"Apa kau tidak merasa bahwa caramu kali ini tidak bisa dibilang licik, tapi lebih ke arah kekanakan?" Sidra yang tengah menyantap makan malam buatan Loiz, hanya mengerikan bahunya acuh. "Setidaknya aku merasa puas karena aku tidak diam saja. Menyaksikan mereka berbahagia tanpa merasa bersalah sama sekali, membuat aku merasa mual setiap saat. Tapi saat aku melihat dia yang ketakutan bahkan berteriak histeris karena melihat orang yang dibunuhnya, rasanya luar biasa senang. Aku puas sekali melihatnya." Loiz dan Camilo saling pandang, kemudian sama-sama menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi bagaimana caranya kau masuk ke sana tanpa ketahuan?" tanya Camilo. Sidra lebih dulu mengangkat gelas berisi air miliknya, meneguk nya hingga tandas setengah. "Bukankah Naga bisa terbang? Dan aku juga b

