Jessica menuruni undakan tangga yang ada di rumah lokasi syuting. Dan saat itu juga ia berpapasan dengan Jovan yang baru saja datang ke lokasi syuting dan tengah menaiki undakan tangga.
“Alasan lu nolak tawaran kemarin, apa karena lu takut jatuh cinta lagi sama gue?” tanya Jessica saat Jovan melewatinya tanpa melihat ke arahnya.
Jovan yang baru menaiki dua tangga di atas Jessica pun memilih kembali mundur dan kini berdiri sejajar dengan Jessica yang masih berdiri di tempatnya dan membalas tatapan Jovan dengan tatapan mengejek.
“Gak kebalik tuh? Yang ada juga lu masih cinta sama gue dan masih ngarepin gue balik. Makanya lu langsung terima tawaran itu. Ck, jangan lu pikir gue mau nikah sama lu. Gak sudi gue!” seru Jovan dengan nada tegas.
Jessica tersenyum kecil. “Gue terima karena tawarannya sangat menggiurkan. Dan peluang buat jadi batu loncatan karier gue. Gue bekerja professional, gak pake baper,” ucap Jessica tak kalah tajam membuat Jovan kesal sendiri.
“Jadi maksud lu, gue yang baper?”
“Entahlah. Lu yang bilang sendiri yah bukan gue,” ucap Jessica beranjak menuruni tangga melanjutkan langkahnya.
“Lu mau taruhan!” seru Jovan menghentikan langkah Jessica. Ia kini menoleh ke arah Jovan.
“Taruhan apa?”
Jovan kembali menuruni tangga dan berdiri sejajar dengan Jessica.
“Gue akan terima pernikahan kontrak ini. Dan ayo kita taruhan, siapa yang akan baper dan jatuh cinta lagi.”
“Gue setuju,” jawab Jessica. “Apa taruhan lu?”
“Lu mau apa?” Tanya Jovan.
“Emm gue mau jadi pemilik rumah itu seutuhnya,” ucap Jessica.
“Oke. Lalu apa taruhan lu?” Tanya Jovan.
“Lu mau apa dari gue?” Tanya Jessica.
“Pergi sejauh mungkin dari pandangan mata gue dan dari hidup gue! Jangan pernah muncul satu kalipun di hadapan gue!”
Deg
Entah kenapa mendengar kata-kata yang di ucapkan Jovan berhasil menusuk ke relung hati paling dalam milik Jessica. ‘Sebenci itu dia padaku,’ batinnya.
“Gimana?” seru Jovan menyadarkan Jessica yang terlarut dalam lamunan.
“Oke. Gue setuju.”
“Oke, jadi mari kita beracting yang lebih dalam lagi mulai sekarang,” seru Jovan menyeringai membuat Jessica terdiam.
Jovan beranjak pergi meninggalkan Jessica seorang diri di tempatnya.
***
Jessica termenung di dalam ruang istirahatnya masih di lokasi syuting.
Pergi sejauh mungkin dari pandangan mata gue dan dari hidup gue! Jangan pernah muncul satu kalipun di hadapan gue!
Ia masih mengingat kata-kata yang di ucapkan Jovan tadi. Itu benar-benar seperti tusukan tajam ke dalam hatinya.
“Gue cariin ternyata ada disini,” seru Rara yang baru saja masuk ke dalam ruangan membuat Jessica menoleh ke sumber suara.
“Kenapa? Wajah lu pucat gitu, lu sakit?” Rara menyentuh kening Jessica.
“Tidak, gue baik-baik aja,” jawab Jessica. “Ada apa? Kenapa cari gue?”
“Itu lho, pihak sponsor baru saja telpon. Katanya Jovan sudah setuju menerima projek ini,” seru Rara.
“Oh,”
“Lu gak kaget? Apa lu udah tau?” Tanya Rara merasa bingung.
“Ya, tadi Jovan sempat ngomong kalau dia akan terima tawaran ini hanya saja dengan sebuah taruhan,” ucap Jessica.
“Taruhan? Taruhan apa?” Tanya Rara penasaran.
“Emm-“ Jessica terdiam sesaat. Haruskah ia menceritakan semuanya. “Hanya taruhan mengenai kepemilikan rumah.”
“Ah begitu. Licik juga, pantas saja dia langsung terima projek ini, ternyata ada maksud tertentu. Lu gak boleh sampai kalah, Jess,” ucap Rara dan Jessica hanya menjawab dengan seulas senyuman.
“Besok malam setelah selesai syuting, kita kembali ke kantor sponsor untuk mendatangi kontrak kerjasama nya,” ucap Rara.
“Oke.”
“Lu udah makan?”
“Belum,” kekehnya.
“Pantesan aja lemes gini. Ya udah gue pesenin dulu makan deh. Mau makan apa?” Tanya Rara.
“Pengen bakso aja yang pedes banget,” seru Jessica.
“Ck, mood lu lagi jelek yah. Tumben banget pengen makan makanan pedes. Pasti ini gara-gara si Jovan,” gerutu Rara seraya memesan makanan lewat online. Dan Jessica hanya tersenyum mendengar ocehan managernya yang sudah ia anggap sebagai Kakaknya sendiri.
***
Jessica dan Rara sudah sampai di gedung perusahaan tempat mereka janji bertemu dengan pihak sponsor. Saat di lobby, Rara menerima panggilan masuk.
“Apa? Ah, iya aku akan segera pulang,” ucap Rara penuh kegelisahan.
“Kenapa? Apa ada masalah terjadi?” Tanya Jessica melihat wajah Rara yang seakan mau menangis.
“Marlin, Marlin demam dan sedang di bawa menuju rumah sakit karena demam tinggi,” seru Rara sangat khawatir pada putra keduanya yang berusia 3 tahun.
“Ya sudah tunggu apalagi, cepat pergi sekarang,” seru Jessica.
“Tapi lu?”
“Udah gak apa-apa. Cuma tanda tangan kontrak saja kan?” seru Jessica yang di angguki Rara.
“Ya sudah pulang saja, minta mang Rohmat buat anterin,” seru Jessica.
“Lalu gimana nanti lu pulangnya?”
“Udah santai aja. Gue bisa pulang sendiri. Udah jangan banyak mikir lagi, sana pergi,” seru Jessica dan Rara pun beranjak pergi meninggalkan Jessica seorang diri.
---
Akhirnya selesai juga menandatangani kontrak. Jessica memasuki lift bersama dengan Jovan dan Manda. Ia melihat jam yang ada di handphone nya dimana sudah menunjukkan pukul 10 malam, lumayan lama juga mereka di dalam karena mendengar penjelasan dari pihak sponsor.
“Van, lu bawa mobil sendiri kan yah. Gue di jemput sama suami gue,” seru Manda.
“Ehm, suami lu udah ada di lobby?”
“Udah.”
Ting
Pintu lift terbuka dan Manda bergegas keluar lebih dulu.
“Gue duluan yah. Bye Van, Bye Jess.”
“Iya hati-hati Kak,” seru Jessica.
Kini hanya tinggal Jessica dan Jovan dimana mereka berjalan bersama dengan Jessica berjalan 1 meter di depan Jovan.
Jovan berbelok ke arah parkiran saat mereka sampai di lobby. Jessica hanya meliriknya sekilas dan mengeluarkan handphone nya. Sebenarnya ini pertama kalinya ia memesan taxi online, sudah lama ia selalu di antar jemput pihak agensi. Jessica baru saja melakukan pendaftaran akun dengan nama palsu ke aplikasi itu. Responnya cukup lambat membuat Jessica harus berdiri di sana cukup lama.
Jovan yang saat itu baru keluar dari area parkir melihat keberadaan Jessica yang masih berdiri di depan pintu. Awalnya ia tidak perduli dan melajukan mobilnya melewati Jessica, Jovan juga sadar Jessica melihat ke arah mobilnya yang melaju melewatinya. Baru beberapa meter keluar dari area kantor itu, Jovan menghentikan mobilnya. Ia pun menghela nafasnya dan memutar balik mobilnya. Mobil Jovan kembali masuk ke area kantor dan berhenti di depan Jessica membuat Jessica melihat bingung ke arahnya. Jovan tampak menurunkan kaca mobilnya.
“Cepat naik!”
“Gak usah. Gue mau pesan taxi online,” jawab Jessica.
“Jangan kepedean dulu. Gue baik karena kita partner kerja. Lu juga artis yang sekarang lagi viral. Lu gak takut terjadi sesuatu kalau pesan taxi online?”
Jessica terdiam seakan menimang ucapan Jovan.
“Cepat naik! Gue gak ada waktu nungguin pemikiran bodoh lu!”
Jessica pun akhirnya mengalah dan menaiki mobil sport milik Jovan.
“Pakai sabuk pengaman.”
Jessica pun memakai sabuk pengamannya, dan Jovan langsung tancap gas meninggalkan lokasi itu.
“Masukin alamat rumah lu kesana,” ucap Jovan yang menunjuk dengan matanya ke arah layar kecil yang menempel di dashboard mobil. Tanpa kata Jessica pun menuliskan alamatnya di sana.
Suasana di dalam mobil begitu canggung dan sepi, Jovan memilih memutar radio. Sialnya radio itu memutar lagu lawas diiringi dengan sebuah kata-kata cinta yang menyentuh. Baik Jovan dan Jessica menjadi semakin tidak nyaman, mereka sama-sama memandang keluar jendela saat sebuah lagu di putar dan itu lagu yang dulu pernah mereka bawakan bersama.
‘Sial! Kenapa harus memutar lagu ini sih!’ batin Jovan.
Jessica hampir menitikkan air matanya, tetapi sekuat tenaga ia tahan supaya Jovan tak menyadarinya.
Tak butuh waktu lama, mobil Jovan berhenti di depan lobby apartement tempat Jessica tinggal.
“Thank,” seru Jessica menuruni mobil dan beranjak pergi tanpa menoleh ke arah Jovan lagi.
Jovan membuka kancing kemejanya di bagian atas karena sejak tadi ia sudah begitu sesak. Suasana canggung yang membuatnya sesak, benar-benar membuat Jovan membencinya.
***