Bab 9. Azura Membuat Melvin Frustasi

1698 Words
Setelah malam itu kini suasana rumah terasa canggung, Azura menghindari Melvin dan hal itu membuat lelaki ini sangat frustasi, Melvin tidak suka Azura mengabaikannya seperti sekarang. Dia lebih suka jika Azura memakinya dan membuatnya kesal dibandingkan dia tidak dianggap keberadaannya ada. “Alvin, Ibu kenapa ngambek sama Ayah?” “Ayah, bikin adiknya gagal tah? Kenapa Ibu ngambek?” tanya Alvin balik. Anaknya ini memang benar-benar pintar, dia tahu jika pasti ada alasan di balik sikap ibunya yang berubah. Alvin tidak ingin ikut campur, tetapi dia juga tidak ingin ibunya berubah dan pada akhirnya meninggalkan dirinya dengan ayahnya. Alvin takut ibunya akan mengusir ketika dia dan ayahnya kembali berulah, Alvin masih ingin bersama dengan ibunya dan menikmati semua masa indah bersamanya. “Alvin bantu, Ayah tenang aja.” “Good job, Vin.” Melvin kini tinggal menunggu apa yang akan dilakukan oleh anaknya untuk membantu dirinya mengatasi rasa canggung ini, Melvin hanya ingin lebih dekat dengan Azura, tetapi hasilnya malah berbanding terbalik karena Azura menghindarinya. Melvin tidak akan melakukannya jika pada akhirnya Azura terus menghindar. “Ibu, perut ayah sakit.” Melvin terkejut dengan ucapan anaknya, dia pikir Alvin akan memberikan cara yang lebih bagus agar Azura kasihan padanya, tetapi lagi-lagi memberikan alasan bahwa Melvin sedang sakit perut lagi. Azura lalu mengambilkan obat untuk Melvin dengan perantara Alvin yang memberikannya. “Ibu, Alvin sedang mengerjakan tugas. Ibu tolong urus Ayah, kasihan.” Azura menghela nafasnya, mau tidak mau dia mendatangi Melvin dan memberikan obatnya. Walaupun Melvin menahan malu, setidaknya kini Azura datang dan kembali memperhatikan dirinya lagi. Azura raut wajahnya terlihat masam, dia terpaksa melakukan hal ini, tetapi Melvin akan berusaha dengan baik untuk meminta maaf atas kesalahan yang sudah dia perbuat beberapa waktu lalu. “Masih marah?” Melvin menahan tangan Azura yang ingin meninggalkannya. “Lepasin!” Azura hanya tidak ingin Melvin mengambil kesempatan seperti itu, Azura sangat bingung karena kehilangan ingatannya, tidak ada yang bisa dia percayai dan kini kedatangan Melvin yang terus memaksanya semakin membuat Azura merasa tidak yakin, bahkan Fernandes yang dia kenal lebih dulu tidak pernah melakukan hal buruk kepadanya. “Azura, apakah kamu tidak mempercayaiku?” Melvin mulai menatap Azura dengan dalam mau tidak mau kini Azura duduk di samping Melvin dan berbicara. “Aku bingung, aku benar-benar tidak bisa mengingat apapun walau sekuat apapun aku berusaha.” Azura hanya butuh waktu. “Jangan abaikan aku, aku tidak suka kamu seperti itu.” Melvin tidak sanggup terus memanggil Azura dengan sebutan ‘Kau’ dia tidak ingin terlalu asing dengan istrinya hingga pada akhirnya setelah mereka di rumah ini, Melvin terus menggunakan kata ‘kamu’ dalam memanggil istrinya. Azura kini melihat Melvin yang mengeluarkan sesuatu di kantung jaketnya, buku nikah milik Melvin dan Azura. Jujur saja selama bertahun-tahun Azura tidak melihatnya dan ini pertama kali dia menyentuh buku nikah yang dia cari. “Kenapa aku baru melihatnya?” tanya Azura. “Dulu ketika kamu pertama kali sadar aku berada di sampingmu, kamu sedang tidak stabil dan tidak ingin menemui siapapun, bahkan kamu menolak kedua orang tuamu dan tidak percaya jika mereka adalah orang tua kandungmu. Kamu juga mengusir dan menolakku, kamu tidak percaya jika kamu sudah menikah, tiap kali aku mengingatkan dan bertemu denganmu kamu selalu pingsan dan kondisimu belum sekuat sekarang, aku hanya menunggu waktu sembari membesarkan Alvin, Ra. Kami benar-benar menunggumu selama ini,” ucap Melvin. “Entah kenapa walaupun aku sudah melihat semua ini hatiku terasa ragu?” tanya Azura berkaca-kaca “Azura, kamu bisa menanyakan semuanya padaku, aku suamimu, sayang.” “Tolong jangan paksa aku, selama lima tahun aku menjalani hidup tanpa seorang suami, kini jika tiba-tiba kamu menuntut hak mu, apakah kamu tidak merasa egois? Aku bahkan belum mempercayaimu, aku melakukan semua ini karena menuruti permintaanmu tentang merawat Alvin sampai sembuh dan kamu mengingkarinya.” Azura mengungkapkan semuanya, Melvin merasa sedih karena dia juga bersalah dengan segala hal yang terjadi. “Melvin, bisakah kamu memberikan aku waktu?” tanya Azura. “Tapi jangan abaikan aku.” Melvin memohon. Azura mengangguk, dia hanya membutuhkan waktu untuk memikirkan semua yang terjadi. Azura kehilangan seluruh ingatannya. Azura hanya ingin tahu kebenaran di balik semua peristiwa yang terjadi lima tahun lalu, kenapa harus dia yang menjadi korban? Kenapa semua terjadi padanya? Azura selalu bertanya-tanya dan tidak pernah mendapatkan jawabannya. “Melvin, apa hubunganku dengan Fernandes? Kenapa kamu sangat membencinya?” tanya Azura pada Melvin. “Aku tidak akan memberitahumu, satu hal yang pasti sejak dulu dan sekarang dia selalu ingin merebutmu dariku,” ucap Melvin. Azura cemberut, dia kesal dan mencubit perut Melvin dengan keras, lelaki itu bahkan berteriak kesakitan karena Azura terlalu bar-bar dalam menyiksanya. Melvin membuka kaosnya dan memperlihatkan bekas cubitan Azura yang membuat perut Melvin menjadi merah. “Sakit, lihatlah jadi merah.” “Hu gitu aja ngeluh!” Azura mengusap perut Melvin dengan perlahan lalu menutup kembali kaos milik lelaki itu dan mengatakan rasa sakitnya sudah hilang karena sudah dia obati dengan sentuhannya. “Kalau sebentar mana ilang sakitnya?” Azura memukul pelan lengan Melvin, dia tahu jika lelaki itu pasti sedang mencari kesempatan dalam kesempitan, Azura sudah pintar dan dia tidak akan terjebak oleh Melvin. Azura akan menyelidiki semuanya hingga dia tahu apa yang terjadi dan bagaimana bisa dia mengalami hal kejadian itu. Walaupun Melvin suaminya dia tidak mengingat bagaimana Melvin memperlakukannya di masa lalu, bisa saja lelaki itu membuat dirinya hidup sengsara hingga terluka dan amnesia. “Jangan mikir yang aneh-aneh.” Azura berbicara dalam hati, tetapi Melvin mengatakan semua hal itu seakan-akan dia tahu apa yang sedang di bicarakan oleh Azura di dalam hatinya. Azura kini menjauh dari Melvin, dia takut jika Melvin sebenarnya adalah cenayang yang mampu membaca pikirannya. “Aku tidak bisa membaca pikiran, tetapi melihat ekspresimu saja aku sudah tahu apa yang kamu pikirkan!” Melvin berkali-kali mengatakannya pada Azura, tetapi wanita itu masih saja terkejut dengan ucapannya. “Dulu aja sok dingin, panggil kau-kau tapi sekarang berubah kamu? Cielah apakah ini tujuan mu sejak awal tuan?” Azura menggoda Melvin. “Tujuan sejak awalku adalah membuat adik untuk Alvin, apakah kamu melupakannya?” Melvin mencuri ciuman di ujung bibir Azura. “Ayah! Jangan berciuman di depan anak kecil! Sana ke kamar!” teriak Alvin pada ayahnya. Azura hanya bisa menutup wajahnya karena malu, Melvin memang sangat keterlaluan sudah membuatnya malu di depan anaknya sendiri seperti ini. Seharusnya Melvin tahu tempat, anaknya sangat pintar dan tidak mudah di bohongi, bagaimana bisa dia menjelaskan hal ini nantinya? “Melvin!!!” Azura berteriak karena malu terpergok oleh Alvin. Azura berlari menuju kamarnya dan diikuti oleh Melvin, lelaki itu mengacungkan jempolnya untuk Alvin karena anak itu berhasil melakukan misi untuk membuat kedua orang tuanya kembali baikan. Alvin juga senang kedua orang tuanya akrab, dengan begitu dia juga bisa segera mendapatkan adik, sama seperti yang di miliki oleh Reno di dalam perut ibunya. “Ayah buatkan adik dulu, Vin. Jangan ganggu dulu,” teriak Melvin. “Jangan dengarkan ayahmu, Vin.” Teriak Azura sebagai balasan. Alvin hanya menggelengkan kepalanya, kedua orang tuanya membuat Alvin dewasa sebelum waktunya. Alvin senang sekali, setidaknya ayah dan ibunya tidak marahan dan tidak saling diam seperti dua hari ini, Alvin bahkan sangat bingung ingin melakukan apa karena mereka membuat Alvin sungkan. “Buatkan dedek yang lucu ya, Yah.” *** “Kamu kenapa sih ngomong gitu? Alvin masih kecil.” Melvin memeluk Azura, dia menciumi leher Azura yang terbebas dari rambut panjang karena saat ini Azura mencepol rambutnya ke atas, tindakan Melvin membuat Azura risih, tetapi lelaki itu terus saja melakukan hal itu tanpa mempedulikan penolakan yang dikatakan oleh Azura. “Kamu tahu nggak asal usul nama Alvin?” tanya Melvin. Azura menggelengkan kepalanya dia tidak tahu dari mana asal usul nama Alvin, dia juga tidak mengingat apapun di masa lalu, semuanya terasa sangat gelap tanpa ada hal yang bisa dia ketahui walaupun dia berusaha dengan sangat keras untuk mengingatnya. “Sebelum operasi kamu bilang sama Mas, kamu minta buat Alvin di selamatkan apapun kondisimu saat itu. Kamu hanya mengatakan jika kamu ingin memberi nama anak ini Alvin, singkatan nama kita berdua.” Azura membalikkan tubuhnya, dia tidak tahu jika dulu kondisinya sangatlah parah hingga dia bahkan tidak berani berharap bahwa dia bisa kembali dengan selamat. Pengobatan di luar negeri memang sangat bagus, dia banyak menghabiskan uang untuk pengobatannya. “Kamu yang membiayai semuanya? Ketika aku berobat kesana?” “Ketika dokter keluarga Abraham tidak sanggup merawatmu dengan baik maka salah satu cara adalah berani berpisah agar kamu mendapatkan perawatan yang lebih baik dari pada disini,” ucap Melvin. Melvin mengecup kening Azura dengan lembut, jika mengingat lima tahun belakangan hidupnya sangat menyedihkan. Melvin tidak berani untuk membayangkannya karena mengingatnya saja sudah membuat dirinya merasa sedih. Dia merindukan istrinya, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun karena istrinya benar-benar melupakan dirinya. “Aku ingin bertemu Ibu untuk menanyakan masalah ini,” ujar Azura. “Kamu bisa meminta mereka datang kesini, semua keluarga sudah tahu akan masalah ini dan menyembunyikan semuanya demi Kesehatan kamu.” Azura duduk termenung, semuanya terasa sangat berat dan rumit karena banyak hal yang dia lupakan, Azura tahu lima tahun yang dia lewatkan bukanlah waktu yang sebentar, sampai saat ini Melvin bahkan masih menunggunya walaupun dia mendapatkan penolakan dulu. “Aku akan menelopon Ayah dan semua orang yang terlibat.” Melvin ingin menelpon mereka, tetap langsung dihentikan oleh Azura. “Jangan! Bolehkah kita memulai semuanya dengan perlahan? Jujur saja dengan keberadaanmu yang tiba-tiba datang membuatku merasa canggung, aku tahu bukti yang kamu tunjukkan padaku sangat kuat, tetapi setelah lima tahun berlalu dan aku tidak bersamamu aku merasa canggung untuk menjalani kehidupan rumah tangga ini. Aku setuju karena memang awalnya aku merasa kasihan dengan Alvin, tetapi setelah mendengar semua ini aku rasa aku perlu memikirkan semua ini.” “Azura, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kamu pergi dariku. Tidak masalah jika kamu tidak mengingatku, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku untuk kedua kalinya.” “Melvin aku masih meragukan semuanya walaupun buktinya sangat kuat, apakah kamu marah?” tanya Azura. Jika memang Fernandes mengenalnya sejak dulu, kenapa ketika mereka bertemu lelaki itu tidak pernah menceritakan semua kejadian di masa lalu kepadanya? Walaupun sudah melihatnya kini hati Azura merasa bimbang, dia ingin tahu siapa orang yang layak dia percaya sebenarnya. “Aku akan berusaha membuatmu percaya denganku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD