bc

Kultivasi Dewa Naga yang Terbangun

book_age12+
2
FOLLOW
1K
READ
revenge
HE
kickass heroine
powerful
prince
no-couple
serious
campus
mythology
dragons
ancient
like
intro-logo
Blurb

Lahir sebagai jenius tanpa tanding, Lin Feng justru mendapati pembuluh darah kultivasinya tersumbat total. Di puncak penghinaan, tunangannya merobek surat pernikahan di depan umum, dan sepupunya membuangnya ke jurang terlarang.​Namun, kematian bukanlah akhir. Di dasar jurang kegelapan, Darah Dewa Naga Kuno yang tertidur di dalam tubuhnya mendadak terbangun! Dengan Teknik Sembilan Transformasi Naga, Lin Feng bangkit dari kematian untuk mencabik langit, menghancurkan sekte-sekte tirani, dan membuat mereka yang menghinanya berlutut memohon ampun!​"Hari ini kau mengusirku bagai semut, esok hari aku akan kembali sebagai dewa yang menguasai takdirmu!"

chap-preview
Free preview
BAB 1: Batas Terendah sang Sampah Keluarga
​"Lin Feng, jika hari ini kamu gagal lagi, silakan angkat kaki dari sekte utama!" ​Ancaman dingin dari Tetua Penguji itu menjadi pembuka ujian tahunan Sekte Keluarga Lin. Ratusan murid di dalam balai pertemuan langsung menatap ke satu titik: seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang sedang berjalan ke tengah panggung. ​Lin Feng menarik napas dalam-dalam. Dia menempelkan telapak tangan kanannya ke permukaan batu penguji. Lima detik berlalu, namun batu itu tetap mati. Tidak ada cahaya, tidak ada energi yang terpancar. ​"Lin Feng, Ranah Pengumpulan Qi tingkat nol! Bakat: Cacat total!" teriak Tetua Penguji dengan suara lantang. ​Seketika, tawa riuh meledak di seluruh ruangan megah tersebut. ​"Hahaha! Sudah kuduga dari awal!" ​"Benar-benar sampah. Padahal ayahnya dulu mantan Pemimpin Sekte yang jenius. Kok anaknya memalukan begini?" ​"Hei sampah! Turun saja! Jangan bikin penuh panggung ujian!" ​Lin Feng mengepalkan tangannya di sisi tubuh sampai kuku-kukunya memutih. Dia mendongak, menatap langsung ke arah Tetua Penguji. "Tetua, pembuluh darahku hanya tersumbat. Aku pasti bisa...." ​"Cukup!" Tetua Penguji memotong ketus kalimat itu sambil melambaikan tangan dengan muak. "Jangan membuang-buang waktu kami yang berharga. Turun!" ​Lin Feng membalikkan badan dengan rahang mengatup rapat. Dia berjalan turun dari panggung batu diiringi tatapan jijik dari semua orang yang hadir. ​Namun, baru beberapa langkah kaki Lin Feng menapak di lantai bawah, sebuah suara perempuan yang jernih namun terdengar sangat angkuh mendadak menghentikan suasana ribut itu. ​"Tunggu dulu, Lin Feng." ​Lin Feng menghentikan langkahnya lalu menoleh. Di depannya, berdiri seorang gadis cantik berbaju sutra putih anggun. Dia adalah Mu Xue, putri jenius dari Keluarga Mu, sekaligus gadis yang telah dijodohkan dengannya sejak masa kecil. ​"Mu Xue? Ada apa?" tanya Lin Feng, dahinya berkerut heran. ​Mu Xue tidak langsung menjawab. Dia menatap Lin Feng dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan mata yang merendahkan. Kemudian, dia merogoh lengan bajunya yang longgar dan mengeluarkan selembar kertas emas berukir naga yang sangat mewah. ​"Di depan seluruh tetua dan murid Keluarga Lin yang berkumpul hari ini, aku datang untuk meluruskan sesuatu," ucap Mu Xue dengan suara keras, memastikan semua orang di balai mendengar kalimatnya. ​"Apa maksudmu?" Lin Feng mulai merasa ada hal yang tidak beres. ​Sret! ​Mu Xue menarik kertas itu dengan kedua tangannya dan merobeknya menjadi dua bagian tepat di depan wajah Lin Feng. Potongan kertas emas bernilai tinggi itu melayang dan jatuh berserakan di atas lantai batu yang dingin. ​"Perjanjian pernikahan kita resmi dibatalkan mulai detik ini," tegas Mu Xue tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya. ​Seluruh ruangan langsung senyap seketika. Bisikan-bisikan kembali terdengar, kali ini suaranya jauh lebih menyengat telinga. ​"Mu Xue, kamu gila?!" Lin Feng melangkah maju, napasnya memboru menahan gejolak amarah. "Ini amanah dari mendiang ayah kita! Kamu sengaja merobeknya di hari ujian tahunanku hanya untuk mempermalukanku?!" ​Mu Xue mendengus remeh. Dia melipat kedua tangannya di d**a sambil menyunggingkan senyuman sinis. ​"Sengaja? Anggap saja begitu," jawab Mu Xue dengan nada santai. "Lin Feng, cobalah sadar diri. Di usia muda, aku sudah berhasil menembus Ranah Pembentukan Fondasi dan menjadi murid inti Sekte Sembilan Awan. Masa depanku ada di atas langit." ​"Lalu karena alasan itu kamu tega menginjak harga diriku?!" bentak Lin Feng, matanya memerah. ​"Ya, karena kamu memang tidak punya harga diri lagi yang tersisa," sahut Mu Xue, maju selangkah dan berbisik tepat di hadapan wajah Lin Feng. "Kamu itu hanya sampah cacat yang akan membusuk di tanah. Elang tidak akan pernah menikah dengan semut yang lemah. Kamu sama sekali tidak pantas berada di sisiku!" ​Tawa murid-murid lain kembali pecah mendengar ucapan ketus dan tajam dari Mu Xue. ​Lin Feng terdiam untuk beberapa detik. Amarahnya yang tadinya meluap-luap mendadak berubah menjadi sedingin es. Pandangannya lurus mengunci sepasang manik mata milik Mu Xue. ​"Baik. Hari ini kamu merobek kertas ini karena menganggap diriku seumpama semut," ucap Lin Feng dengan suara rendah namun sarat akan ancaman yang mendalam. ​"Memang begitu kenyataannya, mau dibilang apa lagi?" tantang Mu Xue kejam. ​"Ingat baik-baik kata-kataku hari ini, Mu Xue," lanjut Lin Feng, mengangkat tangan dan menunjuk tepat ke wajah gadis itu. "Suatu hari nanti di masa depan, aku sendiri yang akan membuatmu berlutut dan memohon di hadapanku! Aku akan membuatmu menyesali setiap detik dari perbuatanmu hari ini!" ​Mu Xue tertawa hambar, wajahnya penuh rasa tidak peduli. "Melolonglah sepuasmu, sampah. Kita lihat saja nanti siapa yang akan berlutut duluan di tanah." ​Tanpa membuang waktu lagi, Mu Xue berbalik dan berjalan pergi meninggalkan balai pertemuan dengan langkah kaki yang angkuh. ​Lin Feng tidak tahan lagi berlama-lama di tempat terkutuk itu. Di tengah badai tatapan mengejek yang terus menghujaninya, dia membalikkan badan dan berjalan cepat keluar dari area sekte. Dia melangkah lebar menuju hutan lebat yang sepi di belakang gunung, berniat mengasingkan diri demi menenangkan pikirannya yang berantakan. ​Namun, saat langkah kaki Lin Feng mulai memasuki kegelapan hutan yang sunyi, sebuah bunyi gesekan semak di belakangnya mendadak membuat bulu kuduknya merinding. ​Dari balik batang pohon besar yang rindang, muncul sesosok pemuda dengan senyuman licik yang sangat familiar di mata Lin Feng. Itu adalah Lin Tian, sepupunya sendiri, yang sedang memegang sebilah belati perak yang berkilau tajam di bawah sinar matahari. ​"Mau lari ke mana kamu, sepupu sampah?" bisik Lin Tian dengan tatapan mata yang penuh dengan niat membunuh yang sangat pekat.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
738.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
971.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
354.9K
bc

Not just, the Beta

read
346.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook