“Aku udah mau punya adik loh, Vin. Kamu kapan punya adik?”
Azura agak terkejut mendengar obrolan anak menyebalkan yang kini duduk di depan Alvin, setelah selesai bermain di time zone mereka memang memutuskan untuk makan bersama, tetapi hal tak terduga seperti sekarang membuat Azura merasa menyesal menyetujui keinginan Alvin untuk makan bersama temannya.
“Nanti Alvin juga punya,” ujar Alvin memakan kentang goreng miliknya.
“Reno kalau bicara yang sopan,” ujar Ayah Reno memperingatkan.
“Sudah berapa bulan, Bu?” tanya Azura.
“Baru masuk dua bulan, semoga cepat ketularan ya.” Azura tersenyum, ketularan apa? Dia sama Melvin bahkan tidak menikah jika sampai dia ketularan hamil maka hal itu akan sangat menyebalkan bukan? Harga diri Azura ternodai karena om-om m***m yang kesepian seperti Melvin.
“Tenang saja, kami akan usaha terus biar Alvin cepet punya adik.” Melvin mencium tangan Azura yang sejak tadi digenggamnya.
Alvin bersorak gembira mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, Alvin juga bisa punya adik dan dia juga bisa pamer pada Reno yang terus saja membuatnya kesal. Alvin memang seharusnya tidak berteman dengan Reno, anak itu hanya akan membuat Alvin merasa kesal karena anak itu selalu memamerkan apa yang dia miliki.
“Dengarlah, Alvin juga bisa punya adik.”
***
Azura mencubit lengan Melvin ketika mereka sedang berjalan menuju toko baju, lelaki itu sudah banyak mengambil kesempatan pada Azura. Seharusnya memang Azura tidak boleh lembek, jika terus begini maka Melvin akan terus mencari kesempatan ketika sedang bersamanya.
“Sakit tau!” Melvin mendesah kesakitan ketika Azura mencubit lengannya.
“Ngeselin banget! Kalau Alvin nagih adiknya terus gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?” tanya Azura kesal dia tidak mungkin menepati janji untuk memberikan adik pada Alvin.
“Kita bisa membuatnya, bisa di mulai nanti malam kalau siap.” Melvin memang tidak punya akhlak, dengan santainya dia mengatakan hal semacam itu pada Azura, dia hanya bersedia merawat Alvin bukan untuk menjadi istri Melvin.
“Nyebelin banget!” Azura memukul pelan lengan Melvin.
Lelaki itu merasa gemas dia langsung memeluk erat agar Azura tidak banyak tingkah, dia bahkan mencium rambut Azura karena tinggi mereka yang tidak sepadan, semua orang melihat interaksi yang sangat romantis diantara mereka, tetapi pada kenyataannya Azura dan Melvin sedang bertikai karena Melvin yang selalu mengatakan banyak hal tanpa di pikir dulu.
“Ayah, Alvin mau itu.” Alvin menunjuk mainan lego yang memperlihatkan bahwa bentuk akhir dari penyusunannya adalah sebuah kawasan tempat tinggal miliki si kucing warna biru.
“Oke, karena kamu patuh maka Ayah akan membelikan untukmu.”
Alvin bersorak bahagia dan langsung masuk ke dalam store, Azura hanya menggelengkan kepalanya karena mereka tidak sesuai rencana. Awalnya Melvin ingin membelikan baju untuk Alvin, tetapi kini mereka belok ke toko mainan.
“Kamu tidak pusing merangkainya? Ini kecil-kecil banget.” Azura yang melihatnya saja sudah merasa tidak bernafsu untuk merangkainya.
“Bu, Alvin udah biasa. Lagi pula di rumah Alvin udah nyusun banyak istana dari lego seperti ini.”
Azura hanya menghela nafasnya, dia lupa jika Alvin adalah anak cerdas, masalah seperti itu akan mudah dia selesaikan dengan sangat baik. Tinggal beberapa hari dengan Alvin, dia mulai paham jika sejak dini Melvin sudah menerapkan kedisiplinan yang tinggi untuk anaknya. Walaupun masih Tk dia sudah ikut banyak les dan dia juga selalu melakukan aktivitas lain seperti olahrga dan bermain musik, awalnya Azura kira Melvin yang memaksa, tetapi dia salah karena pada kenyataanya Alvin yang meminta melakukan semua itu agar dia tidak merasa bosan ketika ayahnya pergi bekerja.
“Alvin katanya mau beli baju renang, nggak jadi tah?” tanya Azura.
“Bentar, Bu. Mumpung Ayah sedang baik hati aku ingin memilih 3 lego terbaru.”
Azura melihat harga yang tertera di setiap permainan yang diinginkan oleh Alvin, susunan lego seperti ini sangatlah mahal satu box bahkan berjuta-juta dan Melvin tidak sayang mengeluarkan uangnya, dia hanya mengatakan jika permainan ini mengasah otak Alvin agar berpikir lebih luas, jika dia tidak bisa menyusunnya maka dia akan mencari cara lain agar bisa menyelesaikannya sampai akhir.
“Dua juga udah cukup, Vin.” Azura merasa sayang dengan uang karena dua lego saja sudah hampir empat juta.
“Biarlah, sudah lama dia tidak membeli mainan.”
Azura mencubit pinggang Melvin yang keras, lelaki ini juga sama saja dia tidak memarahi anaknya yang terlalu boros karena membeli mainan dan habis berjuta-juta seperti ini. Azura walaupun sudah bekerja saja dia tidak pernah memiliki pemikiran untuk membeli barang branded, hidup mereka memang sangat berbeda, Azura agak syok dengan perbedaan keduanya.
“Alvin, kalau renang. Ibu ikut dong,” ujar Azura.
“Mau ngapain?” Melvin menatap Azura tajam.
Mana mungkin Melvin membiarkan orang lain menatap tubuh cantik Azura begitu saja? Dia lebih baik mengurung Azura di kamar dibandingkan dia harus membiarkan orang lain menikmati kecantikan yang hanya boleh dia miliki. Melvin sudah bersusah payah menjauhkan Fernandes dengan Azura selama dua hari dia tidak akan membiarkan lelaki itu kembali datang dan menganggu Azura lagi.
“Matamu loh, minta di colok!” ujar Azura kaget ketika Melvin menatapnya.
“Lagian kamu mau renang, ngapain coba renang di tempat les? Mau tebar pesona?” Melvin terlihat sangat kesal dengan Azura.
“Bebas dong tebar pesona, lagian juga single.” Bisik Azura di telinga Melvin.
Melvin naik pitam mendengar apa yang dikatakan oleh Azura, jika begini dia akan memaksa Azura untuk menerimanya. Azura pikir dia bisa terus semena-mena seperti ini? Melvin juga bisa melakukan hal lain agar tidak membuat Azura terus memberontak kepadanya seperti ini.
“Tunggu saja pembalasan di rumah, jika kamu terus melakukan hal itu maka adik Alvin akan segera hadir di tengah-tengah kita.” Melvin mengancam Azura.
Azura menjulurkan lidahnya lalu mengikuti Alvin yang sudah berjalan ke kasir dengan di temani oleh pelayan yang membawakan tiga buah mainan yang sudah di pilih oleh Alvin. Dengan perlahan Melvin menyusul dan segera membayar mainan tersebut, dia sudah sangat bete karena Azura terlalu berani kepadanya.
“Setelah ini beli pakaian renang, Ibu juga pengen deh belinya.” Azura tetap saja ngeyel dan membuat Melvin semakin geram, dia akan memberikan Pelajaran untuk istrinya yang nakal.
“Iya beli aja yang banyak, renang di rumah kita saja.”
“Itu mah maumu.” Azura bergidik ngeri karena tidak mau jika Melvin mencari kesempatan dalam kesempitan.
Alvin senang karena dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, setelah membeli pakaian renang mereka langsung pulang, Azura ingin mengulur waktu, tetapi tatapan dingin Melvin membuat Azura menciut. Azura memang sudah keterlaluan memancing amarah Melvin, tetapi bukankah Melvin yang memulainya terlebih dahulu? Jika Melvin tidak mencium dan memeluknya Azura juga tidak akan seberani itu.
“Alvin masuk ke kamar, Ayah mau bikin adik buat Alvin.”
Alvin tersenyum setelah mendengar bisikan dari ayahnya, Azura yang tidak mengetahui apapun kini hanya bisa melenggang dengan bebas menuju kamarnya. Azura pikir Alvin akan masuk ke dalam kamar miliknya, tetapi dia salah karena Alvin tidak ada di kamarnya ketika dia masuk ke sini. Azura mulai meletakkan barang belanjaan dan mulai melepas jaketnya, dia tidak melihat jika sejak tadi Melvin sudah masuk ke dalam kamar dan menguncinya dengan perlahan.
“Kamu sangat berani ya sekarang,” ujar Melvin yang kini memeluk Azura dari belakang.
Azura bahkan tidak berani bergerak karena posisi mereka yang sangat dekat, dia bertanya-tanya dalam hatinya apakah Melvin akan balas dendam sekarang? Azura bergidik ngeri membayangkan bagaimana Melvin akan bertindak. Azura hanya bercanda, tetapi Melvin meladeninya dengan nyata, sungguh Azura takut jika tiba-tiba Melvin melakukan hal yang tidak senonoh padanya.
“Em, apa yang akan kau lakukan?” cicit Azura ketakutan.
“Bukankah sudah sepakat membuat adik untuk Melvin?”
Melvin membalikkan tubuh Azura dan kini menjatuhkannya diatas ranjang empuk itu, Azura tidak bisa berkutik ketika Melvin mengurungnya dengan tubuh yang kekar dan sangat terawat. Azura kini menyalahkan otaknya karena dalam kondisi genting seperti sekarang dia masih membayangkan hal yang tida-tidak.
“Melvin, ih nggak mau!” Azura berusaha mendorong tubuh Melvin tapi gagal.
Tangan yang memberontak Melvin tahan dengan tangan miliknya, Melvin akan mencium bibir yang selalu dia rindukan. Lima tahun lebih dia menahan diri, sudah waktunya dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Apakah kamu tidak mengingat apapun? Aku suamimu dan Alvin anakmu.” Melvin menatap Azura dengan tatapan yang begitu dalam dia berharap Azura percaya dengan apa yang dia katakan.
“Kamu bohong!” marah Azura.
“Azura, lihatlah.”
Melvin melepaskan Azura dan mulai memperlihatkan koleksi foto yang dia miliki sejak awal, entah Azura akan percaya atau tidak, dia hanya ingin berusaha memperlihatkan bahwa mereka memiliki hubungan yang serius, Melvin juga tidak ingin terus menyembunyikan semua itu sejak lama.
“Kamu istriku dan mengalami amnesia karena kejadian di masa lalu,” ujar Melvin.
“Semua ini tidak benar kan? Bisa saja hanya hasil editan.” Azura tidak ingin terlalu cepat dalam menyimpulkan.
“Aku akan terus berusaha mengingatkan semua hal tentang kita, jika tidak bisa maka aku akan membuatmu jatuh cinta untuk kedua kalinya denganku. Kamu harus tahu, aku benar-benar menjaga cinta ini dan membesarkan anak kita dengan baik sembari menunggumu sembuh dari sakit.”
Melvin memeluk Azura dengan lembut, dia tahu Azura masih tidak bisa menerima semuanya. Dia masih bimbang dan tidak mempercayai semua hal yang dikatakan oleh Melvin, tetapi melihat semua kenangan dan ketika dia hamil, kini hati Azura merasa bimbang, hubungan yang selalu dia tanyakan selama ini apakah sebuah pernikahan? Dia tidak bisa mempercayai semua ini hanya karena bukti foto yang Melvin miliki.
“Aku merindukanmu sayang, sangat rindu.”
Melvin mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Azura dengan penuh kelembutan, dia bahkan menangis karena dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk meyakinkan Azura bahwa mereka adalah pasangan suami istri yang terpisah karena kejadian di masa lalu. Azura menghapus air mata Melvin, tidak ada kebohongan di matanya dan Azura merasa jika semua yang terjadi adalah kebenaran, tetapi karena lamanya waktu mereka berpisah, kini Azura merasa canggung dengan Melvin, dia belum terbiasa.
“Ehm, aku harus menanyakan hal ini pada orang tuaku, semuanya terlalu mendadak. Semua hal yang kamu katakana membuatku bingung, aku butuh waktu.” Azura tidak bisa mempercayai semuanya hanya karena tangisan Melvin.
“Aku tahu mungkin akan sulit bagimu untuk mempercayainya, apakah kamu tidak mengingat cincin ini? Dia selalu ada di jari manismu dan aku juga selalu memakainya walaupun tanpa kamu sadari.” Melvin memperlihatkan cincinnya, tetapi Azura masih tidak percaya dengan semuanya.
Melvin memperlihatkan cincin yang dia pakai, sangat serasi dengan cincin yang selalu ingin Azura pakai. Entah kenapa sedikit demi sedikit kepala Azura menjadi berat, hingga pada akhirnya dia tidak mengingat apapun karena semuanya sangat gelap, Azura kembali pingsan untuk kedua kalinya.
“Maafkan aku sayang, aku harus melakukan ini untuk membuat kamu mengingat hubungan diantara kita.”