Bab 13. Alvin Marah

1522 Words
“Ibu.” Alvin berlari menghampiri ibunya yang sudah tidak sadarkan diri, Alvin menangis meminta tolong agar Azura segera di bawa ke rumah sakit, ibunya yang malang kenapa semuanya jadi begini? Jika bukan karena mobil yang menabraknya maka dia tidak akan kecelakaan seperti ini. “Miss sudah menelpon ayahmu, sebentar lagi akan kesini.” Alvin datang ditemani oleh gurunya ke rumah sakit, peristiwa ini terjadi begitu cepat dan semuanya sedang di urus oleh polisi. Jika bukan karena pengendara mobil yang mabuk dan oleng pasti tidak akan terjadi hal yang seperti ini, Azura menyelamatkan orang, tetapi dirinya yang kini mengalami musibah seperti ini. “Miss, apakah ibu akan baik-baik saja?” tanya Alvin. Gadis mungil itu menghampiri Alvin, dia memeluk Alvin dan menangis jika bukan karena dirinya maka ibu Alvin tidak akan mengalami hal seperti ini. Dia merasa sangat bersalah pada Alvin yang baru saja bahagia karena ibunya pulang. “Maafin Cacha, Vin.” Ibu Cacha juga masih berada disini karena dia mengalami luka goresan, musibah itu membuat sekolah semakin mengetatkan keamanan dan tidak akan mengulangi hal serupa. Seharusnya memang mereka masuk ke dalam untuk mengantar anaknya, tetapi karena ada acara yang akan dilakukan pengantaran murid hanya sampai gerbang sekolahan. “Maafin tante juga ya, Vin.” Alvin diam dia berharap-harap cemas dan selalu berdoa agar Tuhan menyelamatkan ibunya, Alvin tidak ingin kehilangan ibunya. Dia ingin ibunya sembuh dan bersamanya untuk menjalani kehidupan yang bahagia. “Ibu, darahnya banyak sekali Miss. Ibu apakah baik-baik saja?” tanya Alvin menangis. “Kita berdoa saja, semoga Ibu Alvin baik-baik saja.” Dokter keluar dari ruangan, dia kini membutuhkan persetujuan dari keluarga untuk melakukan tindakan operasi, terjadi masalah di kepalanya karena benturan yang keras. Mendengar hal itu Alvin sedih, dia paham dan sadar jika kini kondisi ibunya sedang dalam kondisi tidak baik. “Lakukan yang terbaik untuk Ibuku,” ujar Alvin. Dokter itu melihat anak itu kasihan, dia lalu kembali masuk dan melakukan operasi. Apa yang dikatakan anak kecil itu juga harapan dari keluarga mereka, apapun yang terjadi dia akan berusaha untuk menyelamatkan wanita ini. “Ibu, jangan tinggalkan Alvin.” *** Melvin datang dengan tergesa-gesa, dia tidak menyangka jika istrinya mengalami kecelakaan di sekolah Alvin. Jujur saja dia langsung kesini ketika mendengar istrinya kecelakaan, melihat Alvin yang diam dan menangis dia merasa menyesal karena sudah mengabaikan istrinya. “Bagaimana kondisi istriku?” tanya Melvin. “Sedang dilakukan operasi, Alvin mengijinkan dokter untuk melakukan tindakan operasi pada ibunya.” Melvin melihat anaknya yang terdiam sama sekali tidak ingin melihatnya, Alvin pasti terpukul saat ini. Baru saja bertemu dengan ibunya, tetapi harus di hadapkan dalam kondisi yang seperti ini. Melvin mendekati anaknya dan dia langsung memeluknya, anak ini benar-benar terdiam dan sama sekali tidak membalas pelukannya. “Alvin,” ucap Melvin yang meminta perhatian anaknya. Alvin diam dan tidak menjawab, dia tidak ingin berbicara dengan ayahnya untuk sekarang. Guru Alvin pun mengatakan jika Alvin mungkin syok karena melihat ibunya tertabrak mobil, guru Alvin juga menyarankan agar Alvin di bawa ke psikiater untuk mengantisipasi trauma yang dia lihat karena masalah yang terjadi. “Regi, selidiki apa yang terjadi.” Regi langsung pergi melakukan perintah Melvin, lelaki ini duduk di samping Alvin dan menunggu proses operasi yang belum usai. Melihat baju Alvin dengan noda darah membuat Melvin merasa takut, kondisi Azura sangat parah hingga membutuhkan operasi. “Tuan muda, mari kita berganti baju terlebih dahulu.” Bibi Esme datang setelah Melvin memberitahu Adira jika Azura kecelakaan, dia juga memberitahu ibunya, tetapi Tika kini tidak berada di sini karena harus mengurus Yayasan yang dia kelola. Rasanya campur aduk melihat anaknya yang tidak berkata-kata dan mengabaikannya. “Tidak mau,” ujar Alvin. “Tuan, jika Nyonya terbangun dan melihat Tuan seperti ini maka Nyonya akan sedih.” “Alvin, patuhlah. Segera ganti baju dan kembali menunggu Ibumu,” ujar Adira yang duduk di samping Melvin. Alvin mengusap air matanya dan langsung berdiri mengikuti Bibi Esme, dia tidak tahan untuk meninggalkan ibunya, dia tidak ingin jika ibunya meninggalkannya untuk selamanya. Sudah cukup ibunya pergi dan kini Alvin tidak akan mengijinkannya lagi. “Bi, apakah Ibu akan baik-baik saja?” tanya Alvin. “Dokter sedang berusaha dan Tuan harus berdoa agar Tuhan menyelamatkan Nyonya,” ujar Bibi Esme. “Alvin tidak bisa menjaga ibu dengan baik,” ujar Alvin. Bibi Esme memeluk Alvin, anak ini kembali menangis dan membuat hati bibi Esme ikut sedih. Semua orang tahu bagaimana pengorbanan mereka selama ini, jika bukan karena Haikal mereka pasti akan menjalani hidup yang berbahagia bersama. “Tuan ayo ganti baju, Tuan tidak ingin meninggalkan Nyonya terlalu lama kan?” tanya Bibi Esme. “Alvin akan menjaga ibu, Ayah tidak bisa di harapkan sama sekali.” Alvin terlihat marah ketika mengatakan hal itu, Bibi Esme tahu jika Alvin sangat pintar. Anak ini mengerti apa yang terjadi, Bibi Esme kini merasa yakin jika terjadi sesuatu pada keluarga itu sebelum terjadinya kecelakaan ini. *** “Apa yang terjadi?” Adira melihat Melvin yang duduk termenung karena rasa bersalah yang dia miliki, jika tidak karena egonya dia pasti tidak akan melihat Azura kecelakaan. Seharusnya dia pulang dan mengantar Alvin ke sekolah, bukan malah terus meninggikan egonya karena kemarahan semalam. “Aku hanya menyesal, semalam aku dan dia sedikit berdebat.” “Dia baru kembali, jangan terlalu memaksanya. Kamu tidak ingin Alvin marah padamu kan?” tanya Adira. “Nek, Azura mengatakan jika dia tidak mencintaiku. Aku tahu lima tahun tanpa mengingat keluarga dan anak bisa saja dia tergoda dengan lelaki lain, tetapi dia juga harus mengerti perasaanku.” Adira menghela nafasnya, cucunya benar-benar bodoh dan egois. Semuanya butuh waktu, walaupun Azura tahu jika dia wanita bersuami dan memiliki anak dia juga harus menyiapkan mentalnya, dia harus kembali beradaptasi bahwa dia bukan dirinya yang dia kenal sebelumnya. “Kamu harus merenungkan sikapmu, jangan terus terbawa oleh egomu.” Alvin berjalan dan menghampiri Adira, wanita ini sudah tua jika bukan karena tongkat dia tidak akan sanggup berjalan hingga sampai sini. Bahkan dia sering memakai kursi roda jika kondisinya kurang begitu baik. “Uyut, berikan pengawal untuk ibuku.” Melvin agak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya, selama ini Melvin juga memberikan pengawal untuk Azura maupun Alvin, tetapi memang mereka semua mengikuti dari kejauhan karena Melvin tidak ingin jika anak dan istrinya merasa tidak nyaman. “Ibu tadi pagi sakit, wajahnya pucat. Alvin dah larang ibu buatin bekal untuk Alvin, tetapi ibu menolak katanya ibu cuma kecapekan. Alvin seneng ibu anter ke sekolah, tetapi Alvin sedih ibu seperti ini. Ibu selamatin Cacha dan ibunya, tetapi ibu sendiri yang celaka.” Alvin menangis di pelukan Adira. “Ibumu orang yang baik sayang, dia pasti akan segera sadar.” Hanya tinggal mereka berempat disini, guru Alvin mengantar Cacha dan ibunya pulang. Awalnya mereka ingin menunggu sampai operasi selesai, tetapi Melvin mengatakan jika dia bisa mengatasi semua ini dan tidak ingin merepotkan mereka. “Alvin akan menjaga ibu dengan baik,” ujar Alvin kembali mengusap air matanya. Anak sekecil ini membuat Melvin tertampar berkali-kali, Alvin marah padanya karena tidak bisa menjaga Azura dengan baik. Bahkan Alvin tidak ingin berbicara padanya, dia merasa jika tingkahnya memang sudah keterlaluan pada Azura. “Alvin, kamu marah sama Ayah?” tanya Melvin. “Renungkan sikap ayah, apa yang Ayah lakukan di belakang Ibu!” Melvin bingung dengan sikap Alvin, dia merasa tidak melakukan hal yang buruk, semalam dia memang marah pada Azura, setelah itu dia pulang ke rumah dan pagi buta membicarakan project kerjasama dengan klien, Melvin memang mengabaikan Azura, tetapi apakah Alvin semarah itu jika hanya itu alasannya? “Alvin apa maksudmu?” “Sudahlah, Ayah ninggalin ibu karena bertemu wanita itu, kan?” Alvin marah pada ayahnya. “Kamu masih kecil Alvin, tidak pantas mengatakan hal itu.” “Ayah nggak tahu ibu sakit, tetapi dia masih mau ngurus Alvin. Pesan yang Alvin kirim juga tidak Ayah balas, lalu Kale kemana Kale? Ibu harus menyetir ketika kepalanya pusing.” Alvin seakan mengungkapkan apa yang dia rasakan. Adira tidak menyangka jika Alvin yang baru berumur lima tahun lebih kini sudah sangat pandai berbicara, dia seperti orang dewasa yang mengungkapkan keluh kesah di hatinya. Alvin memang sudah tidak tahan lagi, sudah seharusnya neneknya tahu jika ayahnya sangat menyebalkan. “Kami hanya rekan kerja Alvin, Kale dia ijin karena ibunya sakit. Dia saja pulang tiga pagi tadi,” ujar Melvin. “Sudahlah, jika terjadi sesuatu pada Ibu, Alvin akan marah.” Melvin mengusap wajahnya kasar, dia tahu segala hal yang terjadi adalah salahnya, jika dia tidak egois maka istrinya tidak akan mengalami hal seperti ini. Dia meminta Regi menemaninya karena dia tahu bahwa wanita ini terkadang melakukan hal yang buruk, dia tahu wanita itu menyukainya karena itulah dia tidak ingin jika Azura akan salah paham nantinya. “Tenanglah, Alvin syok karena ibunya terluka.” Adira menepuk punggung Melvin, dia mengerti segala sesuatu mungkin terjadi kesalahpahaman di dalamnya, Melvin juga tidak akan melakukan hal bodoh dan membuat istrinya kecewa. Adira tahu pasti jika perasaan yang dimiliki Melvin sangatlah murni, dia mencintai Azura dan berusaha untuk menunggunya. Melvin meminta maaf pada anaknya, dia juga sadar jika bukan karena sikapnya maka Alvin tidak akan mengalami hal yang mengerikan seperti ini. “Ayah tidak akan mengulanginya lagi, Alvin jangan marah lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD