Ulah Para Pemberontak
Sejatinya menjadi seorang Omega dari garis keturunan paling murni terasa seperti anugerah dan kutukan di saat yang bersamaan. Mengapa? Mari kujelaskan.
Supreme Genome Omega, atau yang biasa kami sebut Omega Murni, adalah Omega yang secara biologis paling kuat di antara semua Omega lain. Kami lebih cepat; tumbuh lebih besar; dan memiliki ketahanan terhadap feromon Alpha sehingga kami tidak mudah mengalami masa estrus. Terdengar menyenangkan, tentu. Namun, setelah 32 tahun aku hidup, memahami bagaimana cara tubuhku bekerja selalu menjadi tantangan tersendiri.
Terkadang, hormonku bekerja dengan cara yang membuatku gagal paham. Contohnya? Lihatlah aku.
Aku membuang napas kasar selagi menyilangkan kaki di atas sofa. Sebuah buku bacaan sudah bertengger apik di atas pangkuan, menjadi semacam distraksi karena mendadak saja aku kehilangan minat dengan apa yang sedari tadi menjadi tontonanku.
Pria itu melenguh dari atas ranjangku, “Mengapa feromonmu tiba-tiba menghilang?”
Aku menggidikkan bahu. Aku pun tidak tahu jawabannya. Belakangan ini aku memang sedang melalui masa estrus. Biasanya berlangsung selama 2-3 hari. Dan seperti yang sudah-sudah, semua pelayan kerajaan langsung menyiapkan berderet-deret Alpha untuk 'membantu'-ku. Namun, ini baru satu hari dan mendadak aku sudah kehilangan gairah. Masa estrusku berhenti begitu saja seolah ada tangan ajaib yang menekan tombol ‘Berhenti.’
Yang kuyakini secara pasti adalah satu: ada yang tidak beres dengan tubuhku.
“Kemarilah,” ajaknya Alpha tersebut. Siapa, sih, namanya? Aku yakin namanya itu berawalan S. Simon? Syman? “Setidaknya bantulah aku.”
Aku menyipitkan mata. “Siapa kau sampai berpikir kau bisa menyuruhku semaumu?”
“Oh, astaga,”—ia membuang napas panjang selagi tertawa getir—”jadi ini yang para Omega rasakan selama ini.”
Aku tersenyum kecut. “Menyenangkan, bukan?” Bangkitlah aku untuk mendekatinya. “Mencecap rasa dari perbuatanmu sendiri selama ini?”
“Hey, kau mengatakan hal itu seperti ini hanya salahku seorang,” katanya tak terima. “Nyatanya, kami semua pun begitu.”
Oh, lihatlah ini. Kaki dan tangannya tersebut telah dililit tali ke sudut-sudut ranjangku. Kedua matanya pun tertutup kain. Akan tetapi, ia masih sempat-sempatnya berlagak congkak. Tidak sadarkah ia kalau sekarang kaum Alpha tidak lagi memiliki signifikansi apa-apa terhadap peradaban? Kalau kami, Omega, kini telah mengambil alih tampuk kekuasaan di seluruh penjuru negeri?
Aku melonjak naik ke atas tubuhnya. Kududuki pangkuannya itu seolah inilah singgasana baru bagiku. Aku berucap geram, “Kau terlalu banyak bicara.” Aku menutup mata, mencoba untuk berkonsentrasi. Dan ketika dia meraung lirih, aku tahu bahwa apa yang sedang kulakukan berhasil.
Ia mengumpat lirih, “Sialan, bagaimana kau bisa...?”
Sekalipun aku tahu kalau dia tidak bisa melihatku, aku tersenyum miring. “Terkejut?” tanyaku, penuh kemenangan. “Kau tidak menyangka kalau aku tidak bisa mengendalikan feromonku sendiri?”
Semua Omega memang memiliki aroma feromon yang sama. Mereka baru akan memproduksi feromon autentik ketika mereka mencapai puncak proses kopulasi. Feromon autentik ini memiliki efek yang jauh lebih kuat daripada feromon Omega pada umumnya. Akan tetapi, di dalam kasusku, aku bisa memerintahkan tubuhku ini untuk menghasilkan feromon autentik kapan pun aku mau.
Lagi pula, kalau aku tidak spesial, kaumku tidak akan menunjukku sebagai pemimpin.
Tubuh Alpha yang berada di bawahku menggelinjang hebat seiring dengan menyebarnya feromonku ke seluruh penjuru ruangan. Melihat bagaimana caranya bereaksi, aku bertanya dalam diam. Aku sendiri masih tidak mengerti: untuk tujuan apa feromonku diciptakan dengan efek yang sepoten ini? Aku memiliki kepercayaan kalau aku dilahirkan seperti ini karena aku telah digariskan untuk menjadi puncak revolusi kaum Omega.
“Ratu...?” tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku.
Oh, apa lagi sekarang? Mengapa dia berada di luar sana?
“Ratu Tauriel, aku benci harus mengatakan ini, tetapi ada sesuatu yang penting yang harus kau dengar.”
“Masuk,” ujarku.
Sekalipun posisiku saat ini canggung, aku tidak terlalu peduli. Pintu segera terbuka dan memunculkan sekretaris kerajaan yang mengibas-ngibaskan salah satu tangannya di depan wajah. Dia mengenakan masker penangkal feromon. Mau bagaimana lagi, feromon yang seorang Alpha hasilkan begitu kuat bahkan bisa memengaruhi para Omega yang berada di sekitarnya. Kami sengaja menciptakan masker semacam ini agar feromon Alpha tersebut tidak memicu masa estrus kami.
“Ada apa?” tanyaku, masih menggerakkan pinggulku ke depan dan ke belakang seolah tidak ada yang sedang memerhatikan kami berdua.
“Ini... tentang Para Pemberontak,” jawab Juvius dari balik maskernya.
Begitu kedua kata tersebut terlontar dari mulutnya, sekujur tubuhku menegang. Tidak. Apa lagi yang kali ini mereka lakukan?
“Apa yang telah mereka rusak kali ini?” Aku menoleh dan menatap Juvius tajam.
Pria itu terlihat takut-takut, tetapi akhirnya menjatuhkan satu ultimatum tersebut, “Mereka membakar sebagian kebun Wicked Rose di Desa Rotterdam.”
Desa Rotterdam. Desa yang menjadi pusat produksi Wicked Rose di kerajaan kami. Wicked Rose adalah bahan dasar utama dari obat yang kami gunakan untuk mengendalikan masa estrus yang—bagi kaum Omega—bisa datang tanpa aba-aba. Tumbuhan yang menyerupai bunga mawar berwarna hitam dan merah darah tersebut adalah komoditas paling penting seluruh kerajaan Omega. Fakta bahwa Para Pemberontak telah berhasil menjamah perkebunan kami menjadi pertanda kalau anggota kelompok barbar tersebut telah mendeklarasikan perang.
Selagi mendesah keras, aku melonjak turun dari ranjang. Langsung kusambar mantelku beserta dengan pedang yang kugeletakkan di atas meja kerjaku. Aku segera berkata kepada Juvius, “Ayo ke sana. Dan, oh, ya, panggil pelayan untuk mengurusnya.” Aku menunjuk Alphaku dengan dagu.
Juvius tampak kebingungan. “Um, tidakkah kau perlu menuntaskan...?” Dia merujuk kepada apa yang tadi sedang kulakukan dengan si Alpha.
Aku membuang napas panjang seraya berhamburan keluar dari kamar. “Kau tidak menyadarinya karena kau mengenakan masker,” ujarku, “tetapi, estrusku sudah selesai.”
Perkataanku sontak membuat Juvius melipat dahi. Selagi menyejajarkan langkahnya denganku, ia bertanya, “Tunggu, bagaimana bisa?”
“Kau pikir aku pernah memahami bagaimana cara tubuhku sendiri bekerja?” tanyaku sarkastik.
“Apa aku perlu memanggil tabib kerajaan?” tanya Juvius. Wajahnya terlihat khawatir.
Aku tersenyum kecil dan menepuk pundaknya. Dia tidak pernah berubah. Sejak kami kecil dia selalu menjadi semacam kakak laki-laki bagiku. “Boleh,” kataku. “Namun, aku harus pergi sekarang. Kutemui kau nanti saat makan malam.”
Setelah mengatakan hal tersebut, aku langsung berlari lintang-pukang ke lantai bawah. “Penjaga, siapkan tungganganku!” aku memekik ke seluruh penjuru istana.
Elenor, ketua petugas keamanan istana langsung berderap-derap di balik punggungku. “Aku dengar Para Pemberontak berulah lagi,” ujarnya.
Pria itu sudah berpakaian lengkap, seperti hendak pergi ke medan perang. Mungkin tampak berlebihan, tetapi aku tidak bisa menyalahkannya untuk bersifat waspada. Nyatanya, kalau sudah membicarakan kelompok Alpha barbar tersebut, semua hal menjadi mungkin. Kami harus mengupayakan agar kerusakan yang kami derita tidak semakin parah.
Aku memangutkan kepala. “Itu benar. Aku akan ke Rotterdam untuk mengecek,” ujarku.
“Apa kau butuh pengawalanku?” tanya Elenor.
Aku menggeleng cepat. “Tidak, istana membutuhkanmu,” jawabku. “Tutup semua pintu akses ke luar. Jangan bukakan pintu atau gerbang manapun kecuali untuk anggota istana. Tutup semua jendela, dan inspeksi semua penghuni yang ada.”
Elanor mengangguk mantap. “Akan segera aku lakukan.”
“Aku mengandalkanmu.”
Begitu aku sampai di gerbang utama istana, seonggok tungganganku telah melongokkan kepala ke dalam. Lidahnya menjulur-julur tak keruan ketika makhluk tersebut melihatku. Mari kuperkenalkan kau kepada ollerth, naga terbang yang juga merupakan alat transportasi bagi raja dan ratu kerajaan Omega. Seekor ollerth memiliki kulit yang memiliki sisik yang berlapiskan emas dan permata. Karena beberapa abad lalu dia sering diburu untuk dimanfaatkan kulitnya, makhluk ini sekarang menjadi salah satu fauna yang terancam punah.
Aku sendiri memberi nama ollerth tungganganku ‘Path.’ Dia adalah seekor ollerth jantan yang sudah menemaniku bahkan sejak pertama kali aku dilantik menjadi ratu lima tahun silam. Kulitnya berwarna kuning keemasan dengan aksen abu-abu di bagian leher dan ke-empat kakinya. Path adalah binatang yang tangguh dan gesit. Percaya tidak percaya, aku nyaris saja jatuh dari ketinggian 500 kaki karena dulu aku belum terbiasa berhadapan dengan ketangkasan seekor ollerth ketika sedang mengudara di angkasa.
Kendati demikian, sekarang aku bisa dengan bangga mengatakan kalau aku sudah mahir menunggangi naga satu ini.
Begitu Path menyapaku dengan riang, aku langsung memijakkan kakiku ke sanggurdinya dan melonjak naik. Beberapa penjaga istana yang sudah bersiap di atas shunu mereka—fauna khas kerajaan Omega yang menyerupai kuda dengan tanduk berwarna hitam legam. Selain itu, ada pula beberapa petugas utama yang memang kuperintahkan untuk menaiki ollerth lain yang kami punya—kami harus sampai ke Tempat Kejadian Perkara dengan cepat.
Begitu aku menghentakkan tali kekang milik Path, dia langsung mengepakkan sayapnya dan meluncur bebas di udara. Bersamaan dengan itu, pasukan ollerth dan shunu juga mulai bergerak mengikuti ke mana aku pergi. Berdasarkan perhitunganku, seharusnya tidak akan memakan waktu lama untuk sampai ke Rotterdam. Mari kita lihat kerugian apa yang kini harus aku tanggung.
Aku mengetatkan genggamanku ke tali kekang. Amarah diam-diam telah berhasil mencapai ubun-ubunku. Bagaimana tidak? Ini adalah serangan Para Pemberontak yang ketiga kali dalam satu bulan ini. Jangan salah, aku telah melakukan segala upaya yang bisa kulakukan, tetapi secara ajaib para Alpha tidak tahu diri itu masih saja menerobos penjagaan yang kami punya.
Alpha memang terkenal menjadi makhluk yang cerdik. Namun, aku tidak sudi mengakui kalau ini semua terjadi murni karena akal bulus mereka saja. Lagipula, kalau mereka memang benar-benar cerdik, seharusnya mereka memahami kalau menyerang kami sama saja dengan mendeklarasikan perang kedua antara kaum Alpha dan kaum Omega—seolah perang yang telah terjadi dua dekade lalu itu masih belum cukup untuk mereka. Alpha memang kaum paling barbar. Paling tidak bermoral dan hanya berpikir dengan s**********n mereka.
Aku membenci mereka semua.
Tidak perlu waktu lama bagiku untuk mengudara di atas Desa Rotterdam. Kedua mataku langsung mendarat tepat ke arah perkebunan Wicked Rose yang kini telah hangus sebagian. Dari atas sini aku bahkan masih bisa melihat asap kehitaman yang belum hilang sepenuhnya. Semua pekerja kebun terlihat saling bahu membahu untuk mematikan sejumput api yang masih tersisa.
Begitu melihatku dan beberapa petugas keamanan mulai mengitari kebun tersebut dari angkasa, seorang penjaga di bawah meniup sebuah terompet yang mengumandangkan kedatanganku. Dengan satu hentakan halus di tali kekangnya, Path mulai menukik pelan hingga akhirnya mendarat tepat di atas kebun yang baru saja terbakar. Kepakan sayap dari para ollerth lain secara langsung memusnahkan api kecil yang ada.
“Ratu sudah datang! Ratu sudah datang!” pekik beberapa warga. Tampaknya mereka sudah mengerumuni area perkebunan, dengan wajah penuh pengharapan memerhatikan setiap gerak-gerik yang kubuat.
Tanpa menunggu aba-aba, aku langsung melonjak turun.
*