NDS~6

1026 Words
“Kenapa telponku nggak diangkat seharian ini?” Nining yang baru meletakkan ayam goreng di meja makan, beringsut mudur dan pergi dari ruangan tersebut. Daripada ia ikut terseret dalam amukan Rizal, lebih baik melarikan diri menuju kamarnya. “Jadi, bagaimana rasanya kalau telpon Papa nggak diangkat?” balas Anggi tetap tenang sembari menuang nasi ke piringnya. “Marah? Kesal?” “Apa maumu?” Rizal tahu, Anggi sedang menyindirnya karena tidak membalas pesan dan panggilan sejak malam itu. “Ngapain kamu sama Nada pergi ke toko perhiasan siang tadi?” “Ah! Istri mudamu pasti yang cerita, kan?” Anggi mengambilkan ayam goreng untuk Nada, lalu menoleh pada Rizal. “Selamat, ya, karena Aldi akhirnya sudah bisa jalan.” Rizal terpekur sesaat. Namun, ia segera bersikap biasa. Seolah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Rizal menghela pelan, sebelum akhirnya membuka mulut. “Ma—” “Hebat! Nikah baru satu setengah tahun, tapi umur Aldi sudah satu tahun lebih,” putus Anggi masih berusaha tenang, kendati emosinya sudah membuncah tidak karuan. Nada yang baru sadar akan perkataan mamanya, langsung tidak jadi menyuapkan nasi. Ia memang tidak paham dengan usia perkembangan bayi, tetapi, Nada sangat mengerti bagaimana proses seorang anak bisa terlahir ke dunia. Namun, kali ini Nada tidak akan bersuara. Ia memilih diam dan mendengar lebih lanjut. “Jadi, selama ini aku sudah dibodohi, dibohingi?” lanjut Anggi memberi tatapan dingin pada Rizal. “Kalian lebih dulu berselingkuh di belakangku, kan? Dan memanfaatkan kecelakaanku supaya bisa menikah.” Rizal menarik napas, lalu duduk di samping Anggi. Kenapa Dina tidak mengatakan jika Anggi bertemu dengan Aldi? Kalau begini caranya, tidak ada lagi yang harus ditutupi di depan istrinya. “Aku sama Dina sudah menikah siri lebih dulu,” ucap Rizal pada akhirnya. “Akhirnya ...” Nada berceletuk lalu menghela lega. “Aku nggak nyesal sudah narik rambut perempuan itu.” “Jada bicaramu, Nad!” hardik Rizal. “Harusnya aku bisa lebih brutal dari kemarin,” ucap Nada tidak lagi mau menuruti papanya. “NADA!” “Jangan berani-berani bentak Nada!” Anggi balas menghardik suaminya. Kedua tangannya mengepal di atas lengan kursi roda. “Papa yang salah di sini, jadi jangan coba membela diri karena sudah selingkuh!” Wajah Rizal menegang. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin membantah, tetapi tidak ada kata yang keluar. “Ma—” “Bahkan Papa sudah selingkuh waktu Mama masih dalam keadaan sehat!” potong Anggi tanpa memberi ruang untuk penjelasan. Suaranya tegas, menusuk, penuh amarah yang sudah lama dipendam. “Iya, kan?” “Intinya, aku sama Dina sudah menikah dan kami sekarang punya anak.” Rizal menatap Nada sekilas lalu berdiri. “Yang lalu, nggak perlu lagi dibahas karena selama ini aku tetap bisa bersikap adil dengan Mama dan Nada. Kalian nggak pernah kekurangan apa pun, kan? Rumah, uang, mobil, kasih sayang? Semua nggak ada yang berubah, kan?” “Selera makan Mama hilang,” ujar Anggi sambil memundurkan kursi rodanya lalu berbelok pergi. Rasa kecewanya sudah terlalu dalam, terlebih ketika mengetahui Rizal memang sudah bermain api dengan Dina di belakangnya. “Kita belum selesai bicara,” sahut Rizal segera menghalangi Anggi. “Ngapain kalian berdua di toko perhiasan? Jual perhiasan? Iya, kan?” “Ya!” seru Anggi sudah terlalu lelah. “Aku jual perhiasan untuk biaya kuliah Nada! Kenapa? Salah? Itu semua perhiasanku, jadi aku nggak perlu minta izin!” Rizal menunjuk putrinya yang baru saja berdiri. “Ini semua gara-gara kamu! Kalau kamu bisa sedikit bersikap sopan di restoran, Mama nggak akan menjual perhiasannya.” “Papa yang selingkuh, kenapa aku yang disalahin,” balas Nada sudah tidak peduli lagi dengan papanya. “Nada!” “Nada, masuk ke kamar,” titah Anggi menatap putrinya dengan anggukan kecil. “Ma—” “Masuk kamar!” putus Anggi lebih tegas lagi. Meskipun ingin sekali berada di sisi mamanya, tetapi Nada tidak bisa membantah. Ia pun pergi dari ruang makan, tetapi tidak langsung pergi ke kamar. Nada berdiri di sisi ruang yang berbeda, karena ingin menguping, sekaligus khawatir dengan mamanya. Sementara itu, Anggi yang masih berada di ruang makan segera menjaga jarak dengan Rizal. “Pergilah ke tempat Dina, Pa,” ujar Anggi sudah menurunkan intonasi bicaranya karena terlalu lelah. “Jangan buat keributan di rumah, apalagi di depan Nada. Harusnya, cukup aku yang terluka di sini, tapi ... sekarang Nada juga ikut merasakannya. Dan satu lagi, jangan pernah menyalahkan Nada atas semua kekacauan yang sudah Papa mulai. Papa yang lebih dulu selingkuh, jadi, akui kesalahan itu atau diam, kalau lidahmu berat untuk meminta maaf.” “Aku mungkin salah, tapi Nada juga harus diberi pelajaran karena—” “Mungkin?” Anggi tertawa sinis. “Selingkuh itu sudah nyata-nyata salah, bukan lagi mungkin, Pa. Jadi tolonglah, jangan blunder ke mana-mana.” “Ma—" “Aku capek,” potong Anggi. “Aku seharian ada di luar, jadi aku mau istirahat. Pulanglah ke apartemen Dina sampai semuanya tenang, karena Aldi lebih butuh papanya daripada kami.” “Maksudnya, kalian sudah nggak butuh aku lagi?” tanya Rizal menarik kesimpulan dari ucapan Anggi. “Setelah semua yang aku beri dan lakukan selama ini? Begitu?” “Apa Papa masih butuh aku dan Nada?” Anggi bertanya balik dengan tenang. Rizal terdiam. Pertanyaan tersebut menghantamnya telak hingga tidak bisa memberi jawaban. Seharusnya semua berjalan baik-baik saja dan tidak menjadi rumit seperti sekarang. “Kalau hati sudah nggak bisa bersikap adil, jalan satu-satunya adalah melepaskan,” ucap Anggi berusaha tegar. “Maksudmu ... berpisah?” Anggi mengangguk pelan. “Karena kondisiku yang seperti ini, aku ikhlas memberi izin Papa nikah dengan Dina. Tapi, karena ada kebohongan di belakang pernikahan itu, aku rasa kita sudahi semuanya sampai di sini.” “Coba pikirkan semuanya baik-baik, Ma,” ucap Rizal. “Nada masih kuliah dan kondisimu seperti ini. Apa yang mau kamu harapkan kalau kita berpisah.” Anggi mengendik dan tersenyum pahit menatap Rizal. “Sekarang, aku cuma bisa berharap sama Tuhan. Jadi, pulanglah dulu dan pikirkan semua baik-baik. Ajak juga Dina bicara. Setelah itu, baru kita selesaikan semuanya.” Anggi menjalankan kursi rodanya melewati Rizal yang terpaku di tempat. “Hati-hati di jalan dan ... sampai jumpa lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD