NDS~5

1128 Words
“Hitung lagi uangnya sebelum kita pergi ke bank,” titah Anggi setelah menjual koleksi perhiasannya. Meskipun berat karena mengingat mamanya sudah tidak memiliki apa-apa, Nada tidak lagi membantah. Ia menghitung kembali uang di hadapan pegawai toko, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Selagi Nada sibuk menghitung, Anggi menjalankan kursi rodanya dengan perlahan untuk melihat beberapa koleksi perhiasan di sana. Lantas, tatapannya berhenti pada sebuah kalung berlian yang cukup menarik perhatian. Desainnya elegan dan minimalis. Rantainya terdiri dari susunan berlian kecil yang mengelilingi leher dengan pola simetris. Sangat sederhana tetapi tetap terlihat mewah. Namun, Anggi hanya mengagumi dan tidak berniat membeli. “Mbak Anggi.” Sapaan dari seorang wanita, membuat Anggi menoleh dan mendongak. Ia cukup terkejut dengan sosok Dina, yang sudah berdiri dengan begitu menawan di sampingnya. “Mbak di sini juga?” tanya Dina tersenyum manis. “Sendirian?” “Sama Nada.” Saat Anggi baru saja hendak tersenyum, lengkungan di bibirnya perlahan memudar. Tatapannya beralih pada seorang wanita berseragam babysitter yang baru saja berdiri di samping Dina. Wanita itu menggandeng seorang balita, yang tampaknya sedang belajar berjalan. Langkahnya masih goyah, tetapi penuh semangat. Anggi menahan napas sejenak. Apakah balita itu anak Rizal? “Ah! Nada.” Anggi melarikan tatapannya ke seluruh toko. Kemudian, tatapannya berhenti pada gadis muda yang sedang duduk dan sibuk menghitung tumpukan uang. Amarah Dina seketika mencuat, mengingat bagaimana gadis itu mempermalukan dan menyakitinya dengan bar-bar. “Mas Rizal sudah—” “Dia anakmu?” putus Anggi tidak ingin didera rasa penasaran yang terasa menyakitkan. “Oh!” Dian sontak menunduk dan tersenyum pada balita yang sedang menaik turunkan tubuhnya dengan lucu. Sejurus itu, ia berjongkok lalu membawa balita tersebut ke hadapan Anggi. “Halo, Ibu Anggi, namaku Rizaldi. Dipanggil Aldi,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanan putranya pada Anggi. Luka yang ada di hati Anggi semakin teriris perih. Kendati wajar jika Rizal memiliki anak dengan Dina, tetapi tetap saja rasanya begitu menyakitkan. Terlebih, Rizal tidak pernah mengatakan jika mereka berdua sudah memiliki seorang putra. Namun, balita tampan yang sedang menatapnya saat ini tidaklah berdosa. Anggi tidak bisa membencinya, karena Aldi tidak tahu-menahu dengan permasalahan yang terjadi dengan orang tua. “Halo, Ganteng,” balas Anggi menyambut uluran tangan mungil itu dengan lembut. “Berapa umurnya?” tanyanya pada Dina. “Satu tahun dua bulan,” jawab Dina. “Tapi baru bisa jalan.” Anggi menahan napas. Memaksakan senyum, dikala hatinya teriris. “Sehat-sehat, ya,” ucapnya lalu mengusap pelan puncak kepala balita itu. “Oia, Mbak, mumpung ketemu, aku mau bicara masalah Nada,” ujar Dina sembari berdiri dan menyerahkan kembali putranya pada baby sitter. “Dia—” “Kita nggak akan bicara masalah Nada,” putus Anggi mendongak dan memberi senyum kecil pada wanita itu. “Anggap masalah kemarin sudah selesai, karena Nada sudah dapat hukuman dari papanya.” “Tapi, Mbak, dia itu harus diajari sopan santun,” ujar Dina tetap ngotot dengan pendiriannya. “Dia itu perempuan dan nggak seharusnya bersikap bar-bar.” “Dia seperti itu karena membelaku,” balas Anggi sembari menoleh pada Nada, yang masih sibuk menghitung hasil penjualan perhiasan dan membelakangi mereka. “Kalau mau ditelusuri lagi, semua ini bukan salah Nada tapi salah kita semua yang nggak jujur dari awal sama dia.” “Mbak—” “Dan perlu kamu tahu.” Anggi menunjuk Dina dengan tegas saat kembali memutus ucapan wanita itu. “Nada nggak akan nyerang, kalau kamu nggak nampar dia duluan.” “Tapi—” “Jauhkan tanganmu dari anakku,” sela Anggi tanpa ekspresi dan tegas. “Kali ini aku masih bisa sabar, tapi ... nggak untuk lain kali.” Dina menarik napas dan memutuskan enggan berdebat. Ia memilih memutar tubuh dan kembali ke tujuan utamanya. Menjauh dari Anggi dan melihat-lihat koleksi perhiasan yang rencananya akan ia beli. Sementara itu, Anggi juga memilih untuk pergi dan menghampiri Nada, daripada terus bicara dengan Dina. “Belum, Nad?” “Dikit lagi, Ma,” ucap Nada tinggal memastikan jumlah satu gepok uang di tangan. Anggi menunggu dengan sabar, sampai akhirnya tugas Nada selesai. Ia memasukkan semua uang itu di dalam tas ransel, lalu bersiap pergi. “Itu ...” Nada tidak jadi melangkah ketika melihat Dina sedang melihat sebuah kalung berlian di atas etalase. “Dina,” ucap Anggi tenang, kendati hatinya tengah bergejolak hebat. “Dia sudah di sini dari tadi,” lanjutnya sambil menunjuk balita yang sedang belajar berjalan, sambil menggenggam erat tangan susternya. “Dia anak papamu. Aldi, Rizaldi.” Dahi Nada mengerut dalam. Napasnya mendadak berat, dadanya terasa sesak. “Papa punya anak ... laki-laki?” “Nggak usah dipikirkan,” ucap Anggi mulai menjalankan kursi rodanya ke arah pintu. “Ayo, Nad. Kita pergi dari sini.” Sembari terus berjalan keluar, Nada menatap balita yang tiba-tiba juga melihatnya. Balita meringis lebar, memperlihatkan deretan giginya yang mungil. Harusnya, Nada bisa membalas senyum itu, tetapi dia tidak bisa. “Laper, Ning?” tanya Anggi melihat Nining sedang mengunyah dan memengang sebuah tusuk yang berisi deretan bakso. “Ohh, nggak, Bu,” ucap Nining mempercepat kunyahannya. “Tadi ada tukang bakso mangkal bentar. Mendadak pengen pas lihat orang beli.” Anggi tertawa, menatap Nada. “Kita mampir beli bakso dulu sebelum ke bank, ya. Bik Nining laper, cuma malu aja.” “Ahh, Ibu.” Nining ikut tertawa. Mempercepat memakan baksonya dan bergegas membantu Anggi menuruni teras. Dengan perlahan, ia membantu Anggi menaiki mobil, lalu menyimpan kursi rodanya di bagasi. “Makan bakso di mana, Bik?” tanya Nada sembari memasang sabuk pengaman dan memastikan semua posisi kaca spionnya sudah sempurna. “Sembarang aja, Mbak,” jawab Nining. “Yang penting enak.” “Yang sejalan aja, Nad,” ujar Anggi sembari mengeluarkan ponsel. “Daripada muter-muter.” “Oke, Ma,” jawab Nada, menoleh ke belakang sekilas. Ia melihat Anggi baru saja menempelkan ponsel di telinga. “Halo, Wirda,” sapa Anggi ramah setelah panggilannya diterima. “Ini aku, Anggi, mantan sekretaris pak Adrian.” “Halo juga, Mbak Anggi, apa kabar,” sahut Wirda ramah. “Ada yang bisa aku bantu?” “Baik, baik,” ucap Anggi terkekeh ringan. “Oia, aku langsung aja, bisa minta tolong buatkan janji sama pak Adrian? Aku mau konsultasi.” “Mbak Anggi belum dengar? Pak Adrian sudah nggak nangani kasus lagi,” ujar Wirda. “Setelah mbak Novita nggak ada, Bapak milih pensiun karena mau fokus nemenin cucunya.” “Ohh ...” Anggi reflek menutup mulut. Setelah ia mengalami kelumpuhan, Anggi memang lebih tertutup dan lebih fokus pada keluarganya. “Maaf, aku nggak tahu.” “Tapi kalau Mbak mau, saya bisa buatkan janji sama mas Sastra,” ujar Wirda memberi solusi. “Sekarang dia yang gantiin pak Adrian.” “Emm ...” Anggi menimbang-nimbang sejenak. “Oke, buatkan janji dengan beliau. Terima kasih.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD