Kenangan Masa Lalu

1237 Words
“Ah males banget kalau udah ada orientasi siswa begini. Dandanan gue jadi kek ondel-ondel begini,” keluh Jovan. “Jangan banyak mengeluh,” seru Rico yang saat itu satu SMA dengan Jovan, Abim dan Revan. “Panas, haus,” keluh Jovan. “Sumpel pake kardus,” seru Abim membuat Revan dan Rico terkekeh. “Gue masukin wajah lu ke karung ini,” seru Jovan menunjukkan tas dari karung yang ia gunakan. “Gak boleh berisik, senior merhatiin kita,” tegur Revan. Saat itu juga Jovan menangkap sosok yang begitu cantik dengan rambut diikat dua. Sosok itu tampak terkekeh seraya berbisik-bisik dengan temannya. “Anjirr, ada bidadari di sini,” seru Jovan membuat ketiga sahabat melihat ke arahnya. “Mana?” Tanya Rico dengan polosnya. “Cewek di sana. Ah lu gak boleh liat, gue udah tandain dia kalau dia harus jadi cewek gue,” seru Jovan tersenyum penuh makna. “Dasar playboy,” seru Revan. “Kadal,” ucap Abim. “Daripada lu peti mati,” timpal Jovan. “Ah wanita itu bener-bener cantik dan imut. Siapa sih dia, apa gue perlu samperin,” ucap Jovan. “Tahan dulu mas Bro. Lu mau di hukum sama Senior. Masih banyak waktu buat deketin dia, lagian udah lu tandain pan,” ucap Revan. “Okelah siap paketu,” seru Jovan yang tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok wanita itu. “Bener-bener imut,” seru Jovan menatapnya diiringi senyuman dan saat bersamaan, gadis itu menoleh dan pandangan matanya langsung bertemu dengan tatapan Jovan. Dengan tak malunya Jovan melambaikan tangannya ke arah wanita itu yang dimana ia tersenyum juga. “Kau yang angkat tangan, cepat maju ke depan,” seru senior membuat Jovan tersentak kaget. “Eh?” “Kamu mengangkat tangan kan yang berarti kamu bersedia maju ke depan untuk menghibur teman-temanmu yang lain,” ucap sang senior. “Eh, enggak Kak. Aku-“ Jovan sadar tangannya masih terangkat dan dengan cepat menurunkannya. “Jangan main-main. Cepat ke depan,” ucap Senior laki-laki dengan tegas. “Mampus,” bisik Abim menyeringai. “Sialan!” Jovan pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke depan. Ia masih dapat melihat kalau wanita itu juga masih melihatnya. “Kamu mau apa?” Tanya senior. “Saya mau nyanyi saja. Boleh pinjem gitarnya,” ucap Jovan dan mereka pun memberikan sebuah gitar pada Jovan. Jovan duduk di kursi yang di sediakan dan mulai memetik senar gitarnya. Jovan bernyanyi di sana dengan suara merdunya membuat para penonton bertepuk tangan padanya. Jovan dapat melihat wanita itu tengah menatapnya diiringi senyumannya yang terlihat begitu imut. Di pandangi seperti itu membuat Jovan benar-benar berdebar. *** Saat ini Jovan dan teman-temannya tengah melakukan perkemahan ke sebuah gunung masih dalam program orientasi siswa. Saat ini setiap 4 orang melakukan penjelajahan menaiki gunung dengan mengumpulkan bendera sesuai warna dari bola yang mereka ambil saat pemilihan awal. Jovan bersama ketiga sahabatnya berjalan mendaki gunung seraya melihat sekeliling mencari keberadaan bendera biru milik mereka. Sampai mereka melihat sosok yang mereka kenali tengah menaiki sebuah pohon. “Eh itu cewek yang lu tandain itu kan,” seru Rico membuat Jovan melihat ke arah yang di tunjuk Rico. “Oh bener. Dia ngapain manjat-manjat pohon sih,” seru Jovan. “Ambil bendera,” jawab Abim. “Eh itu batang yang dia injak, kayaknya udah mau patah,” seru Revan. “Ah!” baru saja Revan selesai bicara, benar saja batang kecil yang diinjak wanita itu patah dan membuat wanita itu bergelantungan di atas pohon dengan posisinya sekitar 2 meter ke tanah. “Tolong!” seru wanita itu. “Bagaimana ini,” seru para teman-temannya. “Cepat lepasin. Gue angkat tangkap lu,” teriak Jovan. “Gak mau gak mau. Takut gak ke tangkap,” jawab wanita itu. “Lu liat mata gue, lu harus percaya sama gue. Gue akan tangkap lu,” seru Jovan. Wanita itu melihat ke arah Jovan dan malah menggelengkan kepalanya. “Dari muka lu gak bisa di percaya.” Mendengar itu ketiga sahabatnya terkekeh mentertawakan Jovan. “Astaga, lu mau sampai kering gelangtungan di sana. Cepetan lepasin pegangan lu,” seru Jovan. “Ah bodo amatlah. Tangan gue udah kesemutan.” Wanita itu melepaskan pegangannya dan ia terjatuh menimpa tubuh Jovan. “Awww,” keluhnya membuka matanya. “Ah ternyata tidak sesakit itu.” “Heh, cepat bangun dari atas tubuh gue! Sakit nih,” seru Jovan membuat wanita itu tersadar kalau ia menduduki tubuh seseorang. Dengan cepat wanita itu beranjak dari posisinya. Jovan perlahan bangun seraya mengaduh memegang pinggangnya. “Astaga pinggang gue mau patah rasanya,” seru Jovan. “Lu gak apa-apa, kan?” “Ya gue gak apa-apa. Makasih yah,” seru wanita itu. “Sekarang lu liat kan kalau gue ini bisa di percaya,” seru Jovan. “Iya,” jawab wanita itu tersenyum. “Ngomong-ngomong siapa nama lu?” Tanya Jovan. “Gue Jessica.” “Gue Jovan.” Mereka semua pun akhirnya berkenalan. --- “Sakit dodol, pelan-pelan olesinnya,” gerutu Jovan pada Rico yang membantu membalurkan salep ke pinggangnya. “Makanya jangan sok jadi pahlawan. Lu bukan superman,” seru Rico. “Lagian si Jessica badan kecil tapi beratnya minta ampun. Mirip ikan buntal,” kekeh Jovan. “Lu suka dia tapi malah ngehina,” ucap Revan. “Bukan ngehina, lebih ke perhatian,” kekeh Jovan. “Alasan.” “Heh gak ada yang butuh komentar pelit lu, peti mati.” “Tidur,” jawab Abim merebahkan tubuhnya seraya menarik relsleting selimut yang membungkus tubuhnya seperti seekor ulat. “Molor aja. Gak ada yang butuh lu,” cibir Jovan. Jovan termenung mengingat kenangan saat pertama kali mereka bertemu seraya meneguk minuman soda yang ada di tangannya. “Gimana syutingnya?” Tanya Rico. Saat ini Jovan tengah berada di rumah Rico. “Lancar,” jawab Jovan. “Kenapa lu? Keliatannya lagi bad mood banget,” seru Rico mengambil duduk di kursi minibar di samping Jovan. “Gue benci beradu acting sama ikan buntal itu,” ucap Jovan. “Kenapa? Karena itu berhasil membangkitkan lagi perasaan yang lu kubur selama ini,” ucap Rico. “Gue udah gak ada perasaan apapun padanya. Gue benci karena harus berhubungan lagi sama wanita itu,” dusta Jovan. “Lu bilang benci tapi lu sering menonton chanelnya,” seru Rico. “Wanita itu gak pantes dapet perhatian dari gue,” seru Jovan meneguk habis minumannya. Rico hanya bisa diam membisu, ia tidak bisa memberikan saran apa-apa pada sahabatnya ini, karena ia juga tidak memahami bagaimana cinta itu sebenarnya. “Gue nonton sinetronnya. Udah mulai di tayangin dan cukup banyak peminatnya juga, termasuk karyawan di rumah sakit, para perawat dan suster pada heboh nonton sinetronnya padahal masih episode awal,” ucap Rico. “Naskah sinetronnya memang bagus, hanya saja pemeran utama wanitanya gak banget,” jawab Jovan. “Tapi aku lihat aktingnya bagus. Lagipula dia menang kompetisi untuk memerankan peran wanita utama ini. Sudah jelas kemampuannya di atas rata-rata,” seru Rico. “Bela aja dia terusssssss,” protes Jovan membuat Rico terkekeh. “Lu pendendam banget sih. Lagian itu sudah berlalu beberapa tahun lalu. Kini kalian sebagai rekan kerja, harus professional,” ucap Rico. “Gue udah professional, hanya saja-“ Jovan tak bisa melanjutkan perkataannya. “Hanya saja apa?” “Bukan apa-apa. Gue tidur di sini yah.” Jovan beranjak dari duduknya dan berlalu pergi memasuki kamar meninggalkan Rico sendirian. “Haishh kenapa keempatnya sedang di landa masalah cinta berbarengan gini,” keluh Rico beranjak dari duduknya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD