tajam “Aku ingin berkeliling, tunjukan semua ruangan.” Greg mengangguk patuh, Allerick memang sering berkeliling memantau pekerjaan keluarga Marald, ia di bawa kelapangan luas, melihat ratusan pasukan penyerang gyang tengah di latih untuknya. “Avy.” Allerick memanggil Avyanna, menatap wanita yang sejak tadi berjalan disisi Mor. Avyanna mendekat dengan ragu “Baca memori disini.” Bisik Allerick. Avyanna mengangguk, ia telah diberi tau kekuatannya, membaca memori. Allerick sudah mengajarinya cara menggunakan kekuatannya. Maka Avyanna segera memfokuskan fikirannya, matanya yang semula berwarna biru lautan kini berubah menjadi merah, persis seperti mata Allerick ketika pria itu menggunakan kutukan tanpa menyentuhnya. Avyanna menatap Greg yang kini terlihat mencoba tenang. “Kita akan menyerang sekarang, semua keluarga kerajaan tengah lengah karena kelahiran makhluk hina itu.”Ujar seseorang yang tak dapat Avyanna lihat siapa, hanya ada suara. Avyanna hanya bisa melihat Greg. “Ada empat orang, aku hanya bisa melihat Greg.” Jelas Avyanna. “Ada yang mengatakan akan menyerang keluarga kerajaan, sebab mereka tengah lengah karena kelahiranmu,” Avyanna tak ingin memberitahu Allerick tentang ucapan makhluk hina itu.  Greg berusaha merusak fokus Avyanna, namun bukan itu, memori tempat itu masih bisa Avyanna baca. “Di ujung sana,” Avyanna menunjuk sebuah pohon besar di ujung lapangan, pohon wood tua. “Dibawah pohon itu adalah tempat pertemuan mereka,” Greg melotot, matanya berubah merah, tiba-tiba saja ia berubah menjadi srigala dan menerjang Avyanna, gaun depannya sobek, Avyanna segera menutup bahunya yang terekspos, dimana ia juga fokus menahan perih di bahunya karena cakaran Greg. “Avy!” Allerick mengaung marah, kepulan asap hitam muncul bersamaan sayap Allerick yang merentang melindungi Avyanna, ia bawa Avyanna kedalam gendongannya, terbang di udara. Keadaan tiba-tiba ricuh, para pasukan penyerang yang melihat Allerick dalam sosok fallen angelnya merasa terpaku. Istri Greg dan anak laki-lakinya yang melihat sang ayah dalam keadaan bahaya segera berubah kedalam bentuk srigala, namun belum sempat ikut menyerang Allerick mengibaskan duri beracun dari sayapnya, duri itu mengenai istri dan anak Greg tepat di kepala, mengakibatkan mereka tewas seketika. Greg yang melihat itu makin marah, ia mengaung lebih keras “Mor, lumpuhkan dia.” Mor mengaung, pertarungan dua srigala pun tak terelakan, Allerick tersenyum puas ketika Mor berhasil memberi cakaran di perut Greg. Dengan perlahan Greg kembali ke bentuk manusia, perutnya terluka parah. “Bawa dia ke istana Mor, dan minta Askav mengurus tempat ini sementara.” “Baik tuan.” Mor mengangguk patuh. Allerick terbang lebih tinggi, membawa Avyanna yang telah tak sadarkan diri kembali ke istana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD