Bab 10. Fernandes Membuat Alvin Kesal

1684 Words
Azura sudah selesai bekerja dan kini dia akan pulang setelah menjemput Alvin di tempat les renang. Alvin memang di temani oleh Kale, tetapi dia ingin Azura menjemputnya karena ingin mengajak Azura mampir di toko es krim yang baru buka. Alvin ingin kesana karena teman-temannya sudah kesana dan hanya dirinya yang belum mencoba. “Kamu mau jemput Alvin?” tanya Melvin. “Hem, katanya mau ngajak ke toko es krim yang baru buka.” “Ya udah, setelah ini aku masih ada meeting. Jangan terlalu lama di luar, setelah membeli es krim langsung pulang.” Melvin bergegas meninggalkan Azura karena dia harus segera pergi ke tempat pertemuan bersama dengan Regi saat ini. Azura hanya cuek, dia sudah terbiasa dengan tingkah Melvin yang sangat gila kerja. Azura kini memikirkan Alvin, jika tidak ada dirinya Alvin hanya akan mengikuti ayahnya kemanapun dia pergi dan kembali mendengarkan masalah bisnis yang mungkin membuat dia jengah. “Untung saja aku tetap diperbolehkan memakai mobil sendiri.” Azura mengemudikan mobil selama setengah jam dan akhirnya dia sampai di tempat les renang dan di sambut oleh Alvin dan Kale. Alvin terlihat sangat bahagia, dia tidak sabar untuk pergi membeli es krim yang sangat dia inginkan. “Om naik mobil sendiri, Alvin mau sama Ibu.” Kale mengangguk, dia mengikuti apa yang dikatakan oleh Alvin. Tuan muda walaupun umurnya sangat kecil sudah memiliki saham perusahaan Abraham yang besar, bahkan saham miliki Azura Cuma 5% dan milik Alvin sebesar 10% semuanya adalah milik Adira yang diberikan kepada mereka. “Bos kecil memang beda, dia sangat santuy, tidur aja tetap dapat cuan bos.” Kale menggelengkan kepalanya, sampai sekarang dia masih tidak terlalu terbiasa dengan kehidupan keluarga Abraham yang sangat kaya raya, dia juga diperlakukan dengan baik dan gaji yang sepadan dengan semua pekerjaan yang dia lakukan, tetapi melihat kehidupan seperti ini dia merasa ikut bersyukur karena tuan muda yang dia jaga sudah tumbuh besar dan sangatlah pintar. “Aku ikut senang, kamu bisa bertemu dengan ibumu lagi.” *** “Ibu, aku ingin ini.” Alvin menunjuk menu terbaru dan dia tidak ingin memilih yang lain. Chaca sudah memberitahu dirinya bahwa es krim yang enak adalah yang Alvin pesan. Dia ingin mencobanya karena dia sudah tidak tahan setelah beberapa hari menahan diri karena ayahnya terlalu sibuk. “Sekalian croffle, donat dan lecy tea ya.” “Ada lagi?” tanya pelayan. “Kale, kamu ingin minum apa?” tanya Azura. “Lemon tea saja Nyonya,” ujar Kale. “Cake sekalian apakah mau?” tawar Azura dan langsung diangguki oleh Kale. Setelah itu dia langsung membayar dan Kale membantu dirinya membawakan makanan yang sudah dia beli. Alvin benar-benar mencobanya, dia banyak bercerita tentang banyak hal dan peristiwa seru ketika les renang tadi, Alvin sangat cerewet. Azura merasa sedih, jika memang Alvin anaknya dia kehilangan lima tahun pertumbuhan anaknya yang tidak bisa dia ulang kembali. “Ibu kenapa diam?” tanya Alvin. Melvin meminta waktu untuk lebih dekat dengan Azura, dia hanya ingin membuktikan semuanya dan Melvin ingin terus tinggal di sana sampai Azura percaya, jika pada akhirnya Azura tetap ragu maka Melvin dan anaknya harus pergi dari rumah Azura. “Ibu mendengarkan cerita kamu, lanjutkan saja. Ibu senang mendengarkannya,” ujar Azura. Ketika asik berbicara kini seseorang yang Azura kenal menghampiri mereka, dia bahkan langsung duduk di samping Azura dan membuat Alvin merasa kesal. Lelaki itu ingin merebut ibunya dan Alvin tidak akan membiarkan hal itu terjadi. “Loh dari mana?” tanya Azura. “Dari pulang kerja terus pengen beli makanan disini,” ujar Fernandes. “Om katanya beli makanan, tapi kok duduk di samping ibuku?” tanya Alvin dengan ekspresi marahnya yang terlihat imut. “Okey anak kecil, aku beli makanannya dan ikut bergabung dengan kalian.” Alvin memalingkan mukanya, dia merasa tidak suka dengan kehadiran lelaki lain di hidup ibunya. Alvin tidak ingin ayahnya kalah saing dan membuat ibunya pergi bersama dengan lelaki lain. Alvin mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada ayahnya jika ada lelaki yang mendekati ibunya, dia meminta ayahnya untuk segera datang dan mengamankan ibunya. “Help, tanda bahaya. Ibu akan diambil orang jika ayah tidak segera datang.” *** Melvin tersenyum melihat pesan yang dikirim oleh anaknya, Alvin memang mata-mata terbaik untuk dirinya, dia bahkan sangat pintar untuk memberikan kode bahaya ketika ibunya akan diambil oleh lelaki lain. Azura saat ini semakin cantik, dia merasa khawatir jika wanita itu pergi sendirian tanpa dia atu Alvin di sisinya. “Baik, saya setuju dengan project kali ini. Surat kerjasama antar ke kantor, saya pergi dulu karena ada hal yang lebih penting.” Melvin bergegas keluar dengan smirk di bibirnya, Regi tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dia langsung mengikuti Melvin karena pasti ada hal yang dia tidak ketahui terjadi. Jika bukan karena istrinya Melvin tidak akan melakukan hal seperti ini. “Ke toko es krim tempat Alvin berada.” Regi langsung mengangguk, pemikirannya sangat tepat karena itulah dia melihat Melvin langsung bergegas setelah menerima pesan dari anaknya, pasti ada orang yang ingin mendekati Azura karena itulah Melvin segera datang dan menggagalkan apa yang akan dilakukan oleh orang tersebut. “Siapa yang datang?” tanya Melvin pada Regi. “Kale mengatakan jika Fernandes yang datang.” Melvin tersenyum sinis, sampai kapanpun dia dan Fernandes mungkin akan tetap bersaing untuk mendapatkan Azura, walaupun perjodohan sudah di hapuskan dan Azura tidak perlu lagi bertanggung jawab atas perjanjian di masa lalu yang dilakukan oleh leluhur keluarga Smith. “Keluarga Smith memang sudah menghapuskan perjanjian sesuai dengan janji mereka, tetapi keluarga Fernandes sepertinya tidak menerima hal itu, mereka tetap ingin Fernandes menikah dengan Azura.” Melvin mengangguk, memang benar apalagi Fernandes sudah jatuh cinta pada Azura. Lelaki itu pasti akan sulit melupakan Azura hingga dia datang menemui Azura di luar negeri dan sampai sini pun dia tetap ingin bertemu Azura. “Cepat Regi, bocah kecil itu sudah mengirim banyak pesan karena aku tidak segera sampai.” Melvin hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Alvin yang persis dirinya. “Tuan muda memang duplikat tuan, sama-sama tidak ingin miliknya di usik oleh orang lain.” “Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Azura di miliki oleh siapapun kecuali kami,” ujar Melvin. Regi mengangguk, selama ini pengorbanan yang dilakukan oleh Melvin sangatlah besar. Walaupun dia tidak bisa bertemu, Melvin selalu saja menyempatkan waktu untuk melihat Azura walau dari ke jauhan, dia sudah sangat sabar dan menunggu saat ini datang, Melvin tidak akan membiarkan apa yang sudah dia perjuangkan lepas begitu saja. “Baiklah, kita mulai pertarungan yang sesungguhnya.” *** “Aku bilang jangan dekati ibuku!” Alvin marah karena Fernandes kini kembali duduk di samping Azura, anak kecil ini mukanya merah karena kesal dengan Fernandes. Alvin sudah menunggu kepulangan Azura sejak lama, dia tidak akan membiarkan orang lain membawa ibunya pergi lagi. “Anakmu? Bukankah kamu belum menikah?” tanya Fernandes. “Ibu! Duduk sini, Alvin tidak suka ibu dekat dengan om itu!” Alvin sangat jujur dan mengatakan segalanya dengan lugas, dia tidak suka dengan lelaki yang kini duduk di samping Fernandes. “Jangan mengatakan hal itu, anakku akan marah mendengarnya.” “Kamu sudah mengingat semuanya?” tanya Fernandes. “Tidak, aku hanya melihat bukti itu dan kini aku masih ragu tentang apa yang harus aku percayai,” ujar Azura. “Pikirkan baik-baik Azura. Apa yang kamu yakini belum tentu hal yang terbaik,” ujar Fernandes. Azura kini pindah duduk di samping Alvin, dia benar-benar tidak tega melihat Alvin marah dengan wajahnya yang merah menahan amarah. Alvin persis seperti Melvin, dia tidak bisa melihat orang yang dia miliki didekati oleh orang lain. “Alvin sudah bilang ya Om, Ibu itu udah punya anak jadi tidak ada kesempatan buat om kalau mau deketin Ibu!” Alvin menyilangkan tangannya dengan sombong, anak ini memang persis seperti Melvin, dia tidak takut sama sekali padahal ini pertama kalinya Alvin bertemu dengan Fernandes. Anak ini terlalu berani dan siap pasang badan jika ada orang lain yang ingin mendekati Azura. “Masih kecil tapi sudah sangat lancar berbicara, jika bukan anaknya Melvin siapa lagi?” Fernandes seperti melihat Melvin versi kecil. “Iyalah, kenapa Om sewot? Iri ya? Apalagi Ayah punya istri cantik kayak Ibu.” Alvin mengecup pipi Azura dan membuat Fernandes tertawa, anak ini kelakuannya persis seperti bapaknya, sebentar lagi Melvin pasti akan sampai karena Fernandes tahu permainan Melvin seperti apa, lelaki posessif ini sama seperti anaknya yang bahkan tidak mengijinkan orang lain untuk duduk di samping ibunya. “Alvin, kamu sangat lucu.” “Makanya Om nikah biar punya anak lucu kayak aku. Alvin udah mau punya adik loh, Om pasti iri,” ujar Alvin. Azura menggelengkan kepalanya, ketika Fernandes mengira Azura sedang hamil. Anak itu mulutnya memang tidak ada filternya, dia terus mengatakan segala hal yang membuat Azura merasa malu, dia hanya tidak siap jika orang lain tahu hubungannya dengan Melvin yang sangat rumit. “Aku masih membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya, banyak hal yang aku lewatkan dan aku ingin memperbaikinya sedikit demi sedikit. Aku masih ragu dengan hal itu,” ujar Azura. “Aku mendukungmu, jika butuh bantuan hubungi saja aku.” “Buat apa istriku menghubungimu? Jika dia butuh bantuan dia pasti akan menghubungi aku.” Melvin langsung duduk di samping Fernandes, dia datang tepat waktu dan membuat Alvin tersenyum lebar karena musuh akan mati kutu jika sudah berhadapan dengan ayahnya. Ibunya juga takut jika ayahnya datang dan melihat lelaki lain mulai mendekatinya. “Jadi gimana sayang? Menghubungiku atau menghubungi temanmu?” tanya Melvin. “Menghubungi orang tuaku.” Fernandes menahan tawa mendengar perkataan dari Azura, mereka memang sangat lucu dan langka, walaupun hubungan mereka kurang baik, tetap saja Melvin ingin tetap hidup satu rumah dengan Azura, bahkan lelaki itu juga pasti menggunakan anaknya untuk membuat Azura bertahan dan menyetujui semua rencana yang sudah dia lakukan. “Ibu, jangan begitu. Ibu juga harus seperti Alvin, kalau ada masalah langsung menghubungi Ayah, inget apa yang Alvin katakana Bu.” Melvin mengacungkan jempol untuk anaknya, dia lalu menatap Azura dengan tajam, mata lelaki ini membuat Azura merasa takut, dia merasa tidak aman ketika pulang nanti, terlebih saat ini Melvin terlihat menahan amarahnya karena kehadiran Fernandes. “Anaknya saja mengerti masa ibunya tidak? Apakah kurang jatahnya sayang?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD