Perselisihan

1311 Words
Satu bulan berlalu…. Sinetron yang di bintangi Jovan dan Jessica menjadi viral dan tranding. Ratingnya pun menjadi sinetron nomor 1 di Indonesia. Banyak yang suka dan menjodoh-jodohkan Jessica dan Jovan apalagi mereka sama-sama single. “Gila Follower gue nambah jutaan,” seru Jovan melihat layar handphone nya seraya rebahan di jok mobilnya. Saat ini ia tengah break syuting. Waktunya sekarang cukup padat karena harus syuting kejar tayang setiap hari. “Chemistry lu sama Jessica tuh dapet banget dan cocok, makanya mampu menyihir masyarakat Indonesia,” seru Rudi yang merupakan asistennya juga. “Berhenti bilang gitu. Chemistry apanya, gak liat apa tiap abis syuting kita berantem terus,” gerutu Jovan. “Ya, itu lumayan hiburan buat para kru di sini,” kekeh Rudi. “Ck, lu pikir gue wayang apa,” gerutu Jovan kembali fokus memainkan handphone nya. Pandangan Jovan tertuju pada seseorang yang berjalan di depannya, tak jauh dari posisi mobilnya terparkir. Terlihat Jessica tengah memungut seekor kucing kecil. “Meong kenapa kamu kurus sekali,” seru Jessica mengusap kepala kucing kecil itu. “Arini, tolong ambilin ikan di kotak makanku dong.” “Iya kak Jess.” “Kamu pasti kelaparan yah, uhh kasian sekali kamu,” seru Jessica. Dan Jovan sejak tadi memperhatikannya, walau tangannya memegang handphone tetapi pandangannya tertuju pada sosok Jessica di depannya. “Kak, ini ikannya. Nanti Kak Jess makan siang sama apa dong,” seru Arini. “Gak apa-apa, aku sih gampang,” ucap Jessica memberikan ikan itu ke kucing. “Ayo makan yang banyak.” Jessica berjongkok seraya memperhatikan kucing yang tengah memakan ikan itu dengan lahap. Jessica tersenyum memperhatikan kucing itu. Ingatan Jovan melalang buana ke beberapa tahun yang lalu. Jovan baru saja pulang sekolah. Ia mengendarai moge miliknya. Saat di perjalanan tak jauh dari sekolah, ia melihat sosok Jessica yang tengah merunduk ke arah gorong-gorong jalan. Karena penasaran, Jovan pun meminggirkan motornya dan ia menuruni motor seraya melepaskan helm full face merah yang di gunakannya. “Hei Jess, lu lagi apa?” Tanya Jovan membuat Jessica menengadahkan kepalanya dan terlihat pipi dan hidungnya kotor terkena debu. “Ah Jovan,” seru Jessica beranjak dari posisinya. “Itu kucing kejebak di gorong-gorong, kasian banget. Aku gak bisa ngambilnya, terlalu dalam gorong-gorongnya. Takutnya kalau hujan air akan penuh di sana dan kucing itu bisa ternggelam,” seru Jessica menjelaskan dengan wajah sedih juga penuh kekhawatiran. “Biar aku coba ambil,” seru Jovan. Jessica member ruang untuk Jovan. Jovan melepaskan jaket motornya begitu juga tasnya. Ia pun masuk ke dalam gorong-gorong, dan mengambil anak kucing itu. “Ini,” seru Jovan memberikan anak kucing itu, yang langsung di ambil oleh Jessica. “Akhirnya kamu bisa keluar juga.” Jovan keluar dari gorong-gorong dan terlihat seragam putihnya tampak kotor. Kini mereka berdua sama-sama berdiri berhadapan dengan Jessica menggendong kucing. “Seragam kamu jadi kotor,” ucap Jessica. “Gak masalah,” jawab Jovan. “Kamu berniat merawat kucing itu?” Tanya Jovan. “Sepertinya iya, kasian kucing ini masih kecil mana kurus begini. Ini berkat kamu, kucing ini jadi tertolong. Makasih yah Van,” ucap Jessica tersenyum lebar. “Sama-sama,” jawab Jovan membalas senyuman Jessica. “Kamu mau pulang?” “Iya.” “Jalan kaki?” “Eh itu, aku akan naik bus nanti di halte bus,” seru Jessica. “Halte bus kan jauh dari sini. Kamu jalan kaki dari halte bus ke sekolah?” Tanya Jovan. “Iya. Tapi aku udah biasa kok,” ucap Jessica. “Ayo naik motor bareng aku. Aku akan antar kamu pulang,” seru Jovan. “Gak usah Van. Aku naik bus aja, lagipula halte bus sudah gak jauh dari sini,” ucap Jessica. “Tetep aja. Kamu mau naik bus dalam kondisi kotor begitu dan membawa kucing kotor juga,” seru Jovan membuat Jessica menyadari kondisinya saat ini. “Tenang aja, aku gak akan culik kamu kok. Aku siap jadi ojekmu hari ini,” gurau Jovan membuat Jessica tersenyum. “Oke.” Kenangannya bersama Jessica kembali menari-nari di kepala Jovan, layaknya cuplikan film yang sedang di putar. “Kau masih punya hati nurani pada kucing, tapi pada hati manusia, kau benar-benar sangat kejam, Kerdil!” gerutu Jovan menjadi sangat kesal beranjak menuruni mobil dan membanting keras pintu mobil membuat Rudi kaget begitu juga Jessica dan Arini yang melihat ke arah Jovan yang acuh berjalan meninggalkan tempat itu. *** “Oke, sekarang adegan di kolam renang. Jessica di dorong ke kolam oleh Shasa dan Jovan datang menyelamatkannya. Nanti Shasa marah pada Jovan karena malah menolong Jessica,” jelas sutradara. Ketiganya sudah berada di posisi masing-masing. “Oke siap, action!” “Dasar w************n! Kamu sengaja kan menggoda tunanganku!” seru Shasa berakting menjadi jahat. “Aku dan Keenan hanya berteman!” seru Jessica. “Bohong! Kamu sengaja menempel terus dengannya, padahal kamu tau dia tunangan temanmu!” amuk Shasa mendorong tubuh Jessica hingga jatuh ke kolam renang dengan kedalaman 2 meter. Jessica berpura-pura tenggelam tetapi sialnya kakinya mendadak kram dan sulit di gerakan. Jessica tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya semakin tenggelam. Byur “Cut! Jovan belum waktunya masuk!” teriak Sutradara tetapi Jovan tidak perduli. Ia tau Jessica tidak baik-baik saja. Samar-samar Jessica melihat Jovan berenang mendekati ke arahnya. Ia hampir kehilangan kesadarannya tetapi Jovan berhasil menarik tangannya dan menarik Jessica ke dalam pelukannya. Jovan membawa Jessica ke pinggir kolam dengan Jessica memeluk leher Jovan. “Jessica?” seru Rara melihat Jessica pucat dan hampir kehilangan kesadarannya. Jovan mengangkat tubuh Jessica dan merebahkannya ke pinggir kolam. “Dia hampir tenggelam, apa kalian tidak lihat!” bentak Jovan merasa kesal membuat semuanya merasa bersalah dan mengelilingi tubuh Jessica. Ahli medis segera melakukan pemeriksaan pada Jessica dimana kepalanya di rebahkan di paha Rara. Jovan keluar dari air dan naik ke daratan. Sebelum beranjak pergi ia sempat melirik ke arah Jessica yang sudah sadar, dan tatapan mereka bertemu. Jovan pun berlalu pergi meninggalkan mereka. “Kamu gak apa-apa?” Tanya Bimo. “Aku baik-baik saja, Pak Sutradara. Maaf tadi kakiku kram, aku jadi tidak bisa berenang,” seru Jessica. “Minum dulu,” seru Rara memberikan botol air mineral kepada Jessica. “Ah syukurlah tadi Jovan lebih peka,” seru Bimo membuat Jessica terdiam. *** Jessica melihat Jovan tengah duduk dengan merokok, dan segelas kopi di sisinya. Dengan memberanikan diri Jessica berjalan menghampirinya. “Jovan,” panggil Jessica membuat Jovan meliriknya sedikit. “Ada apa? Kalau lu mau ngucapin makasih, gak perlu. Waktu itu hati gue lagi terketuk buat nolong. Kedepannya gue gak minat buat nolong lagi,” jawab Jovan menjawab dengan nada sinis. “Terserah. Yang jelas gue mau bilang makasih. Gimanapun jug ague punya etika dan hati nurani, gue wajib berterima kasih pada orang yang udah nolong gue,” jawab Jessica menjadi kesal mendengar tanggapan Jovan itu. “Kalau gak niat gak perlu bilang makasih.” “Gue pikir lu bisa ngehargain orang yang bilang makasih ke lu. Tapi ternyata, sudahlah. Gue udah bilang maksud gue apa,” ucap Jessica beranjak pergi. “Gue gak tau kalau lu masih punya hati nurani,” ucap Jovan menghentikan langkah Jessica. Jessica menoleh ke arahnya dan Jovan juga melihat ke arahnya. “Apa maksud lu?” “Wanita yang suka selingkuh dan nyakitin hati orang, apa benar masih punya hati nurani? Gue sih gak yakin,” ucap Jovan. “Formalitas lu buat bilang makasih udah gue terima. Selanjutnya gak perlu gunain formalitas lagi di hadapan gue! Gue gak butuh orang munafik kayak lu!” “Apa sih mau lu. Lu terus aja fitnah gue, l uterus aja nuduh gue yang buruk. Lu gak tau kebenarannya tapi asal nyimpulin sendiri,” seru Jessica sangat kesal. “Kalau begitu jelasin!” “Gak ada gunanya gue jelasin ke lu. Di mata lu gue selalu salah, jadi gue gak mau repot-repot jelasin pada orang kayak lu!” setelah mengucapkan itu, Jessica beranjak pergi dengan perasaan kesal. “Dasar cewek munafik!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD