Operasi berjalan dengan baik kini Azura sudah di pindahkan ke ruang inap, Melvin menyiapkan ruangan yang terbaik karena dia hanya ingin istrinya mendapatkan pelayan yang terbaik. Alvin masih menunggu dia tidak mau pulang jika belum melihat ibunya sadar. Alvin masih merasa khawatir jika ibunya akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.
“Makan dulu, sudah jam tiga kamu melewatkan makan siang.”
Alvin tidak mau makan, dirinya bahkan mengabaikan segala hal yang dikatakan oleh Melvin, anak ini terpukul melihat kondisi ibunya yang dalam kondisi seperti sekarang. Banyak hal yang memang harus dia persiapkan, tetapi kini dia harus menunggu Azura untuk sembuh dan menjelaskan semuanya.
“Tuan, ini bekal buatan Nyonya.” Bibi Esme membuka tas bekal, dia mengeluarkannya dan memperlihatkan pada Alvin jika makanan ini di buat oleh Azura dengan susah payah. Jika Alvin tidak memakannya maka ibunya pasti akan kecewa dengan Melvin.
“Makanlah, ibumu akan kecewa jika kamu tidak memakannya.”
Alvin mengusap air matanya, dia lalu duduk di sofa dan mulai memakan makanan yang di buatkan oleh ibunya, pikirannya berkelana dia takut ibunya pergi dan membuatnya tidak bisa memiliki ibu lagi. Dokter mengatakan jika ibunya baik-baik saja, tetapi sampai saat ini ibunya belum sadar juga, hati Alvin terluka melihat ibunya sakit.
“Ibu kapan sadar?”
“Jika tuan selesai makan nanti ibu sadar,” ujar Bibi Esme.
“Bohong.”
Bibi Esme tersenyum, Alvin bukan orang yang mudah di bohongi. Anak kecil ini memiliki Iq si atas rata-rata dan sejak dulu sampai sekarang keluarga sangat terkejut dengan perkembangannya yang sangat cepat. Anak ini penerus perusahaan Abraham, dia yang akan membawa perusahaan semakin berkembang nantinya.
“Ayah minta, Vin.”
“Tidak! Ibu membuatkan untukku, siapa suruh Ayah pergi.” Melvin tersenyum, dia menghampiri Alvin dan sengaja mencuri satu suap omlete masakan istrinya. Dia memang keterlaluan sudah membuat istrinya tidur tidak nyenyak karena kemarahannya Melvin berjanji dia juga akan merubah sikapnya menjadi lebih baik dalam menghadapi Azura yang masih dalam proses adaptasi.
“Ayah!!! Ini omlete mahal, dimanapun Ayah nggak bisa beli.”
Melvin mencium pipi Alvin, anaknya ini sangat tampan dan kini dia seperti bertarung dengan dirinya sendiri, sikap Alvin sama sepertinya. Ketika mereka marah seolah-olah Melvin menghadapi dirinya sendiri.
“Ayah akan memperbaiki sikap Ayah, kamu jangan marah Vin. Bantu Ayah sama Ibu,” ujar Melvin.
Alvin menatap ayahnya tajam, dia akan mengawasi ayahnya saat ini jika ayahnya kembali melakukan hal seperti itu maka dia tidak akan membantu ayahnya lagi. Dia akan mengikuti keputusan ibunya, bua tapa bertahan jika pada akhirnya ibunya tidak nyaman? Sikap ayahnya yang terkadang absurd membuat Alvin takut jika ibunya tidak tahan.
“Ayah, jangan marah sama ibu.”
Melvin mengangguk, dia tidak akan marah pada Azura dia akan berusaha untuk mengontrol dirinya dan menyelesaikan segala permasalahan dengan baik. Dia tidak akan meninggalkan Azura begitu saja, dia sadar bahwa egonya harus dia turunkan demi orang yang dia sayangi.
“Kamu melihat Ayah dimana?” tanya Melvin.
Alvin mengambil ponsel di tas nya, dia lalu memperlihatkan foto itu pada ayahnya. Alvin benar-benar tidak suka dengan tingkah wanita yang ada di foto itu, jika tidak bersama ibunya dia mungkin akan mengamuk disana, tetapi dia tidak ingin hati ibunya terluka karena itulah dia memutuskan segera pergi.
“Ayah berhutang pada Alvin.”
Melvin mengacak rambut anaknya, bocah ini bahkan sudah peritungan padanya. Melvin menghapus foto ini, dia tidak ingin Azura curiga, dia memang benar-benar bekerja sama, tidak ada maksud lain di dalamnya, bahkan ada Regi yang disana.
“Jangan katakan itu pada ibumu, Ayah benar-benar hanya bekerja sama. Tidak ada hubungan lain,” ucap Melvin.
“Alvin akan mengatakan pada ibu jika Ayah kembali mengulanginya.”
Melvin mengangguk, dia akan lebih berhati-hati agar kolega bisnisnya tidak melakukan hal yang buruk. Dalam posisinya seperti ini memang tidak mudah, tetapi dia akan berusaha dengan baik agar tidak membuat keluarganya terluka dengan masalah ini.
“Ayah, makan dulu.”
***
Pukul tujuh malam Melvin masih setia menunggu istrinya, Alvin bahkan tidur di sini karena dia tidak ingin meninggalkan ibunya. Alvin sangat menyayangi Azura sehingga dia tidak ingin kehilangan ibunya untuk kedua kali. Fokus Melvin teralihkan ketika dia membaca dokuman di ponselnya, jari Azura mulai bergerak dan Melvin langsung menekan tombol emergency agar mereka segera datang untuk memeriksa istrinya.
“Ayah ada apa?”
Alvin terkejut karena mendengar suara orang datang ke kamarnya, Bibi Esme menenangkan Alvin karena saat ini dokter sedang memeriksa Azura. Mereka berharap Azura segera sadar dan bisa kembali lagi ke keluarga mereka dengan baik.
“Nyonya Abraham sebentar lagi akan sadar Tuan, kondisinya membaik.”
Melvin menghela nafas lega, dia bersyukur akhirnya istrinya akan segera sadar. Dia menggenggam erat tangan Azura dan kini menciuminya, Melvin sangat berbahagia dan tidak sabar menunggu istrinya kembali membuka matanya.
“Ibu,” ucap Alvin memanggil Azura.
Perlahan mata Azura terbuka, terlihat silau dengan lampu diatasnya. Melvin kini sangat bahagia, dia bahkan tersenyum senang ketika melihat Azura membuka matanya, Azura benar-benar terbangun sesuai dengan apa yang dikatakan oleh dokter.
“Apa yang terjadi?” tanya Azura.
“Kamu nggak papa? Mau minum?” tawar Melvin.
Azura mengangguk, Melvin mengatur ranjang Azura agar posisinya lebih nyaman. Azura terlihat lebih baik dari sebelumnya, wajah pucatnya perlahan berganti menjadi lebih cerah. Alvin bahkan langsung naik keatas ranjang dan memeluk ibunya dengan semangat.
“Sakit, Vin.”
“Ups, maaf ya Bu. Alvin terlalu bahagia lihat ibu,” ujar Alvin.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya Azura.
Alvin mengangguk, dia mengusap lembut luka Azura dan berdoa agar ibunya cepat sembuh dan tidak merasakan sakit. Alvin tahu saat ini ibunya masih merasa kesakitan akibat kecelakaan yang menimpanya. Ibunya mungkin harus menginap beberapa hari agar tubuhnya bisa lebih enak dan tidak mengalami sakit lagi.
“Biarkan Ibumu minum dulu, Vin.”
Melvin membantu Azura dan kini dia bisa merasa lega, Azura tersenyum dan menggenggam tangan anaknya, dia tidak masalah terluka yang penting anaknya baik-baik saja. Kejadian itu akan selalu mengingatkannya agar dia lebih berhati-hati karena apapun bisa terjadi.
“Ibu lapar,” ujar Azura.
“Ayah pesankan ibu makanan, cepat. Kasihan ibu,” ujar Alvin bersemangat.
“Baiklah, Ayah akan meminta Regi membelikan makanan. Walaupun tidak ada pantangan apapun, tetapi lebih baik kamu makan bubur.” Azura cemberut mendengar perkataan Melvin.
“Aku mau sesuatu yang pedas, bibirku terasa pahit.”
“Tetap saja tidak patuh,” ucap Melvin.
“Ayah—”
“Baiklah, Ayah mengerti, Alvin.”
Melvin tidak bisa berbuat apapun jika anaknya sudah protes, dia sudah berjanji akan memperlakukan Azura dengan baik, jika tidak maka Alvin akan mengatakan semuanya pada Azura. Sudah cukup masalah sebelumnya dia juga harus meminta maaf karena pergi begitu saja, Melvin tidak ingin menambah masalah dan membuat hubungan mereka semakin jauh nahtinya.
“Cacha gimana kondisinya?” tanya Azura.
“Cacha nangis dia merasa bersalah karena buat ibu begini,” ujar Alvin.
“Bukan salah Cacha, ibu bersyukur Cacha tidak kenapa-kenapa.”
Melvin sudah mengurus masalah mengenai kecelakaan Azura, dia tidak membiarkan orang yang membuat istrinya celaka bisa bebas begitu saja, dia membawa masalah ini ke jalur hukum karena dia tidak ingin jika orang itu akan mengulangi perbuatannya lagi, dia harus membuat orang itu jera agar tidak melakukan segalanya seenaknya sendiri.
“Alvin matanya bengkak, pasti nangis kan?”
Azura berusaha mengusap lembut wajah Alvin, anak ini benar-benar menyayanginya melihatnya dalam kondisi seperti itu pasti membuat hatinya terguncang. Azura harus berhati-hati karena dia tidak ingin anaknya trauma dengan masalah seperti ini.
“Nggak mau makan dia.”
“Ayah, diam.”
“Alvin, itu tidak baik. Apapun yang terjadi Alvin harus tetap makan, kalau Alvin makan teratur jadi cepet tinggi dan besar lalu bisa menjaga Ibu dengan baik, bukankah itu keinginan Alvin?” tanya Azura.
“Hem, Alvin akan makan banyak biar cepet besar.”
“Anak baik, Ibu tidak akan meninggalkanmu. Jangan sedih ya,” ujar Azura.
Alvin mengangguk, dia merasa tenang melihat ibunya sadar dia harap kedepannya tidak akan terjadi hal yang seperti ini. Alvin serasa tidak memiliki semangat hidup jika melihat ibunya pergi dari sisinya lagi.
“Ini sudah sampai, bentar Mas tata mejanya.”
Azura mengangguk, dia menurut atas apa yang dikatakan oleh suaminya. Azura tahu semalam dia dan Melvin tidak menyelesaikan pembicaraan dengan baik, masalah ini terjadi dan membuat Azura lebih baik tidak membahas masalah yang sudah lalu.
“Makan bubur dulu habis itu boleh makan apapun, jangan menolak.”
Azura mengangguk, dia berusaha menggerakkan tangannya, tetapi terasa kaku dan sakit karena ada bekas luka tabrakan. Melvin tersenyum dan langsung duduk untuk menyuapi istrinya, Azura memang kelewat gengsi dan tidak meminta tolong pada dirinya padahal Melvin dengan senang hati akan menyuapinya.
“Enak, Bu?” tanya Alvin.
“Enak sayang, mau nyoba?” tawar Azura dan langsung diangguki oleh Alvin.
Melvin menyuapi anaknya, Alvin ini memang pelit jika sudah berhubungan dengan ibunya, tetapi Melvin tahu bahwa sikap ini muncul karena dia memang sudah menunggu ibunya sejak lama. Banyak hal yang ingin dia lakukan bersama ibunya dan dia tidak ingin ibunya pergi meninggalkannya.
“Enak, Alvin juga suka. Ibu makan yang banyak, biar cepet sembuh.”
Azura mengangguk, anak ini sudah malam, tetapi masih saja aktif. Azura merasa jika tempat ini tidak baik untuk anaknya, dia ingin Alvin beristirahat dengan nyaman di rumah ketimbang menemaninya di rumah sakit.
“Alvin nggak mau istirahat di rumah aja?” tanya Azura.
“No! Alvin akan disini nemenin Ibu.” Alvin yang keras kepala tidak bisa di rubah.
“Alvin, tetapi di rumah sakit—”
“Sudah lah, aku memesan ruangan ini karena ada tempat tidur untuk yang menemani. Biar Alvin tidur di sana terlebih dahulu, sejak pagi tadi dia tidak ingin meninggalkanmu.”
Azura mengecup kening Alvin, entah dia ibu Alvin atau tidak kini Azura mulai menyayangi Alvin, kebaikan hati anak itu membuat Azura terharu. Azura akan semakin merasa bersalah jika sebenarnya dia benar-benar sebagai ibu Alvin, dia pasti merasa bersalah atas lima tahun yang dia lewatkan begitu saja.
“Jika benar kamu anakku, aku akan mencoba menebus lima tahun yang aku lewatkan untukmu.” Batin Azura bersedih.